Playboy Insaf

Playboy Insaf
Seratus Enampuluh Tujuh



"Rencana pernikahan kita batal. Kan kita belum menikah dan belum ada ikatan apapun" jawab Aril.


"Maaaaas" seketika wajah Bela berubah sendu.


Aril tersenyum nakal.


"Belaaa... kamu bertanya seperti itu berarti kamu masih belum percaya pada Mas dan masih takut menerima masa lalu Mas. Mas berubah sudah satu tahun lebih lho... Sejak Refan mengetahui pengkhianatan Renita, aku, Riko dan Romi perlahan - lahan berubah. Kami tidak pernah berhubungan lagi dengan wanita manapun. Itu sudah berlalu satu tahun lebih jadi aku pastikan kalau aku tidak pernah mempunyai anak dari wanita manapun. Lagi pula selama ini Aku, Romi dan Riko selalu bermain aman. Aku akui dulu aku sangat jahat sekali tapi aku masih memikirkan masa depanku Bel. Aku tidak akan mempunyai anak dari wanita - wanita itu. Wanita yang dengan mudahnya bisa diajak ke ranjang. Walau aku bejat aku masih punya impian memiliki keluarga bahagia dengan cara yang benar. Jadi aku harap kamu jangan pernah berpikiran seperti itu lagi ya.. Apa coba yang kamu rasakan sekarang? Kamu sedih kan? Masih mendengar jawaban aku belum lagi kalau ternyata hal itu benar - benar terjadi. Kamu kuat tidak kalau seandainya hal itu terjadi pada kita?" tanya Aril.


Bela menggelengkan kepalanya. Air matanya mengalir dari sudut matanya.


"Jangan bersedih donk, sebentar lagi kita akan menikah. Tinggal hitungan hari. Ini sudah hari kamis, seminggu lagi kita akan menikah. Aku sudah menceritakan semua keburukanku dulu. Tidak ada lagi yang aku tutup - tutupi, tapi percayalah aku berjanji masa laluku tidak akan merusak hubungan kita sekarang ataupun nanti setelah kita menikah. Jangan kamu mencari kesedihan sendiri seperti tadi. Aku memilih kamu, karena kamu adalah wanita yang kuat. Aku mencintai kamu karena kamu wanita yang baik dan solehah. Aku juga butuh kekuatan Bel untuk menjalani masa depan. Aku yakin pasti akan ada saja cobaan yang menghadang yang mungkin bisa membuat aku goyah atau kembali ke jalan yang dulu. Oleh karena itu aku butuh kamu yang bisa menguatkan aku, kamu adalah alasan aku untuk terus menjadi pribadi yang lebih baik lagi" ungkap Aril serius.


Bela semakin terisak mendengar ucapan Aril. Dia merasa bersalah karena tidak percaya pada Aril dan takut akan masa lalu Aril.


"Jangan nangis lagi ya.. nanti orang kira kita bertengkar lho.." bujuk Aril.


Bela masih belum bisa menghentikan tangisnya.


"Belaaa udah donk, aku bisa gak kuat kalau melihat kamu menangis begitu. Mau kamu aku peluk di sini di depan umum dan status kita masih belum halal?" ancam Aril.


Tangis Bela langsung terhenti mendengar ancaman Aril. Aril pun tersenyum.


"Saat ini ancaman aku bisa membuat kamu berhenti menangis tapi saat kita menikah nanti ancaman aku itu akan benar - benar aku lakukan. Aku akan memeluk kamu untuk menghentikan tangisan kamu" ikrar Aril.


Tak lama kemudian pelayan datang membawa pesanan mereka. Aril dan Bela mulai menyicipi hidangan malam itu dan mereka makan malam bersama tanpa ada tangisan lagi diantara mereka.


****


"Maaf Pak sepertinya surat nikah Bapak tidak bisa selesai dalam waktu seminggu ini" ucap salah satu pegawai KUA lewat telepon selular.


"Apa? Mengapa bisa begitu?" tanya Aril.


"Karena pejabat yang bersangkutan sedang cuti dan berangkat umroh. Dua minggu lagi baru pulang" jawab pria itu.


"Mengapa kemarin tidak kamu katakan?" tanya Aril marah.


"Ma.. maaf Pak, kemarin saya tidak tau kalau pimpinan saya akan cuti" jawab pria itu.


"Kapan pimpinan kamu berangkat umroh?" tanya Aril.


"Hari ini Pak. Tiga jam lagi jadwal keberangkatan beliau" jawab Pria di seberang.


Aril melirik jam tangannya.


