Playboy Insaf

Playboy Insaf
Seratus Enampuluh Satu



Keesokan harinya..


"Assalamu'alaikum calon makmuuuum... " sapa Aril ketika dia sampai di kantornya dan melewati meja kerja Bela.


Bela tersenyum malu mendengar perkataan Aril.


"Wa'alaikumsalam Mas" jawab Bela.


Aril berjalan menuju ruangannya dan diikuti oleh Bela.


"Mas... " panggil Bela.


"Yaaaaa" jawab Aril lembut.


"Aku bisa minta sesuatu gak pada kamu?" tanya Bela.


"Jangankan sesuatu Bel, seluruh dunia ini pun akan ku beri untuk kamu" jawab Aril.


Aseeeek.... tiba - tiba ruangan ini berubah jadi taman bunga yang indah. Sorak Aril dalam hati.


"Maaas.. jangan lebay ah.. aku jadi merasa aneh. Mas Aril jadi berubah, bukan seperti Mas Aril yang biasa" protes Bela.


"Oh kamu mau aku cuek dan dingin lagi seperti sebelum kamu pulang ke Surabaya?" tanya Aril.


"Bukan.. bukan seperti itu. Mas kembali seperti sebelum penolakan aku dulu. Perhatian, lemah lembut tapi gak berlebihan. Kalau seperti tadi aku jadi gak enak sama teman - teman kantor yang lain Mas" ungkap Bela.


Aril duduk di kursi kerjanya dan meminum kopi yang dihidangkan di atas mejanya.


"Sruuuup.... aaaah... " Aril tampak sangat menikmati kopinya pagi itu.


"Kamu yang buat kopi ini ya?" tanya Aril.


"Iya" Bela mengangguk malu.


"Tuh kopi buatan kamu aja udah sangat aku kenal. Aku langsung tau kalau kamu yang buat kopi ini. Kangen banget tau Bel sama kopi buatan kamu. Aku semakin yakin kalau aku tidak akan sanggup jika hidup tanpa kamu disisiku" ungkap Aril.


Wajah Bela semakin merah karena di rayu Aril seperti itu.


"Udah ah Mas aku jadi semakin canggung nih" ucap Bela sedikit kesal.


Aril tersenyum sambil menatap wajah gadis pujaan hatinya.


"Jadi kamu maunya aku bersikap seperti dulu saat kamu belum menolak cintaku. Mmm... kalau aku gak bisa gimana donk? Soalnya dulu kan aku masih ingin mendekati kamu dan belum tau isi hati kamu? Kalau sekarang kan aku udah tau kamu juga punya perasaan yang sama padaku?" goda Aril.


"Iya tapi bisa gak Mas sikapnya di biasain aja" sambut Bela.


"Biasanya aku memang begini pada gadis pujaanku" jawab Aril.


Wajah Bela tampak semakin kesal.


"Jadi aku sama dengan wanita - wanita kamu yang lainnya?" tanya Bela.


"Sorry.. sorry.. aku keceplosan.. Ma.. maksud aku kamu adalah gadis yang pertama aku cintai seperti ini tentu saja sikap aku tidak bisa seperti biasanya lagi" jawab Aril cepat.


Mampu* deh.. aku gali kuburan sendiri. Kenapa juga tadi ngomongnya begitu. Nih bibir perlu di sekolahin lagi. Umpat Aril dalam hati.


Bela masih diam dengan wajah yang masih kesal.


Ngambek deh.. belum juga dua hari jadian udah ambek - ambekan... Batin Aril menangis.


"Ya sudah.. aku janji aku akan bersikap biasa aja pada kamu seperti dulu. Tapi cuma dihadapan orang lain ya.. kalau kita berdua aku gak bisa janji. Nanti aku biasa aja kamu mengiranya aku gak serius suka sama kamu" tegas Aril.


Bela tampak sedang berpikir.


"Oke deh... tapi kita benar - benar harus jaga sikap Mas kalau berduaan. Aku jadi semakin takut dekat Mas kalau cuma berdua. Mas nyeremin kalau udah berdua" pinta Bela.


"Hehehe.. kelihatan banget ya kalau aku mau nerkam kamu. Aku memang udah gak tahan pengen cepat - cepat nerkam kamu. Makanya aku mau minta restu Bimo nih secepatnya biar bulan depan kita nikah. Bisa bahaya, aku juga takut dosa" ungkap Aril.


Gini banget ya punya calon suami mantan Casanova. Pikirannya ngeres melulu.. Jadi serem aku. Batin Bela.


