
"Aku ingaaat.. Sin.. Tia kan?" tebak Romi.
"Ahaaa.. iya Rom, kamu benar. Ini Sintia.." sambut Bagus.
Sintia tersenyum ceria bertemu dengan teman - teman lamanya.
"Kalian benar" jawab Aril.
"Hai Sintia... long time no see" sapa Bagus.
"Apa kabar Gus?" tanya Sintia ramah.
"Alhamdulillah sehat" sambut Bagus.
Riko dan Romi juga saling berjabat tangan dengan Sintia. Dan mereka mengambil tempat duduk di sekeliling Aril dan Sintia.
"Kamu kemana aja selama ini? Gak pernah lihat kamu sejak tamat kuliah?" tanya Romi.
"Aku di Singapura, dan baru pulang kira - kira sebulan yang lalu" jawab Sintia.
"Wah padahal kami sering lho ke Singapura tapi gak pernah ketemu juga" sambut Riko.
"Aku jadi babu di Singapura" canda Sintia.
"Ah kamu bisa saja" jawab Bagus.
Pintu kembali terbuka kali ini Refan dan Bimo yang muncul.
"Assalamu'alaikum... " ucap Refan dan Bimo bersamaan.
"Wa'alaikunsalam" jawab yang lainnya.
"Kalian semua emang udah pada taubat ya.. Dari awal aku perhatiin, jarang - jarang lho para pengusaha muda ketemuan ucap salam seperti kalian" puji Sintia takjub.
"Sintiaaaa... " tebak Refan langsung.
"Hai Refan" sambut Sintia.
"Waaah ternyata kamu rupanya tamu spesial yang dikatakan Aril tadi" ujar Refan.
"Aril terlalu melebih - lebihkan" jawab Sintia.
"Oh iya kenalkan ini ipar aku, Bimo Akarsana adik ipar aku sekalian sahabat kami semua" ucap Refan memperkenalkan Bimo kepada Sintia.
"Hai.. Aku Bimo" sapa Bimo.
"Sintia" sambut Sintia.
"Dia suaminya Reni dan kakaknya Bela" sambung Aril.
"Ooh begitu.. jadi semakin dekat ya hubungannya. Dari sahabat jadi keluarga" ujar Sintia.
"Hahaha.. iya begitulah. Jodoh gak ada yang tau" jawab Bimo.
Bimo dan Refan mengambil posisi di kursi yang kosong.
"Kamu kok bisa kenal sama Reni dan Bela?" tanya Refan penasaran.
"Oh kemarin tanpa sengaja aku ketemu Aril makan sendiri di Restoran, jadi aku samperin. Gak taunya Reni, Bela dan Ela makan di Restoran itu juga. Ya sudah sekalian kenalan dan makan bareng" jawab Sintia.
"Ela itu calonnya Romi" bisik Aril kepada Sintia.
"Oh ya? Waaah hebat kamu Rom. Ela gadis baik dan ramah" sambut Sintia.
"Do'ain aja Sin bisa secepatnya" jawab Romi.
"Terus siapa aja nih yang masih jomblo?" tanya Sintia.
Semua tangan menunjuk ke arah Aril.
"Hahahaa... Jendral Playboy kalah telak ya" ujar Sintia.
Aril menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Tenang aja sebentar lagi dia gak akan jomblo lagi kok. Ni lagi proses pengujian perasaan" sambung Sintia.
"Emang kamu tau Sin, kisah Aril?" tanya Romi.
Sintia tersenyum sambil melirik Aril.
"Tau, Bela kan? Adiknya Bimo?" tanya Sintia.
"Ternyata Aril udah pengumuman duluan" komentar Bagus.
"Aku takut Sintia salah pengertian. Tapi Sintia baik kok, dia mau bantuin aku buat menguji perasaan Bela kepadaku" ujar Aril.
"Awas ya kalau kamu menyakiti Bela" ancam Bimo.
"Hahaha... Maaf Bim, mungkin dia agak tersakiti terlebih dahulu. Tapi setelah itu aku akan membahagiakannya" sambut Aril.
"Iya kalau Bela merasa sakit. Pede amat lu... Lah kalau Belanya biasa aja, kamu sendiri yang kesakitan" komentar Romi.
"Berarti emang gak jodoh. Kan ada Sintia yang masih jomblo" potong Aril.
"Hahaha... di tolak mentah - mentah dia. Ternyata pesona kamu emang udah redup" ledek Bagus.
"Mending cowok lain deh, dari pada Aril" ucap Sintia.
"Serius Sin, aku punya calon nih?" tanya Refan.
"Ya kalau orangnya bagus kenapa tidak" jawab Sintia.
"InsyaAllah bagus, cuma dia bukan pengusaha. Kamu mau?" tanya Refan.
"Aku tidak memandang pekerjaannya Fan, yang penting dia baik dan bertanggungjawab" jawab Sintia.
"InsyaAllah baik.. masih keluargaku kok" balas Refan.
"Siapa Fan, Rendy?" tanya Aril.
