
"Sa.. sayang.. kamu belum aku apa - apain kok sudah berdarah?" tanya Aril putus asa.
Seketika Bela duduk karena terkejut.
"Ya Allah Mas aku datang bulan, pantas saja tadi perutku sakit. Untung aku udah bawa persiapan. Kalau tidak malam - malam begini mau kemana carinya" jawab Bela.
Bela langsung berdiri dan berjalan menuju kamar mandi meninggalkan Aril yang menatap kepergian Bela dengan wajah yang hampa.
Aril langsung terbaring lemas diatas tempat tidur.
"Bagaimana nasih si imron?" gumam Aril dalam hati.
Bela keluar dari kamar mandi dan melihat tubuh Aril masih polos tanpa pakaian hanya boxernya yang masih terpasang. Seketika Bela kembali tegang karena pemandangan yang tak biasa.
"Ma.. Mas.. Maaf ya aku tidak merencanakan semua ini. A.. aku sudah menggagalkan honeymoon impian kamu" ucap Bela dengan rasa bersalah.
Aril menatap wajah Bela, matanya tampak berkaca - kaca membuat Aril tak tega melihatnya seperti itu.
"Sini yang berbaring di sini" ajak Aril.
Aril bergeser dan memberikan tempat kepada Bela disampingnya.
Bela duduk di pinggiran tempat tidur, beberapa kali terlihat meringis pasti dia sedang merasakan nyeri haid. Pikir Aril.
"Sakit ya perutnya?" tanya Aril penuh perhatian.
Bela menganggukkan kepalanya.
"Sini berbaring disamping Mas, biar Mas elus" perintah Aril.
Bela mengikuti perkataan Aril, dia langsung merebahkan tubuhnya dan berusaha rileks. Aril segera mengelus perut Bela dengan lembut.
"Maaaas" panggil Bela masih merasa bersalah.
"Ssst... kamu istirahat saja jangan pikirkan apapun. Ini ujian pertama kita setelah menikah. Aku sedang belajar kesabaran. Biasanya berapa hari kamu datang bulan?" tanya Aril penuh perhatian.
"Seminggu Mas" jawab Bela.
Makjleb... lama amat. Teriak Aril dalam hati.
"Duh udah selesai donk yank honeymoon kita" sahut Aril.
Bela menganggukkan kepalanya lagi dan terlihat sedih.
"Sudah.. sudah.. tidak apa - apa. Mau gimana lagi. Kita hanya bisa berencana tetap semuanya Allah yang tentukan" jawab Aril sok bijak.
Aril menarik nafas panjang.
Sabar Riiiil... imronnya kudu diikat dulu. Tangis Aril dalam hati.
Aril terus mengelus perut Bela dan memberikan kenyamanan pada istrinya sehingga tak lama kemudian Bela sudah tidur. Aril kembali menarik nafas lagi.
"Sekarang giliran si otong yang harus ditidurkan" gumamnya.
Aril turun dari tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi. Tiga puluh menit kemudian Aril keluar dengan rambutnya yang basah. Mau kembali ke tempat tidur rasanya tubuhnya masih panas. Kalau melihat Bela tidur pasti dengan indahnya si Otong bangun lagi.
Aril berjalan menuju balkon kamarnya dan menatap laut di malam hari. Aril mempererat bathrobenya yang dia pakai dari kamar mandi tadi. Aril berharap dinginnya udara malam hari di Raja Ampat bisa memadamkan api gaira*nya yang siap kapan saja meledak untuk saat ini.
Aril menarik nafas panjang sambil menghidupkan rokoknya, mencari kehangatan dari sebatang rokok.
Sial.. kalau mereka semua dengar malam pertama sampai malam ke tujuhku gagal, malu banget rasanya. Umpat Aril dengan kes di dalam hati.
Dia terbayang wajah teman - temannya yang akan menertawakan dirinya.
Angin malam semakin dingin, Aril juga sudah merasa lelah dan mengantuk. Dia segera menutup pintu balkon dan kembali ke kamar.
Aril naik ke atas tempat tidur dan menatap wajah Bela yang sedang tidur dengan lelapnya. Tak lama kemudian mata Aril terpejam dan dia pun tertidur di samping Bela.
*******
Esok harinya Bela terbangun karena beban di perutnya terasa berat. Bela meraba perutnya dan mendapati ada tangan yang sedang memeluknya erat.
