Playboy Insaf

Playboy Insaf
Duaratus Duapuluh Enam



"Dini hamil Ko?" tanya Aril turut bahagia


Riko dan Dini saling pandang.


"Nggak" jawab Dini sambil tersenyum. Tapi Bela dapat merasakan senyuman Dini adalah senyuman sendu.


"Jadi?" tanya Aril.


Bela segera menarik lengan suaminya mencoba untuk memberikan kode agar Aril jangan bertanya macam - macam.


"Dini mengajak aku ke Dokter kandungan untuk memeriksakan kandungannya. Dia ingin program kehamilan" jawab Riko.


"Din... baru dua bulan kalian menikah, nikmati aja dulu masa pacarannya. Jangan terburu - buru" ujar Bela lembut.


"Nggak Bel, aku merasa tidak tenang. Aku ingin sejak awal ingin berjuang sampai sekuat tenaga, setelah itu aku tinggal berdoa dan bersabar menunggu ketetapan Allah. Biarlah Allah melihat perjuangan kami Bel" jawab Dini.


Aril mengerti kode yang diberikan istrinya.


"Santai aja Din, aku yakin Riko juga pasti masih ingin pacaran. Ya kan Ko?" sambut Aril.


"Aku juga sudah bilang sama Dini. Jangan merasa terbebani, aku masih ingin menikmati masa - masa indah pacaran halal. Tapi Dini bersikeras ingin pergi ke sini" ujar Riko.


Bela memperhatikan mimik wajah Dini. Sebagai sesama seorang wanita Bela mengerti dilema yang dirasakan Dini. Dini pasti merasa terbebani dengan penyakit yang dia derita. Kemudian Bela sangat tau kalau Dini itu sangat sayang sama anak - anak. Pasti Dini ingin secepatnya mempunyai anak.


Alasan lain tentu saja karena Riko anak tunggal. Dini sangat terbebani dengan kelangsungan keturunan keluarga Riko. Pasti Dini sangat merasa bersalah pada kedua orang tua Riko kalau keturunan mereka harus berhenti di Riko.


Oleh sebab itu Dini ingin segera berusaha dan berjuang untuk hamil. Semuanya demi Riko, demi suami yang sangat dia cintai.


"Tidak apa - apa Mas, kita kan bukan program yang gimana - gimana dulu. Aku hanya ingin memeriksa kandunganku. Ingin tanya - tanya dokter kapan masa suburku dan bagaimana caranya agar cepat hamil" sambut Dini dengan lembut.


Riko mengetahui beban berat di pundak Dini. Dengan penuh kasih sayang Riko merangkul istrinya tercinta.


"Apapun yang kamu mau aku akan mendukung sayang. Saat ini kita sudah berada di sini. Lakukan semua apa yang kamu mau" ucap Riko memberi dukungan.


"Kalau begitu yang semangat ya.. Kami juga akan mendukung kalian. Ya gak Mas" Bela menyenggol lengan Aril.


"Tentu donk. Gimana kalau kita ikutan menunggu nomor antrian mereka yank.. Setelah itu kita makan malam bersama gimana?" tanya Aril.


"Boleh Mas" jawab Bela.


"Jangan Bel, kamu kan lagi hamil anak kembar pasti gampang banget laper. Udah duluan aja gih makan sana" tolak Dini.


"Udah gak apa - apa aku masih sanggup menunggu" sambut Bela.


"Ibu Dini Dharmawan" panggil perawat.


"Ya kami Sus" sahut Riko.


"Yuk yank giliran kita" ajak Riko.


"Nah cepat tuh, ya sudah pergi sana. Kami akan tunggu di sini" sambut Bela.


Riko dan Dini berjalan masuk ke ruang praktek dokter. Sesampainya di dalam mereka berkenalan dengan dokter kandungan.


"Selamat malam Dok" sapa Dini.


"Selamat malam Bu, Bapak. Ada yang bisa saya bantu" sambut Dokter dengan ramah.


"Begini Dok, sekitar setengah tahun yang lalu saya baru mengetahui kalau saya mengidap penyakit Endometriosis. Dokter sebelumnya menyarankan agar saya segera menikah. Sekarang saya sudah menikah dan ingin program hamil dok" ungkap Dini.


Dokter kandungan yang ada di hadapan mereka tersenyum lembut.


"Baiklah mari Bu saya periksa dulu keadaan rahim ibu" sambut sang Dokter.


Dini naik ke atas tempat tidur untuk diperiksa. Dokter memasang alat untuk memeriksa keadaan rahim Dini.