"Ada deh... mau tau ajaaaa" jawav Refan.
Tak lama pelayan datang, mereka memesan menu tambahan untuk teman - teman Aril. Sambil menunggu hidangan datang mereka berbincang-bincang bersama mengenang masa lalu.
Semua terlihat sangat akrab, bahkan Bimo yang hanya orang luar dan lebih tua dari mereka semua bisa membaur bersama.
Setelah acara makan siang selesai. Semua berpencar kembali ke kantornya masing - masing. Begitu juga Sintia dan Aril. Mereka kembali ke kantor Aril. Tapi setelah mengantar Aril, Sintia langsung kembali ke kantornya.
Aril kembali naik ke lantai paling atas tempat kantornya berada. Saat keluar lift Aril melihat Bela sedang melamun di depan layar komputernya.
"Waaah ternyata kalau saya gak ada kerja kamu melamun saja ya" sindir Aril dengan ramah.
Iya sudah diajarin oleh Sintia untuk merubah sikapnya dengan Bela. Aril akan kembali ramah kepada Bela tapi tidak lebih. Dia akan dengan sabar untuk berteman dulu dengan Bela. Siapa tau hal itu bisa membuat hubungan mereka semakin dekat.
Bela langsung tersadar dari lamunannya dan langsung sigap berdiri menyambut Aril.
"Ma.. maaf Pak" jawab Bela.
Aril tersenyum santai.
"Santai aja Bel, maaf kalau Mas membuat kamu terkejut. Oke ya lanjut kerja, Mas mau ke ruangan dulu" ujar Aril.
Aril berjalan menuju ruangannya dan meninggalkan Bela yang terbengong sendiri karena perubahan sikap Aril.
Bela langsung meraba dadanya yang masih berdebar kencang karena terkejut.
Apa aku salah dengar ya? Tadi Mas Aril menyebut dirinya Mas dan dia juga tiba - tiba jadi ramah gitu bahkan tersenyum beberapa kali? Apakah dia sudah kembali seperti dulu? Atau karena saat ini dia sedang senang karena baru kencan dengan Mbak Sintia? tanya Bela dalam hati.
Dadanya terasa perih mengingat kalau Aril kencan dengan Sintia. Tapi Sintia memang wanita yang baik dan cantik. Wajar kalau Aril menyukainya. Sintia juga wanita yang dewasa, sangat pantas jika bersanding dengan Aril.
Tapi mengapa hatiku sakit sekali? Benarkah kata Reni dan Ela kalau aku sudah menyukai Mas Aril? Tapi apakah memang benar aku mencintainya? Bukan hanya perasaan seseorang yang hanya takut kehilangan fansnya? Duh aku bingung sekali? Perang batin Bela.
Diruangannya Aril tersenyum senang melihat perubahan wajah Bela tadi saat dia berbicara dengan Bela.
"Pasti kamu bingung kan mengapa aku ceria hari ini.. Sepertinya saran Sintia benar. Aku harus merubah strategiku" gumam Aril.
Aril duduk di kursi kerjanya kemudian menekan interkom.
"Bel kesini sebentar" panggil Aril.
"Ba.. baik Pak" jawab Bela.
Sebelum ke ruangan Aril, Bela merapikan jilbabnya melalui cermin yang ada di meja kerjanya. Aril tersenyum melihat sikap Bela itu dari dalam ruangannya.
Bela berjalan menuju ruangan Aril dan Aril berpura - pura bersikap biasa saja menyambut kedatangan Bela.
Tok.. tok..
"Masuk" perintah Aril.
Bela masuk ke dalam ruangan dan langsung berdiri di depan meja Aril.
"Duduk Bel" perintah Aril.
Bela duduk berhadapan dengan Aril. Wajahnya tampak tegang.
"Bel.. ada yang ingin saya katakan pada kamu" ujar Aril.
"Mengenai apa Pak?" tanya Bela.
"Mengenai kita" jawab Aril.
Seeer... jantung Bela berdetak kencang.
"Maaf mungkin belakangan ini sikap Mas terlihat kekanak - kanakan. Mas sadar sikap Mas kepada kamu salah. Mas tidak bisa memaksakan kehendak Mas pada kamu dan juga kita tidak bisa terus - terusan bersikap canggung seperti ini" ungkap Aril.
Bela menundukkan wajahnya. Sedangkan Aril menarik nafas panjang.
"Jangan sungkan kepada Mas ya.. tetaplah bersikap seperti dulu. Panggil Mas lagi jangan Bapak. Mas tidak mau hubungan kita jadi memburuk. Walau kamu sudah menolak cinta Mas, tapi setidaknya kita masih bisa berteman kan? Mas akan belajar memperlakukan kamu sama seperti Reni dan Ela. Kamu adalah adik dari sahabat Mas. Bukan sebagai sekretaris atau karyawan Mas. Kita mulai hubungan kita dari awal ya.. Sekarang kita berteman" sambung Aril.
.
.
BERSAMBUNG