Playboy Insaf

Playboy Insaf
Seratus Enam



Rombongan sudah sampai di Pink Beach.. Mereka turun dari bus dan bermain di pantai menikmati pemandangan pantai dengan pasir pinknya.


Semua berpencar untuk mencari keromantisan pantai ini. Refan dengan keluarga kecilnya. Bagus, Anita, Jelita dan juga Bimo bersama kedua orang tua mereka berjalan menikmati indahnya pulau itu.


Sementara Dini yang sudah mulai pulih berjalan ditemani Riko. Romi juga berjalan bersama Ela sambil ngobrol membicarakan masa depan mereka.


Kini tinggal Aril dan Bela yang juga berjalan berdua. Sebenarnya Bela ingin bergabung dengan kedua orang tuanya tapi dia sungkan menolak ajakan Aril yang kesepian ditinggal dua sahabatnya yang lain.


Aril dan Bela berjalan di pinggiran pantai pink yang sangat indah. Aril terus terusik akan lamaran romantis Romi kemarin. Kemudian dia juga iri dengan perhatian Riko kepada Dini yang sedang sakit


Dia tak bisa lagi menahan perasaannya terlalu lama kepada Bela. Tadi saat di bus Aril tiba - tiba mendapatkan ide untuk mengungkapkan perasaannya kepada Bela di pantai ini.


Berharap kisah cintanya bisa seindah Romi. Aril sengaja mengajak Bela jalan sedikit lebih jauh dari yang lain.


"Mas kita mau kemana nih jalannya, jauh banget?" tanya Bela.


"Aku ingin jalan ke hati kamu Bel" jawab Aril.


Langkah Bela terhenti. Aril melihat ke wajah Bela yang tampak berubah.


Ya Allah.. apa maksud perkataan Mas Aril. Duh aku harus bagaimana? ucap Bela dalam hati.


"Bel.. kamu ingat pertemuan kita pertama kali?" tanya Aril.


Bela menunduk dan menganggukkan wajahnya.


"Saat aku datang ke rumah kamu di Surabaya. Aku melihat wajah polos kamu tanpa polesan. Saat itu aku memang salah menduga siapa kamu. Aku kira kamu bekerja di rumah Pak Akarsana. Tapi jujur Bel, pada saat itu hatiku sudah bergetar dan merasakan perasaan yang berbeda kepada kamu. Hanya saja aku tak punya kesempatan. Lalu pertemuan kedua kita di Bandara, saat aku jemput kalian datang ke Jakarta. Selanjutnya kita semakin sering bertemu aku semakin jatuh hati pada kebaikan kamu, kesolehan kamu dan semua yang ada pada diri kamu. Aku serius Bel, aku sudah lama meninggalkan masa laluku sebelum aku mengenal kamu. Tapi setelah bertemu kamu aku semakin memantapkan hatiku untuk hidup lebih baik lagi menatap masa depan. Aku.. aku.. ingin melamar kamu Bel" ungkap Aril.


Bela hanya terdiam sambil menatap lautan. Pantai ini jadi tak indah lagi setelah mendengar pengakuan hati Aril. Inilah yang paling Bela takutkan.


Dia takut Aril akan mengungkapkan isi hatinya sementara dia tidak merasakan getaran apapun pada Aril. Sedangkan hubungan mereka adalah sebagai Bos dan sekretaris.


Mereka pasti akan bertemu setiap hari, pasti akan sangat canggung jadinya jika Bela menolak perasaan Aril. Tapi untuk menerimanya Bela tidak bisa. Tawaran Aril adalah menikah. Tak mungkin Bela mau menikah dengan pria yang tidak dia cintai.


"Bel... apa jawaban kamu? Tolong katakan sesuatu?" pinta Aril dengan wajah yang sangat serius.


Ya Tuhan... aku harus jawab apa? tanya Bela dalam hati.


Bela menarik nafas panjang. Rasanya berat sekali berada di posisi ini. Ingin rasanya berlari dari sini tapi tentu saja itu perbuatan yang tidak bertanggung jawab. Seperti anak - anak. Aril pasti akan tersinggung bahkan mungkin akan marah kepadanya.


"Mas.. apakah harus aku jawab sekarang?" tanya Bela.


Aril menatap dalam kemanik mata Bela. Hati Aril seketika putus asa. Dia tersesat dan tak menemukan jalan masuk kedalam hati Bela.


"Apapun jawaban kamu akan aku terima Bel. Apakah jika aku tunda jawaban kamu akan berubah?" tanya Aril.


Bela terdiam.. Mas Aril benar, aku hanya menunda waktu untuk menghindari konflik dan suasana canggung dengannya. Intinya tetap sama, aku tetap tidak bisa menerima perasaannya.


