
Riko, Dini dan Rihana pergi ke dokter kandungan malamnya setelah makan malam. Dini sudah mendaftar secara online dari pagi hari.
Setibanya mereka di rumah sakit ternyata ada Romi - Ela dan Aril - Bela. Mereka sangat terkejut melihat kedatangan Dini dan Riko yang membawa turut serta Rihana.
"Ayo salim Om dan Tantenya sayang" ucap Dini kepada Rihana.
Rihana mencium tangan teman - teman Riko satu persatu.
"Cantik sekali kamu nak" puji Ela.
"Iya gemes lihat pipi embulnya" sambut Bela.
"Ayo siapa namanya?" tanya Romi iseng. Padahal dia sudah tau nama Rihana.
"Linana" jawab Rihana.
"Ayo nana dalam apa nana luar?" goda Aril.
"Huuus... kamu ril dia masih anak - anak jangan kamu kotori pikirannya" bantah Riko.
"Dia kan wanita, dan aku suka" jawab Aril cuek.
Jari Bela langsung bersarang di paha Aril.
"Astaghfirullah sayang. Sakit banget tauuuuu... Sabar dikit napa, nanti pulang dari sini aku akan kasih kamu jatah kok. Gak perlu towel - towel manja seperti itu" teriak Aril.
"Hahaha... udah kesakitan masih aja otak mesum" ledek Romi.
Dini menutup telinga Rihana.
"Anakku masih kecil, hati - hati" ucap Riko memberi peringatan.
"Anak kamu? Yang mana?" tanya Romi.
"Ini. Mulai hari ini dia resmi menjadi anak kami. Proses adopsiku sudah siap. Kini Rihana Wardhana sudah menjadi anak Riko Wardhana" ungkap Riko.
"Gak apa - apa bro dia pakai nama Wardhana? Papa kamu setuju?" tanya Romi.
"Setuju donk mereka malah senang dapat kabar gembira punya cucu langsung dua" jawab Riko.
"Dua gimana? Si Linana ini kembar?" tanya Aril bingung.
"Kamu makin ngaco, aku gak nyangka mengidam membuat kamu semakin bodoh" ledek Riko.
"Hahahah betul itu" sambut Romi.
"Maksud aku cucunya keluarga Wardhana ya Rihana dan calon anak kami" ungkap Riko.
"Dini hamil Mas?" tanya Ela terkejut.
Dini tersenyum bahagia.
"Alhamdulillah iya El, ternyata aku pingsan tadi bukan karena nyeri haid tapi karena morning sickness" jawab Dini senang.
"Ya Allah Din, Alhamdulillah... selamat ya. Akhirnya kamu juga sebentar lagi akan jadi ibu" ucap Bela langsung memeluk Dini.
Begitu juga dengan Ela. Mereka saling berpelukan dengan haru. Aril yang tak tahan melihat kejadian itu langsung mendekati Riko dan ingin memeluknya.
Untung saja Riko langsung sigap.
"Eits... stop. Kamu mau apa?" tanya Riko.
"Mau peluk kamu juga ngucapin selamat" ungkap Aril polos.
"No.. aku gak sudi" tolak Aril.
"Hahaha.. Oomnya genit, mau peyuk - peyuk Papa" ledek Rihana.
"Tuh anak kecil aja tau kalau kamu genit" ejek Romi.
"Awas kamu ya Linana dalam" ancam Aril.
"Weeeeek... " ejek Rihana.
"Eeeh tak pites jadi tahu gejrot kamu" ancam Aril.
"Enak aja anakku kamu jadikan tahu gejrot. Kamu duluan yang aku jadikan tahu bogem" Potong Riko.
"Dari tadi gak akur mulu" ucap Dini.
"Habis dia yank cari gara - gara aja dari tadi" jawab Riko kesal.
"Mas Ariiiil.... " panggil Bela.
"Iya sayaaang nanti malam aku kasih jatah" sambut Aril.
"Tidak ada jatah untuk kamu malam ini" ancam Bela.
"Mampu* lo" ejek Romi.
"Malangnya nasibku" Aril menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Jadi apa keluhan kamu Din?" tanya Ela.
"Pusing dan mual El, apalagi kalau pagi. Kalau malam begini sih rada enakan. Tadi aku juga makan dengan enak" jawab Dini.
"Sama dengan Mas Romi diawal kehamilanku. Nanti ceritakan saja pada dokter biar dikasih obat mual" ucap Ela.
"Iya" sambut Dini.
"Yang ngidam siapa?" tanya Bela.
"Itu tuh seperti Mas Aril" ucap Bela.
"Alhamdulillah belum ada minta yang aneh - aneh" jawab Dini.
"Jadi kamu bebas tugas bro?" tanya Romi kesal.
"Bebas tugas gimana?" tanya Riko gak mengerti.
"Bela hamil aku yang ngidam. Ela hamil Romi yang mual - mual. Masak Dini hamil kamu gak kenapa - kenapa? Gak adil donk.. kita bertiga kan mantan playboy, senasib sepenanggungan" jawab Aril.
