Playboy Insaf

Playboy Insaf
Duaratus Sepuluh



Riko rasanya tak percaya dengan apa yang dikatakan teman - temannya. Tapi melihat tingkah Aril yang aneh dan ingin terus menempel denganny membuat dia mau tidak mau mengerti keadaan Aril.


Tapi tetap saja Riko geli apalagi saat Aril dengan tatapan laparnya ingin menangkap Riko dan melahapnya.


"Tapi mengapa harus aku yang kamu rindukan?" tanya Riko bingung.


"Karena aku sangat bersalah pada kamu Ko. Aku akui, aku tau kalau Dini alergi pada durian. Dia tidak bisa mencium wangi durian. Dan malam itu dengan sengaja aku mengajak kamu makan durian. Pasti malam itu Dini mual - mual kan?" tanya Aril dengan tatapan menyesal dan merasa bersalah.


"Bukan hanya mual tapi gara - gara kamu aku harus tidur di sofa. Dini tidak bisa mencium wangi durian dari mulutku" sambut Riko kesal.


"Hahaha apes benar malam pertama kamu Ko" sahut Romi.


"Kamu siap - siap aja nanti. Aril pasti punya seribu satu cara untuk menggagalkan malam pertama kamu" umpat Riko.


"Oh tidak bisa. Kami sangat merahasiakan kemana kami akan honeymoon. Lagi pula nanti setelah acara pernikahanku selesai kami akan segera pergi" ujar Romi.


"Lagian melihat kondisi Aril saat ini dia tidak akan mau jauh - jauh dari kamu Ko" sambut Bagus.


"Bener juga" jawab Riko.


"Aku tidak akan jauh dari kamu Ko. Percaya deh aku tidak akan meninggalkan kamu demi untuk menggagalkan malam pertama Romi" janji Aril.


"Tapi aku punya perjanjian sama kamu" ujar Riko.


"Apa itu?" tanya Aril.


"Kamu boleh dekat - dekat aku tapi jangan melakukan kontak fisik. Bisa - bisa aku yang mual dan muntah karena kamu" pinta Riko.


"Hahahaha.... sepertinya Riko sudah pasrah menghadapi permintaan Aril.


" Sahabat yang baik" goda Bagus.


"Demi ponakanku Ko" sambut Bimo.


"Ya sudah silahkan semuanya duduk" ajak Reni.


Riko duduk di dekat Dini tapi Aril tetap saja mepet dekat dirinya membuat bulu kuduk Riko berdiri.


Para sahabat merakan ketidak nyamanan Riko.


"Perasaan saat aku di Mekkah aku sudah berdoa minta taubat tapi kenapa begitu pulang dapat cobaan begini amat ya" ujar Riko.


spontan teman - teman yang lain tertawa mendengar suara hati Riko yang jelas terdengar.


"Udah nikmati aja. Hitung - hitung kamu belajar sabar selama sembilan bulan" sambut Bagus.


Gleg... Riko menahan salivanya dan melirik ke arah istrinya


"Selamat itu yank?" tanya Riko pada Dini.


"Ya Bela hamilnya kan selama itu Mas. Udah gak usah dipikirin mudah - mudahan cuma sebentar. Siapa tau Mas Aril tiba - tiba muak melihat wajah Mas terus" sambut Dini mencoba menenangkan.


"Apa aku harus operasi plastik?" tanya Riko tak percaya diri.


"Pakai masker aja kali bro, lebih murah harganya" jawab Romi.


"Ya Tuhaaan.. mimpi apa aku tadi malam" gumam Riko.


"Jadi gimana nih rencana keberangkatan kita ke Surabaya?" tanya Bimo.


"Aku berangkat hari Jumat sore bareng Ela dan keluargaku. Apakah diantara kalian ada yang nyusul?" tanya Romi.


"Aku sepertinya lebih cepetan Rom. Reni ingin lebih cepat sampai ke Surabaya ketemu Bapak dan Ibu" sambut Bimo.


"Aku juga ikut ya Mas. Bolehkan aku duluan" pinta Bela kepada Aril.


"Tapi aku gak bisa bareng kamu yank. Kalau aku datang sabtu pagi gak apa - apa kan? Kamu duluan sama Bimo dan Reni" ujar Aril.


"Iya gak apa - apa" jawab Bela.


"Kami bareng Aril aja ya sabtu pagi. Kalau Jumat sore berat bawa si kembar" ujar Refan.


