Playboy Insaf

Playboy Insaf
Enampuluh Enam



Romi tampak sedang menghampiri meja makan. Tiba - tiba Ela yang bisa dibilang tuan rumah karena dia juga tinggal di rumah Bimo merasa terpanggil untuk melihat apa yang sedang dicari Bosnya itu.


"Mau cari apa Pak?" tanya Ela.


Romi melirik ke arah suara dan melihat Ela sudah ada di sampingnya.


"Minuman yang tadi" jawab Romi.


"Oh iya ya udah habis. Tunggu sebentar Pak aku ambilin di kulkas ya" sambut Ela.


Ela dengan sigap mengeluarkan minuman yang tadi dia pagi dia buat bersama Bela. Ela mengambilkan segelas minuman untuk Romi. Romi menerimanya dan segera meminumnya.


"Enak Pak?" tanya Ela.


"Iya, minuman ini beli atau buat sendiri?" tanya Romi.


"Buat Pak, tadi pagi aku dan Bela yang buatnya" jawab Ela.


"Resep dari siapa? Kok bisa kalian buat minuman beginian? Dari tampang kalian itu taunya hanya kerja kantoran saja tidak untuk kerja rumahan" tanya Romi sekalian menyindir.


"Ini resep keluarga saya Pak. Di kampung Ibu saya jualan minuman ini. Bapak salah, namanya wanita setinggi apapun nanti karirnya di kantor dia tetap akan menjadi Ibu rumah tangga di keluarganya. Jadi harus bisa juga nanti ke dapur tidak taunya kerja di kantor saja" jawab Ela


Nah bagus itu, kalau kita menikah nanti aku pasti akan senang kalau kamu tidak hanya pintar di kantor dan dapur saja. Tapi pintar di kasur juga ya hahaha... pikiranku sudah berkelana. Batin Romi.


"Cishela gimana kerjaan kamu sudah siap? Rapat laporan tahunan tinggal dua minggu lagi lho?" tanya Romi.


"Cici Pak, atau Ela saja. Kalau Cishela kepanjangan" protes Ela.


"Tidak apa, nama kamu bagus. Sayang kalau dipenggal Cici atau Ela. Lagiankan Cici sudah banyak yang panggil kamu seperti itu. Ela juga kan sudah banyak juga. Tapi kalau Cishela belum. Mungkin hanya aku. Aku tidak suka disamakan dengan orang - orang" jawab Romi.


Ela menatap Romi dengan tatapan tak percaya. Dia tidak menyangka Romi akan berkata seperti itu.


Romi masih menatap Ela menanti jawaban.


"Ada apa Pak?" tanya Ela bingung.


"Pertanyaan saya tadi belum di jawab.Bagaimana kerjaan kamu?" tanya Romi lagi.


"Oh InsyaAllah sebelum rapat tahunan semua sudah selesai Pak. Saya akan bekerja dengan keras" jawab Ela.


"Bagus saya tunggu hasil kerja kamu. Kalau hasilnya bagus, nanti gaji kamu akan saya naikkan" ujar Romi.


"Benarkah, Bapak serius?" tanya Ela tak percaya.


"Ya serius donk, mana pernah saya main - main dengan janji saya" jawab Romi.


"Baik Pak, saya akan segera menyelesaikan pekerjaan saya dengan sebaik mungkin dan tidak akan mengecewakan Bapak yang telah memberikan peluang kepada saya untuk bekerja di perusahaan Bapak" tegas Ela.


Romi tersenyum menatap keyakinan dan semangat Ela. Sepertinya hubungan mereka akan semakin membaik. Ela tidak lagi takut berdekatan dengan Romi. Dengan begitu akan lebih mudah Romi menyusun rencana untuk bisa mendekati dan mendapatkan hati Ela.


"Kapan - kapan buatkan saya minuman seperti ini lagi ya dan bawa ke kantor" perintah Romi.


"Baik Pak. Akan saya ingat" balas Ela.


"Oke lanjutkan kerja kami" ucap Romi.


Romi kembali bergabung dengan teman - temannya.


"Suiiit.. suuuiiiiiit... yang udah semakin dekat" sindir Aril.


