Playboy Insaf

Playboy Insaf
Seratus Duapuluh Satu



"A.. apa yang terjadi dengan Dini?" tanya Riko pada Dokter yang masih ada bersama keluarga Dini di dalam kamarnya.


Sementara Dini terlihat sedang menangis dan ditenangkan oleh Mamanya.


"Maaf Pak, Pasien menderita penyakit Endometriosis" jawab Sang Dokter.


"Penyakit apa itu? Tolong anda jelaskan kepada saya" pinta Riko.


"Endometriosis adalah kondisi di mana jaringan yang melapisi dinding rahim (endometrium) tumbuh dan menumpuk pada organ lain. Normalnya, endometrium atau jaringan dinding rahim akan menebal ketika Anda akan mengalami ovulasi (indung telur melepaskan telur). Dinding rahim akan mempersiapkan diri untuk menebal agar calon janin dapat menempel pada rahim – jika terjadi pembuahan. Namun bila tak ada pembuahan, endometrium yang telah menebal akan meluruh. Saat itu lah pasien mengalami haid. Sementara saat seorang wanita mengalami endometriosis, jaringan dinding rahim yang tumbuh di luar rahim juga akan meluruh saat Pasien mengalami haid. Namun, jaringan yang meluruh itu tidak keluar melalui vagin* seperti pada jaringan normal yang terdapat di dalam rahim, sehingga sisa-sisa endometrium tersebut akan mengendap di sekitar organ reproduksi. Lama kelamaan, endapan ini akan menyebabkan peradangan, kista, jaringan parut, dan akhirnya menimbulkan gangguan. Itu yang menyebabkan Pasien merasa sangat sakit di bagian perut ketika dia mengalami haid" ungkap Dokter kepada Riko.


"Apa resiko yang akan diderita Dini?" tanya Riko ingin tahu sejelas mungkin apa penyakit Dini.


"Kondisi ini akan membuat Anda sulit untuk hamil dan meningkatkan risiko tidak subur. Misalnya saja, saat endometrium tumbuh di tuba fallopi – saluran yang menghubungkan indung telur dengan rahim – sperm* jadi tidak bisa membuahi telur karena terhambat oleh endapan endometrium. Sementara, bila jaringan abnormal tersebut tumbuh di sekitar indung telur, maka akan dapat menghalangi indung telur memproduksi telur. Semua kondisi tersebut akhirnya membuat Pasien sulit untuk hamil dan tidak subur" jawab Dokter.


Riko melirik Dini, tangisan Dini semakin kencang terdengar.


"Apakah kecil kemungkinan untuk hamil?" tanya Riko.


"Meskipun kondisi ini terjadi pada sistem reproduksi, bukan berarti pasien tak bisa hamil. Jangan cemas, sebab kemungkinan untuk hamil selalu ada. Ada sebuah penelitian yang dilakukan oleh World Endometriosis Research Foundation menyatakan bahwa 1 dari 3 wanita yang mengalami endometriosis dapat hamil dengan normal tanpa dibantu dengan perawatan kesuburan sama sekali.


"Bagaimana cara mengobatinya?" tanya Riko.


"Pasien bisa menjalani operasi untuk mengangkat endapan atau mengobati luka yang disebabkan oleh jaringan endometrium. Pengobatan dengan cara ini berhasil membuat 30-80% wanita dengan endometriosis hamil. Namun, cara ini tergantung dengan kondisi masing-masing individu. Operasi yang dilakukan justru mengurangi jumlah ovum Anda yang masih tersimpan" jawab Dokter.


Riko kembali menatap wajah Dini yang masih belum berhenti menangis.


"Tapi saran saya untuk Bu Dini tidak perlu di operasi" sambung Dokter.


"Jadi apa saran Dokter?" tanya Riko.


"Masih ada pengobatan yang bisa dilakukan agar dapat hamil. Berbagai hasil penelitian menyatakan bahwa terdapat 40-50% wanita dengan endometriosis yang diberikan obat kesuburan dapat hamil dengan normal. Begitu juga dengan wanita yang menjalani metode bayi tabung. Metode tersebut juga bisa menjadi pilihan bagi Bu Dini yang mengalami sulit hamil akibat endometriosis" ungkap Dokter.


Papa Dini terlihat diam tertunduk.


"Ada juga yang harus Bu Dini lakukan untuk meningkatkan peluang hamil. Selain melakukan pengobatan yang dianjurkan oleh tim medis, penting bagi pasien untuk menjalani pola hidup yang sehat. Dengan menerapkan pola hidup sehat, pasien dapat meningkatkan peluang kehamilan. Cara ini akan membantu menurunkan risiko peradangan pada organ reproduksi Bu Dini dan membantu untuk mempersiapkan ‘rumah’ yang siap untuk dibuahi. Caranya dengan menjaga berat badan tetap ideal. Mengonsumsi makanan yang sehat dan tinggi serat. Hindari makanan yang mengandung lemak, kalori, dan gula yang tinggi. Melakukan olahraga rutin adalah hal yang penting agar tubuh tetap bugar dan sehat. Hindari kebiasaan yang buruk seperti mengonsumsi alkohol, merokok, serta begadang" sambung Dokter.


