
Beberapa minggu kemudian di rumah orang tua Romi sedang diadakan acara akikah anaknya Romi. Putra pertama mereka yang lahir diberi nama Michel Hidayat.
Semua keluarga Ela dari Surabaya sudah datang ke Jakarta. Mereka menginap di rumah orang tua Romi. Kakak Ela paling besar juga ikut bersama suami dan anak mereka.
Kebahagiaan yang tak ternilai harganya bagi Ela dan Romi. Kini keluarga kecil sudah lengkap karena kehadiran seorang anak.
Papa Mama Romi juga sangat senang menyambut kehadiran cucu kesayangan mereka yang sudah lama di tunggu - tunggu.
"Michel cucu Oma" ucap Mama Romi.
Mama Romi bergantian dengan Ibunya Dini menggendong cucu mereka yang baru lahir itu.
Para sahabat juga sudah berkumpul. Mereka sedang menikmati hidangan sambil berbincang - bincang di teras belakang rumah Romi.
"Ela sedang cuti, sebentar lagi Dini. Kalau mereka berdua cuti siapa yang mengurus perusahaan Fan?" tanya Bimo.
Perusahaan tempat Dini dan Ela bekerja adalah perusahaan Opanya Naila anak Refan. Refan yang dulu meminta Dini dan Ela mengelola perusahaan itu.
"Sementara akan aku tangani sendiri" jawab Refan.
"Baguslah kalau begitu, aku takut dikelola oleh orang yang salah" sambut Bimo.
"Itu adalah amanah mantan mertuaku untuk Naila. Aku tidak akan memberikan amanah pada orang yang tidak bisa dipercaya" ungkap Refan.
"Benar Fan" balas Bimo.
"Berapa minggu lagi Dini lahiran Ko?" tanya Bagus.
"Tinggal menunggu hari juga nih" jawab Riko.
"Hati - hati kalian bertiga. Kalian mempunyai anak laki - laki yang seumuran. Aku takut akan jadi penerus kehidupan kalian dulu" sambut Refan mengingatkan.
"Kalau doa kami sih jangan lah mengikuti jejak kami. Tapi kalau pemilih boleh lah.. Namanya laki - laki wajarkan mencari yang terbaik diantara yang baik" jawab Riko.
"Kalau aku sih terserah anak - anak nanti maunya gimana yang penting mereka jangan sampai melakukan dosa yang sama seperti kita" sambut Romi.
"Aku sih pengennya anakku seperti Bela aja deh, biar cukup cuma aku aja yang ramai di rumah. Kalau aku punya saingan apalagi dua, kasih sayang Bela akan berkurang padaku" ungkap Aril.
"Kamu selalu saja haus perhatian bahkan sama anak sendiri gak mau kalah" ledek Bagus.
"Ya gitu deh bro... " Aril menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Siapa nama anak kamu Rom?" tanya Bimo.
"Michel Hidayat" jawab Romi.
"Gaya banget kamu, sok ke barat - baratan" ejek Aril.
"Lah kamu juga sama kan Beril. Mana ada orang Surabaya namanya Beril" lawan Romi.
"Beril itu Bela - Aril" jawab Aril.
"Sama, Michel.. Romi - Chisela" balas Romi.
"Lah kenapa gak Michela aja lebih keren" ucap Aril.
"Anakku laki bro.. " bantah Romi.
"Ya siapa tau mau buat trobosan" ledek Aril.
"Semprul lo" umpat Romi.
"Hahahaha" tawa Aril pecah,
Tak lama kemudian Rihana berlari ke arah mereka.
"Ada apa Linana? Mau godain Om lagi? Maaf Om udah ada yang punya Tante Bela" sambut Aril.
"Om geniiiit" ejek Rihana.
"Ada apa sayang?" tanya Riko pada anaknya.
"Papa.. Papa... tayakna peyut Mama agi atit deh" jawab Rihana.
"Sakit gimana? Kamu kok bisa tau?" tanya Riko khawatir.
Riko langsung mencari sosok istrinya.
"Dayi adi Mama eyus - eyus peyuuut teyus wajah Mama suka mengkeyuut" ucap Rihana.
"Kamu kayak orang tua Linana, sok perhatian" sambut Aril tak percaya.
"Ih Om jeyeeek... aku ciuuus" bantah Rihana.
"Sekarang Mama mana sayang?" tanya Riko yang masih mencari istrinya.
"Mama agi di teyoyet" jawab Rihana.
"Apa telolet? Emangnya klakson bus telolet" ledek Aril.