Bela menarik nafas dengan sangat berat.


"Maaf Mas aku tidak bisa menerima perasaan kamu" ujar Bela pada akhirnya.


"Boleh aku tau apa alasannya?" tanya Aril.


"Perlukah sebuah alasan Mas?" tanya Bela.


"Yah agar aku bisa berbenah diri. Kalau kamu menganggap aku suka iseng, aku akan berubah menjadi pria yang lebih serius. Jika kamu anggap aku kurang soleh. Aku akan perdalam ilmu agamaku. Aku akan mengkoreksi semua sifatku yang tidak kamu suka" jawab Aril.


"Tidak ada yang perlu Mas benahi. Tidak ada yang salah dengan sikap Mas. Mas pria yang baik, bertanggung jawab dan pekerja keras. Walau belum begitu soleh tapi Mas hebat sudah mau berubah menuju pribadi yang lebih baik lagi. Tapi aku.. aku tak bisa memaksakan hatiku Mas. Maaf... aku tidak punya perasaan apapun pada Mas" ungkap Bela jujur.


Hilang sudah kemampuannya sebagai penakluk wanita selama ini. Dia sudah kalah pada gadis belia berumur dua puluh tiga tahun.


Ya Allah Bel... bagaimana caranya untuk membuka hati kamu padaku. Rasanya selama ini sudah banyak sinyal - sinyal, perhatian dan kasih sayang yang aku kirimkan kepada kamu tapi jika hati kamu tidak bisa menerimanya aku harus bagaimana? Ya Allah apa aku masih belum bisa mengetuk pintu maafmu atas kesalahanku dimasa yang lalu sehingga aku belum berhak bahagia seperti sahabat - sahabatku yang lain? tanya Aril dalam hati.


"Apa yang harus aku lakukan agar kamu bisa menerima perasaanku Bel?" tanya Aril hampir putus asa.


Rasanya semua sudah dia lakukan tapi Bela tetap tidak bisa menerimanya.


"Tidak ada Mas.. tidak ada yang salah pada Mas, hatiku yang tak tau diri menolak perasaan Mas yang tulus. Tapi aku tidak bisa membohongi hatiku Mas dengan berpura-pura menerima Mas. Nanti kita akan saling menyakiti karena hal itu. Aku tidak bisa melakukannya Mas" jawab Bela.


"Terimakasih Bel.. terimakasih kamu sudah jujur menjawab semua pertanyaanku. Terimakasih kamu sudah menghargai aku seperti ini. Aku sadar cinta memang tak bisa dipaksakan. Tapi aku harap ini bukan akhir dari kisah kita. Mudah - mudahan aku bisa mengetuk hati kamu untuk mulai membuka perasaan kamu untukku. Tolong jangan berubah padaku Bel. Bersikaplah biasa saja seperti sebelumnya. Jangan ada perasaan sungkan. Apalagi di hadapan teman - teman kita" pinta Aril.


"Iya Mas.. sekali lagi maaf ya Mas" ucap Bela.


"Iya tak apa aku mengerti dan bisa menerima keputusan kamu. Tapi boleh aku bertanya satu hal lagi pada kamu?" tanya Aril.


Bela menganggukkan kepalanya.


"Boleh, Mas mau bertanya apa padaku?" ucap Bela.


"Apakah kamu sudah menyukai seseorang?" tanya Aril.


Bela menggelengkan kepalanya.


"Tidak Mas, aku tidak menyukai siapapun. Aku hanya belum menemukan seseorang yang bisa mengetuk pintu hatiku. Membuat hatiku bergetar dan merasakan sesuatu yang berbeda dari yang lain" jawab Bela jujur.


"Terimakasih Bel, kamu sudah menjawabnya dengan jujur. Setidaknya hatiku lebih lega mendengarnya. Aku masih punya peluang untuk mendapatkan hati kamu karena hati kamu masih belum ada yang memiliki" ujar Aril.


"Bel.. Aril... kumpul yuuuuk... Mari kita berfoto" ajak Romi sambil berteriak dari kejauhan.


Aril dan Bela mendengar panggilan dari Romi, mereka berbalik arah.


"Iya, yuk kita kembali bergabung dengan yang lain" sambut Aril.


Bela hendak berjalan menuju ke arah teman - teman mereka.


"Bel.. tolong pembicaraan kita ini hanya kita berdua saja yang tau" pinta Aril.


"Iya Mas aku mengerti. Aku tidak akan mengatakannya pada siapapun" jawab Bela.


"Terimakasih Bel" ucap Aril.


"Beeeel.... Ariiil... " panggil Riko.


"Ya... tunggu sebentar, kami akan ke sana" sahut Aril.


"Yuk Mas" ajak Bela.


"Ayo kita kesana" balas Aril.


