
"Mas Ela sudah hamil. Sekarang semua teman - temanku sudah hamil. Hanya aku saja yang belum hamil" ucap Dini sedih. Akhirnya air matanya jatuh juga ke pipi.
Duh kenapa Dini bisa tau kalau Ela hamil. Aku jadi gak tega lihat Dini sesedih ini.
"Belum rezeki kita sayang... mungkin Allah punya rencana lain. Seperti kita pacaran halal dulu. Kan sebelum nikah kita gak bisa mesra - mesraan. Sekarang kita puas - puasin aja dulu" ucap Riko menenangkan Dini.
"Tapi pacaran bisa kapan aja Mas, udah punya anak pun kita masih bisa pacaran. Kalau hamil... aku takut aku tidak bisa Mas hiks.. hiks.. " tangis Dini semakin pecah.
"Sudah.. sudah.. sayang.. kamu ingat pesan dokter. Kamu jangan stress jangan mikirin itu semuanya. Kalau kamu kepikiran terus itu akan membuat kamu merasa terbeban. Ingatlah aku tidak memaksa kamu untuk mengalami seperti apa yang mereka rasakan. Aku hanya butuh kamu, kalau Allah tidak menitipkan amanahNYA kepada kita aku tidak akan kecewa. Aku menerimanya asalkan aku bisa menjalani hidup sampai tua bersama kamu sayang" hibur Riko.
"Mama dan Papa kamu Mas" ucap Dini.
"Mama dan Papa juga tidak mempermasalahkannya, sejak awal menikah dengan kamu mereka sudah bisa menerimanya. Ayolah sayang lepaskan semua beban kamu. Mari kita nikmati rumah tangga ini tanpa tuntutan apapun. Kita harus rileks sayang dan saling bisa menerima keadaan pasangan apa adanya" bujuk Riko.
Dini menghapus air matanya.
"Tapi aku mau tetap menjalankan pola hidup dan makan sehat" ujar Dini.
"Boleh tapi janji ya semua untuk kesehatan kamu. Agar kalau program kehamilan ini tidak berhasil kamu tidak akan kecewa" ujar Riko.
"Aku akan mencobanya Mas" jawab Dini.
"Ya sudah sekarang kita istirahat saja ya. Biar besok bibik yang beresin pakaian kita. Aku butuh kamu disampingku malam ini untuk menemaniku tidur" Riko sengaja mengalihkan pembicaraan agar Dini menghentikan aktivitas sebelumnya.
Dia tau Dini hanya mencari kesibukan untuk mengalihkan pikirannya karena kabar kehamilan Ela. Dia tidak mau istrinya itu terlalu letih bekerja di kantor dan di rumah.
Dini menghentikan pekerjaannya dan ikut bergabung bersama suaminya berbaring di atas tempat tidur hingga akhirnya mereka tertidur berdua saling berpelukan.
Sudah sepekan Riko melihat perubahan istrinya yang lebih murung. Walau bibirnya berkata dia bisa menerima kenyataan bahwa teman - temannya semua sudah hamil sedangkan dirinya sendiri belum ada tanda - tanda akan menyusul mereka semua.
Riko sudah melakukan segala cara untuk menghibur Dini. Dia sudah membelikan Dini barang - barang yang diinginkan setiap wanita. Tapi itu hanya membuat Dini ceria sesaat setelah itu Dini kembali murung.
Riko takut jika semua ini berlarut rumah tangga mereka akan semakin dingin. Riko tidak ingin hal itu terjadi.
Diam - diam Riko menemui Ela dan Romi di rumah orang tua Romi.
"Lho Mas Riko, Dini mana?" tanya Ela terkejut melihat Riko datang sendiri.
"Dini di apartemen, aku cuma mampir sebentar ingin bicara sama kamu dan Romi perihal Dini" ucap Riko.
"Oh boleh, silahkan duduk Mas Riko, biar aku panggil Mas Romi dulu" sambut Ela.
Riko duduk di ruang tamu sedangkan Ela masuk ke dalam untuk memanggil suaminya. Tak lama kemudian Romi dan Ela sama - sama datang menemui Riko di ruang tamu.
"Whatsapp bro?" tanya Romi.
