
Romi, Aril, Bela dan Ela akhirnya sampai di Bali. Mereka mencari hotel untuk tempat mereka menginap. Setelah menemukan Hotel yang sesuai dengan keinginan mereka akhirnya mereka memutuskan untuk beristirahat.
Keesokan harinya baru mereka mulai berjalan - jalan keliling kota Bali. Mereka berjalan menyisiri pantai Kuta sambil menikmati keindahan alam.
Setelah lelah berjalan, mereka memutuskan untuk duduk di tepian pantai sambil menikmati kelapa muda.
"Nih Mas" Bela memberikan kelapa muda yang ada di tangannya.
"Oh iya, makasih Bel" sambut Aril.
Aril melirik sekilas ke arah Bela. Sejak tiba di Surabaya aku merasa ada yang berbeda dengan Bela. Apakah perasaanku yang terlalu berlebihan ya. Aku merasa Bela sekarang lebih perhatian. Saat ini kan bukan acara resmi kantor melainkan kami sedang acara bebas dan liburan. Kok Bela tetap melayani semua kebutuhan aku ya? tanya Aril dalam hati.
"Sekarang kita sudah ke Bali. Trus nanti kemana honeymoon kalian?" tanya Aril kepada Romi.
"Yang pastinya diatas tempat tidur donk Bro" jawab Romi cepat.
"Ih Mas ini" Ela reflek memukul Romi.
"Hahaha.. maklum El udah lama tobat. Jadi giliran udah halal langsung deh" sindir Aril.
Romi tertawa membalas ucapan Aril.
"Kalian berdua sama saja" ujar Bela.
"Namanya juga kami berdua mantan Casanova" balas Aril.
"Lho Aril, Romi kalian ada di sini juga?" sapa seorang wanita.
Sontak Romi, Aril, Bela dan Ela melirik ke arah sumber suara.
"Sintia" ucap Romi dan Aril.
"Kamu kok gak ada cerita padaku kalau mau kesini? Katanya ke Surabaya?" tanya Sintia menatap Aril.
"Romi mengajak aku ke sini jadi ya sekalian aja menikmati liburan. Gak nyangka ketemu kamu di sini" jawab Aril.
"Yuk Sin, gabung bersama kami" agak Romi.
Sintia duduk di antara Aril dan Bela
"Kamu sama siapa ke sini?" tanya Romi.
"Sama sekretaris aku, Perusahaan kami sedang adan proyek di sini" jawab Sintia.
"Trus sekretaris kamu dimana? Berani banget cewek jalan sendirian" tanya Aril.
"Hotel tempat aku menginap dekat dari sini jadi aku berjalan - jalan sebentar di sini. Dari jauh aku melihat kamu makanya aku samperin ke sini" jawab Sintia sambil menunjuk ke Hotel tempat dia menginap
Wajah Bela kembali mendung dan dia jadi diam seribu bahasa.
"Lho sama donk. Kami juga menginap di sana" sambut Romi.
"Oh ya... wah gak nyangka bisa ketepatan banget ya" Sintia mengedipkan sebelah matanya kearah Romi dan Aril.
"Kalau begitu, nanti malam kamu sibuk gak?" tanya Aril.
"Nanti malam? Mmmm... sepertinya urusan aku sudah selesai" jawab Sintia.
"Gimana kalau kita makan malam bareng?" ajak Aril.
"Boleh" sambut Sintia.
"Ya sudah nanti malam aku kabari kamu ya kita makan malam bareng" balas Aril.
"Mbak Sintia mau minum?" tanya Bela berusaha ramah.
Bela memesan satu minuman lagi untuk Sintia.
"Berapa lama kamu disini?" tanya Aril.
"Besok siang aku sudah balik ke Jakarta" sahut Sintia.
"Cepat banget" ujar Romi.
"Iya, lusa aku ada meeting dengan client di Jakarta" balas Sintia.
Tak lama minuman Sintia datang dan mereka ngobrol ringan sambil menikmati indahnya pantai Kuta. Setelah selesai minum Sintia pamit balik ke Hotel karena dia ada janji dengan client di kota ini.
Sepeninggal Sintia, Romi mengajak yang lainnya melanjutkan perjalanan mereka ke tempat wisata lain yang tak kalah indahnya.
Mereka berjalan menuju Tanah Lot di Bali untuk menikmati matahari tenggelam. Romi dan Aril mengajak Bela dan Ela ke tempat yang paling bagus untuk menyaksikan matahari tenggelam.
