Playboy Insaf

Playboy Insaf
Seratus Duapuluh Delapan



Mama Romi sudah sampai di ruangan Bu Monic Kepala Bagian Keuangan di Perusahaan suaminya yang kini di kelola oleh putra tunggalnya.


"Nyonya Hidayat, apa kabar? Kapan anda datang?" tanya Bu Monic ramah.


"Aku baik - baik saja Monic. Aku baru saja turun dari ruangan Romi dan aku bertemu dengan Cishela karyawan di perusahaan ini. Apa benar gadis itu karyawan di Bagian Keuangan?" tanya Mama Romi.


"Iya Nyonya Hidayat. Silahkan duduk ada yang bisa saya bantu?" tanya Bu Monic.


"Bagaimana bisa gadis itu bekerja di Perusahaan ini?" selidik Mama Romi.


"Dia melamar ke HRD. Yang saya dengar dia direkomendasikan oleh Pak Romi sendiri tapi karena dia belum mempunyai pengalaman Ela diterima sebagai OB di Perusahaan ini. Setelah satu bulan hasil kerjanya bagus dan nilai - nilai ijazahnya juga sangat baik sehingga beliau dipromosikan di Bagian Keuangan. Pak Romi memberi dia tantangan, dalam satu bulan dia harus bisa menyiapkan semua laporan pertanggung jawaban Perusahaan ini dalam rapat tahunan. Dia menyelesaikannya dengan sangat baik Nyonya. Anak itu sangat pintar dan cara kerjanya sangat bagus. Dia juga gadis yang baik dan solehah. Selama dia bekerja di sini saya sering melihatnya taat beribadah. Sayang hari ini adalah hari terakhirnya di Perusahaan ini. Padahal saya juga ingin merekomendasikannya untuk naik pangkat karena kerjanya sangat bagus. Tapi yang saya dengar di Perusahaan barunya dia langsung menempati Kepala Bagian Keuangan. Lompatan yang sangat baik, gadis itu juga sangat beruntung. Semoga saja dia sukses di kantornya yang baru" ungkap Bu Monic.


Mama Romi terdiam sesaat mendengar penjelasan dari Bu Monic.


"Apa benar dia juga yang menemani Romi ke Surabaya untuk memenangkan tender proyek Perusahaan di sana?" tanya Mama Romi masih tidak percaya.


"Iya benar, perhitungannya sangat jeli Nyonya, dan feelingnya juga sangat bagus. Ela bisa dengan cepat menghitung untung rugi yang kita terima jika memenangkan proyek tersebut. Sehingga pada saat mereka menandatangani kontrak kerjasama dengan Perusahaan di Surabaya Perusahaan kita akan mendapatkan keuntungan yang sangat besar" puji Bu Monic.


"Apakah dia sehebat itu? Dia kan sangat muda dan belum berpengalaman?" tanya Mama Romi.


"Dia gadis pintar Nyonya, riwayat pendidikannya dia mendapatkan beasiswa kuliah di Universitas favorit di Surabaya dan lulus dengan nilai yang nyaris sempurna" sambung Bu Monic.


Mama Romi terdiam lagi.


"Nyonya tidak mengenal Ela, bukannya Ela masuk ke Perusahaan ini karena rekomendasi dari Pak Romi? Saya kira Ela itu dulunya ada hubungan saudara dengan keluarga Nyonya?" tanya Bu Monic.


"Oh tidak saya tidak mengenalnya. Saya hanya melihatnya tadi saat saya ingin menemui putra saya. Saya lihat ada wanita itu di sana makanya saya bertanya sambil jalan - jalan ke ruangan kamu melepaskan kangen" jawab Mama Romi.


"Ela mau pamit pada Pak Romi karena hari ini dia akan keluar dari Perusahaan ini. Makanya dia ke ruangan Pak Romi. Tapi mengapa Nyonya bertanya banyak hal tentang Ela? Apakah ada sesuatu yang Nyonya khawatirkan?" tanya Bu Monic curiga.


"Oh tidak.. tidak.. " elak Mama Romi.


"Saya kita Nyonya mau menjodohkannya dengan Pak Romi. Saya rasa itu ide yang sangat bagus Nyonya. Ela gadis yang cantik, pintar, baik dan solehah. Dia juga pintar memasak. Dia sering membawa makanan ke kantor hasil dari masakan dia sendiri. Aku rasa kalau menikah dia akan menjadi istri yang baik" puji Bu Monic.


"Kalau Silva bagaimana menurut kamu?" tanya Mama Romi.


Bu Monic tersenyum lembut, dia mengerti sifat istri dari Bosnya ini. Dulu saat dia muda jabatannya adalah sebagai sekretaris Pak Hidayat suami dari wanita ini.


