Playboy Insaf

Playboy Insaf
Sembilanpuluh Lima



Reni dan Bela sudah sampai di lantai delapan. Jam kerja memang sudah lewat satu jam yang lalu. Kantor sudah mulai sepi karena para karyawan sudah banyak yang pulang ke rumah mereka masing-masing.


Reni dan Bela segera menghampiri Ela.


"El yuk pulang" ajak Bela.


"Lho kalian udah datang. Kok gak kasih kabar padaku? Trus kalian dari mana? Kok bisa masuk ke ruangan ini?" tanya Ela terkejut.


"Kami baru dari ruangan Bos kamu dan lihat ini" Reni memperlihatkan seikat uang berwarna merah kepada Ela.


"Apa itu?" tanya Ela bingung.


"Bos kamu yang katanya kejam itu memberikan uang kepadaku untuk membawa kamu makan dan jalan - jalan. Agar kamu tidak stress dan botak hahaha" jawab Reni sambil tertawa mengingat wajah Romi tadi.


"Si Bos bilang begitu?" tanya Ela tak percaya.


"Iya" sambut Bela.


"Nggak ah, pekerjaanku belum siap" tolak Ela.


"Eits.. gak percaya. Kalau besok Si Rombeng itu marah sama kamu bilang saja padaku. Kalau dia memecat kamu aku akan minta tolong sama Mas Bagus atau Mas Riko atau yang lainnya untuk menerima kamu bekerja di perusahaan mereka. Enak aja dia suka menindas bawahan dengan kerja lembut setiap hari" jawab Reni kesal.


"Benar ya Ren?" tanya Ela untuk lebih meyakinkan.


"Benar El, aku jadi saksinya. Tadi Bos kamu emang menyuruh kita ajak kamu makan dan jalan - jalan biar gak stres. Malah dia kasih uang pada Reni untuk kita makan dan belanja" sambut Bela.


"Ya sudah aku percaya deh pada kalian. Sebentar ya aku rapikan meja aku dulu dan matikan komputer" jawab Ela.


Setelah Ela selesai merapikan mejanya mereka segera pergi meninggalkan ruangan Ela dan berjalan menuju loby kantor.


Reni, Bela dan Ela berjalan ke sebuah Mall besar yang letaknya tak jauh dari kantor Ela. Mereka masuk ke toko yang menjual kelengkapan pakaian kerja.


"Kamu mau beli baju Ren?" tanya Ela.


"Nggak, bukan untukku" jawab Reni.


"Terus untuk siapa donk?" tanya Ela.


"Untuk kamu. Ayo pilih beberapa baju untuk kamu pakai kerja. Amanah harus dilaksanakan. Bos kamu kan tadi pesannya bawa kamu makan dan jalan - jalan biar gak stres. Sementara untuk menghilangkan stress pada wanita ya diajak belanja, ya kan Bel?" jawab Reni.


"Yup benar bangeeet" sambut Bela.


"Tapi aku kaaaan" elak Ela.


"Tidak ada tapi - tapian. Yuk kita cari baju yang sesuai untuk kamu. Uang yang dikasih Bos kamu banyak ini El, bisa beli beberapa pasang baju kerja kamu" desak Reni.


"Iya El udah jangan sungkan - sungkan. Dulu aku juga begitu sama Mas Aril. Dia belikan aku beberapa pasang baju kerja sebelum aku ke Jakarta" ucap Bela.


"Iya deh kalau begitu" jawab Ela.


"Naaah kan asiiik kalau nurut" sambut Reni sambil merangkul Ela.


"Aku bingung melihat Pak Romi terkadang dia itu baik banget padaku dan keluargaku. Aku sangat takut dengan perhatiannya itu" ungkap Ela.


"Takut kenapa?" tanya Reni.


"Aku takut kalau aku terlalu berharap banyak padanya. Sementara dia hanya bersikap biasa aja padaku" jawab Ela.


Reni tersenyum senang, ternyata Ela mulai punya perasaan pada Romi. Kalau kasih tau Romi pasti dia senang banget. Batin Reni.


Setelah itu dia mengirimkan semua foto - foto Ela kepada Romi.


Setan Kecil


Eh Mas Rombeng udah aku bawa jalan - jalan dan belanja ya anak buah kamu. Aku sudah berhasil menghapus image kamu sebagai Bos kejam menjadi Bos yang baik hati dan penuh perhatian kepada bawahannya.


Rombeng


Makasih Setan Kecil. Kamu memang adikku yang baik hati.


Setan Kecil


Kalau uangnya kurang transfer lagi ya..