Bela dan Aril berjalan kembali ke tempat semula dimana semua teman - teman mereka sudah berkumpul. Mereka ikut bergabung dan berfoto bersama.


Walau dalam hati Aril terasa perih tapi dia berusaha berbesar hati menerima penolakan Bela. Sedangkan Bela rasanya sangat sungkan untuk berdekatan dengan Aril setelah peristiwa penolakannya tadi.


"Hei senyum donk, kenapa sih wajah kamu kaku seperti ini" tegur Ela.


"Ha.. ah mungkin karena harinya panas sekali. Aku merasa sedikit pusing jadinya" jawab Bela.


"Ayo semua tersenyum.... " teriak kru perjalanan mereka.


Jepret....


Semua tersenyum manis hanya ada dua orang yang tak bisa mengeluarkan senyuman lepas mereka. Yaitu Bela dan Aril. Keduanya sama - sama dilanda rasa canggung karena peristiwa yang baru saja mereka lalui tadi.


Setelah selesai berfoto mereka kembali berpencar. Kali ini Romi mengajak Ela menjauh dari teman - temannya yang lain. Mereka berjalan menyusuri pantai. Sesekali Ela tampak membasahi kakinya dengan air laut yang saling berlomba menuju ketepian.


Romi tersenyum melihat tingkah bidadari hatinya. Romi mengajak Ela berhenti tak jauh dari situ.


"Cishela setelah kembali ke Jakarta kita pergi ke rumah orang tuaku yuk?" ajak Romi tiba - tiba.


Ela langsung menatap tepat kemata Romi, mencoba mencari jawaban dari pertanyaan Romi barusan.


"U.. untuk apa Mas?" tanya Ela terkejut.


"Ya berkenalan donk, katanya mau diajak nikah. Emang nikah bisa berdua saja tanpa bertemu keluarga. Kan katanya menikah itu tidak hanya menyatukan dua hati manusia tapi juga menyatukan dua keluarga yang berbeda. Aku ingin kedua orang tuaku mengenal kamu sebagai calon istriku. Setelah itu baru kita ke Surabaya untuk meminta restu Bapak dan Ibu kamu" jawab Romi.


Ela terdiam sesaat, bingung harus berkata apa. Sejujurnya dia belum siap untuk bertemu dengan keluarga Romi. Tapi lamaran Romi kemarin bukan ingin berpacaran melainkan tawaran untuk menikah.


"Gimana Cishela?" tanya Romi kepada Ela.


Ela menarik nafas panjang.


"Apakah tidak masalah Mas?" tanya Ela ragu.


"Masalah apanya?" tanya Romi balik.


"Keluarga Mas. Aku.. aku.. apakah mereka bisa menerima aku dan keluargaku?" tanya Ela ragu.


Romi tersenyum membalas keraguan Ela. Dia tau apa yang saat ini dipikirkan oleh gadis yang ada disampingnya itu.


"Selama ini apa yang aku mau dan inginkan selalu dikabulkan oleh kedua orang tuaku. Aku sangat yakin keputusanku untuk menikahi kamu juga akan mendapatkan restu dari mereka. Kamu tidak perlu ragu ataupun takut" jawab Romi mencoba menenangkan Ela


"Apa yang harus aku lakukan Mas?" tanya Ela bingung.


"Kamu tidak perlu melakukan apapun. Kamu cukup menjadi diri kamu sendiri. Tunjukkan saja pada mereka siapa kamu yang sebenarnya. Aku tak butuh apapun lagi, cukup kamu saja apa adanya" jawab Romi.


Ela kembali terdiam.


"Bagaimana? Apakah kamu mau?" tanya Romi lagi.


"I.. iya Mas.. aku mau" jawab Ela.


"Alhamdulillah.. terimakasih Cishela.. terimakasih kamu sudah mau menerimaku menjadi pendamping hidup kamu. Aku sungguh sangat bahagia" balas Romi dengan senyum penuh bahagia.


.


.


BERSAMBUNG


Hai para pembaca setia Novel Playboy insaf. Apa kabar kalian semua? Semoga semuanya diberikan kesehatan dan kelapangan waktu untuk membaca semua novel - novelku ya.


Sudah lama tidak menyapa kalian semua. Aku harap kalian semua terhibur dengan membaca novelku ini. Jangan lupa kalau mampir tolong berikan jejak kalian.


Like, vote, koment dan hadiahnya ya.. agar aku lebih semangat lagi untuk menghasilkan karya yang jauh lebih baik lagi. Dan semoga kalian semua senang membaca novelku ini.


Terimakasih buat kalian semua yang sudah menjadi pembaca setiaku. Semoga Allah melimpahkan rezeki buat kalian semua.


Salam hangat...