
Sekitar jam setengah delapan pagi mereka sudah siap di ruang tamu hendak pergi ke acara wisudanya Bela. Aril, Bimo, Bapak dan Ibu Akarsana sudah menunggu sejak tadi.
"Bela udah siap? Cepetan ayo... nanti kita telat lho.. " panggil Bu Akarsana.
"Iya Bu sebentar, ni udah mau keluar" balas Bela dari kamarnya.
Tak lama kemudian Bela dan Reni keluar dengan menggunakan gaun cantik menutupi tubuh mereka. Semua terpesona melihat penampilan mereka. Aril bahkan lupa menutup mulutnya sedari tadi karena sangkin terpesonanya.
Reni berdiri di dekat Aril sedangkan Bela berdiri di samping Ibunya. Reni mendekati Aril dan berbisik.
"Tolong bibirnya di kondisikan Mas jangan terbuka terus entar nyamuk masuk baru tau" bisik Reni sambil tersenyum.
Sontak Aril tersadar dan menutup mulutnya.
Ya Allah... benar - benar bidadari surga. Aku sampai terpesona begini melihat kecantikannya. Jadikan dia jodohku ya Allah.. tapi kalau memang bukan dia, aku akan berusaha hingga KAU menyetujuinya. Doa Aril yang mengancam.
"Sudah siap?" tanya Pak Akarsana.
"Sudah Pak" jawab Bela.
Mereka keluar rumah rumah dan berjalan menuju mobil. Bapak dan Ibu Akarsana masuk ke dalam mobil bersama Reni dan Bela sedangkan Aril dan Bimo naik ke mobil yang satunya lagi. Mereka berjalan beriringan menuju kampus Bela.
Sesampainya di kampus Bela sudah ramai dengan para wisudawan wisudawati beserta keluarga mereka. Begitu Bela tiba di lokasi langsung disambut oleh teman - temannya.
"Beeeeel... cantik sekali kamu" sambut sahabat Bela.
Tuh bukan aku saja yang mengatakan kamu cantik Bel, teman - teman kamu juga. Gak salahkan kalau hatiku tergoda dengan kamu? Tanya Aril dalam hati.
Bela mengenalkan temannya kepada Reni, Bimo dan Aril.
"Mas Bimo, Reni... Mas Aril kenalkan sahabat aku Ela" ujar Bela.
Bimo, Reni dan Aril saling berjabat tangan dengan Ela. Ela sahabat Bela salah menduga. Dia kira Reni adalah istrinya Bimo. Hal itu langsung disanggah oleh Reni.
Kesempatan ini tidak disia - siakan Aril. Ide dia kemarin akan terus dia jalankan sampai berhasil. Agar rencananya juga berjalan mulus.
"Tuuuh Ela aja bisa menilai keserasian kalian" bisik Aril pada Reni.
Reni menginjak kaki Aril karena kesal.
"Aaaaawww... Reen sakit banget" teriak Aril.
"Sorry Mas gak sengaja" potong Reni.
"Mana tumit sepatu kamu runcing banget, duh pasti luka nih kakiku" ujar Aril masih meringis.
"Eh masuk yuk, acara akan dimulai" ajak Ela.
Reni dan Ela segera masuk ke dalam ruangan dan bergabung dengan para mahasiswa mahasiswi lain sedangkan yang lainnya duduk di barisan keluarga.
Acara berlangsung selama dua jam. Sekitar jam sebelas siang mereka sudah keluar dari ruang wisuda. Kini tinggal acara foto - foto.
Aril beralih profesi sebagai juru foto walau hanya pakai ponselnya. Ketepatan ponsel Aril memang keluaran terbaru jadi cameranya sudah canggih. Selain itu dia memang sengaja memakai handphonenya agar banyak foto - foto Bela yang bisa dia simpan untuk dijadikan pelepas rindu.
Pertama dia memotret Bela sendirian kemudian foto Bela bersama Ela setelah itu Reni masuk. Kemudian foto keluarga Bapak dan Ibu Akarsana bersama Bela dan Bimo baru setelah itu foto ramai - ramai.
Aril mendekati Reni dan berbisik.
"Ren fotoin aku dengan Bela donk" pinta Aril.
"Maleees" jawab Reni.
"Ih ni anak gak bisa diajak kerjasama" ujar Aril.
