
Romi selalu melemparkan senyum setiap melirik Ela. Membuat Ela merasa aneh dengan perubahan sikap Romi. Hingga saat Romi hendak pulang, Ela mengantarnya sampai di depan rumah Bimo.
"Kamu kenapa sih Mas malam ini?" tanya Ela.
"Kenapa apanya?" Romi balik bertanya. Tapi mata Romi tetap memperlihatkan kalau dia sedang tersenyum.
"Dari tadi kamu senyum - senyum terus, aku jadi takut" jawab Ela.
"Aku marah kamu takut, aku senyum juga kamu takut. Jadi aku harus bagaimana lagi Cishelaaaaa" ujar Romi gemas melihat Ela.
"Aku takut kamu kesambet malam ini. Mana malam jumat lagi" komentar Ela.
"Kenapa sih malam jumat itu seram bagi sebagian orang. Padahal bagi para pasutri paling di tunggu lho malam jumat. Nanti kalau kita nikah aku juga pasti gak sabar setiap kali malam jumat datang" goda Romi.
"Ih kamu Mas, lain yang ditanya lain jawabnya" balas Ela kesal. Dia malu kalau Romi sudah bercerita tentang hal - hal yang berbau yaaah... maklum mantan Casanova.
"Makasih ya" ucap Romi sambil tersenyum manis.
"Makasih atas apa nih Mas?" tanya Ela penasaran.
"Makasih karena aku adalah yang pertama segalanya bagi kamu. Makasih atas semua cinta dan kepercayaan kamu padaku. Dan terakhir makasih sudah menjaga hati kamu untukku" ucap Romi tulus.
Ela diam terlalu karena Romi tiba - tiba sekali berkata seperti itu tanpa ada persiapan sebelumnya. Tiba - tiba Ela ingat sesuatu.
"Mas mendengar obrolan aku tadi sama Mas Edo?" tanya Ela penasaran.
"Bilang gak ya" goda Romi.
"Iiiih Mad Romiiii suka nguping" ujar Ela kesal.
Tanpa sadar Ela menepuk bahu Romi. Karena Ela adalah atlet bela diri pasti pukulannya sangat menyakitkan bagi Romi.
"Aaaw... " Romi meringis.
"Maaf.. maaf Mas. sakit ya?" tanya Ela merasa bersalah.
"Nanti kalau kita menikah ajari aku beladiri ya. Agar aku bisa melindungi kamu seutuhnya bukan malah sebaliknya. Malu ah masak lebih jago istrinya dari pada aku" pinta Romi.
"Serius?" tanya Ela terkejut.
"Ya serius donk, masak boong" jawab Romi.
Ela tersenyum senang.
"Biar nanti kalau kita punya anak, kita yang ajarin mereka beladiri. Biar anak - anakku tangguh seperti Mamanya" ujar Romi.
Ela menganggukkan kepalanya sambil menunduk karena malu. Wajahnya sudah merah merona. Kini mereka sudah berdiri di depan mobil menunggu kedatangan Edo yang akan pulang dengan Romi ke apartemen Romi.
"Cieee.. ada yang pacaran" goda Bela.
"Siapa yang pacaran" elak Ela.
"Iya yank, yang pacaran kan kita berdua. Pacaran sesudah nikah, ternyata nikmat banget" sambut Aril.
"Ih ngapain cerita ke mereka Mas. Yang ada mereka nanti iri lho" ujar Bela.
"Biarin aja, biar mereka mempercepat pernikahan mereka" jawab Aril.
"Mana bisa, tanggal pernikahan kami sudah ditetapkan" ucap Romi.
"Eh iya, kalian kan gak ada yang sehebat aku bisa mempercet pernikahan. Rencana satu bulan berakhir satu minggu" potong Aril.
"Bangga teroooos... lupa apa puasa sampai sebulan" ledek Romi.
"Udah.. udah... itu terus yang dibahas. Tuh Mas Edo udah datang" lerai Ela.
"Hati - hati Bro.. pria itu masa lalunya Ela" bisik Aril untuk menggoda Romi.
"Dia cuma fans Ela. Kisah kasih tak sampai" jawab Romi bangga.
"Buseeet.. menang banyak lo" sambut Aril.
"Iya donk" jawab Romi menang.
"Maaf ya aku lama dikamar mandi tadi" ucap Edo merasa sungkan karena Romi lama menunggunya di luar.
"Iya gak apa - apa kok" sambut Romi.
"Maaaaas" cegah Bela.
"Sudah siap sekarang?" tanya Romi pada Edo.
