Playboy Insaf

Playboy Insaf
Seratus Duapuluh Tujuh



"Kamu sudah siap?" tanya Romi.


"Sudah Mas" jawab Ela.


Wajah Ela tampak cemberut saat dia duduk di sofa ruang kerja Romi.


"Kamu kenapa?" tanya Romi penasaran.


"Gak kenapa - kenapa Mas" jawab Ela berusaha menyembunyikan perasaannya.


"Jadi kenapa wajah kamu cemberut begitu?" tanya Romi.


"Aku cuma merasa sedih meninggalkan kantor ini, apalagi melihat sekretaris kamu. Aku merasa dia punya perasaan pada kamu Mas. Dan sepertinya dia sangat membenciku" ungkap Ela.


"Itu cuma perasaan kamu saja" balas Romi.


"Terkadang feeling seorang wanita benar lho Mas. Benar memang para pria suka berpikir secara logika, wanita suka pakai perasaan. Tapi hati gak bisa di bohongi Mas. Alarm hati wanita selalu aktif kalau ada sesuatu yang akan membahayakan masa depannya" sambung Ela.


"Jadi ceritanya bidadari surgaku ngambek nih?" goda Romi.


"Siapa yang ngambek" bantah Ela.


Romi tersenyum menatap Ela. Dia berdiri dari tempat duduknya dan berjalan hendak menghampiri Ela yang duduk di sofa ruang kerjanya.


Tiba - tiba pintu terbuka dan muncullah Mama Romi diikuti Silva.


"Romi" teriak Mamanya.


Ela langsung berdiri tegang. Romi membalikkan badannya dan terkejut melihat Mamanya datang tapi dengan cepat dia bersikap biasa kembali.


"Mama... " sambut Romi.


Romi meraih tangan Mamanya dan menciumnya begitu juga dengan Ela tapi langsung di tepis oleh Mama Romi. Ela tampak tegang dan ketakutan.


"Kamu gak bilang kalau saya lagi ada tamu?" Ucap Romi kepada Silva dengan tatapan intimidasi.


"Su.. sudah Pak" jawab Silva.


"Sekarang kamu keluar. Ini pembicaraan keluarga" Romi langsung mengusir Silva.


"Baik Pak" jawab Silva.


Silva langsung bergegas meninggalkan ruangan Romi. Mama Romi sudah duduk di sofa sedangkan Ela dan Romi masih berdiri.


"Duduk Shel" perintah Romi.


Ela duduk di sofa tepat di hadapan Mama Romi.


"Ngapain wanita ini di ruangan kamu? Bukankan dia pegawai rendahan biasa? Ini kan jam kerja ngapain dia di ruangan CEO? Mau merayu kamu?" tanya Mama Romi dengan tatapan sinis.


"Maa.. tolong jaga sikap Mama" potong Romi.


"Mama ini istri pemilik Perusahaan ini, dengan kata lain Mama juga pemilik Perusahaan ini. Wajarkan kalau Mama ingin bertanya apa kerja karyawan yang bekerja di perusahaan ini? Mama tidak suka ada karyawan yang kerjanya hanya main - main dan mengganggu atasannya" balas Mama Romi.


"Mulai hari ini Cishela bukan lagi karayawan di Perusahaan kita Ma. Dia diterima di Perusahaan Om Reno sebagai Kepala Bagian Keuangan" jawab Romi.


"Apa? Wanita ini menjadi Kabag Keuangan di Perusahaan Mas Reno? Maksud kamu Mas Reno Subrata?" tanya Mama Romi terkejut.


"Iya dan kedatangannya ke ruanganku untuk mengucapkan kata perpisahan dan pamit kepadaku Ma" jawab Romi.


"Cishela gadis yang sangat pintar Ma. Pengalamannya ya di Perusahaan ini, dia baru bekerja satu bulan di Perusahaan kita tapi Cishela sudah berhasil membuat laporan tahunan Perusahaan kita tanpa ada kesalahan. Dan Mama tau tender kita di Surabaya bisa kita menangkan semua berkat usaha Cishela Ma. Perusahaan kita untung banyak dalam tender tersebut" ungkap Romi.


Mama Romi tampak terkejut. Dia menatap wajah Ela yang masih tertunduk karena takut bertemu Mama Romi.


Apa benar gadis ini sehebat yang Romi katakan? Kalau benar, berarti dia lebih hebat dari Silva donk? Aku harus cari tau ke bagian Keuangan. Batin Mama Romi.


"Mama tidak percaya, bisa saja itu hanya akal -akalan kamu saja agar Mama merestui hubungan kalian" balas Mama Romi.