Rombeng


Itu namanya pemerasan Setan Kecil 👹👹


Setan Kecil


🤣🤣🤣🤣


Setelah selesai berbelanja baru mereka mencari tempat makan yang terbaik dan terenak di Mall tersebut.


"Ya sudah Bel pesan aja apapun yang kalian inginkan" perintah Reni.


"Kamu yang traktir Ren, baik banget" sambut Ela.


"Dia emang wajib traktir kita. Karena Reni baru aja jadian dan sebentar lagi dia akan menikah" jawab Bela.


"Kamu dilamar Ren? Dilamar siapa?" tanya Ela terkejut.


"Mas Bimo" jawab Reni bahagia.


"Benarkah?" tanya Ela tak percaya.


Bela dan Reni saling lirik dan tersenyum kemudian mereka menganggukkan kepalanya. Reni menunjukkan cincin di jari manisnya kepada Ela.


"Oh Ya Allah... alhamdulillah... berarti sebentar lagi kalian akan jadi saudaraan donk. Kakak ipar dan adik ipar" sambut Ela ikut senang.


Bela langsung merangkul Reni.


"Iya sebentar lagi aku akan memanggil Reni dengan sebutan Kakak Ipar" ujar Bela.


"Selamat ya Ren.. Semoga segera menikah dan lancar - lancar semuanya menuju hari - H" ungkap Ela.


"Aamiin... " sambut Reni.


"Cantik banget ya cincin kamu" puji Ela


"Iya, aku saja gak nyangka Mas Bimo punya selera yang bagus" sambut Bela.


"Kan kamu bilang Mas Bimo dulu kuliahnya bagian seni pasti tau donk Bel mana barang bagus" ujar Ela.


"Eh iya ya...aku lupa" balas Bela.


Mereka makan dengan ceria sambil tertawa dan ngobrol bersama - sama. Hubungan persahabatan yang baru beberapa bulan saja terjalin sudah membuat mereka sedekat ini bahkan sudah seperti keluarga.


"Nanti kalau aku menikah, kamu dan Mas Romi jadi bridesmaid nya ya" pinta Reni.


"Ogah ah.. aku gak mau" tolak Ela.


"Ih Elaaa... demi aku lho.. Nanti Bela sama Mas Aril" ungkap Reni lagi.


"Aku kan keluarga inti Ren" jawab Bela.


"Eh iya aku lupa. Trus Mas Aril siapa donk pasangannya?" tanya Reni.


"Ya terserah siapa aja. Emangnya aku pikirin" jawab Bela.


"Yakin gak sayang biarin Mas Aril diambil orang lain. Sayang lho.. mereka pria yang punya prospek masa depan yang bagus buat kalian" goda Reni.


"Mantan playboy, gak mau ah" tolak Ela.


"Eh tapi selama aku jadi sekretaris Mas Aril, gak pernah kok Ren datang cewek- cewek cantik dan sexy yang ngaku pacar mereka?" tanya Bela.


"Ya kan udah aku bilang mereka itu playboy insaf. Buktinya Mas Riko dan Dini aja jalani ta'aruf. Dulu yang kenalin mereka itu Mbak Kinan dan Mbak Anita, kakaknya Dini" jawab Reni.


"Eh iya kangen Dini. Kapan ya ketemu sama Dini lagi. Ajak dia hangout bareng yuk Ren. Kalau sabtu minggu kan dia balik ke Jakarta. Kita janjian gitu jalan bareng" ajak Bela.


"Boleh juga saran kalian itu. Nanti aku tanya Dini deh" sambut Reni.


"Eh udah malam, pulang yuk. Aku masih ada kerjaan lagi yang harus diselesaikan" ajak Ela.


"Kamu selalu saja mikirin kerjaan. Apa gak bosan sih El. Ntar beneran lho kepala kamu botak" sambut Bela.


"Namanya itu tugas aku Bel, bukan cuma takut dipecat sama si Bos. Tapi kamu kan tau dari dulu aku memang paling penasaran sama akuntansi. Kalau ada yang gak beres rasanya aku pantang untuk berhenti" jawab Ela.


"Iya deh Ibu Keuangan. Kamu hitungin aja terus hartanya Mas Romi biar tugas kita yang habisin, ya kan Bel" ujar Reni.


"Pas banget... " sambut Bela.


"Yuk pulang" ajak Ela lagi.


"Oke deeeeh" sambut Reni dan Bela.


.


.


BERSAMBUNG


Hai readers.. kembali disisipin dikit cerita di pernikahan ke 2. Biar saling nyambung. Sabar ya pelan - pelan nanti waktunya akan sama kok. PI lagi kejar tayang biar sampai pada waktu dan cerita yang sama.


Selamat membaca semoga kalian tidak bosan.. Terimakasih