"Itu baru keren Ril dari pada kamu coba udah berapa bulan Ela kerja sebagai sekretaris kamu tapi tidak ada kemajuan. Riko aja walau berjauhan dengan Dini tetap berjuang mendapatkan restu Papa dan Mama Dini" sambut Bagus.


"Aku rasa ilmu Aril sudah habis bro saat dia berniat ingin tobat nasuha" ledek Refan.


"Benar juga ucapan kamu Dan" dukung Riko.


"Kalian ya, puas banget ngebully aku dari tadi" ucap Aril kesal.


Sebenarnya kata - kata temannya ada benarnya juga karena sampai saat ini Bela masih menjaga jarak dengan dia. Padahal Aril sering mengajak Bela ikutan meeting di luar kantor dan hanya pergi berdua saja tanpa supir.


Padahal Aril sering meminta Bela tetap memanggilnya Mas kalau mereka sedang berdua tapi Bela menolaknya dengan alasan nanti terbiasa kalau di kantor dan gak enak kalau teman - teman kantor mendengarnya. Aril padahal tidak perduli dengan tanggapan orang lain.


Saat ada acara - acara seperti ini lah baru Bela memanggil Aril dengan panggilan Mas. Herannya lidah Bela benar - benar terlatih berkata seperti itu. Tidak pernah sekalipun lidah Bela keseleo dan salah sebut ketika di kantor.


Aril mencari sosok Bela yang sedang asik ngobrol dengan Rizal. Hatinya semakin panas melihat kejadian itu. Aril segera mendekati Riko.


"Ko, cepetan bawa pulang anak ingusan itu" perintah Aril.


Riko melirik ke arah tatapan Aril.


"Dia datang sendiri kok, ngapain aku ajak pulang bareng. Ya dia juga nanti akan pulang sendiri" jawab Riko cuek.


"Tapi mataku sakit melihat dia ada di sini" ujar Aril.


"Itukan mata kamu, kami nggak tuh. Lagian kalau sakit mata ya pakai kaca mata aja, udah ... bereeees... " sambut Riko.


"Ih kamu gak ngerti banget sih perasaan hati sahabat lo" potong Aril kesal.


"Cemburu bilang bro" ledek Riko.


Riko mengambil foto Reni, Bela, Ela, Rizal dan Gery yang sedang asik berbincang-bincang dan mengirimkannya kepada Dini.


Riko


Seandainya kamu ada di sini


Bidadari Surga


Dimana ini Mas? Ada acara apa? Kok pada kumpul semua?


Riko


Acara syukuran pindah rumah barunya Bimo


Bidadari Surga


Oh iya aku lupa, padahal Bela udah bilang kemarin. Maaf aku gak bisa datang karena jadwal kerjaku padat minggu ini jadi aku gak bisa pulang ke Jakarta.


Riko


Boleh tidak kalau aku bilang, aku rindu?


Bidadari Surga


Sabar ya Mas, nanti pasti akan lebih indah. Tetap berdoa ya dan kita juga harus terus berusaha


Riko


Iya deh, kamu baik - baik ya di sana. Sesibuk apapun jangan lupa makan. Aku gak mau dengar kamu sakit disana


Bidadari Surga


Iya Mas. Udah dulu ya Mas, aku mau lanjut nih. Lagi ada kerjaan.


Riko menatap layar ponselnya lama. Nama Bidadari Surga tertera di sana. Ada rasa sakit di sana. Sudah satu bulan Dini tinggal di Bandung dan sudah sebulan juga Riko berjuang untuk mendapatkan restu Papa dan Mamanya Dini tapi belum membuahkan hasil yang menggembirakan.


Jangankan lampu hijau, mendapatkan lampu kuning saja sulit. Papa Dini selalu memberikan lampu merah untuk hubungan mereka.


Riko melemparkan pandangannya kearah Refan yang sedang mengelus mesra perut Kinan yang sudah membesar. Rasanya ingin sekali dia dan Dini yang seperti itu.


Membayangkan hal itu terjadi membuat hati Riko semakin sedih. Matanya terasa semakin panas. Sepertinya dia butuh udara segar untuk menenangkan pikirannya. Riko segera berjalan menuju kolam dan bermain - main sebentar di sana bersama Salman untuk melupakan kepedihan hatinya.


.


.


BERSAMBUNG