Playboy Insaf

Playboy Insaf
Seratus Delapan



"Bel, kamu urus dulu sana Bos kamu. Kasih dia makan dulu baru setelah itu kamu ikut makan bersama kami" perintah Bimo.


"Ba.. baik Mas" jawab Bela.


Bela membawa makanan untuk Aril, kini dia sedang dalam perjalanan menuju kamar Aril.


Duh gimana nanti aku kalau ketemu Mas Aril. Aku harus bagaimana? Mas Aril sakit apa ya? Tadi perasaan dia masih sehat - sehat aja, kok bisa tiba - tiba sakit. Apa dia pura - pura untuk menghindari aku? tanya Bela dalam hati.


Bela sudah sampai di depan pintu kamar Aril. Tadi sebelumnya Romi sudah memberikan kunci kamar mereka kepada Bela. Jaga - jaga kalau Aril tidur, takut menggangunya jadi Bela bawa kunci yang diberikan Romi.


Bela membuka pintu kamar Aril dan berjalan masuk ke dalam. Bela melihat Aril sedang tiduran di atas tempat tidur. Bela mendekati Aril dan memeriksa keadaannya.


Aril memang tampak sedikit pucat dan sedang tidur dengan lelapnya. Bela meletakkan tangannya di kening Aril. Bela merasa memang tubuh Aril sedikit hangat.


Bela menyentuh tubuh Aril dan membangunkannya perlahan.


"Mas... Mas Aril... bangun" ujar Bela.


Tapi Aril tidak terbangun.


"Maaaas.... Mas Ariiiiiil... " panggil Bela lagi.


Aril tersentak dan terkejut melihat wajah Bela ketika dia membuka matanya.


"Astaghfirullah... aku kira aku sedang bermimpi ada kamu ternyata memang nyata" ujar Aril sambil menarik nafas lega.


Aril duduk di atas tempat tidur dan bersandar di dinding.


"Ngapain kamu di sini?" tanya Aril dengan suara lemah


"Tadi Mas Romi dan Mas Riko bilang kalau Mas sakit, jadi aku bawa makanan dan obat ke sini" jawab Bela.


"Bel... jangan terlalu baik padaku. Kalau aku sakit kan sudah biasa, aku juga sudah dewasa bukan anak kecil lagi yang harus di khawatirkan semua orang. Aku hanya pusing dan mau demam. Istirahat yang cukup insyaallah besok sudah baikan" ujar Aril.


Nyeeees... entah mengapa ucapan Aril tadi membuat perasaan dalam hati Bela gak karuan.


"A.. aku hanya bawain makan malam Mas sama obat" ujar Bela.


"Terimakasih Bel, letakkan saja di meja. Nanti aku makan" jawab Aril.


Bela terdiam sesaat.


"Sudah kan? Kamu sudah bisa pergi dari sini. Jangan memberikan perlakuan istimewa padaku seolah - olah kamu sangat peduli dan perhatian padaku. Kamu tau kan bagaimana perasaanku padamu. Kalau kamu berbuat baik kepadaki terus aku akan terus berharap pada kamu, sementara kamu tidak punya perasaan apapun padaku. Apa kamu mau membuat aku merasa di gantung? Kamu suka membuat aku seperti itu?" tanya Aril.


Bela menunduk diam.


"A.. aku hanya menjalankan perintah Mas Bimo Mas untuk melihat dan mengantarkan makanan Mas" jawab Bela kaku.


"Maaf Mas.. " jawab Bela sambil terus menunduk.


"Ya sudah sekarang sudah kan? Kamu sudah antar makanan aku dan lihat keadaanku. Kamu boleh pergi sekarang. Terimakasih kami sudah mau mengantarkan semua ini walau dengan paksaan atau karena perintah Bimo. Kedepannya aku mohon agar kamu bisa tentukan sikap kamu. Kalau kamu memang tidak mau atau tidak suka melakukan sesuatu untukku jangan lakukan. Aku tidak akan marah dari pada kamu lakukan tapi bukan berasal dari hati kamu sendiri" pinta Aril.


Bela merasa hatinya semakin sakit saat mendengar semua kata - kata dari mulut Aril. Selama ini Aril tak pernah berkata kasar atau menyindirnya dengan pedas seperti ini.