"Aku juga bareng Aril dan Refan" sambut Bagus.


"Aku Jumat sore aja deh" ujar Riko.


"Hup.. psss... hahaha... Aril gak bisa lepas dari kamu Ko. Dari Bela bisa" sahut Bagus.


"Wah parah kamu Ril" ujar Romi.


Dini dan Bela saling lirik. Bela mengangkat kedua bahunya kepada Dini. Dan Dini menanggapinya dengan senyuman. Seolah - olah dia ikhlas jika harus berbagi Riko dengan Aril.


"A.. aku juga gak tau Ko kenapa aku bisa begini. Aku sudah tahan selama dua minggu ini tapi aku uring - uringan. Aku jadi cengeng dan gak bisa konsentrasi kerja" ungkap Aril.


"Itu namanya jatuh cinta Ril" sahut Bagus.


"Anakku kali jatuh cinta sam kamu. Tapi aku bersyukur aku yang merasakannya. Bayangkan aja kalau yang ngidam Bela. Bisa rusak dunia persilatan" Aril membela Diri.


"Wah benar Aril. Kali ini aku setuju. Coba kalau Bela yang ngejar - ngejar Riko. Aduh gak tau deh mau bilang apa" sambut Refan.


"Iya juga ya. Aku gak pernah mikir yang begituan" ujar Bimo.


"Ya sudah aku pasrah. Aku bareng kamu aja hari sabtu" ucap Riko pasrah.


Aril sontak memeluk Riko sangkin senangnya.


"Makasih Ko" ucap Aril sungguh-sungguh.


"Ueeeeek.... " Bagus dan Romi langsung mual melihat tingkah Aril.


"Hahaha... " tawa Refan dan yang lainnya.


"Din kerjaan udah aku siapkan untuk saat aku cuti. Aku sudah sesuaikan dengan jadwal cutiku. Jadi kamu gak perlu repot lagi" ucap Ela


"Iya El aku mengerti. Besok aku akan masuk kantor. Oh iya ini oleh - oleh untuk kalian semua" Dini menyerahkan beberapa bungkusan yang berisikan oleh - oleh untuk para sahabatnya dan sahabat suaminya.


Para istri membuka bingkisan yang Dini kasih. Mereka melihat ada baju gamis untuk mereka dan jubah untuk para laki - laki.


Khusus Kinan ada tambahan oleh - oleh untuk Salman dan si Kembar. Dini dan Riko membelikan anak - anak Refan dan Kinan mainan dari Mekkah.


Ada boneka unta yang bisa mengeluarkan kata - kata dalam bahasa Arab. Aril penasaran dengan isi kotak yang memperlihatkan gambar onta.


"Apa itu Nan?" tanya Aril.


"Gak tau Mas belum dibuka" jawab Kinan.


"Boleh di buka gak? Kok aku penasaran pengen lihat isinya?" pinta Aril.


Yang lain jadi memperhatikan kotak mainan yang Kinan pegang. Kinan kemudian membukanya.


"Oh ini boneka unta, lucu deh Mbak Kinan. Makanya aku beli untuk si Kembar. Mainannya pakai baterai nanti kalau hidup untanya bisa bicara pakai bahasa Arab" ucap Dini.


Kinan mulai menyalakan mainan itu.


"Assalamu'alaikum.. ahlan wa sahlan.. " terdengar suara dari unta.


Wajah Aril berbinar ketika melihat mainan itu.


"Nan boleh gak jubahku ditukar sama mainan itu?" pinta Aril.


"Eits.. mana bisa Ril. Mana mungkin anakku pakai jubah orang dewasa" cegah Refan langsung.


Sontak wajah Aril jadi murung.


"Aku suka mainan itu Fan.. aku mau itu" rengek Aril mulai menangis.


"Allahu akbaaaar... ada ya ngidam beginian. Semoga cuma kamu seorang aja Ril yang ngidam beginian. Kalau dua orang bisa pecah kepalaku. Udah tenang aja, kalau kamu mau besok aku kasih. Di apartemen masih ada mainan seperti itu lagi" potong Riko mulai kesal dengan sikap Aril.


"Belum satu jam Riko udah emosi guys lihat Aril. Lah gimana kita yang sudah dua minggu merasakannya" ujar Romi.


"Hahahaha... " Refan, Bimo dan Bagus tertawa mendengar ucapan Romi.


.


.


BERSAMBUNG