"Maaf El aku mau tanya, apakah di kantor kamu tidak merasa ada sesuatu yang berbeda pada Dini?" tanya Riko.
Ela terdiam sesaat dan mencoba mencari jawaban dari pertanyaan Riko.
"Seminggu ini Dini lebih pendiam Mas dan lebih suka menyendiri. Biasanya kalau sudah tidak ada pekerjaan dia akan datang ke ruanganku tapi belakangan ini dia lebih banyak di ruangannya. Hanya saat meeting atau makan siang baru dia menghampiriku" jawab Ela.
"Emangnya Dini kenapa bro?" tanya Romi.
"Sejak mengetahui tentang kehamilan Ela minggu lalu, dia menangis dalam pelukanku. Aku tau dia sedih dan merasa punya beban berat karena sampai saat ini belum juga hamil. Aku sudah jelaskan kepadanya kalau aku tidak memaksakan hal itu harus ada. Aku menerima dia apa adanya dan aku tidak butuh yang lain. Saat itu dia katakan akan belajar untuk ikhlas tapi aku sangat yakin di dalam hatinya tidak. Dia jadi lebih murung dan lebih pendiam. Aku bingung bagaimana harus menghiburnya. Segala cara sudah aku lakukan. Aku sudah ajak dia makan diluar, jalan - jalan di waktu senggang, berbelanja, nonton bahkan aku sudah belikan dia banyak barang. Tapi hanya sesaat dia ceria setelah itu dia kembali sepi dan diam" ungkap Riko.
Wajah Ela tampak sedih dan merasa bersalah.
"Maaf ya Mas Riko, padahal aku dan Mas Romi sepakat untuk merahasiakannya sementara sampai program hamil Dini membuahkan hasil. Tinggal beberapa minggu lagi kan? Tapi ternyata Dini melihat obat - obat yang aku minum dan dia bisa menebak kalau aku hamil" ucap Ela sedih.
"Tidak apa El, aku hanya ingin tau bagaimana keadaan istriku di kantor. Sepertinya sama dengan di rumah ya" ujar Riko.
Romi dan Ela saling pandang.
"Mmm.. El aku boleh mint izin gak" pinta Riko.
"Izin apa Mas?" tanya Ela
"Aku mau ajak Dini jalan - jalan keluar kota untuk menghibur hatinya. Siapa tau dengan cara seperti ini aku bisa menyentuh hatinya dan membuatnya ikhlas menerima apapun yang Allah gariskan untuk rumah tangga kami. Aku ingin dia mengerti bahwa aku tidak memaksanya untuk mendapatkan keturunan. Aku tidak ingin dia terbebani" pinta Riko.
"Boleh Mas boleh.. silahkan saja. Masalah kantor nanti ada kok asisten aku atau sekretaris Dini yang bantuin" sambut Ela.
"Baiklah kalau begitu mulai besok Dini izin ya. Aku akan bawa dia jalan - jalan keluar kota" ungkap Riko.
"Mudah - mudahan membuahkan hasil ya Ko" ujar Romi memberi semangat.
"Aku hanya ingin Dini kembali ceria. Dia tidak bisa hamil tidak masalah bagiku. Aku hanya ingin menjalani rumah tangga ini sebagai tempat beribadah bersama. Cara beribadah kan banyak Rom, tidak harus dengan mendidik anak dan membesarkan mereka. Masih banyak cara lain yang bisa kami lakukan. Aku sudah terima kenyataan ini. Mungkin ini hukuman bagiku karena dulu sudah menyia - nyiakan waktu mudaku dengan berbuat dosa " ungkap Riko.
"Kamu harus kuat agar Dini juga bisa ikhlas menerimanya. Yakinkan dia tentang apa yang kamu inginkan dalam rumah tangga kalian. InsyaAllah Dini bisa mengerti dan menerimanya. Aku yakin Dini wanita yang solehah dia pasti akan mudah untuk ikhlas dalam hidup ini" ucap Romi.
"Semoga seperti itu Rom, itulah yang aku harapkan. Baiklah kalau begitu aku permisi pulang ya Rom, El. Terimakasih ya El sudah memberi izin pada Dini. Aku pamit, Assalamu'alaikum" ucap Riko.
"Wa'alaikumsalam" jawab Romi dan Ela bersamaan.
.
.
BERSAMBUNG