
Aril sampai di kantornya.
"Selamat pagi Pak" sapa Bela ketika Aril melewati meja kerjanya.
"Hem... " jawab Aril.
Aril langsung masuk kedalam ruangannya diikuti Bela dari belakang.
"Apa jadwal saya hari ini?" tanya Aril.
Bela membuka agendanya.
"Nanti jam sepuluh ada rapat di Perusahaan Jayabaya Pak. Setelah itu jam dua ada janji dengan client di Restoran Pelangi" lapor Bela.
"Baik, siapkan bahan - bahannya nanti saya akan pergi sendiri" perintah Aril tanpa menatap mata Bela.
Bela merasa sepi, sikap Aril sangat dingin sekali padanya.
"Baik Pak" jawab Bela.
Saat Bela hendak berbalik badan tiba - tiba Aril bersuara kembali.
"Mulai besok jangan buatkan kopi lagi untuk saya. Biarkan OB yang buat, karena itu bukan tugas pokok kamu" perintah Aril.
Bela hanya terdiam kaku dan tak bisa berkata - kata lagi.
"Apakah kamu dengar ucapan saya?" tanya Aril.
"I.. iya Pak, kalau begitu saya permisi Pak" jawab Bela.
Bela langsung berjalan keluar ruangan Aril dan berjalan ke arah kamar mandi. Sesampainya di kamar mandi air matanya jatuh ke pipi.
Sangat sakit rasanya diperlakukan seperti ini. Bela merasa Aril seperti orang lain. Mungkin Bela sudah terbiasa sejak awal kerja di Perusahaan ini diperlakukan dengan sangat perhatian padahal kalau di pikir - pikir begitulah batas seorang Bos dengan atasannya.
Setelah bisa menenangkan dirinya Bela merapikan jilbabnya dan kembali ke meja kerjanya. Aril bisa melihat wajah Bela dari ruangannya karena dinding yang terbuat dari kaca tembus pandang jika dilihat dari dalam.
Aril menghembuskan nafasnya kasar dan menyandarkan kepalanya ke kursi kerjanya.
Maaf Bel aku harus melakukan semua ini pada kamu. Aku harus mulai membiasakan diriku tanpa kamu. Karena selama ini aku terlalu manja pada kamu. Apa - apa aku mintanya sama kamu padahal tidak semua itu pekerjaan kamu.
Aku juga tidak ingin hatiku terus - terusan mengharapkan cinta kamu sementara kamu sedikit pun tidak merasakan apapun padaku.
Aku tidak mungkin lagi bermain - main dengan waktu sementara umurku terus bertambah. Aku harus memikirkan masa depanku yang mungkin tidak akan berjalan bersamamu.
Aril menarik nafas panjang dan mulai mengerjakan pekerjaannya. Hingga jam sembilan Bela masuk dengan membawa bahan - bahan yang akan Aril bawa ke Perusahaan Jaya Baya.
Tok.. Tok..
"Ya masuk" jawab Aril dari dalam.
Bela menyerahkan semua berkas yang akan Aril bawa saat pertemuan dengan clientnya.
"Ini Pak bahan - bahan yang Bapak perlukan nanti" ucap Bela.
Aril menerimanya dan memeriksanya sekilas.
"Terimakasih Bel, kamu bisa kembali ke meja kamu" perintah Aril.
"Baik Pak" balas Bela.
Sudah tidak ada lagi kehangatan komunikasi diantara mereka berdua. Mereka seperti perang dingin.
Aril menyusun semua berkas - berkasnya dan membawanya di dalam tas kerja. Setelah itu Aril berangkat menuju Perusahaan salah satu clientnya.
"Saya pergi dulu, nanti kalau sudah tiba waktu pulang kerja, kamu pulang saja. Tidak perlu menunggu saya pulang. Mungkin setelah meeting jam dua sayang langsung pulang ke apartemen saya" perintah Aril.
"Baik Pak" jawab Bela sigap.
Aril berlalu dari hadapan Bela. Bela menatap punggung Aril sampai bayangannya pun hilang dari pandangan Bela. Bela kembali merasa sedih karena sikap Aril yang berubah sejak dia menolak perasaan Aril.
****
Siang harinya.
Aril
Bela tolong kamu antarkan berkas tentang Perusahan HGU ke Restoran Pelangi.
Bidadari Surga
Baik Pak.
Bela segera mengambil berkas yang Aril pinta ke ruangan Aril setelah itu Bela mengambil tasnya dan segera turun ke lantai bawah. Setelah itu Bela diantar supir perusahaan berangkat menuju Restoran Pelangi.
Bela melirik jam tangannya, waktu sudah menunjukkan jam setengah dua siang. Itu artinya tinggal setengah jam lagi sebelum meeting di mulai.
