Playboy Insaf

Playboy Insaf
Sembilanpuluh Tujuh



Tanpa terasa waktu sudah berjalan hampir satu bulan. Semua persiapan pernikahan Reni dan Bimo sudah selesai. Semua terlihat ceria menyambut acara tersebut termasuk para sahabat.


Tinggal seminggu lagi pernikahan Reni dan Bimo akan berlangsung. Hari ini Reni, Dini, Bela dan Ela janjian untuk bertemu dan menemani Reni berbelanja di sebuah Mall besar di Jakarta.


Mereka bertemu di sebuah Cafe. Reni minta isi bensin dulu sebelum berjalan - jalan mengelilingi Mall mencari apa yang mereka inginkan.


Reni, Bela dan Ela sudah sampai lebih dulu karena rumah mereka searah. Mereka diantar Bimo tadi dari rumah sampai ke Mall ini.


"Assalamu'alaikum calon pengantin baru" sapa Dini ketika melihat Reni.


"Wa'alaikumsalam.. Din" Reni langsung memeluk Dini erat.


Tak lama kemudian Bela dan Ela juga berpelukan dengan Dini.


"Gimana rasanya sudah semakin mendekati pernikahan?" tanya Dini.


"Aku jantungan hahaha... " jawab Reni jujur.


"Semoga aku bisa segera menyusul ya" ucap Dini.


"Aamiin.. kami do'ain jalan kamu dan Mas Riko menuju pernikahan lancar jaya" sambut Bela.


"Kalian kapan nyusul Reni?" tanya Dini.


"Kami? Belum ketemu jodohnya" jawab Bela cuek.


"Ada, di hadapan kalian. Tapi kalian aja yang gak mau menyadarinyamenyadarinya" sambut Dini


"Siapa?" tanya Ela.


"Mas Aril dan Mas Romi" jawab Dini sambil tersenyum lembut.


"Mas Romi udah punya calon sendiri" potong Ela.


"Cieee.. udah panggil Mas" goda Bela


"Kemarin waktu pulang dari Surabaya dia nyuruh aku panggil yang sama seperti aku panggil Mas Bimo, Mas Refan dan Mas Aril. Dia gak mau ketuaan dipanggil Bapak" jawab Reni.


"Kamu tau dari mana El, Mas Romi punya calon sendiri?" tanya Reni.


"Kemarin Bapak aku sendiri yang bilang?" tanya Ela.


"Ah yang benar? Mas Romi sendiri ada cerita gak sama kamu siapa orang yang dia suka?" tanya Ela.


"Nggak sih, tapi Bapak aku cerita kalau dua tahun lalu Mas Romi pernah datang ke Surabaya untuk mencari wanita idamannya. Trus Mas Romi cerita ke Bapak kalau dia sudah menemukan wanita idamannya itu" jawab Ela.


"Kalau seandainya wanita itu kamu, kamu gimana?" tanya Reni.


"Ah gak mungkin Ren. Aku dan Mas Romi bagai langit dan bumi. Keluarga sangat sederhana sedangkan dia orang kaya" elak Ela.


"Kalau dia gak mempersoalkan masalah harta gimana, kamu mau?" tanya Reni.


Ela terdiam dan sedang berpikir.


"El, kami kan sahabat kamu. Cerita donk, jujur aja ke kita" desak Bela.


"Mas Romi baik, dia perhatian. Sama keluarga aku aja dia perhatian banget. Sebelum pulang dari Surabaya Bapak, Ibu dan Aku dikasih hadiah dari Mas Romi. Katanya karena proyek kerjasama banyak mendapatkan untung" jawab Ela.


"Menurut aku itu bukan perhatian yang biasa lho El. Jangan - jangan Mas Romi beneran suka sama kamu" sambut Dini.


"Perasaan kamu sama Mas Romi gimana?" korek Reni.


"A.. aku.. aku suka sama Pak Romi tapi aku gak berani mimpi. Aku sadar Pak Romi tidak akan mungkin melirikku" ungkap Ela.


"Kalau seandainya Mas Romi juga punya perasaan yang sama dengan kamu gimana?" tanya Dini.


"A.. aku gak tau Din" Jawab Ela


"Harusnya senang donk?" tanya Bela.


"Tapi lebih besar rasa takut Bel" jawab Ela.


"Kamu sendiri gimana Bel sama Mas Aril. Kelihatan banget lho Mas Aril itu suka sama kamu?" tanya Reni.


