
Hari terakhir di kapal pesiar. Mereka sedang santai menikmati pemandangan laut dari atas kapal. Riko memperhatikan sekelilingnya.
"Dini mana Bel?" tanya Riko.
"Tadi sih ke dapur Mas mau ambil air hangat, katanya perutnya sakit" jawab Bela.
Riko berjalan masuk ke dalam kapal dan menuju dapur, dia melihat wajah pucat Dini.
"Kamu kenapa Din? Mabuk laut?" tanya Riko.
"Nggak Mas, aku sakit perut" jawab Dini.
"Kamu salah makan?" tanya Riko penuh perhatian.
Dini menggelengkan kepalanya.
"Jadi sakit perut kenapa?" tanya Riko khawatir.
"Biasa Mas, lagi datang bulan" jawab Dini.
"Tapi wajah kamu pucat sekali Din. Bawa obatnya?" tanya Riko.
"Bawa Mas, aku udah siapkan sebelum berangkat" jawab Dini.
Dini duduk di depan meja makan dan Riko duduk di depannya.
"Kamu gak pernah priksa ke dokter? apakah sakit kamu ini wajar?" tanya Riko.
"Sudah dari dulu memang seperti ini Mas setiap kali datang bulan" jawab Dini.
"Tapi setiap bulan kamu akan merasa kesakitan dan kamu hanya pasrah menahankannya" ujar Riko.
"Memang begini nasibku Mas. Mas keberatan?" Tanya Dini.
"Mas gak keberatan. Mas sudah siap terima kamu apa adanya. Tapi semua harus diperjelas " jawab Riko.
"Diperjelas gimana Mas?" tanya Dini.
"Kamu harus priksa ke dokter kandungan. Mas gak tahan lihat kamu kesakitan seperti ini setiap bulan" jawab Riko.
"Iya Mas" jawab Dini patuh.
Dini terlihat masih meringis kesakitan dan memegang perutnya.
"Katanya sebentar lagi kita akan mendarat di pulau komodo. Apakah kamu yakin bisa ikut?" tanya Riko masih khawatir.
"Iya Mas aku yakin aku bisa" balas Dini.
"Ya sudah kamu siap - siap ya" ujar Riko.
Tak lama kapal berhenti di pelabuhan pulau komodo. Semua rombongan turun satu persatu. Riko sedari tadi hanya memperhatikan keadaan Dini.
Wajah Dini masih tampak pucat dan meringis kesakitan. Keringat juga terlihat jelas di wajahnya.
Satu persatu turun dari kapal pesiar dan mereka disambut bus untuk melakukan perjalanan di pulau komodo. Mereka akan jalan ke Taman Nasional.
Harinya terlihat sangat cerah secerah semua anggota rombongan tapi tidak dengan Dini. Dini semakin menahan rasa sakit di perutnya. Wajahnya terlihat sangat pucat.
"Din.. kamu yakin tidak apa - apa?" tanya Riko lagi.
"Iya Mas" jawab Dini.
Romi merasa heran melihat Riko dan Dini
"Dini kenapa Ko?" tanya Romi.
"Biasa Rom, nyeri datang bulan" jawab Riko.
"Ooo... " sambut Romi.
Romi jadi ikutan memperhatikan wajah Dini karena melihat Riko yang begitu khawatir dengan keadaan kesehatan bidadari hatinya.
"Tapi wajah kamu pucat lho Din" ujar Romi.
Ela jadi ikutan melirik Dini.
"Benar Din, kamu pucat banget dan berkeringat. Kamu yakin tidak apa - apa?" tanya Ela.
"Udah biasa El. Gak apa - apa, aku udah minum obat penghilang rasa nyeri" jawab Dini.
Riko berjalan mendekati Anita.
"Nit, biasa kalau Dini datang bulan minum apa?" tanya Riko pada calon kakak iparnya.
Anita langsung melirik kearah adiknya.
"Kamu sakit Din? Oh ya Allah, maafkan Mbak gak perhatiin kamu dari tadi" ucap Anita dengan rasa bersalah.
"Gak apa - apa Mbak, aku baik - baik saja" jawab Dini.
"Kamu bawa obatnya kan?" tanya Anita.
"Bawa" jawab Dini.
"Kamu bawa hot water bagnya?" tanya Anita.
"Bawa Mbak ada di tas, tapi belum sempat di isi air panas" jawab Dini.
"Apa itu?" tanya Riko penasaran.
"Itu Mas kantungan air panas nanti diletak di atas perut biar hangat perutnya. Bisa mengurangi rasa sakit" jawab Dini.
"Ya sudah mana dia hot water bagnya? Biar aku isiin nanti begitu kita sampai" pinta Riko.
Dini mengeluarkan hot water bag yang dia punya untuk pertolongan pertama untuk mengatasi nyeri haidnya. Riko. langsung meraihnya dan memegangnya dengan erat.
Setelah berkeliling Taman Nasional. Mobil berhenti di sebuah Restoran. Seluruu rombongan turun untuk mengisi perut mereka. Tapi Dini memilih untuk tetap di mobil.