"Pak cepat sedikit ya, waktunya tinggal sedikit lagi" perintah Bela kepada supir.
"Baik Mbak" jawab Pak Supir.
Bidadari Surga
Pak saya sudah sampai di Restoran Pelangi
Aril
Masuk ke ruangan mawar
Bidadari Surga
Baik Pak
Bela masuk ke dalam ruangan private tempat meeting berjalan. Ternyata di dalam Aril sedang meeting bersama seorang wanita dan seorang pria.
"Masuk" perintah Aril.
"Maaf Pak saya terlambat" ucap Bela sambil menyerahkan berkas yang tertinggal.
"Tidak apa, kami juga belum mulai meetingnya. Kami baru membahas masa lalu. Kamu duduk saja" balas Aril.
Bela duduk tepat di samping Aril. Bela memperhatikan sepertinya Aril sangat akrab dengan wanita yang ada di depan mereka.
Apakah mereka pernah punya hubungan di masa lalu? Pikir Bela.
"Kenalkan Shain, ini Bela sekretaris aku" ujar Aril kepada client mereka.
Bela dengan sikap hormat menjabat tangan wanita dan pria yang ada di depan mereka. Wanita itu sangat cantik sekali, modis dan kelihatannya pintar dan sangat dewasa.
"Aku tidak menyangka ternyata kamu anaknya Om Wijaya" ucap wanita yang bernama Shaina.
"Aku juga tidak menyangka kalau kamu sekarang adalah CEO Perusahaan HGU" jawab Aril.
Wanita itu tersenyum sangat menawan membuat Bela merasa tak sebanding dengan wanita itu. Dan sejak awal Bela masuk, Bela melihat wanita itu terus menatap Aril dengan tatapan suka.
Perasaan Bela mengatakan kalau wanita itu menyukai Aril dan diam - diam Bela melirik dan memperhatikan sikap Aril. Aril terlihat biasa saja seperti bertemu dengan client perusahaan yang dia temui pada umumnya.
"Baiklah Shain karena berkasnya sudah ada sebaiknya meeting kita mulai. Kita akan membahas proyek pembangunan ini" Aril mulai membuka bahan meeting mereka dan membahasnya dengan wanita yang ada di depannya.
Meeting berlangsung hingga dua jam dan akhirnya mereka sepakat untuk menjalin kerjasama dengan Perusahaan HGU. Setelah selesai membahas masalah proyek mereka berbincang-bincang sedikit mengenai masalah pribadi.
"By the way... apa kamu sudah menikah Ril?" tanya Shaina.
"Belum, aku sedang dalam pencarian. Mencari orang yang tepat untuk menjadi pendampingan hidup" jawab Aril tanpa sedikitpun melirik ke arah Bela.
"Waaah sama donk, aku juga sudah bulak balik didesak Papa untuk menikah" sambut Shaina.
Aril meminum kopi yang ada di depannya.
"Kapan - kapan bisa donk kita ketemu atau makan di luar urusan pekerjaan" ajak Shaina.
"Boleh.. tinggal atur jadwalnya saja" jawab Aril.
Bela hanya menundukkan wajahnya, entah mengapa telinganya terasa panas mendengar pembicaraan Aril dengan wanita yang ada dihadapannya.
Aril melihat jam di tangannya sudah menunjukkan jam setengah lima sore.
"Shain.. maaf sekali, aku punya janji dengan teman - temanku di kantor. Dengan berat hati aku harus pamit. Lain waktu kita atur lagi pertemuan kita berikutnya" pamit Aril kepada Shaina.
"Oh iya Ril gak masalah. Boleh minta nomor kamu?" pinta wanita itu langsung.
Aril mengambil kartu namanya di dalam tas kerjanya dan memberikannya kepada Shaina.
"Ini Shain, senang bertemu dengan kamu dan sampai ketemu lain waktu" ujar Aril.
"Oke Ril, aku tunggu ya" sambut Shaina.
Mereka saling berjabat tangan mengakhiri pertemuan mereka. Bela berjalan di belakang Aril.
"Bel Pak Parto kamu suruh nunggu kan?" tanya Aril.
"Iya Pak" jawab Bela.
"Kamu pulang sama Pak Tarjo ya. Aku mau ke kantor Romi. Hari ini jadwal pengajian kantornya" perintah Aril.
"Ba.. baik Pak" jawab Bela.
Aril segera meninggalkan Bela di depan mobil perusahaan yang tadi mengantarkan Bela dan dia berjalan menuju mobilnya.
Lagi - lagi entah mengapa Bela merasa seperti ditinggalkan oleh Aril. Rasanya sangat sakit sekali diperlakukan seperti ini oleh Aril.
.
.
BERSAMBUNG