Playboy Insaf

Playboy Insaf
Seratus Sembilanpuluh Tiga



Klara kembali dengan membawa kopernya. Romi dan Edo langsung membantunya untuk masuk ke dalam mobil dan mereka segera meninggalkan rumah Pak Rahardian.


"Kita mau kemana ini?" tanya Klara.


"Kita ke apartemenku saja. Untuk sementara kalian tinggal saja di apartemenku biar aku tinggal di rumah orang tuaku" jawab Romi.


"Jadi ngerepotin Rom" ujar Edo sungkan.


"Tidak apa - apa, sebagai teman sudah selayaknya kan kita saling bantu" balas Romi.


Edo dan Klara saling pandang.


"Baiklah kami akan menerima tawaran kamu" jawab Edo.


Romi segera mengantar Edo dan Klara ke apartemennya. Tak lama kemudian ponsel Romi berdering. Romi melihat nomor asing jadi tidak mengangkatnya.


Setelah itu ponselnya bergetar tanda pesan masuk. Romi membuka pesan itu lalu membacanya.


0812xxxxxxx


Saya Rahardian, tolong angkat teleponnya


Tak lama ponsel Romi kembali berdering dan dia mengangkatnya.


"Halo" ucap Romi memulai pembicaraan.


"Brengse* kamu Romi. Kamu datang kerumahku bersama pria siala* itu membawa anak dan cucuku. Apa tujuan kamu sebenarnya?" umpat Pak Rahardian marah.


"Justru saya yang harusnya bertanya kepada Bapak, apa tujuan Bapak menyebarkan berita hoax seperti itu? Bapak sendiri kan tau kalau anak Bapak sudah menikah bahkan cucu Bapak sudah lahir. Bisa setega itu memisahkan anak dari orang tuanya dan memisahkan seorang istri dari suaminya" jawab Romi.


Edo dan Klara langsung menatap kearah Romi yang sedang menerima telepon.


"Itu bukan urusan kamu" ujar Pak Rahardian.


"Itu menjadi urusan saya sekarang sejak Bapak menyeret saya dalam masalah keluarga Bapak. Mereka harus bersatu agar saya bisa menikah dengan tenang. Saya tidak mau kekacauan terjadi lagi yang disebabkan oleh Bapak" ancam Romi.


"Apa mau kamu?" tanya Pak Rahardian akhirnya.


"Biarkan Klara dan suaminya hidup bersama, saya akan menutup kasus ini. Anggaplah kita berdamai" jawab Romi.


"Kalau saya tidak mau?" tanya Pak Rahadian.


"Mereka akan tetap hidup bersama, bedanya Bapak menyaksikan kebahagiaan mereka di dalam penjara. Karena saya akan menuntut Bapak dengan pasal berlapis. Saya juga tau kalau Bapak yang mengirim orang untuk menyerang calon istri saya beberapa hari yang lalu" ancam Romi.


Klara semakin terkejut dengan apa yang dia dengar. Dia tidak menyangka Papanya akan bertindak sejauh itu.


"Bapak setuju atau tidak setuju dengan tawaran saya mereka akan tetap hidup bersama. Bedanya kalau Bapak bisa menerima Edo sebagai menantu Bapak, Bapak pasti akan mendapatkan ketenangan hidup dan bahagia di hari tua bersama anak, menantu dan cucu Bapak. Kalau Bapak tidak bisa menerimanya. Bapak akan menua di dalam penjara dan penyesalan akan selalu datang terlambat" sambung Romi.


"Dasar kamu brengse*" umpat Pak Rahardian dan langsung menutup teleponnya.


Romi kembali menyimpan ponselnya di saku celananya. Klara langsung mendekati Romi.


"Rom, apa benar yang kamu katakan tadi? Papaku mengirim orang untuk menyerang calon istri kamu?" tanya Klara memastikan.


"Iya Kla, tapi untung Cishela pintar beladiri. Dia tidak apa - apa, hanya supir kantornya yang terluka kena pukulan para preman itu" jawab Romi.


"Ela memang atlet beladiri sejak zaman kuliah" sambut Edo.


"Rom... maafkan perbuatan Papaku" pinta Klara merasa bersalah. Bagaimanapun itu adalah Papanya dan semua ini terjadi ada hubungannya dengan dirinya sendiri.


"Seperti yang aku tawarkan ke Papa kamu Kla.. aku akan berdamai asalkan Papa kamu bisa menerima Edo dan membiarkan kalian hidup bersama. Aku tidak mau dilain waktu terjadi hal seperti ini yang akan mengancam rumah tanggaku. Kalau Papa kamu bisa berdamai dengan hatinya sendiri, bisa menerima Edo sebagai menantunya aku akan maafkan semua kesalahannya" ungkap Romi.


