Playboy Insaf

Playboy Insaf
Limapuluh Satu



Bimo dan rombongan sudah sampai di rumah Refan. Kinan dan Refan menyambut kedatangan mereka dengan suka cita.


"Akhirnya kamu tinggal di Jakarta juga ya Bel? Dulu kan emang seperti itu cita - cita Kamu" ucap Kinan saat berpelukan menyambut kedatangan Bela.


"Iya Mbak, untung Bos aku baik. Gak perlu nunggu ijazah langsung terima" sambung Bela.


"Wong ada maunya" gumam Refan.


Bimo tersenyum mendengar ucapan Refan sedangkan Aril menggaruk kepalanya yang tak gatal karena salah tingkah.


"Ini siapa?" tanya Refan kepada Ela.


"Mm..anu Mas, aku Ela temannya Bela" jawab Ela.


Mereka saling berjabat tangan.


"Mau cari kerja di sini juga Mas? Ada referensi gak?" tanya Reni.


"Nanti aku tanya Romi, Riko atau Bagus ya" jawab Refan ramah.


"Yuk masuk, kita langsung makan siang" ajak Kinan.


Bimo dan yang lainnya langsung berjalan menuju ruang makan. Disana sudah menunggu Papa dan Mama Kinan, Salman juga Mamanya Refan.


"Bapak, Ibu sehat Bel?" tanya Bu Dhisti.


"Alhamdulillah sehat Bu" jawab Bela.


Bik Mar dan Bik Nah dengan sigap dan cekatan menghidangkan menu makan siang mereka bersama.


"Kamar kalian di atas ya" ujar Kinan.


"Mbak aku dan Ela sekamar aja. Gak usah repot" balas Bela.


"Iya Mbak, muat kok kalau kamu tidur sekarang" sambut Ela sungkan.


"Ya sudah nanti di kamar yang ada disamping kamar Mas Bimo" perintah Kinan.


"Iya Mbak, makasih" balas Bela.


"Yang semangat ya makannya, jangan sungkan" ujar Bu Suci.


"Iya Bu" jawab Bela dan Ela berbarengan.


"Tante Bela gak bawa oleh - oleh untuk Salman?" tanya Salman.


"Ada donk sayang, untuk ponakan tante tersayang pasti donk tante bawain oleh - oleh yang buaaanyaaaak" jawab Bela.


"Asiiiiik... " teriak Salman senang.


Setelah makan siang mereka kembali duduk di ruang keluarga. Bela dan Ela sudah naik ke lantai dua dan masuk ke kamar mereka untuk berbenah dan istirahat.


Kinan, Reni, Bu Suci dan Bu Dhisti juga masuk ke kamar mereka untuk istirahat. Pak Ardianto menemanimu Salman bermain di teras belakang. Kini hanya tinggal para lelaki yang melanjutkan obrolan mereka.


"Kamu sampai kapan disini?" tanya Refan kepada Aril.


"Jadi kamu mengusirku? Tega banget kamu Fan?" sambut Aril.


"Kamu kan sudah seminggu keluar kota, baru sampai hari ini. Besok juga harus kerja kan. Mending kamu istirahat pulang dari pada terus disini" jawab Refan.


Aril segera berdiri setelah mendengar jawaban Refan.


"Ya sudah aku pulang" ujar Aril.


"Cih laki - laki pakai acara ngambek. Baru digituin langsung pulang dia, cemeeen" ejek Refan


"Aku gak cemen bro tapi yang kamu katakan tadi memang benar. Aku sudah gerah pengen pulang dan istirahat di apartemen. Yuk Bim, kapan - kapan mampir di apartemenku. Atau kamu tinggal di apartemen dekatku saja. Nanti akan aku carikan yang kosong" ucap Aril menawarkan.


"Gak usah Ril. Aku gak suka tinggal di apartemen. Aku lebih suka rumah, ada halaman rumahnya dan lebih ramah dengan tetangga. Lagian nanti kalau Bapak dan Ibu datang kesini mereka pasti lebih betah kalau aku punya rumah daripada apartemen" jawab Bimo.


"Baiklah kalau begitu. Ya sudah aku balik ya. Besok pagi aku datang lagi" sambut Aril.


"Ngapain kamu datang lagi besok?" tanya Refan.


"Mau jemput sekretaris baruku" jawab Aril sambil tersenyum.


"Tumben penuh perhatian sama calon karyawan. Pasti ada maunya deh" sindir Refan.


"Hati - hati Bim adik kamu ditaksir Aril. Dia ini playboy" goda Refan.


