
"Siapa dia?" tanya Mama Romi.
Ela tersenyum tegang, tatapan Mama Romi sepertinya tidak bersahabat.
"Kenalkan Ma, ini Cishela Budianto calon istriku" jawab Romi.
Ela langsung menundukkan wajahnya memberi hormat dan menjabat tangan Mamanya Romi.
"A.. pa? Mengapa tiba - tiba seperti ini Romi? Kamu tidak pernah cerita ke Mama dan Papa?" tanya Mama Romi.
"Sebenarnya tidak tiba - tiba Ma. Aku sudah lama bertemu Ela. Sejak dua tahun yang lalu tapi saat itu pertemuan kami sangat singkat sehingga aku mencarinya ke Surabaya. Dua tahun ini aku terus mencarinya tapi tidak ketemu hingga akhirnya dia datang sendiri ke kantor dan bekerja di sana" ungkap Romi.
"Jadi dia karyawan di Perusahaan kita?" tanya Papa Romi bijaksana.
"Iya Pa, Cishela sangat berprestasi di kampusnya dulu, dia bekerja di Departemen Keuangan dan prestasinya di kantor juga sangat bagus. Kemarin waktu kami memenangkan proyek di Surabaya, aku ditemani Cishela. Dia pintar menghitung segala sesuatunya sehingga perusahaan kita untung besar" jawab Romi bangga.
Ela hanya bisa diam dan menundukkan wajahnya, tak berani menatap wajah kedua orang tua Romi.
"Silahkan duduk Cishela" perintah Papa Romi ramah.
"Pa.. Romi bisa bicara sebentar di dalam. Ada yang ingin Mama bicarakan dengan kalian" pinta Mama Romi.
Mama Romi langsung berjalan masuk kedalam ruang keluarga yang terletak dibagian tengah rumah mereka. Sedangkan Romi dan Papa nya saling lirik.
"Maaf Cishela gak keberatan kan kalau kami tinggal sebentar?" tanya Papa Romi ramah.
"Ti.. tidak apa - apa Pak" jawab Ela.
"Jangan formal begitu. Panggil saja saya dengan sebutan Om, atau kalau kamu mau panggil saya Papa juga lebih baik" ujar Papa Romi.
"I.. iya O.. om" sambut Ela.
Papa Romi tersenyum kemudian berjalan masuk ke dalam, kini tinggal Romi dan Ela saja di ruang tamu.
"Kamu jangan khawatir, Mama memang begitu kalau baru bertemu dengan orang yang belum pernah dia temui. Tenang saja ya, aku akan meyakinkan orang tuaku kalau kamulah pilihan hatiku dan aku tidak mau yang lain" ungkap Romi.
"I.. iya Mas" sahut Ela.
"Aku tinggal dulu ya, kamu duduk aja di sini dengan santai" pamit Romi.
Romi kemudian menyusul Papa dan Mamanya masuk ke bagian dalam rumahnya. Dia sudah melihat Mama dan Papanya duduk di sofa ruang keluarga.
"Ada apa Ma?" tanya Romi begitu berada di hadapan kedua orang tuanya.
"Mama tidak setuju kalau dia menjadi menantu Mama" ucap Mama Romi.
Romi mulai merasa ada pertentangan dari orang tuanya tapi dia mencoba tetap tenang.
"Apa alasannya Ma?" tanya Romi lembut.
"Kita tidak tau siapa keluarga, bibit bobotnya keadaan keluarganya dan terlebih dia tidak sepadan dengan kamu. Gayanya itu gak banget" jawab Mama Romi.
"Ya Allah Ma... Aku sudah tau siapa keluarganya bahkan sebelum bertemu dengan Cishela aku lebih dulu mengenal Bapaknya. Mereka memang dari keluarga sederhana di Surabaya tapi keluarga mereka keluarga terhormat Ma, taat beribadah. Cishela juga pintar, dia tamat dari Universitas terkenal di Surabaya mendapatkan beasiswa " bela Romi.
"Cih pantas saja gayanya seperti itu, anak kampung yang miskin" sambut Mama Romi.
"Ma... Mama sudah kelewatan" bentak Papa Romi.
"Selama ini Papa dan Mama selalu mengajarkan kepadaku untuk berteman dengan siapapun juga tanpa membeda - bedakan mereka. Sekarang mengapa Mama keberatan kalau aku memilih Cishela?" tanya Romi.
"Kalau berteman silahkan saja, tapi untuk jadi istri kamu Mama gak setuju" sambut Mama Romi.
