Playboy Insaf

Playboy Insaf
Delapanpuluh Satu



Dua hari kemudian Riko sudah sampai di rumah orang tua Dini jam sembilan pagi. Kali ini dia tidak datang sendiri melainkan berdua bersama supir. Riko mengerti tentang hubungannya bersama Dini. Proses ta'aruf mereka masih berlangsung dan sedang mencari restu orang tua.


Bukan berarti mereka sudah bebas melakukan apapun. Tetap ada hal - hal yang harus dijaga agar tidak terjerumus pada kata pacaran.


"Assalamu'alaikum... " sapa Riko saat tiba di rumah Dini.


"Wa'alaikumsalam" jawab Mama Dini dan Anita.


"Masuk Nak Riko" panggil Mama Dini.


Riko masuk ke dalam rumah langsung ke ruang keluarga. Disana ada seluruh keluarga Dini sedang berkumpul.


"Apa kabar Pak? Sudah sehat?" sapa Riko sambil menyodorkan tangannya ke arah Papa Dini untuk menjabat tangannya.


Semua menatap mereka dengan wajah tegang. Mereka sangat takut kalau Papa Dini menolak uluran tangan Riko. Tapi ternyata hal itu tidak terjadi. Papa Dini menerima uluran tangan Riko.


"Alhamdulillah sudah" jawabnya singkat.


Walau nadanya masih ketus tapi setidaknya pertanyaan Riko masih di jawab. Setelah itu Pak Dharmawan mengajak cucunya Yoga bermain.


"Eh Mas Galuh sudah pulang?" tanya Riko.


"Iya Ko tadi malam, acaranya dipercepat jadi bisa pulang lebih cepat dari jadwal. Kamu mau antar Dini balik ke Bandung ya?" tanya Galuh.


"Iya Mas" jawab Riko.


"Diin.. Nak Riko sudah datang" panggil Mama Dini.


Dini keluar dari kamarnya sambil membawa kopernya dan berjalan ke ruangan keluarga untuk berpamitan dengan keluarganya.


"Pa, Ma.. aku balik ke Bandung ya.. Papa baik - baik ya, jangan sakit - sakit lagi" ujar Dini sambil memeluk Papanya berpamitan.


"Iya, kamu juga baik - baik di sana. Jangan terima tamu yang bukan mahrom kamu" pesan Papanya Dini.


Riko sangat mengerti ucapan Papa Dini itu ditujukan untuknya. Tapi itu sudah biasa. Riko sudah mulai terbiasa bahkan sangat terbiasa di sindir bahkan tidak dianggap ada oleh Papanya Dini.


"Iya Pa" jawab Dini.


Dini kemudian memeluk Mamanya.


"Ma, Dini balik ke Bandung ya. Mama juga sehat - sehat jagain Papa" ujar Dini.


"Iya sayang, kamu hati - hati di sana. Jaga diri baik - baik. Ingat disana itu kota orang harus pinter - pinter bawa diri" pesan Mama Dini.


"Iya Ma" sambut Dini.


"Mbak, Mas Galuh aku pulang ya. Yoga dada sayang.. sampai ketemu lagi" ujar Dini pada kakak, kakak ipar dan ponakannya.


"Pak, Bu saya pamit ya. Mas, Nita.. Yoga om pergi dulu" ujar Riko kepada seluruh keluarga Dini.


"Kalian hati - hati ya" ucap Anita.


Riko dan Dini akhirnya keluar dari rumah Dini dan masuk ke dalam mobil. Riko memasukkan koper Dini ke dalam bagasi mobil.


Riko duduk di depan disamping Pak Supir sedangkan Dini duduk dikursi penumpang di belakang. Mobil melaju menuju Tol Jakarta - Bandung.


Mereka sampai di Kota Bandung sekitar jam satu siang. Setelah shalat di Mesjid yang mereka temui di pinggir jalan, Riko mengajak Dini makan siang sebelum tiba di kos - kosannya Dini.


"Kita makan dulu yuk" ajak Riko.


"Boleh Mas" sambut Dini.


Mobil Riko memasuki area parkir Restoran besar di kota Bandung. Riko dan Dini turun dari mobil sedangkan supir memilih tempat makan sendiri yang tak jauh dari meja Riko dan Dini.


Pak Supir sadar diri dan tak ingin mengganggu Bosnya bersama calon istrinya. Setidaknya itulah pandangan supir tentang kedekatan Riko dan Dini.


Hanya saja Pak Supir merasa heran, Bosnya itu tak seperti biasanya. Tidak ada pelukan, pegangan tangan ataupun kecupan mesra. Jangankan itu, duduk mereka saja pisah.


Biasanya dulu saat Riko jalan dengan para wanitanya, Pak Supir hanya dijadikan nyamuk diantara mereka. Mereka bebas mesra - mesraan di kursi penumpang di belakang.


Saat ini Riko seperti menjaga jaraknya dengan wanitanya tapi Pak Supir tau dari tatapan mata Riko, Bosnya itu sangat mencintai wanitanya.