Reni yang tau diri dan tau balas budi karena tiket dan fasilitas dia selama di surabaya ditanggung Aril akhirnya menyerah juga.
"Ya sudah sini ponselnya Mas. Sono noh berdiri di dekat Bela" perintah Reni.
"Okeeey... " sambut Aril.
Aril berjalan menuju Bela.
"Eh aku mau donk foto sama calon sekretaris aku" pinta Aril.
"Duh jadi gak enak nih Mas" sambut Bela.
"Ih malu donk Mas, kelihatan banget aku KKN" ucap Bela.
"Hahaha.. aku cuma bercanda kok. Reeen.. tolong fotoin kami ya" pinta Aril.
"Oke sep Maaaas" jawab Reni.
Reni berdiri di depan Aril dan Bela dan segera mengambil gambar mereka berdua. Reni sengaja mengambil beberapa foto agar Aril merasa puas dengan kerjanya.
Setelah itu Reni menyerahkan kembali handphone Aril dan berdiri tepat di samping Bimo. Aril langsung tanggal dan mengarahkan ponselnya kepada mereka.
"Reeen, Biiiim lihat ke sini" teriak Aril.
Sontak Reni dan Bimo menatap Aril.
Jepreeeet....
"Nah cakep, serasi banget" gumam Aril.
Reni dan Bimo jadi salah tingkah dan saling pandang karena sikap Aril barusan. Lagi - lagi Aril tak mau menyia - nyiakan moment tersebut.
Jepreeeet.... Aril mengambil foto mesra mereka sekali lagi.
Yesss... satu langkah lagi lebih maju. Reni dan Bimo tampak malu - malu. Mereka semakin memperjelas isi hati mereka masing - masing.
Hahaha.. sepertinya rencanaku akan berhasil. Aku akan mengantongi restu Kakak ipar, tinggal mengejar restu calon mertua. Tawa Aril dalam hati.
Tiba - tiba datang seorang laki - laki yang memakai baju wisuda yang sama dengan Bela dan Ela.
"Bela.. Ela... " Panggilnya.
"Rizal" sambut Bela dan Ela dengan ceria.
Bela memperkanalkan pria itu kepada Reni, Bimo dan Aril.
"Nih Kakak aku Zal" lanjut Bela.
"Bimo" sambut Bimo.
"Saya calon Bosnya, Aril" ujar Aril.
Bela tertawa.
"Setelah wisuda aku akan kerja di perusahaan Mas Aril di Jakarta Zal" sambung Bela.
Rizal tersenyum menyambut uluran tangan Aril. Setelah itu Rizal menjabat tangan Bapak dan Ibu Akarsana dan Bapak dan Ibu Ela.
Setelah berbincang-bincang sebentar mereka sepakat untuk makan siang bersama dengan membawa keluarga masing - masing.
Aril tampak lebih banyak diam sejak kedatangan Rizal. Dia memilih duduk di samping Bimo dan Reni yang tak jauh dari Bapak dan Ibu Akarsana.
"Kamu jangan jauh - jauh. Aku merasa jadi seperti orang asing di sini" bisik Aril pada Reni.
"Bilang aja jealous" sambut Reni.
"Ngapain coba aku jealous. Aku itu lebih segalanya dari pria itu. Aku lebih tampan, lebih mapan, lebih pintar dan lebih berpengalaman" ujar Aril.
"Tapi lebih tua hahaha" ejek Reni.
"Cih main fisik. Kena mental gua" umpat Aril.
"Hahaha rasain kamu Mas, kena batunya. Kamu kira semua wanita di dunia ini akan bertekuk lutut di hadapan kamu. Cinta itu misteri dan banyak sekali kisah cinta yang tak terbalad di dunia ini Mas. Bersiaplah mungkin cinta kamu salah satunya" ejek Reni bahagia. Baru kali ini dia melihat Aril merasa punya saingan.
Aril menggaruk kepalanya yang tak gatal. Bimo melirik interaksi Aril dan Reni dan dia merasa ada sesuatu yang aneh dengan sikap Aril.
"Apa ada masalah?" tanya Bimo kepada Aril.
Duh mati.. jangan sampai gelagatku ketahuan duluan sama calon kakak ipar. Aku memang cemburu melihat anak ingusan itu. Enak saja dia mau merebut bidadari surgaku. Batin Aril kesal.
.
.
BERSAMBUNG