
Pagi harinya Pak Budi dan Ela berangkat dari rumah mereka menuju ke Hotel tempat Pak Budi bekerja sekaligus tempat Romi menginap selama di Surabaya.
Sesampainya mereka di loby Hotel Ela segera menghubungi atasannya itu.
"Assalamu'alaikum Pak" ujar Ela memulai pembicaraan.
"Wa'alaikumsalam. Kamu sudah sampai?" tanya Romi.
"Sudah Pak, saya dan Bapak sudah menunggu di bawah" jawab Ela.
"Baik saya akan segera turun" sambut Romi.
Romi segera keluar dari kamarnya dengan pakaian lengkap seorang CEO dan langsung turun melalui lift sampai di loby Hotel.
"Kita langsung berangkat Pak Romi?" tanya Pak Budi.
"Iya Pak" jawab Romi segera
Mereka kembali berjalan menuju mobil dan melaju ke tempat pertemuan dengan Perusahaan client Romi.
"Bapak tunggu di mobil saja ya. Saya dan Ela akan masuk. Kalau kami lama dan lewat makan siang Bapak jangan lupa makan siang juga. Jangan tungguin kami sampai kelaperan" pesan Romi.
"Baik Pak Romi saya mengerti" jawab Pak Budi hormat.
Romi berjalan di depan sedangkan Ela melirik Bapaknya dan berpamitan.
"Pak Ela pergi ya, do'ain kerja Ela lancar" Ela mencium tangan Bapaknya.
Romi ternyata berhenti dan menunggu Ela. Dia melirik interaksi Ela dengan Bapaknya. Romi tersenyum tipis.
Gadis yang sangat mencintai Bapaknya. Nanti aku juga akan seperti itu dengan anak - anak kita. Aseeeek... sorak hati Romi.
Ela berjalan menyusul Romi, mereka masuk bersama - sama ke perusahaan yang akan mereka temui.
Di dalam perusahaan Romi dan Ela meeting membahas tentang kerjasama yang akan mereka jalin. Ela mencatat dan menghitung rancangan keuangan jika mereka menjalankan proyek kerja sama tersebut.
Ela mengumpulkan data - data yang dibutuhkan dalam meeting tersebut kemudian merangkumnya dan menghitung semua keuntungan atau kerugian yang akan didapatkan perusahaan Romi.
Romi melirik kerja Ela yang sigap tanggap dan benar.
Gak percuma aku mengajak kamu ikut, sudah aku duga kamu memang bisa diandalkan Cishela. Puji Romi dalam hati.
Meeting berlanjut sampai sore hari dan belum mencapai kata sepakat. Mereka masih sibuk membicarakan tentang rancangan proyek kerjasama antar dua perusahaan.
"Sudah sore Mr. Stephen. Sepertinya rancangan kerjasama kita ini kita lanjut besok hari saja. Kami akan di Kota ini sampai semuanya selesai" ujar Romi.
"Kami merasa sangat terhormat Pak Romi. Sesuai keinginan Pak Romi besok akan kita sambung kembali" sambut client Romi.
"Kalau begitu kami pamit undur diri" Romi berdiri dan saling berjabatan tangan dengan client nya begitu juga dengan Ela
Setelah itu Romi dan Ela turun dan berjalan menuju mobil mereka. Pak Budi membukakan pintu untuk Romi yang duduk di bangku depan.
Bagitu sampai di mobil Romi langsung melonggarkan dasinya membuka jasnya dan melipat lengan baju kemejanya hingga sampai ke siku.
"Kita langsung ke hotel Pak?" tanya Pak Budi.
Romi melirik jam tangannya.
"Iya Pak, seharian rapat otak saya rasanya panas. Saya ingin istirahat" jawab Romi.
"Baik Pak" balas Pak Budi.
"Cishela coba nanti kamu susun tabel keuangan rancangan proyek tadi, saya mau lihat sebagai bahan untuk besok" perintah Romi.
"Baik Pak" jawab Ela.
Mobil melaju menuju arah ke Hotel tiba - tiba Romi meminta sesuatu kepada Pak Budi.
"Pak bisa singgah sebentar untuk melepaskan penat. Saya ingin minum sesuatu tapi saya tidak tau apa. Bapak bisa memberi saran?" tanya Romi kepada Pak Budi.
"Mmmm.. Bapak suka es dawet?" tanya Pak Budi.
"Boleh, saya suka. Ya kita minum itu aahat. Dimana tempat jual es dawet yang enak?" tanya Romi.
"Baik Pak akan saya bawa ke tempat minum es dawet yang paling enak di Surabaya" jawab Pak Budi.
Pak Budi langsung membelokkan arah mobil menuju ke tempat penjual es dawet. Tak lama kemudian mereka sudah sampai.
"Ini Pak tempatnya" ucap Pak Budi.
Pak Budi hendak turun membukakan pintu untuk Romi.