Air mata menetes dari sudut mata Klara.


"Kamu baik sekali Rom, semoga Papaku mau menerima tawaran kamu. Aku juga tidak tega melihat Papa menghabiskan masa tuanya di dalam penjara" ucap Klara sedih.


Edo langsung merangkul istrinya dengan lembut.


"Kita doakan saja yank.. " sambut Edo.


"Sekali lagi terimakasih Rom. Kamu sudah banyak membantu kami" balas Edo.


"Santai aja Do.. Bukan hanya kamu teman Ela, tapi Klara juga temanku. Sudah pasti kami akan membantu kalian" sambut Romi.


Romi meraih kunci mobilnya dan berdiri.


"Aku pergi ya.. kuharap kalian lebih hati - hati. Aku takut Pak Rahardian mengetahui keberadaan kalian di sini. Jika butuh sesuatu jangan sungkan untuk mengatakannya kepadaku" tegas Romi.


"Iya Rom. Sampai menunggu situasi aman kami akan tetap berhati - hati" jawab Edo.


Romi keluar dari apartemennya dan meminta pihak apartemen untuk menjaga apartemen miliknya. Dan jika ada seseorang yang mencarinya atau datang ke apartemennya, Romi meminta mereka untuk mengusirnya.


Romi juga mengatakan untuk sementara sepupu bersama istrinya yang menempati apartemennya. Agar mereka tidak curiga kalau ada orang di dalam apartemennya.


Kini Romi sudah berada di dalam mobilnya. Dia sudah tidak berminat lagi untuk kembali ke kantor. Tiba - tiba saja Romi ingin makan siang bersama Papa dan Mamanya di rumahnya. Tapi dia ingin mengajak Ela ikut serta.


Romi langsung menghubungi Ela.


"Assalamu'alaikum Mas" sapa Ela lembut.


"Wa'alaikumsalam calon istri. Aku mau culik kamu saat ini, siap - siap ya aku jemput" jawab Romi.


"Mau kemana?" tanya Ela penasaran.


"Mau ajak kamu makan siang di rumah Papa dan Mama" jawab Romi.


"Kok tiba - tiba?" ucap Ela.


"Biasa yang tiba - tiba itu langsung jadi sepet pernikahan Aril dan Bela. Kalau direncanakan biasanya banyak hambatannya seperti pernikahan kita" balas Romi.


"Ah kamu Mas ada - ada saja. Ya sudah aku siap - siap nih ya.. aku tunggu kamu di bawah" ujar Ela.


"Oke cantik" jawab Romi.


Telepon terputus, Romi langsung melajukan mobilnya menuju kantor Ela.


Tak lama kemudian Romi sudah sampai di kantor Ela. Ela sudah menunggunya di lobby. Begitu mobil Romi masuk halaman kantor Ela langsung menghampirinya dan masuk ke dalam mobil tersebut.


"Kita langsung ke rumah Mama?" tanya Ela yang mulai terbiasa memanggil seperti itu sama calon mertuanya.


"Emangnya kamu mau ke suatu tempat?" Romi balik bertanya.


"Singgah ke toko roti Mas beli seuatu untuk Papa Mama. Gak enak kalau kita datang dengan tangan kosong" pinta Ela.


"Siap Ibu Negara" goda Romi.


"Aaaah Mas Romi.. " balas Ela malu.


Setelah membeli buah tangan mereka langsung menuju rumah orang tua Romi. Tentu saja kedatangan mereka disambut baik oleh Papa Mama Romi. Mereka sangat senang anak dan calon menantunya makan siang bersama mereka hari ini.


"Bagaimana perkembangan kasus kamu?" tanya Papa Romi saat mereka duduk di ruang keluarga usai makan siang.


"Pak Rahadian hari ini sudah dipanggil Polisi Pa untuk menyelidikan. Klara dan suaminya aku amankan di apartemen. Mulai malam ini aku akan tidur di rumah. Pak Rahardian marah padaku karena dia tau aku yang membantu Klara keluar dari rumahnya dan menyembunyikan Klara" ungkap Romi.


"Terus?" selidik Pak Hidayat.


"Aku memberikan penawaran. Kalau dia bisa menerima suami Klara sebagai menantunya aku akan menarik tuntutanku" jawab Romi.


Pak Hidayat menarik nafas panjang.


"Biar Papa coba dulu bicara dengan Rahardian ya.. Papa akan mengajaknya berbincang-bincang kayaknya orang tua. Saling bertukar pikiran dan berdiskusi. Mungkin dengan cara seperti itu pemikirannya jadi lebih terbuka" ungkap Pak Hidayat.


.


.


BERSAMBUNG