"Aku tidak punya perasaan apapun pada Mas Aril. Hubungan kami hanya sebatas atasan dan bawahan" jawab Bela.


Kasihan banget kamu Mas Airin, kamu harus berjuang untuk mendapatkan hati Bela.


"Kamu nyaman gak kalau berada di dekat Mas Aril?" tanya Dini.


"Nyaman sih... " jawab Bela.


"Udah, itu udah bisa dijadikan modal dam memulai satu hubungan" potong Dini.


"Ren, menurut kamu.. kamu kan udah kenal sama mereka semua. Gimana sih sih sifat ketiga playboy itu?" tanya Dini.


Reni tampak sedang berpikir dan menatap ketiga sahabatnya.


"Kalian mau tau kisah mereka yang dulu atau sekarang?" tanya Reni.


"Ya semuanya deh" jawab Ela.


"Yakin? Nanti kalian jadi illfeel lagi sama mereka. Apalagi Bela jadi makin gak ada rasa" ungkap Reni.


"Gak apa - apa Ren. Kalau mau serius sama mereka kan harus tau semuanya tentang mereka. Jadi harus kenal mereka luar dalam, dulu dan sekarang" ujar Dini.


"Baiklah" Reni mulai menarik nafas panjang.


Dini, Bela dan Ela menunggu cerita Dini tentang tiga playboy yang saat ini memang sedang dekat dengan mereka bertiga.


"Mas Riko itu awalnya pria setia dan seriusan tapi kata Mas Aril waktu kuliah Mas Riko pernah patah hati. Menyukai seorang wanita dan dia tidak mendapatkannya. Sejak saat itu Mas Riko berubah jadi playboy karena bujukan dari Mas Aril dan Mas Romi. Mas Aril dan Mas Romi sifatnya gak jauh beda, emang playboy udah dari sononya, suka iseng dan becanda. Tapi aslinya mereka baik kok" Reni mulai cerita.


"Trus gimana ceritanya mereka taubat?" tanya Bela penasaran.


"Semuanya karena Mbak Kinan" jawab Reni.


"Mbak Kinan? Kok bisa?" tanya Dini bingung.


"Mas Refan dulu bucin banget sama istri pertamanya Mbak Renita. Seperti yang kalian tau, Mbak Renita meninggal karena melahirkan. Mad Refan membesarkan anaknya sampai usia dua bulan kemudian Mama menjodohkan Mas Refan dengan Mbak Kinan. Mereka kemudian menikah dan terbukalah tabir kebohongan Mbak Renita. Ternyata selama ini Mbak Renita selingkuh di belakang Mas Refan dan melahirkan anak yang bukan anak kandung Mas Refan" ungkap Reni.


"Astaghfirullah.. " sambut Dini.


"Mas Refan terpuruk saat itu, dengan kelembutan Mbak Kinan akhirnya Mas Refan berubah semakin alim. Nah para sahabatnya yang awalnya mengejek penampilan Mbak Kinan yang menurut mereka kampungan lama kelamaan mulai melihat perubahan hidup Mas Refan. Mbak Ayu istrinya Mas Bagus mulai berteman dengan Mbak Kinan dan Mbak Anita dan mulai pakai jilbab dan ikut pengajian. Otomatis Mas Bagus mulai merasakan perubahan dengan istrinya dan nyaman akan hal itu. Ketiga playboy juga mungkin sudah mulai bosan dengan kehidupan mereka sebelumnya dan mungkin Allah juga masih sayang pada mereka sehingga mereka mendapatkan hidayah. Dengan bantuan suami Mbak Anita mereka berlima membentuk satu pengajian yang dilaksanakan setiap sekali seminggu dengan memanggil seorang ustadz. Sejak saat itu perlahan - lahan kehidupan lama mereka tinggalkan. Mereka merubah hidup menjadi lebih baik lagi. Dan mereka juga sadar bahwa umur mereka sudah tidak muda lagi sehingga mereka tidak mau pacaran lagi dan langsung ingin mencari pendamping hidup yang sesuai kriteria mereka. Begitulah kisah singkat tiga playboy insaf" ungkap Reni.


"Keren ya kisah mereka" puji Ela.


"Itu karena kamu udah terkena pesonanya El" sambut Bela.


"Yaaah gitu deeeh hahaha... " jawab Ela.


.


.


BERSAMBUNG