Playboy Insaf

Playboy Insaf
Empatpuluh Sembilan



Bela menulis semua informasi yang dia anggap penting dalam agendanya. Akhirnya rapat selesai sekitar jam sebelas siang.


"Kalau begitu kami pamit pulang dulu Pak" ucap Aril kepada Pak Wawan.


"Ah saya jadi gak enak Nak Aril, sudah dekat waktu makan siang. Seharusnya saya menjamu kamu di kota ini" sambut Pak Wawan.


"Ah tidak apa Pak, lain kali saja. Lagian saya juga ada acara lain lagi setelah ini" jawab Aril.


"Ah iya.. iya... saya mengerti" Pak Wawan mengedipkan sebelah matanya kearah Aril sambil tersenyum.


"Senang berbisnis dengan Bapak, secepatnya saya akan mengirimkan surat perjanjian kerjasama perusahaan kita" ucap Aril.


"Oke saya tunggu" balas Pak Wawan.


Aril dan Pak Wawan saling berjabat tangan kemudian diikuti oleh Bela setelah itu. Bela menunduk hormat kepada Pak Wawan.


"Senang bertemu dengan kamu Bela, semoga kamu sukses bekerja di perusahaan Nak Aril" ucap Pak Wawan ramah.


"Aamiin... terimakasih Pak" jawab Bela tersenyum.


Aril dan Bela pergi meninggalkan Perusahaan milik Pak Wawan. Kini mereka sudah berada di dalam mobil Aril. Dan sudah bergerak meninggalkan area gedung perkantoran milik Pak Wawan.


"Kita makan dulu ya Bel" ajak Aril.


"Iya Mas" sambut Bela.


Aril mengemudikan mobil dengan kecepatan sedang.


"Gimana pengalaman pertama kamu bekerja menemani saya?" tanya Aril.


"Jujur awalnya menegangkan tapi ternyata memang tak setegang yang aku bayangkan. Pak Wawan baik dan ramah, pinter lagi berkelakar dan bercanda. Lama kelamaan rasa tegangku berkurang dan jadi santai" jawab Bela.


"Dari awal kan aku sudah bilang sama kamu. Client aku itu bukan om - om genit atau pengusaha muda playboy seperti aku dulu. Tapi kamu nya gak mau percaya padaku" ujar Aril.


"Yah namanya ini hari pertama Mas, wajarkan kalau aku tegang" Bela membela diri.


Kini mobil Aril berhenti di sebuah Restoran besar di kota Surabaya. Karena memang ini sudah jam makan siang tampak banyak pelanggan yang datang ke Restoran itu.


"Yuk masuk" ajak Aril ketika mereka keluar dari mobil.


Bela mensejajarkan tubuhnya berjalan disamping Aril. Mereka masuk bersama ke dalam Restoran itu dan makan siang bersama.


"Makasih ya Bel kamu udah temani aku meeting hari ini" ujar Aril.


"Sama - sama Mas, aku senang kok Mas bisa sekalian belajar kerja langsung" sambut Bela.


"Kamu kan bekerja denganku hari ini karena kamu belum resmi jadi pegawai aku jadi aku belum bisa kasih kamu gaji" ujar Aril.


"Gak apa - apa Mas. Aku juga tidak berharap itu. Aku sudah sangat senang Mas mau kasih aku kesempatan untuk belajar" balas Bela.


"Sebagai gantinya aku akan kasih hadiah buat kamu" ucap Aril.


"Ah gak usah Mas, aku ikhlas" tolak Bela.


"Nggak... nggak.. aku harus kasih kamu hadiah. Setelah dari sini kita cari hadiah yang pantas buat kamu dan jangan di tolak. Aku paling tidak suka kalau pemberian aku yang tulus di tolaj" ungkap Aril.


Bela menarik nafas dalam, melihat keseriusan Aril, Bela sangat yakin dia tidak akan bisa menolak keinginan Aril.


"Baiklah Mas" jawab Bela.


Setelah selesai makan siang mereka berangkat menuju ke sebuah Mall terbesar di kota Surabaya. Aril membawa Bela berjalan - jalan ke toko yang menjual perlengkapan ke kantor.


"Ayo Bel dipilih apa yang kamu butuhkan di sini. Anggap ini hadiah wisuda kamu" ungkap Aril.


Bela melihat sekeliling isi di dalam toko.


"Serius Mas?" tanya Bela.


"Serius lah, masak main - main. Kita udah ada di tempat langsung masak aku masih becanda" jawab Aril.


Bela mulai berjalan menuju ke tempat menjual pakaian kerja. Bela memilih baju kerja yang dia suka.


"Masak cuma satu, kamu kerjanya lima hari lho dalam seminggu" ujar Aril.


"Iya Mas nanti aku beli lagi sisanya" jawab Bela.


"Ngapain harus pakai nanti, sekarang aja mumpung kita sudah ada di sini" perintah Aril.


Bela tampak ragu.


"Nanti aku dimarahin Ibu Mas. Katanya jadi perempuan gak boleh matre" elak Bela.