Pak Supir juga mulai mengerti, wanita ini memang spesial. Tidak hanya cantik, wanita ini sangat berwibawa dan pantas di hormati karena dia bisa menjaga kehormatannya sebagai wanita.


Sehingga Riko seorang playboy tidak bisa sembarangan bertindak bahkan tampak sangat menjaga jarak hubungan mereka.


Kini Riko dan Dini sudah duduk di depan meja yang mereka pilih untuk tempat duduk mereka yang nyaman.


Pelayan datang dengan membawa buku daftar menu dan mereka memilih makanan yang mereka inginkan. Tak lama kemudian pelayan pergi untuk mempersiapkan menu Riko dan Dini.


Riko melihat wajah Dini sedikit pucat dan seperti sedang menahan sakit.


"Kamu sakit?" tanya Riko khawatir.


"Nggak Mas" jawab Dini berusaha menyembunyikannya.


"Tapi wajah kamu pucat" ujar Riko.


"Hanya sakit biasa Mas" balas Dini.


"Boleh Mas tau sakit apa?" tanya Riko.


"Oooh.. tapi apakah kamu tidak apa - apa? Aku melihat kamu seperti sedang menahan sakit?" tanya Riko penasaran.


"Nanti juga akan hilang sendiri Mas" jawab Dini.


"Apakah ada yang bisa aku lakukan untuk mengurangi rasa sakit kamu?" tanya Riko memberikan penawaran.


Dini hanya menggelengkan kepalanya.


"Gak ada Mas, besok juga akan sembuh sendiri. Ini hanya datang di hari pertama" jawab Dini menjelaskan.


"Ooh baiklah kalau begitu" sambung Riko.


Tak lama kemudian pesanan mereka datang. Pelayan datang dengan membawa semua menu makanan yang dipesan Riko dan Dini.


Mereka makan dengan sedikit tergesa-gesa karena Riko semakin khawatir dengan kondisi Dini. Wajahnya semakin pucat dan Riko dapat melihat keringat di kening Dini.


"Cuma segitu saja makan kamu?" tanya Riko.


"Iya Mas, maaf aku lagi gak selera makan" jawab Dini.


Riko memanggil pelayan untuk membungkuskan sop daging untuk dibawa pulang tak lupa juga dengan nasinya.


"Untuk siapa Mas?" tanya Dini.


"Untuk kamu di kos, aku khawatir dengan keadaan seperti ini apakah kamu bisa mencari makan malam kamu nanti malam" jawab Riko.


Dini hanya diam dan membiarkan Riko memesan makanan untuk dia makan nanti malam. Setelah selesai membayar tagihan makan siang mereka Riko dan Dini melanjutkan perjalanan menuju kos-an Dini.


Riko mendorong koper dan mengantar Dini sampai ke depan kos-annya.


"Kamu beneran gak apa - apa?" tanya Riko masih sangat khawatir.


"Iya Mas gak apa" jawab Dini tapi masih meringis dan memegang perutnya.


"Sakit banget ya, mau aku bawa ke Rumah Sakit?" tanya Riko penuh perhatian.


"Gak usah Mas cuma datang bulan kok" jawab Dini.


"Tapi biasanya emang seperti ini?" tanya Riko.


"Nggak, cuma sesekali saja. Mungkin ini karena kecapekan Mas jagain Papa di Rumah Sakit. Besok juga udah enakan" jawab Dini.


"Ada yang kamu inginkan lagi?" tanya Riko.


"Mmm.... " Dini tampak sedang berpikir.


"Katakan saja jangan sungkan" ujar Riko.


"Aku bisa minta tolong belikan pembalu* dan kirant* untuk menghilangkan rasa sakitku?" pinta Dini.


"Dimana membelinya?" tanya Riko.


"Di apotek Mas" jawab Dini.


"Baiklah, tunggu sebenartar aku akan membelikannya" jawab Riko.


Riko segera pergi meninggalkan Dini dan masuk ke dalam mobil kemudian pergi mencari Apotek terdekat. Setelah membeli apa yang Dini pinta tadi Riko kembali lagi ke kos-an Dini.


"Cepat sekali Mas" ucap Dini.


"Ada apotek yang dekat dari sini. Nih di minum" ujar Riko sambil menyerahkan barang belanjanya.


"Banyak banget?" tanya Dini terkejut.


"Bisa untuk beberapa bulan kalau nanti kamu datang bulan lagi. Aku sudah periksa expirednya masih lama" jawab Riko.


"Terimakasih Mas" sambut Dini.


"Kalau begitu aku balik ya ke Jakarta" ujar Riko.


"Iya, hati - hati ya Mas" jawab Dini.


"Beneran ini gak apa - apa aku tinggal?" Riko masih tampak khawatir.


"Iya gak apa, sudah biasa besok juga akan hilang sendiri" jawab Dini.


"Ya sudah Mas pulang ya.. Daaah.. Assalamu'alaikum.. " Riko pamit.


"Wa'alaikumsalam" balas Dini.


Riko kembali ke mobilnya dan balik ke Jakarta setelah mengantarkan bidadari surganya dengan selamat di tempat tinggal sementaranya di Bandung.


.


.


BERSAMBUNG