"Sebenarnya tidak ada masalah pada rahim Ibu saat ini. Maaf sudah berapa lama ibu menikah?" tanya Dokter.


"Sudah lebih dulu bulan Dok" jawab Aril.


"Masih baru menikah kok Bu, sebenarnya Ibu tidak perlu merasa cemas seperti ini" ujar Dokter dengan lembut.


"Saya tidak cemas Dok, saya hanya ingin segera hamil. Memang kami menikah baru dua bulan tapi gak ada salahnya kan kalau saya ingin segera hamil?" tanya Dini.


Dokter kembali tersenyum menatap Dini dan Riko.


"Seminggu yang lalu Dok" jawab Dini.


"Mmm kalau begitu kita lihat satu bulan ke depan. Mudah - mudahan sudah ada hasil dan kabar gembira untuk kalian. Kita berusaha tapi tetap Allah yang menentukan. Teruslah berdoa dan meminta kepada Allah ya Pak, Bu. InsyaAllah doa kalian akan di dengar dan dikabuy oleh Allah" pesan dokter.


"Aamiin.. terimakat Dok, saya jadi lebih lega sekarang" jawab Dini.


"Jaga pola hidup sehat, jangan stres dan kelelahan. Rileks dan santai Bu, jangan banyak pikiran. Olah raga yang rutin makan makanan bergizi dan minum vitamin ya" sambung Dokter.


"Baik Dok" jawab Dini.


Dokter menuliskan resep obat dan memberikannya kepada Riko. Dini kembali duduk di kursi disamping Riko.


"Selamat berjuang untuk mendapatkan garis dua Bu" ucap Dokter memberi semangat kepada Dini.


"Terimakasih Dok" sambut Dini cepat.


Riko dan Dini pamit dan menjabat tangan Dokter. Setelah itu mereka berjalan keluar dan menemui Aril dan Bela yang masih setia menunggu mereka di luar.


"Yuk kita makan" ajak Riko.


"Sudah selesai?" tanya Bela masih khawatir.


"Sudah" tanya Dini.


Dini segera menggandeng tangan Bela dan mereka berjalan berdampingan. Meninggalkan suami - suami mereka yang berjalan menyusul.


"Kamu gak gandeng aku juga?" tanya Aril.


"Mual aku Ril" potong Riko langsung.


"Hahaha... siapa tau ada kabar gembira saat di dalam tadi dan kamu ngidam pengen gandeng aku" sahut Aril.


"Aku bukan seperti kamu yang ngidam pengen nempel padaku. Kalau soal itu aku tidak akan membalas perlakuan kamu dengan cara yang sama" sambung Romi.


"Yaaaah siapa tau aja kamu gak mau kalah" sahut Aril tertawa.


"Gimana tadi hasilnya?" tanya Bela tak sabar kepada Dini sambil mereka berjalan keluar dari rumah sakit.


"Kata Dokter Alhamdulillah semuanya baik. Aku dan Mas Riko diberi resep obat penyubur selama satu bulan ini. Nanti sebulan lagi kami disuruh datang lagi sama Dokter" jawab Dini.


"Kalau begitu bulan depan bisa donk kita janjian ke dokternya" ajak Bela semangat.


"Boleh nanti kita saling beri kabar ya" sambut Dini semangat.


"Kita mau makan dimana yank?" tanya Aril kepada Bela saat mereka sudah sampai parkiran mobil.


"Mmm aku pengen sate madura. Apa kalian suka?" tanya Bela.


"Aku suka" sambut Dini cepat.


"Boleh" jawab Riko.


"Ya sudah kita cari sate madura terdekat ya" ujar Aril.


Mereka masuk ke mobil masing-masing dan mencari makanan yang diinginkan Bela. Malam itu Dini sedikit merasa lega karena hasil pemeriksaan dokter rahimnya tidak bermasalah.


Dia harus mengikuti saran dokter untuk mulai hidup sehat, tidak banyak fikiran dan tidak boleh stres. Dini tersenyum tipis sambil melirik suaminya yang sedang menyetir mobil.


"Kenapa yank? Kamu kok dari tadi lirik - lirik aku terus?" tanya Riko yang menyadari kalau istrinya dari tadi curi - curi pandang.


"Ah gak ada Mas, aku merasa sangat senang sekali malam ini. Janji ya mulai besok kita akan jalankan pola hidup sehat sebagai ikhtiar kita berdua untuk mendapatkan anak" ajak Dini.


"Oke sayang, aku siap melakukan apapun yang kamu mau" sambut Riko semangat.


"Terimakasih Mas" balas Dini sambil tersenyum manis.


.


.


BERSAMBUNG