Tuh benarkah? Berarti kemarin waktu aku datang ke rumah orang tua Mas Romi. Mamanya tidak sakit beneran tapi karena Mamanya tidak suka denganku sehingga acara makan malam bersamanya batal. Sekarang semua sudah jelas. Hubunganku terlarang restu Mamanya Mas Romi. Ya Tuhan... aku harus bersikap bagaimana? tangis Ela dalam hati.


"Mama bisa mencari bukti - buktinya. Tanya saja sama Bu Monic, Kabag Keuangan Perusahaan kita. Mama kan kenal baik dengan beliau" perintah Mama Romi.


"Ya sudah kalau begitu Mama ke ruangan Monic saja" ucap Mama Romi.


"Silahkan tapi maaf Ma, aku tidak bisa menunggu Mama sampai selesai. Aku dan Cishela akan ke Perusahaan Om Reno. Kamu ingin mengantarkan Cishela ke kantor barunya" balas Romi.


Mama Romi tidak menghiraukan ucapan Romi. Dia segera keluar dari ruangan Romi dan berjalan ke lantai bawah ke ruangan Bagian Keuangan.


Ela menatap wajah Romi dengan tatapan sedih bercampur marah.


"Mas bohongkan kemarin?" tanya Ela.


Romi menarik nafas panjang.


"Maaf Shel.. aku tak bermaksud membohongi kamu" jawab Romi.


"Mas bilang Mama Mas sakit malam itu tapi nyatanya Mama Mas Romi tidak merestui hubungan kita kan?" tanya Ela dengan mata berkaca - kaca.


"Shel.. maaf kan aku. Aku tidak berniat buruk untuk menyembunyikan itu. Aku ingin mempersiapkan kamu sehingga layak menjadi istriku di hadapan Mamaku. Aku sengaja menawarkan jenjang karier yang lebih tinggi kepada kamu di Perusahaan Om Reno agar kamu bisa menunjukkan kelebihan dan kehebatan kamu sehingga Mama bisa melihat kalau pilihanku tidak keliru. Kamu memang hebat dan karena itulah aku memilih kamu sebagai pendamping hidupku" ungkap Romi.


"Tapi Mas.. " bantah Ela.


"Tidak ada tapi - tapian. Banyak keuntungan kamu pindah ke Perusahaan Om Reno, selain kamu terbebas dari tekanan Mama di perusahaan ini, kamu bisa mengembangkan bakat dan kemampuan kamu di sana untuk meraih kesuksesan kamu. Sekaligus kita sama - sama saling mempersiapkan diri kita untuk menuju jenjang pernikahan. Walau aku sangat sedih karena tidak bisa lagi melihat kamu setiap harinya di kantor ini" ungkap Romi dengan tatapan serius.


Ela mencoba memikirkan arti setiap. perkataan Romi. Romi benar, saat ini Romi sedang berjuang untuk mengangkat derajat Ela yang hanya gadis kampung biasa. Sekarang mempunyai kesempatan untuk menjadi wanita tangguh dan hebat.


Peluang itu sudah ada di depan mata Ela tinggal bagaimana cara Ela sendiri untuk membuat dirinya berhasil dan sukses sehingga tidak dipandang rendah oleh siapapun.


Ela tersadar dengan niat baik Romi kepadanya. Dan dia berjanji untuk tidak akan mengecewakan Romi. Ela akan meraih kesempatan baik ini dan akan mengerjakannya dengan sebaik - baiknya. Karena sebuah kesempatan tidak akan pernah datang dua kali.


"Baiklah Mas, aku akan berjuang untuk menjadi wanita yang kuat sehingga saat aku berdiri disamping Mas kelak aku layak menjadi pendamping Mas" ikrar Ela.


Romi tersenyum bangga melihat kegigihan dan semangat juang bidadari surganya.


"Kamu hebat Cishela.. kamu hebat sekali, aku memang tidak salah memilih kamu. Ayo kami segera bersiap, aku akan mengantarkan kamu ke Perusahaan Om Reno. Di sana Refan dan Bimo sudah menunggu kedatangan kita" ajak Romi.


"Baik Mas.. tunggu dibawah ya. Aku akan mengambil barang - barangku dan berpamitan dengan Mery" sambut Ela dengan semangat barunya.


Ela langsung keluar dari ruangan Romi dengan semangat membara. Membuat Romi bangga sekaligus senang dengan sikap Ela yang seperti itu.


"Cishela Budianto kamu memang layak menjadi bidadari surgaku" gumam Romi sambil menatap kepergian gadis itu dari ruang kerjanya.


.


.


BERSAMBUNG