"Weish.. kenalakan masa lalu boleh sama. Tapi penderitaan masa depan belum tentu bro. Kalau iman kuat pasti Allah akan meringankan jalannya" sambut Riko.
"Gak adil" ucap Romi dan Aril bersamaan.
Aril dan Romi tampak kesal mengapa Riko tidak merasakan apapun. Dini, Ela dan Bela tersenyum melihat persahabatan tiga pria itu.
"Ibu Dini Dharmawan" panggil Perawat.
"Ya Sus" jawab Riko sigap.
"Lho kok kok bisa kalian duluan. Kami lebih dulu datang?" protes Aril semakin kesal.
"Kalau iman kuat pasti Allah akan meringankan jalannya" ulang Riko.
"Sial" umpat Romi dan Aril.
"Maaas.. mereka mungkin sudah daftar lebih dulu dari kita" jawab Bela mengingatkan suaminya.
Riko segera menggandeng istrinya dan memegang tangan Rihana.
"Yuk sayang" ajak Riko.
Rihana berjalan bersisian dengan Riko dan Dini. Mereka masuk ke dalam ruangan praktek dokter.
"Selamat malam Bu Dini, gimana? Ada kabar gembira?" sapa dokter ramah.
"Iya dok, alhamdulillah" sambut Dini.
"Sudah saya duga. Harusnya beberapa minggu lalu jadwal kalian berkunjung tapi karena kalian tidak kunjung datang, saya yakin pasti Ibu Dini hamil. Tinggal menunggu kalian menyadarinya kalau Ibu Dini sudah telat" jawab Dokter.
Riko dan Dini saling pandang. Peristiwa satu bulan terakhir ini memang sangat menguras perhatian mereka sehingga mereka melupakan jadwal kunjungan ke dokter.
"Lho siapa gadis cantik ini?" sapa Dokter ramah.
"Linana" jawab Rihana.
"Ini anak kami Dok" ucap Riko.
"Lho bukannya Bu Dini sedang hamil anak pertama?" tanya Dokter bingung.
"Iya, ini anak adopsi kami" jawab Riko.
"Waaah.. beberapa orang sering bilang seperti itu. Anak pancingan katanya, walau secara kedokteran tidak ada hubungannya saya sih menanggapinya dengan positif saja. Kalau calon Ibu mengasuh seorang anak pasti jiwa keibuannya akan muncul dengan sendirinya. Akan muncul aura bahagia yang membuat hormon si ibu meningkat hingga bisa dengan mudah hamil" ucap Dokter.
"Iya juga ya dok, bisa diterima dengan akal itu" sambut Riko.
"Alhamdulillah Dok" ujar Dini senang.
"Silahkan berbaring di tempat tidur biar kita periksa adeknya Rihana di dalam ya" perintah Dokter.
Riko membantu Dini naik ke atas tempat tidur. Dokter dan perawat langsung melakukan pemeriksaan.
"Alhamdulillah udah kelihatan kandungan Bu Dini sudah ada isinya" ucap Dokter.
"Alhamdulillah.. " sahut Riko dan Dini bersamaan. Mereka tetap saling berpegangan tangan.
"Tadi pagi saya merasakan kram di bagian perut bawah Dok, apakah itu berbahaya?" tanya Dini.
"Sebenarnya tahap awal kehamilan biasa seperti itu bu, adaptasi anak dan Ibunya. Karena ada sesuatu yang baru tumbuh di dalam perut. Tapi penyebab kram itu banyak, salah satunya si ibu kelelahan, naik turun tangga, angkat benda - benda berat dan berhubungan badan. Jadi tolong di jaga ya bu. Jangan terlalu sering melakukan aktivitas yang saya katakan tadi" jawab Dokter.
"Jadi berapa lama saya harus puasa dok?" tanya Riko to the point.
Dokter tersenyum ramah.
"Sekuatnya Bapak aja ya.. kalau pun seandainya gak kuat lakukan dengan senyaman dan sepelan mungkin" jawab Dokter.
"Saya akan tahan dok, demi anak kami" balas Riko.
"Apalagi keluhannya Bu?" tanya Dokter.
"Saya pusing dan mual tadi pagi. Siang sudah mulai mendingan dan malam begini tubuh saya kembali segar" jawab Dini.
"Biasa itu, namanya morning sickness" sambut Dokter.
Dokter selesai melakukan pemeriksaan pada Dini.
"Kalau begitu saya kasih resep vitamin dan obat penawar mual ya. Oh iya penguat kandungan juga. Jangan lupa sebisa mungkin walau mual berusaha tetap makan agar ada gizi tetap ada yang diserap cadebay nya" pesan Dokter.
"Baik dok, terimakasih.. kalau begitu kami pamit ya" sambut Dini.
Riko dan Dini berpamitan dengan dokter kandungan dan keluar dari ruangan pemeriksaan.
.
.
BERSAMBUNG