"Kok wajah kamu merah, kamu udah gak tahan juga?" tanya Aril spontan.


Pluuuk.... Bela reflek langsung memukul bahu Aril


"Aduh sakit Beeeel" teriak Aril.


"Mas ini ya pikirannya ngeres banget, aku jadi takut dekat - dekat Mas" ucap Bela kesal.


"Hehehe.. sorry Bel habisnya udah lama banget sejak tobat. Iman kuat Bel, tapi imronnya kagak" jawab Aril jujur.


"Iiiiiih.. Mas Aril" ucap Bela kesal.


"Nanti malam aku ke rumah kamu ya, aku mau bicara serius sama Bimo. Tapi kamu tolong kondisikan Kakak Ipar kamu yang hamil itu. Kasih obat tidur kek biar dia cepat tidur. Kalau ada dia aku di bully terus" Pinta Aril.


"Rasain.. Mas emang pantas di bully, habisnya ngeselin.


Bela kembali ke tempat dia semula dan berdiri di depan meja kerja Aril.


"Tadi malam Mas Bimo udah tanya padaku tentang kebenaran malam saat Mas melamar aku. Aku sudah cerita semuanya. Jadi nanti Mas tinggal cerita tentang keseriusan Mas dan langkah kedepannya aja" ujar Bela.


"Alhamdulillah.. ternyata calon istriku baik banget, belain aku di depan Kakaknya. Makasih ya sa.. " ungkap Aril.


"Huusss... belum boleh" bantah Bela.


"Sorry.. sorry... " Aril langsung manut takut gadis di depannya ini ngambek lagi. Bisa - bisa makin lama mereka nikahnya nanti.


"Baiklah pembicaraan pribadinya udahan dulu sekarang kita fokus kerja. Ini kan sudah waktunya kerja. Hari ini ada meeting dengan PT. XCFHK sampai jam dua siang di kantor mereka. Mas di dampingi sama Mas Dedi" Bela mulai membaca jadwal kerja Aril hari ini.


"Bisa diganti gak Bel, jangan Dedi. Kamu aja yang temani aku" potong Aril.


"Gak bisa, aku mau beresin kerjaan aku setelah satu minggu aku tinggal. Kerjaanku banyak dan menumpuk" tolak Bela.


Aril menarik nafas panjang dan pasrah. Sepertinya pujaan hatinya hari ini memang gak bisa diganggu.


"Baiklah kalau begitu. Sepertinya kamu gak bisa dibujuk lagi. Tapi aku kan kangen kalau lama gak ketemu kamu" goda Aril.


"Mas Ariiiiil... kita kan lagi kerja.. serius dooooonk" protes Bela kesaaal.


"Oke Beeeb.. aku akan serius. Tapi kamu senyum donk jangan marah - marah gitu. Rezeki bisa gak lancar lho katanya kalau pagi - pagi udah bertengkar" Aril masih aja punya banyak jurus untuk menggoda Bela.


Membuat perasaan Bela campur aduk, tiba - tiba malu karena di rayu dan seketika kesal dengan sikap Aril.


"Kalau nanti kita menikah dan seperti ini terus bisa gulung tikar perusahaan ini. Nanti aku mau kasih makan kamu dan anak - anak kita pakai apa coba? Kan kamu gak kenyang kalau aku harus kasih rayuan dan gombalan aja? Harus pakai nasi beserta lauk pauknya" ucap Aril sambil tersenyum.


"Mas Aril kalau gak serius aku tinggal nih? Atau aku ambil cuti lagi? Atau bila perlu aku resign juga hari ini" ancam Bela.


Aril langsung takut karena ancaman Bela terlihat serius.


Duh bibirku memang sexy banget sampai semua kata - kata itu begitu saja menari indah dari bibirku. Bela sampai terpesona dan malu hingga dia harus marah untuk menutupi itu semua. Batin Aril masih dengan penuh percaya diri.


"Oke.. aku serius deh sekarang. Bener deh kali ini gak main - main. Jadi jam sepuluh kan aku pergi bersama Dedi" ucap Aril sambil melirik jam tangannya.


Bela kembali mengambil sikap profesional karena Aril terlihat sudah mulai serius.


"Tapi masih ada waktu satu jam Bel buat aku lepas kangen sama kamu" bibir Aril mulai berulah lagi.


"Iiiih Mas Ariiiiil.... " teriak Bela kesal.


.


.


BERSAMBUNG