"Hei.. mantan. Kamu kan tau aku sudah bertaubat. Bimo juga tau kok dan dia juga mau ikut kita bareng ke pengajian" sambut Aril.


"Oh ya?" tanya Refan.


"Iya Fan. Aku juga mau ikut pengajian kalian. Sudah banyak ilmu agama yang aku lupa. Saatnya aku belajar lagi dan menebus semua dosa - dosaku yang dulu" jawab Bimo.


"Langkah kamu benar Bim, semoga kamu istiqomah dan semangat" balas Refan.


"Aamiin... " jawab Bimo.


"Oke bro aku pergi dulu ya" pamit Aril.


"Makasih ya Ril, hati - hati di jalan" sambut Bimo.


Aril melangkah pergi meninggalkan Bimo dan Refan berdua di dalam rumahnya.


*****


Keesokan harinya seperti perkataan Aril kemarin, pagi - pagi sekali dia sudah sampai di rumah Refan dan Kinan dan tanpa malu langung ikut bergabung dengan Refan dan keluarganya yang sedang menikmati sarapan pagi.


"Ih Mas Aril numpang sarapan mulu di rumah orang. Cepetan gih cari istrinya biar dimasakin setiap hari" sindir Reni.


"Ini kan sedang usaha Ren. Doain semoga berhasil ya" jawab Aril.


"Lho Ril, kamu sudah punya calon?" tanya Bu Suci.


"Dia mah calonnya banyak Ma. Tapi gak ada yang beres" potong Reni.


"InsyaAllah ini yang terakhir. Do'ain aja ya Tante, semoga Aril berhasil mendapatkan hatinya" jawab Aril.


"Cari wanita baik - baik Ril dan yang serius, jangan main - main mulu. Ingat umur kamu sudah banyak. Jangan kelamaan entar kering peranakan kamu" sambut Bu Suci.


"Bisa gitu Bu laki - laki peranakannya kering?" tanya Aril serius.


Bimo juga serius mendengarkan, karena dia juga baru dengan kali ini. Usianya juga sudah tua dan alangkah sedihnya kalau dia juga mengalami hal yang sama. Bimo masih ingin menikah dan punya anak.


"Ya kalau tali airnya bocor, pas ketemu rumahnya langsung kosong. Ya sampai kapanpun gak akan berisi" jawab Bu Suci.


"Kenapa bisa bocor?" tanya Aril penasaran.


"Banyak sebab, karena faktor usia dan juga karena kamu udah foya - foya duluan sebelum menikah" jawab Bu Suci.


"Tante iiih serem banget ceritanya. Gak bisa ganti topik gitu. Misalnya, Ril kapan nikahnya?" ujar Aril.


"Tadi Tante udah tanya siapa calonnya tapi kamu masih mau sembunyiin" jawab Bu Suci.


Refan dan Kinan saling lirik, mereka tersenyum melihat tingkah Aril yang sok cari perhatian sedangkan Bela tampak cuek dan asik makan. Sementara Bimo dan Reni sesekali saling curi pandang.


Refan dan Kinan merasa lucu melihat dua pasang pria dan wanita yang ada di meja makan. Yang satu pasang terlihat sudah saling suka tapi masih jaga perasaan sedangkan yang sepasang lagi di prianya udah kelihatan suka banget sementara si wanita masih belum sadar kalau dia adalah target sang pria.


"Aku sudah siap. Mas Bimo cepatan yuk" ajak Bela.


"Lho kamu mau kemana Bel?" tanya Aril.


"Mau ke kantor, ini hari pertamaku. Aku gak mau terlambat" jawab Bela.


"Trus ngapain ngajakin Bimo kan ada aku Bel disini? Aku Bos kamu lho. Kemarin kan udah aku bilang sama kamu" ujar Aril mengingatkan Bela.


"Tapi aku sungkan ah Mas. Masak hari pertama kerja bareng sama Bos. Gak enak kelihatan banget nepotismenya. Malu sama karyawan lain yang ngeliat" balas Bela.


"Ya sudah kalau begitu kita berangkat bareng. Nanti kalau sudah dekat kantor kamu aku turunin. Gimana?" Aril. memberikan penawaran.


"Ya sudah kalau begitu ayuk. Aku sudah siap sarapan dan gak mau terlambat" ajak Bela.


"Oke... aku juga sudah siap nih" balas Aril.


Bela dan Aril berpamitan dengan yang lainnya dan bergegas menuju mobil Aril dan berangkat ke Kantor.


.


.


BERSAMBUNG