"Bel.. kamu tau bagaimana perasaanku pada kamu. Di kamar ini kita hanya tinggal berdua Bel, sebelum suatu hal yang tidak diinginkan terjadi lebih baik kamu segera pergi. Karena aku sedang tidak sehat tubuh, pikiran dan hatiku. Aku takut melakukan sesuatu yang nanti akan kita sesali. Bahkan membuat kamu semakin membenciku" ujar Aril tegas.


Bela mengangkat wajahnya dan menatap ke dalam mata Aril. Mereka saling tatap untuk beberapa saat. Bela semakin terkejut melihat pribadi Aril yang berbeda sepet ini. Sungguh selama ini Aril tak pernah menunjukkan pribadi lain seperti ini kepadanya.


"Ma.. maaf Mas mengganggu waktu istirahat Mas. Aku akan pergi sekarang" jawab Bela.


Bela segera berdiri dan berjalan keluar dari kamar Aril. Saat dia keluar dari kamar Aril, Bela tak bisa menahan air matanya jatuh.


Dia sangat sedih melihat tatapan Aril tak selembut biasanya setiap menatapnya. Selama ini Bela merasa di lindungi dan disayangi tapi tadi Bela merasa Aril sepet mengancamnya.


Bela meraba dadanya. Mengapa rasanya sakit sekali diperlakukan seperti itu oleh Aril. Mengapa Aril tega mengusirnya secara terang - terangan seperti itu.


Dia sudah berbaik hati memberikan perhatian kepada Aril yang sedang sakit tapi ternyata balasannya lain. Bahkan dia sama sekali tidak menyangka Aril akan mengatakan kata - kata seperti itu. Terlebih kata - kata terakhir yang Aril ucapkan.


Apakah selama ini sifat playboy Aril belum sembuh? Selama ini karena ingin mendapatkan hati Bela dia berpura - pura sopan dan baik. Sekarang saat Bela sudah menolak perasaannya Aril ingin melakukan sesuatu hal yang.. yang... akh... Bela tak sanggup untuk memikirkannya lebih jauh.


Bela segera berjalan menjauh dari kamar Aril dan turun ke lantai bawah menuju Restoran dimana semua keluarga dan para sahabatnya berkumpul untuk menikmati makan malam terakhir mereka di Labuhan Bajo.


Sementara Aril memukul bantal yang ada di sampingnya dengan sekuat tenaga.


Maafkan aku Bel, aku harus mengeluarkan kata - kata itu tanpa sadar. Aku tidak tau harus berbuat apa lagi jika berhadapan dengan kamu. Rasanya mengingat kita hanya berdua di dalam kamar ini. Ingin sekali rasanya aku memeluk kamu. Tapi hal itu sangat terlarang bagiku apalagi kamu tidak bisa membalas perasaanku. Kamu tidak mempunyai perasaan apapun padaku. Aku tidak tau harus bersikap bagaimana lagi pada kamu Bel. Aku tidak tau bagaimana membuat kamu bisa menyukai aku. Mungkin pesan Romi dan Riko benar. Aku harus menjauh dari kamu agar kamu sadar apakah aku berarti di hari kamu. Kalau memang kamu tidak merasakan apapun mungkin kamu memang bukan untukku. Kamu bukan jodohku Bel. Perang batin Aril.


Aril melirik makanan dan minuman yang tadi dibawa Bela. Dia segera memakannya dan setelah itu Aril meminum obat yang Bela bawa.


Kepala Aril memang terasa sangat berat, mungkin karena keletihan atau mabuk laut setelah perjalanan di kapal pesiar tiga hari dua malam.


Setelah selesai semuanya Aril kembali merebaukan tubuhnya di atas tempat tidur dan mulai memejamkan matanya. Berharap besok tubuhnya sudah sehat dan segar kembali.


Dengan kejadian tadi Aril sudah memantapkan niatnya untuk menjaga jarak dengan Bela. Ini adalah usaha terakhirnya sambil Aril terus berdoa kepada Allah. Semoga dengan jalan ini Bela bisa merubah hatinya dan mau menerimanya.


Perlahan mata Aril mulai terpejam dan tak lama kemudian mungkin karena pengaruh obat yang diberikan Bela tadi, dia sudah nyenyak terlelap dengan cepatnya.


.


.


BERSAMBUNG