Aril tersenyum melihat ke arah Bela.


Kamu wanita yang baik Bel, patuh kata orang tua dan tidak serakah. Aku suka, puji Aril dalam hati.


Bela kembali memilih beberapa baju lagi yang dia butuhkan untuk bekerja nanti. Kemudian berjalan menuju meja kasir.


"Cukup segitu?" tanya Aril.


Aril melirik ada tiga pasang baju kerja yang dibawa Bela.


"Mbak tolong carikan lima baju lagi yang sama ukurannya dengan yang dipegang adik saya. Pilihkan model dan warna yang bagus ya untuk dia" perintah Aril kepada pelayan toko tersebut.


"Baik Pak, tunggu sebentar" jawab pelayan toko.


"Maaas udah cukup" cegah Bela.


"Udah kamu duduk tenang aja, biar mereka yang carikan baju untuk kamu" ujar Aril.


Bela hanya bisa pasrah dan duduk di kursi yang disediakan untuk mereka. Tak lama kemudian pelayan datang membawa baju - baju yang diperintahkan Aril untuk Bela.


Kasir menghitung tagihan belanjaan Bela kemudian Aril memberikan kartu debitnya untuk membayar semua tagihan belanja Bela.


"Eh sekalian sama sepatunya ada gak" pinta Aril ketika dia ingat sesuatu.


"Ada Pak. Ukuran berapa ya?" tanya pelayan kepada Aril dan Bela.


"Mas udah.. udah kebanyakan" cegah Bela.


"Udah Bel, sekalian biar minggu depan kamu udah langsung kerja di kantor" jawab Aril.


"Maaf Mbak nomor berapa ukuran kakinya?" tanya pelayan lagi.


"Nomor 38 Mbak" jawab Bela pasrah.


Pelayan pergi untuk mencari sepatu yang sesuai untuk Bela, tak lama kemudian pelayan datang membawa tiga kotak sepatu yang sesuai dengan nomor kaki Bela.


"Silahkan dilihat Mbak yang mana yang Mbak suka?" ujar pelayan toko.


Bela membuka satu persatu kotak sepatu dan mencobanya.


"Mmm... yang ini aja Mbak" jawab Bela.


"Udah Mbak bungkus aja semuanya" perintah Aril.


"Mas banyak banget" jawab Bela.


"Udaaah santai aja" balas Aril.


Aril segera membayar semua barang - barang belanja Bela. Kemudian mereka berdua membawa semua belanjaan mereka ke mobil.


"Maaas aku takut bawa pulang semua ini. Nanti Ibu pasti marah" ucap Bela takut.


"Kamu tenang aja Bel nanti aku bilang aku yang belikan" jawab Aril.


"Iya tapi setelah dibelakang Mas Aril aku pasti dimarahin. Lagian Mas Aril belikan semuanya kebanyakan. Padahal kan dua pasang baju dan sepasang sepatu aja cukup" sambut Bela.


"Gak apa - apa biar kamu bisa langsung kerja nanti saat kita sampai di Jakarta" balas Aril.


Bela duduk disamping Aril dan mereka melanjutkan perjalanan menuju rumah Bela. Sesampainya di rumah Bela dan Aril membawa semua belanjaan mereka.


"Ya Allah Bela belanjaan siapa ini semua, kok banyak banget?" tanya Bu Akarsana ketika melihat Bela dan Aril masuk ke dalam rumah dengan membawa banyak barang belanjaan dikedua tangan mereka.


"Mmm... anu Bu barang belanjaaan.... " jawab Bela takut.


"Barang - barang untuk persiapan Bela kerja Bu. Aku kasih hadiah untuk Bela karena dia baru wisuda dan juga karena hari ini dia sudah temani aku meeting. Berkat bantuan Bela perusahaan aku mendapatkan kesepakatan kerjasama yang sangat besar Bu. Oleh sebab itu sudah selayaknya aku kasih Bela hadiah sebagai ucapan terimakasihku" potong Aril.


"Tapi Nak Aril ini kebanyakan" jawab Bu Akarsana.


"Gak apa - apa Bu. Nanti di Jakarta Bela gak perlu cari - cari lagi, semuanya udah lengkap" balas Aril.


"Gak apa - apa Bu. Mas Aril emang gitu orangnya. Kalau sudah niat pantang untuk di batalkan dan biasanya dia gak suka nanggung - nanggung Bu. Untung aja gak satu Mall di borong sama dia" Bantu Reni.


Aril tersenyum ke arah Reni karena lega Reni udah ikut bantuin dia.


"Ya sudah deh udah kebeli juga semua gak mungkin di pulangin. Ya sudah bawa ke kamar kamu semuanya Bel. Dan jangan lupa bilang makasih sama Nak Aril" pesan Bu Akarsana.


"Iya Bu. Makasih ya Mas Aril" ucap Bela.


"Sama - sama Belaa" jawab Aril sambil tersenyum menang.


.


.


BERSAMBUNG