Jantung Bela berdetak kencang. Bela perlahan melirik ke kanan dan membuka matanya. Karena masih belum benar - benar sadar. Alam bawah sadar Bela terkejut melihat ada seorang pria yang sedang tidur bersamanya.
Sontak Aril terbangun karena dia terkejut mendengar teriakan Bela.
"Yank.. kamu kenapa yank?" tanya Aril bingung.
"Mas Aril ngapain di kamarku?" tanya Bela sambil menyilangkan kedua tangannya ke dadanya.
"Kamar kamu? Sadar dulu yank.. lihat saat ini kita sedang dimana?" jawab Aril.
Bela mulai tersadar dan memandang seisi kamar. Kini dia sudah ingat kalau dia dan Aril sudah menikah kemarin dan saat ini mereka sedang di Raja Ampat untuk menjalani honeymoon mereka.
"Kita sudah menikah dan saat ini kita sedang dikamar hotel. Kita sedang honeymoon Belaku sayaaang" ucap Aril penuh kesabaran.
Bela menarik nafas panjang, dia kini bisa bernafas lega. Bela kemudian melirik ke arah jam yang ada di nakas samping tempat tidur.
Matanya seketika membesar ketika melihat jarum jam menunjuk ke arah angka tujuh.
"Mas sudah jam tujuh, Mas gak shalat subuh?" tanya Bela terkejut.
Aril tersenyum penuh kasih sayang sambil membelai lembut kepala Bela.
"Sudah sayaaang.. Mas sudah shalat tadi" jawab Aril.
"Kok Mas gak bangunin aku?" tanya Bela.
"Kamu tidurnya nyenyak banget, aku gak tega banguninnya. Lagian kamu kan lagi gak shalat" jawab Aril.
Krucuk... krucuk....
Terdengar bunyi perut Bela. Aril tersenyum karena melihat wajah Bela yang memerah malu.
"Kamu laper?" tanya Aril.
Bela menganggukkan kepalanya.
"Bangun yuk, mandi duluan sana biar Mas pesan sarapan pagi kita" perintah Aril.
"Iya Mas" balas Bela
Bela segera turun dari tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi. Aril segera menghubungi resepsionis dan memesan sarapan pagi mereka dan memintanya untuk diantar ke kamar.
Setelah mereka berdua selesai mandi sarapan pagi juga sudah datang. Mereka sarapan pagi di balkon kamar sambil menikmati indahnya pemandangan hotel yang berada di pinggir laut.
"Mas sudah pernah ke sini?" tanya Bela.
"Sudah.. tapi sudah lama. Sekarang suasananya berbeda" jawab Aril.
"Berbeda gimana?" tanya Bela penasaran.
"Hotelnya sih tetap sama tidak ada perbedaan tapi mengapa jadi lebih cantik ya?" ucap Aril dengan wajah yang penuh keheranan.
Bela hanya mengangkat kedua bahunya.
"Mmm.. Mas tau sekarang apa penyebabnya. Karena ada kamu di sini. Hotel ini jadi semakin cantik dan penuh warna. Tapi sepertinya selama seminggu ini setiap malam aku pasti akan kedinginan" ujar Aril pura - pura sedih.
Bela mengerti kemana arah pembicaraan Aril. Pasti tak jauh dengan tempat tidur.
"Maaas... semua kan diluar prediksi. Memang sudah jadwalnya waktu datang bulan aku tapi kan pernikahan kita tiba - tiba aja dipercepat. Sebelumnya kan kita rencanakan satu bulan lagi" ucap Bela.
"Iya aku ngerti kok. Allah ternyata memang sedang menguji kesabaranku. Ya sudah kalau begitu seminggu ini kita pacaran aja ya.. Pacaran yang halal, kamu belum pernah pacaran kan?" tanya Aril
Bela menggelengkan kepalanya.
"Ya sudah setelah sarapan kita pergi keliling pulau ini. Kita nikmati honeymoon kita sambil pacaran. Pasti asik bisa jalan bareng kamu sambil gandengan tangan, saling rangkul dan sesekali dengan kecupan hangat" goda Aril.
"Aaaaah Mas Ariiil... " sahut Bela dengan wajah yang semakin memerah.
.
.
BERSAMBUNG