Setelah selesai mereka bergegas kembali ke Hotel karena mereka sudah janjian akan makan malam bersama Sintia. Tapi sebelum pulang Aril pergi mencari toilet.
Bela yang sedari bertemu Sintia tampak galau tanpa sadar mengikuti Aril dari belakang. Hal itu tidak disadari oleh Ela dan Romi.
Aril yang merasa sedang diikuti segera berbalik badan dan alangkah terkejutnya dia ketika melihat Bela yang ada dibelakangnya.
"Lho Bel, kamu ngapain di sini?" tanya Aril bingung.
"Mm.. Maaas" panggil Bela dengan wajah putus asa.
"Ada apa Bel? Kamu sakit?" tanya Aril khawatir.
Bela menggelengkan kepalanya lalu tiba - tiba air matanya jatuh begitu saja.
"Bel kamu kenapa?" tanya Aril semakin khawatir.
Aril segera mengajak Bela duduk di taman dan mencoba menenangkannya.
"M.. Mas Aril mau ngelamar Mbak Sintia ya nanti malam?" tanya Bela.
Aril terkejut mendengar pertanyaan Bela.
"Kamu tau dari mana?" tanya Aril penasaran.
"Maaf Mas, tadi secara tidak sengaja aku mendengar pembicaraan Mas dengan Mas Romi. Mas Aril menyukai Mbak Sintia? Mas Aril benar - benar sudah melupakanku?" tanya Bela masih menangis.
Aril tersenyum dalam hati, dia tau apa yang saat ini sedang Bela pikirkan. Tadi dia memang sempat bertukar pikiran dan bertanya kepada Romi bagaimana cara melamar seorang gadis. Dulu dia pernah sekali melamar Bela dan gagal. Dia tidak mau gagal untuk kedua kalinya.
"Mas Aril tega banget, kenapa cepat sekali Mas bisa melupakan aku. Padahal... padahal... a.. aku.. aku mulai mencintai Mas Aril. Kalau Mas Aril dan Mbak Sintia menikah lalu aku sama siapa? Mengapa Mas Aril tega banget meninggalkanku sendiri" Bela nangis terisak.
Aril tak bisa menahan keinginannya untuk tidak menyentuh Bela. Aril menghapus air mata yang menetes di pipi Bela dan menggenggam tangan Bela untuk menenangkannya.
"Kamu mungkin saat ini terlalu capek Bel sampai tak sadar bicara seperti itu" ucap Aril pura - pura tak berharap padahal dalam hati sudah bersorak - sorak.
"Mas salah, saat ini aku sangat sadar dan benar - benar sadar dengan perasaanku pada Mas Aril. Selama ini aku terbiasa dengan perhatian Mas sehingga aku bingung dengan perasaanku sendiri. Tapi setelah Mas menjauh dan aku melihat Mas mulai dekat dengan Mbak Sintia. Aku merasa kesepian dan sendiri. Aku kangen Mas Aril yang dulu yang selalu ceria dan selalu ada untukku. Baru aku sadar bahwa keberadaan Mas Aril sangat berarti bagiku. Aku.. aku tidak mau kehilangan Mas Aril. Mungkin aku jahat ya Mas, disaat Mas sudah menetapkan hati untuk melamar Mbak Sintia aku malah merusaknya. Tapi sekarang aku tidak perduli, dari pada aku tetap diam dan menyesali kebodohanku seumur hidup lebih baik aku berjuang untuk mendapatkan hari Mas Aril kembali. Setidaknya aku sudah mencoba dan aku tidak akan menyesal lagi apapun yang terjadi selanjutnya" ungkap Bela.
Aril tersenyum kembali di dalam hati. Tapi dia tidak mau merusak rencananya. Saat ini bukanlah waktu yang tepat.
"Sudah Bel.. kamu tenang aja dulu ya.. Hal ini bisa kita bicarakan baik - baik nanti di Hotel. Aku tidak sedang dalam perencanaan melamar Sintia malam ini jadi kamu tidak perlu khawatir. Sudah malam yuk kita kembali ke Hotel. Mari hal ini kita pikirkan baik - baik. Nanti kalau Mas sudah yakin, Mas akan jawab pertanyaan kamu saat ini. Kita balik ke mobil yuk, Romi dan Ela sudah menunggu kita" ajak Aril.
.
.
BERSAMBUNG