"Saya tidak mau tau, dalam waktu satu jam kamu sudah siapkan semua berkas yang harus ditanda tangani pimpinan kamu. Satu jam lagi saya akan tiba dikantor kamu dan kita langsung berangkat menuju bandara untuk meminta tanda tangan pimpinan kamu. Saya harus mendapatkan tanda tangannya bila perlu saya akan menyusulnya ke Mekah" tegas Aril.


"Ba.. baik Pak" jawab Pria itu ketakutan.


Begitu telepon terputus Aril langsung menggebrak meja kerjanya dengan kesal. Bersamaan dengan itu Bela masuk dan melihat kejadian itu.


Aril terlihat sangat marah. Belum pernah Bela melihat Aril seperti ini. Apa yang sedang terjadi dengannya.


"Mas ada apa? Kenapa Mas sangat marah seperti ini?" tanya Bela penasaran.


"Pernikahan kita terancam batal Bel. Pimpinan tempat aku mengurus surat nikah kita hari ini akan berangkat umroh. Dua minggu dia cuti" jawab Aril.


Bela langsung terdiam.


"Aku akan segera ke KUA untuk menjemput berkas - berkas kita kemudian aku akan mengejar orang itu ke Bandara bila perlu aku akan menyusulnya ke Mekah" jawab Aril.


Aril segera meraih tas, handphone dan memakai jasnya. Bersiap - siap untuk pergi ke KUA.


"Aku pergi dulu Bel, doakan aku berhasil mengejar pria itu" ucap Aril tergesa - gesa.


"Hati - hati ya Mas" ujar Bela mengingatkan.


Bela sendiri juga tidak tau harus berbuat apa saat ini. Bela hanya bisa berdoa di dalam hati semoga Aril berhasil menyusul pejabat KUA itu.


Aril langsung bergegas menuju mobilnya dan melajukan mobilnya dengan kecepatan diatas rata - rata. Ini adalah masalah penting dalam hidupnya.


Dia kembali teringat pesan calon mertuanya, jika surat nikah tidak siap dalam satu minggu ini pernikahannya akan ditunda dua bulan lagi. Aril sangat tidak mau hal itu terjadi.


Untung saja jalanan lancar walau ramai. Tidak ada kemacetan total. Dalam waktu satu jam Aril sudah sampai di kantor KUA.


Pria yang mengurus berkas - berkas pernikahan Aril sudah keluar dari kantornya dan berjalan tergesa - gesa menuju mobil Aril. Dia terlihat ketakutan untuk bertemu Aril. Tapi apa mau dikata, dia hanya bisa pasrah jika Aril marah padanya. Karena Aril sudah membayar mahal untuk surat nikahnya.


"Masuk cepat" perintah Aril.


Pria itu langsung masuk ke dalam mobil Aril.


"Kamu sudah pastikan tidak ada berkas yang kurang atau tertinggal?" tanya Aril pada pria itu.


"Su.. sudah Pak. Semua sudah lengkap" jawab Pria itu ketakutan.


"Kalau begitu pasang sabuk pengaman kamu dan berpegangan yang kuat. Kita akan menuju Bandara" perintah Aril.


"Ba.. baik" jawab Pria itu.


Aril kembali melakukan mobilnya dengan kencang menuju Bandara.


"Kamu sudah menghubungi pimpinan kamu?" tanya Aril.


"Su.. sudah Pak. Dia sudah menunggu di keberangkatan luar negeri" jawab pria itu.


"Oke.. mari kita menemuinya" balas Aril.


Aril fokus menyetir mobil. Di dalam hatinya dia tidak berhenti berdoa semoga semua lancar sampai hari pernikahannya. Semoga ini hanya menjadi salah satu perjuangannya menuju pernikahan bukan menjadi penghalang.


Satu jam kemudian Aril dan pegawai KUA sudah sampai di tempat yang mereka tuju. Mereka berjalan tergesa - gesa menuju keberangkatan luar negeri.


Pejabat yang mereka cari sudah menunggu mereka di luar ruang tunggu Bandara. Pria yang datang bersama Aril segera mengeluarkan semua berkas - berkas yang akan ditanda tangani pria itu.


Akhirnya semua berkas sudah selesai di tanda tangani.


"Gus.. kamu ini sudah pikun ya.. segitunya mengejarku ke Bandara ini. Kalau aku cuti pasti dikantor ada penggantiku. Mana mungkin dalam dua minggu posisiku kosong. Itu artinya dalam dua minggu ini tidak ada orang yang bisa menikah gara - gara aku. Kamu bodoh sekali Gus" ucap pria itu kepada bawahannya.


Sontak lutut Aril lemas mendengar ucapan pria itu.


.


.


BERSAMBUNG