"Sudah Pak saya bisa sendiri" cegah Romi
Pak Budi tak jadi turun dan kembali menutup pintu mobilnya.
"Tidak usah Pak, biar Bapak dan Ela saja yang turun" jawab Pak Budi sungkan.
Dia tidak enak karena Romi sedang dalam urusan pekerjaan rasanya tidak sopan kalau ikut makan atau minum dengan tamu hotel.
"Ayolah Pak, gak asik kalau Bapak gak ikut?" ajak Romi.
Pak Budi melirik putrinya Ela menganggukkan kepalanya.
"Ayo Paaaaak turun dan ikut bersama kami" ajak Romi lagi.
"Baiklah Pak" jawab Pak Budi.
Akhirnya mereka bertiga turun dari mobil dan duduk di warung es dawet. Ela memesan minuman es dawet kepada penjualnya.
Setelah itu mereka meminum minuman itu dengan sangat antusias dan sebentar saja sudah habis.
"Cishela minta 4 lagi tapi di bungkus ya" perintah Romi.
"Baik Pak" jawab Ela.
Ela memesan kembali sesuai perintah Romi. Setelah pesanan mereka selesai di bungkus Ela ingin membayarnya.
"Jangan Cishela biar saya saja" cegah Romi.
"Gak apa Pak, biar saya saja. Kalau cuma es dawet saya sanggup kok Pak" ungkap Ela.
"Tidak.. biarkan saya yang bayar" tegas Romi.
Ela kembali mengalah karena dia sudah tau sifat Romi. Romi pasti tidak akan mau menerima traktiran darinya. Terakhir mereka makan di Restoran mewah saya Romi yang membayarnya padahal Ela yang berjanji untuk mentraktir Romi.
Mereka kembali melanjutkan perjalanan ke Hotel. Saat Romi hendak turun Ela segera menyerahkan bungkusan es dawet yang tadi diminta Romi.
"Pak ini es dawet nya" ucap Ela.
"Untuk siapa?" tanya Ela.
"Lho tadi kan Bapak yang minta?" tanya Ela.
"Bawa saja ke rumah kamu dan simpan dulu di kulkas. Nanti kalau saya ingin, saya akan minta sama kamu" jawab Romi.
Ela merasa heran dengan jawaban Romi tapi dia tidak mau bertanya lebih jauh lagi. Ela hanya menjalankan semua perintah Romi.
"Sampai jumpa lagi" ucap Romi sambil turun dari mobil.
"Baik Pak" jawab Ela dan Pak Budi berbarengan.
Mobil Pak Budi berjalan kembali menuju ke arah rumahnya sedangkan Romi naik ke kamarnya. Sambil berjalan dia sudah tersenyum penuh siasat.
****
Setelah makan malam Ela melanjutkan pekerjaannya di rumahnya. Tiba - tiba Ponsel Ela berbunyi tanda panggilan masuk.
"Ya Pak?" ucap Ela langsung.
"Cishela kamu bisa datang ke Hotel bawa semua laptop dan catatan kamu tentang meeting kita tadi. Saya ingin membahas beberapa data malam ini" perintah Ela.
"Baik Pak" jawab Ela.
Ela segera mematikan laptopnya dan menyusunnya ke dalam tas kemudian bersiap untuk berangkat ke Hotel.
"Pak tolong antarkan Ela ke Hotel, Pak Romi ingin membahas sesuatu" pinta Ela.
"Tapi ini sudah malam Nduk dan kamu akan ke Hotel, ke kamarnya Pak Romi?" tanya Pak Budi.
"Iya Pak gak apa - apa. Kan Bapak yang antar?" jawab Ela.
"Tapi kamu akan menemui Pak Romi di kamarnya? Apa tidak berbahaya Nak? Kamu masih gadis dan Pak Romi juga sendiri. Kalau ada yang lihat mereka akan mengira kamu ada hubungan dengan atasan kamu" potong istri Pak Budi.
"Nanti Bapak temani ya sampai ke kamarnya Pak Budi" ujar Ela.
"Baik Nduk" jawab Pak Budi.
Pak Budi dan Ela masuk ke dalam mobil dan bergerak kembali ke Hotel Pak Budi menemani Ela naik ke kamarnya Romi. Sesampainya mereka di Hotel ternyata Romi sudah menunggu mereka di loby Hotel.
"Lho Bapak kok turun? Bukannya kita akan membahas bahan besok di kamar Bapak?" tanya Ela bingung.
"Setelah aku pikir - pikir tak baik kalau kamu masuk ke kamar saya. Ini Kota Surabaya, kota kelahiran kamu. Disini pasti banyak teman dan saudara - suadara kamu. Kalau mereka melihat kamu di kamar Hotel sama seorang laki - laki bisa rusak nama kamu. Bagaimana kalau sebaiknya kita bahas pekerjaan ini di rumah kamu saja? Kita kerjakan semua disana?" tanya Romi memberi tawaran.
.
.
BERSAMBUNG