Tak lama mobil sudah kosong hanya tinggal Riko dan Dini.
"Oh iya aku lupa, aku turun ke bawah sebentar ya Din, biar isi kantungan ini" ujar Riko.
"Iya Mas tapi jangan langsung di isi dengan air yang baru masak. Biarkan diisi dengan air hangat mendekati panas" pinta Dini.
"Iya, kamu tunggu sebentar ya. Nanti Mas balik lagi" ujar Riko.
Riko segera keluar bus untuk mengisi hot water bag dengan air panas. Tak lama kemudian Riko sudah kembali lagi dan memberikan hot water bag kepada Dini.
"Ini Din" ujar Riko.
"Terimakasih Mas" sambut Dini.
Dini menerima benda tersebut dan diletakkannya di atas perutnya. Tak lama kemudian Dini mulai memejamkan matanya dan tertidur.
Mungkin Dini sudah mulai merasa nyeri di perutnya berkurang. Riko memperhatikan wajah bidadari hatinya.
Kamu sakit apa Din? Apakah benar hanya nyeri haid bulanan seperti biasa? Apa iya sakitnya sampai seperti itu? Kasihan kali para wanita jika memang seperti itu adanya. Setiap bulan merasakan sakit seperti ini. Aku tidak tega melihat kamu meringis kesakitan, melihat wajah kamu pucat dan keringat dingin di wajah kamu. Ya Allah lancarkanlah langkah kami untuk menuju pernikahan agar aku bisa melindungi wanita ini dengan seluruh kekuatanku. Doa Riko dalam hati.
Riko pun akhirnya beristirahat di kursi yang berseberangan dengan Dini tapi masih di dalam baris yang sama di dalam bus. Mereka berdua tertidur dengan nyenyaknya menunggu semua anggota rombongan selesai mengisi perut mereka.
Setelah semua rombongan selesai mereka kembali ke dalam bus dengan membawa makanan untuk Riko dan Dini. Mereka tersenyum melihat Riko dan Dini sama - sama tertidur dengan pulas tanpa menyadari kalau satu persatu keluarga dan sahabat mereka masuk ke dalam bus.
Seperti biasa Aril yang selalu bersikap iseng mengambil foto mereka berdua untuk diabadikan.
Aril mengirim foto Riko dan Dini kedalam group whatsapp mereka dan memberikan komentar di dalam foto tersebut.
Aril
Sepertinya si Mas ini terlalu keletihan menjaga pujaan hatinya yang sedang sakit.
Bagus
Begitulah cinta, perjuangannya tak terkatakan.
Romi
Cuit.. cuit...
Refan
Semoga Allah menyegerakan untuk mempersatukan mereka dalam ikatan pernikahan.
Bimo
Aamiin..
Aril
Foto di bus dulu ya, nanti baru foto di pelaminan.
Romi
Tidur di bus dulu nanti baru tidur dikamar pengantin
Bagus
Wkwkwkwk...
Refan
Puitis juga kalian Ril, Rom.. hahaha...
Riko tersadar karena ponselnya dari tadi bergetar. Alangkah terkejutnya Riko melihat bus sudah bergerak dan semua rombongan sudah masuk ke dalam bus.
Riko membuka ponselnya dan membaca pesan group mereka.
Riko
Sialan kamu Ril. Sempat - sempatnya ya usil seperti ini.
Aril
Pejantan tangguh mengejar cinta
Riko
Lebih baik seperti itu dari pada kamu pejantan tangguh putus semangat.
Aril
Tunggu tanggal mainnya kawan.
Riko melirik kearah kirinya dan melihat Dini masih nyenyak tertidur. Hatinya sedikit lega, berarti perjuangannya tidak sia - sia. Hot water bag yang tadi dia isi dengan air panas bisa membantu meredakan sakit nyeri haid gadis pujaan hatinya.
Riko kembali memejamkan matanya mencoba mengingat - ingat perjalanan cintanya dengan Dini.
Kisah hidup manusia memang berbeda - beda dan tak semuanya berjalan mulus. Buktinya Romi saja dua tahun berjuang mencari cintanya eh akhirnya yang dicari datang sendiri.
Aril yang belum ada kemajuan begitu juga dengan kisah cintanya yang terhalang restu orang tua.
Riko menarik nafas dalam. Setelah kembali dari Labuhan Bajo ini Riko sudah memantapkan hatinya untuk datang kembali ke hadapan Papa dan Mama Dini dan meminta doa restu dari mereka.
Sudah hampir tiga bulan Riko berjuang mendekati Papa Dini, mudah - mudahan selama waktu itu cukup bisa merubah pendirian hati Papa nya Dini untuk mau menerima ketulusan hati Riko mempersunting gadis mereka.
Riko melirik wajah Dini yang masih nyenyak tertidur.
Doakan aku Din semoga Papa kamu bisa menerima perjuanganku untuk mendapatkan kamu. Ucap Riko dalam hati.
.
.
BERSAMBUNG