"Bu Dini belum menikah kan?" tanya Dokter.


"Belum Dok" Anita yang bisa menjawab karena Mama Dini sedang menenangkan Dini yang masih menangis.


"Saran saya Ibu Dini kalau sudah punya Calon segera menikah, jelaskan kepada pasangannya kondisi kandungan Bu Dini. Kalau Bu Dini berhasil hamil dan melahirkan kebanyakan pasien bisa sembuh. Karena setelah Bu Dini melahirkan jaringan yang melapisi dinding rahim (endometrium) tumbuh dan menumpuk itu bisa berkurang atau malah hilang" ujar Dokter.


Refleks semua mata menatap ke arah Riko.


"Tidak Dok. Keluarga kami akan segera mendiskusikan masalah ini secepatnya, terimakasih banyak ya Dok" jawab Anita.


"Baiklah kalau begitu saya izin pamit" Dokter dan satu perawat keluar dari ruang rawat inap Dini.


Untuk sesaat semua saling diam, hanya terdengar isak tangis Dini yang masih belum berhenti. Riko hanya bisa terdiam dan berdiri kaku sambil terus menatap lurus kearah Dini yang masih terus saja menangis.


Tiba - tiba Papa Dini berdiri dan mendekati Riko. Papa Dini meraih tangan Riko dan menggenggamnya.


"Nak Riko... maafkan perlakuan Bapak selama ini kepada kamu. Bapak mengaku salah. Bapak hanya berpikir hal yang terbaik yang bisa Bapak lakukan untuk putri Bapak. Semua untuk kebahagiaannya tanpa sedikitpun Bapak memikirkan perasaan kamu. Saat ini Bapak sadar bahwa kita sebagai manusia tidak ada yang sempurna. Sekarang Dini punya kekurangan yang sangat besar, seperti yang telah di jelaskan oleh Dokter tadi dan kita sudah mendengarnya bersama - sama" ucap Papa Dini.


Riko menatap wajah Papa Dini. Dia masih belum mengerti apa maksud perkataan Papa Dini.


"Tapi Bapak masih berharap kebaikan hati Nak Riko, kalau Nak Riko benar - benar mencintai Dini segeralah nikahi dia. Mungkin dengan cara begitu penyakit Dini akan sembuh. Jika dalam waktu tiga tahun Dini belum juga hamil, Nak Riko bisa melepaskannya dan kembalikan kepada Bapak" ucap Papa Dini dengan menahan isak tangis.


"Pa.... " tangisan Dini kembali pecah.


"Tolong Nak Riko, tolong bantu anak saya. Mungkin itu satu - satunya cara yang terbaik untuknya saat ini" pinta Papa Dini.


"Pa... aku gak mau. Cara itu hanya membuang waktu dan masa depan Mas Riko. Kalau aku tidak bisa hamil, waktu Mas Riko akan terbuang percuma. Usianya terus bertambah Pa, pasti Mas Riko menginginkan keturunan. Lebih baik... lebih baik Mas Riko mencari wanita yang lebih baik dari aku" ucap Dini sambil terisak.


Hati Riko terasa sangat perih ketika mendengar perkataan Dini barusan dan juga tangisan Dini terasa sangat menyayat hati. Tangisan putus asa karena nasibnya.


"Jangan Mas.. jangan terima dan jangan kabulkan permintaan Papa. Aku tidak mau Mas Riko juga ikut menderita karena penyakit yang aku derita" sambung Dini.


"Sayaaaang... " Mama Dini berusaha untuk menenangkan putrinya.


Papa Dini terus menggenggam tangan Riko dengan kuat seolah-olah meminta kekuatan Riko untuk membantu putrinya.


"Nak Riko tolooong" ucap' Papa Dini dengan pelan.


Riko menatap Dini kemudian beralih ke Papa Dini yang kini ada di hadapannya. Bergantian ke arah Mama Dini, Anita dan terakhir Galuh. Saat ini dia harus mengambil keputusan yang tepat untuk dirinya dan Dini. Untuk masa depan mereka berdua kelak.


Riko menarik nafas panjang dan mulai membuka suara untuk menjawab permintaan Papa Dini.


"Saya mencintai Dini apa adanya, dengan segala kekurangan dan kelebihannya seperti Dini yang juga bisa menerima semua kekurangan dan kelebihan saya. Benar kata Bapak, tidak ada manusia yang sempurna, saya juga punya lebih banyak kekurangan dari Dini. Saya tidak mempermasalahkan penyakit yang Dini derita. Jika kami diberi Allah kesempatan dan amanah seorang anak dalam rumah tangga kami, saya sangat bersyukur tapi jika tidak saya tidak akan mempermasalahkannya. Bapak tidak perlu memberikan waktu pada pernikahan kami kelak, saya tidak butuh itu. Saya akan tetap menikah dengan Dini hingga maut memisahkan kami kelak. Saya mau menikah dengan Dini" ucap Riko dengan tegas.


.


.


BERSAMBUNG