Bu Monic sudah mengenal Mama Romi sejak muda. Wanita ini memang mempunyai feeling yang sangat jeli dalam melihat dan menilai seseorang. Tapi sayang wanita ini sering menilai dari penampilan luarnya saja.


Sepertinya wanita ini punya penilaian khusus kepada Silva sekretarisnya Romi. Yang mana semua karyawan satu gedung ini banyak yang tidak menyukainya termasuk Bu Monic sendiri.


"Silva gadis yang cantik, dia juga pintar di bidangnya. Khususnya mengurus semua jadwal CEO. Tapi maaf ya Nyonya, ini penilaian pribadi saya. Silva itu gadis yang sombong dan mm... matre. Saya beberapa kali melihat dia pulang di jemput oleh seseorang dengan mobil yang berbeda - beda. Walau saya tidak mengetahui pasti gimana pergaulannya secara pasti di luar sana tapi saya merasa seram aja membayangkannya secara dari penampilannya dia berani tampil secara lebih terbuka. Walau ada sebuah pepatah yang mengatakan don't judge book by its cover. Tapi penilaian pertama kita dalam melihat kualitas seseorang itu yang pertama memang dari penampilannya. Kalau penampilan luarnya saja tidak bisa dia jaga dan tutupi saya takut dalamnya juga sudah terjamah. Bukan berarti yang tertutup itu juga suci tapi setidaknya tampilan luarnya sudah terjaga. Mmm itulah menurut saya tentang Silva Nyonya" jawab Bu Monic panjang.


Mama Romi kembali terdiam.


"Kalau seandainya Ibu bertanya kepada saya. Mana yang kamu pilih Ela atau Silva? Maaf ya Bu, saya akan memilih Ela. Dia gadis sederhana yang mempunyai nilai tersendiri jauh di atas Silva. Dari segi apapun. Saya jamin kalau Ibu memilih Ela sebagai menantu Ibu, rumah tangga putra Ibu akan damai dan tenang. Keluarga Ibu juga akan nyaman, cucu - cucu Ibu akan di rawat dan dibesarkan oleh wanita yang sangat baik. InsyaAllah keturunan keluarga Ibu nantinya akan sangat baik juga" sambung Bu Monic.


"Ah biarlah Romi saja yang memilih mana yang terbaik dalam hidupnya" jawab Bu Mama Romi. Dia tidak tau harus berkata apa lagi kepada Bu Monic karena wanita yang ada di hadapannya ini terlihat sangat memuji Ela sejak awal.


Walau kisah awal kedua wanita ini tidak berjalan dengan baik tapi kini mereka menjadi teman dekat. Dulu memang Mama Romi sempat cemburu kepada Bu Monic saat Bu Monic menjadi sekretaris suaminya.


Tapi setelah Pak Hidayat mengatakan kalau Bu Monic sudah mempunyai calon suami dan akan menikah ditambah juga Mama Romi sempat berkenalan dengan calon suami Bu Monic saat muda dulu membuat Mama Romi menjadi percaya bahwa suaminya dan wanita yang ada di hadapannya ini tidak mempunyai hubungan apapun.


Bu Monic tersenyum mendengar penjelasan dari istri Bosnya tersebut. Jelas - jelas Bu Monic sangat tau apa tujuan wanita ini datang menemuinya dan menyelidiki dua wanita yang saat ini memang terlihat sangat dekat dengan Romi sang CEO Perusahaan ini.


Bu Monic mendengar gosip yang beredar di Perusahaan ini Romi sering mencari perhatian Ela. Seperti tiba - tiba Romi makan di kantin di gedung ini, beberapa kali Romi suka memanggil Ela ke ruangannya padahal secara pekerjaan Ela tidak punya hubungan langsung dengan CEO. Romi juga beberapa kali meminta izin Bu Monic untuk membawa Ela dinas keluar dengan alasan butuh bantuan Ela seperti dinas ke Surabaya beberapa bulan lalu. Dan Bu Monic mengerti semua maksud Romi tersebut sehingga dia memberi izin kepada Romi untuk mendekati Ela. Bu Monic sangat senang kalau akhirnya Romi dan Ela menjalin hubungan.


Sementara tentang Silva, seluruh karyawan di gedung ini mengetahui kalau Silva sudah sejak lama mendambakan CEO mereka untuk menjadi kekasihnya. Silva sering bertindak manja dan mencari perhatian di depan Romi. Untung saja tidak mendapatkan tanggapan dari Romi. Dan sebaliknya Bu Monic juga tidak menyukai wanita itu menjadi pendamping Romi kelak.


.


.


BERSAMBUNG