"Sudah" jawab Edo.
"Kalau begitu kita balik sekarang. Omongan Aril gak usah di dengar, dia emang suka ngaco" ajak Romi.
Edo hanya tersenyum melihat tingkah Aril. Perlahan - lahan Edo mulai mengenal semua sahabat Romi. Dia sudah kenal dengan Bimo, Aril dan Refan.
Dari ke empat pria itu dia melihat persahabatan yang begitu tulus diantara mereka. Bahkan persahabatan itu kini sudah menjadi saudara. Contohnya Refan, Bimo dan Aril. Mereka sudah terikat persaudaraan dari pernikahan mereka.
Edo merasa senang bisa bertemu dengan pria - pria itu. Mereka semua pengusaha hebat di Perusahaannya masing - masing. Bahkan Edo merasa rendah diri jika berhadapan dengan mereka. Tapi Romi dan para sahabatnya tidak pernah pilih - pilih teman. Mereka selalu tulus membantu siapa saja.
Romi dan Edo masuk ke dalam mobil Romi. Begitu juga dengan Aril dan Bela.
"El kami pulang ya" ucap Bela pamit.
"Sampai ketemu besok, nanti aku hubungi kamu lagi ya" ujar Romi sambil terus menatap wajah gadis pujaan hatinya.
Rasanya memang berat berpisah dengan Ela malam ini, mungkin karena malam ini Romi mendengar pengakuan hati Ela hanya untuk Romi di hadapan Pria lain.
Romi merasa sangat beruntung menjadi cinta pertamanya Ela. Dan sebentar lagi dia juga akan menikahi Ela. Dia semakin tidak sabar akan hal itu.
Ela melambaikan tangannya menatap kepergian calon imamnya itu. Setelah mobil Romi dan Aril menghilang dari pandangan Ela dia kembali masuk ke dalam rumah Bimo.
*****
Esok harinya..
Pengusaha senior Rahardian pagi ini mendapat panggilan dari kepolisian karena berita palsu tentang Romi Pengusaha muda yang sukses.
Diduga Rahardian lah dalang dari semua berita palsu itu. Belum diketahui tujuan Rahardian menyebarkan berita palsu tersebut. Saat ini semua masih dalam tahap penyelidikan polisi.
Pliiip....
Romi mematikan televisi yang ada di ruang kerjanya. Dia segera meraih ponselnya untuk menghubungi Edo.
"Halo... " ucap Edo.
"Halo Do.. Kamu sudah dengar berita pagi ini?" tanya Romi.
"Sudah baru saja" jawab Edo.
"Kamu siap - siap Do, sebentar lagi aku jemput. Saat mertua kamu pergi ke kantor polisi kita hampiri rumahnya. Kamu jemput istri dan anak kamu" ujar Romi.
"Iya Rom.. aku akan bersiap - siap" sambut Edo.
Telepon langsung terputus. Romi meraih ponsel dan kunci mobilnya lalu dia pergi meninggalkan kantor menuju apartemennya untuk menjemput Edo.
Satu jam berikutnya dia dan Edo sudah sampai di rumah Pak Rahardian. Mungkin karena Pak Rahardian tidak fokus hari ini sehingga penjagaan rumahnya tidak begitu ketat.
Romi mengatakan kepada satpam rumah Pak Rahardian bahwa dia ingin berdamai dengan Pak Rahardian. Tapi karena telepon Pak Rahardian tidak dijawab mereka mempersilahkan Romi masuk ke rumah untuk bertemu dengan Klara putri Pak Rahardian.
Edo langsung memeluk istri dan anaknya begitu mereka sampai dan bertemu dengan Klara.
"Maaas" ucap Klara dengan mata berkaca - kaca.
"Sebaiknya kamu siapkan pakaian kamu Kla. Kita pergi dari sini, yang penting kamu bisa keluar dari sini, setelah itu aku akan menghubungi Pak Rahardian. Aku bersedia berdamai dengannya dengan satu syarat" ungkap Romi.
"Syarat apa Rom?" tanya Klara penasaran.
"Nanti kamu juga akan tau Kla. Cepat siapkan semua barang - barang kamu" perintah Romi.
"Baik Rom" Klara langsung kembali ke kamarnya untuk mengambil pakaiannya dan pakaiannya anaknya.
"Terimakasih Rom" ujar Edo.
"Sama - sama.. anggaplah ini kebaikanku karena dulu kamu adalah mantan fansnya Ela" balas Romi.
.
.
BERSAMBUNG