"Ariiiil" ucap Riko mengingatkan.
"Kata dokter sekitar dua minggu lagi" jawab Riko.
"Kami periksa sana gih siapa tau Dini beneran mau lahiran" perintah Bimo.
"Yuk sayang kita cari Mama" ajak Riko.
Rihana langsung menggenggam tangan Riko dan berjalan ke dalam rumah mencari keberadaan Dini. Ternyata memang benar Dini baru saja keluar dari kamar mandi karena perutnya mules.
Kini Dini sedang duduk tak jauh dari kamar mandi. Wajahnya tampak meringis menahan sakit. Riko langsung menghampiri istrinya.
"Kamu kenapa sayang?" tanya Riko.
"Perutku sakit Mas" jawab Dini.
"Sakit gimana?" tanya Riko mulai khawatir.
"Perutku mules tapi aku bawa ke kamar mandi gak ada apa - apa. Dan sakitnya hilang timbul" jawab Dini.
Kinan yang baru saja datang dari arah dapur melihat wajah Dini yang pucat. Dia segera menghampiri Dini.
"Wajah kamu kok pucat ya Din? Kamu baik - baik saja?" tanya Kinan.
"Perutnya mules Nan tapi sakitnya datang dan pergi" ungkap Riko.
"Apa mau lahiran?" tanya Kinan khawatir.
"Prediksi dokter dua minggu lagi Mbak" jawab Dini.
"Gak semua orang harus lahir sembilan bulan sepuluh hari. Coba dek kalian ke dokter siapa tau feelingku benar kalau Dini mau lahiran" pesan Dini.
"Gimana yank? Kita ke Rumah Sakit aja yuk, aku takut perkataan Kinan benar. Kamu memang mau lahiran" ajak Riko.
Karena perut Dini semakin mules akhirnya Dini ikut apa perintah Riko.
"Iya deh Mas, mulesnya kembali datang" sambut Dini.
"Udah cepetan gih, nanti keburu lahir di mobil. Mau aku temani?" ucap Kinan memberi penawaran.
"Gak apa Nan. Kami aja deh nanti kalau beneran aku akan kabari kalian" jawab Riko.
"Ya sudah cepetan Mas" ujar Kinan.
Riko lengsung menggandeng Dini sedangkan Rihana meraih baju Dini dan berjalan di sampingnya. Mereka berjalan sampai ke luar dan langsung masuk ke mobil.
Riko langsung menjalankan mobilnya menuju Rumah Sakit, diperjalanan Dini semakin merintih menahan sakit.
"Kenapa yank, tambah sakit?" tanya Riko khawatir.
"Iya Mas, semakin sering sakitnya" jawab Dini.
Riko mempercepat laju mobilnya, tak lama kemudian monil sudah sampai. Riko langsung membawa Dini ke UGD untuk diperiksa.
"Udah bukaan empat Bu" ucap perawat.
"Apa artinya dok?" tanya Riko.
"Itu artinya Ibu sebentar lagi akan melahirkan Pak. Kalau bukannya sampai sepuluh itu artinya sudah sempurna dan siap untuk di lahir" jawab Perawat.
"Baik Sus saya mau kabari keluarga saya dulu. Titip istri saya sebentar" ucap Riko.
Riko berjalan keluar Rumah Sakit dan segera menghubungi Orang tua dan Mertuanya.
"Assalamu'alaikum Ma, segera ke rumah sakit ya.. tolong bawakan perlengkapan Dini dan bayi kami di kamar" pinta Riko.
"Wa'alaikumsalam. Lho Dini udah mau lahiran? bukannya masih dua minggu lagi?" tanya Mama Riko terkejut.
"Tidak Ma, Dini udah pembukaan sebentar lagi mau lahiran. Mama segera ke rumah sakit ya, Rihana gak ada yang jaga, aku harus temani Dini" jawab Riko.
"Oke.. oke.. Mama akan seger ke sana" ucap Mama Riko cepat.
Riko juga segera menghubungi Mama mertuanya.
"Assalamu'alaikum Ma, Riko mau kasih kabar kalau Dini saat ini mau lahiran dan kami sudah di Rumah Sakit" ucap Riko.
"Apa, Dini mau lahiran? Kami akan segera ke sana Ko" jawab Mama Dini sigap.
Setelah menghubungi orang tua dan mertuanya Riko segera mengabari para sahabatnya.
Riko
Guys.. sebentar lagi Dini akan lahiran. Kami sudah sampai di RS. XXX.
.
.
BERSAMBUNG