"Ma kalau Mama memandang dari tampilan Cishela, aku sudah jera Ma. Aku sudah banyak bertemu wanita - wanita yang jauh lebih gaya dan cantik dari Cishela tapi kehidupan mereka gelamor Ma. Hanya memandang harta yang aku punya, mereka juga tidak setia dan paling utama tidak solehah" balas Romi.
"Aku ingin berubah hidup lebih baik lagi Ma. Aku sudah lelah dengan kehidupanku selama ini yang tidak tau kemana arah tujuannya. Aku ingin hidup lebih serius lagi dan menjalin rumah tangga yang baik dan benar" ungkap Romi.
Papa Romi menepuk bahu putrnya.
"Papa setuju dengan pilihan dan alasan kamu. Papa bangga mempunyai anak seperti kamu" puji Papa Romi.
"Cih... jangan harap Mama akan memberi kamu restu. Mama tidak suka dengan perempuan itu dan Mama tidak mau menerimanya sebagai menantu Mama" Mama Romi berdiri dan langsung pergi meninggalkan suami dan anaknya lalu masuk ke dalam kamarnya.
Romi menatap kepergian Mamanya dengan sedih.
"Sudahlah Nak.. jangan bersedih. Mama kamu kan belum kenal Cishela dengan baik. Kamu lanjutkan saja rencana kamu, masalah Mama kamu biar Papa yang urus. Kamu yang sabar ya, yakinlah penolakan Mama kamu bukan keputusan akhir. Lambat laun dia akan menerima gadis pilihan kamu" nasehat bijak dari Papa Romi.
"Terimakasih Pa.. Kalau begitu aku dan Cishela pamit pulang aja Pa" jawab Romi.
"Lho jadi gimana donk makan malam bersama kita?" tanya Papa Romi.
"Aku sudah tidak semangat lagi. Lagian aku takut nanti saat kita makan Mama akan mengeluarkan kata - kata kasar yang bisa membuat Cishela sakit hati. Lebih baik kami makan malam diluar saja" jawab Romi.
Papa Romi menarik nafas panjang.
"Ya sudah kalau begitu, kalian hati - hati ya harinya sudah mendung sekali. Sepertinya sebentar lagi akan turun hujan" pesan Papa Romi.
"Iya Pa, kami langsung pulang ya Pa" Romi dan Papanya kembali berjalan menuju ruang tamu yang ada di bagian depan rumah mereka.
Ela menatap mereka dengan tatapan khawatir.
"Kita pulang yuk Shel.. Sudah mau hujan" ajak Romi.
"Oh iya baik Mas. Mamanya Mas Romi mana, aku mau pamitan?" tangan Ela.
"Tante lagi gak enak badan dan sedang istirahat di kamar" jawab Papanya Romi.
Ela sudah menduga pasti ada yang tidak beres dengan Mama Romi. Pasti Mamanya tidak setuju Romi membawanya ke rumah ini dan memperkenalkannya sebagai calon istri Romi.
"Kalau begitu salam buat Tante ya Om, semoga Tante cepat pulih seperti sedia kala" ujar Ela.
"Aamiin.. terimakasih Cishela. Lain kali datang lagi ya bareng Romi ke sini. Senang berkenalan dengan kamu" jawab Papa Romi.
"InsyaAllah Om" Ela mencium tangan Papanya Romi dengan hormat. Begitu juga dengan Romi.
"Pa kami pulang ya, bilang sama Mama" ujar Romi.
"Iya, hati - hati ya" sambut Papa Romi penuh kasih sayang.
Romi dan Ela akhirnya keluar dari rumah orang tua Romi dan berjalan menuju arah pulang. Tapi karena hari sudah senja, mereka singgah di Mesjid tak jauh dari rumah orang tua Romi dan shalat maghrib.
Setelah itu mereka melanjutkan perjalanan untuk makan malam bersama. Keduanya lebih banyak diam, Romi bingung harus memulai pembicaraan apa setelah mereka keluar dari rumah orangtuanya sedangkan Ela juga bingung mau bertanya apa tentang Mama dan Papa Romi.
Akhirnya mereka sampai di sebuah Cafe yang terlihat sangat ramai malam minggu begini. Mereka masuk ke dalam Cafe dan mencari tempat duduk yang nyaman untuk mereka.
Tiba - tiba Romi melihat seseorang dan berjalan mendekati mejanya.
"Ternyata disini kalian?" tanya Romi.
.
.
BERSAMBUNG