Playboy Insaf

Playboy Insaf
Duaratus Enampuluh Enam



Beberapa bulan kemudian di apartemen Aril.


"Mama Papa kok datang gak kasih kabar?" tanya Bela pada mertuanya.


"Kami memang mau buat kejutan untuk kalian" jawab Mama Aril.


"Suami kamu ada, si biang kerok?" tanya Papa Aril.


"Ada Pa, silahkan masuk Pa, Ma" jawab Bela.


Papa dan Mama Aril duduk di ruang keluarga. Walau perut Bela sudah sangat besar tapi dia masih lincah berjalan. Apalagi sudah masuk tujuh bulan sudah semakin mendekati hari kelahiran itu memang sangat diperlukan untuk memperlancar proses persalinan.


Tak lama Aril dan Bela keluar dari kamarnya.


"Papa.. Mama.. kalian datang kok gak ngabari dulu?" tanya Aril pada kedua orang tuanya.


Aril mencium tangan dan memeluk penuh kasih sayang kedua orang tuanya. Kemudian dia duduk disampt Bela.


Bela hendak ke dapur untuk membuatkan minum.


"Udah Bel gak usah, nanti Mama ambil sendiri. Kasihan kamu dengan perut sudah sebesar itu harus repot - repot" cegah Mama Aril.


"Gak apa Ma" sambut Bela.


"Udah kamu duduk aja, ada yang mau kami bicarakan" perintah Papa Aril serius.


Membuat Bela mengurungkan niatnya untuk mengambil kan minum di dapur.


"Ada apa Pa, kok tumben serius amat?" tanya Aril penasaran.


"Berapa bulan lagi dokter bilang hari persalinan Bela?" tanya Mama Aril.


"Mmm dua bulan lagi Pa. Ini baru masuk tujuh bulan" jawab Bela.


"Kalian sudah mempersiapkan keperluan untuk si kembar?" tanya Mama Aril.


"Belum Ma, kemari mau beli tapi di ladang Jbut, kata Ibu nanti aja kalau sudah tujuh bulan" jawab Bela.


"Syukurlah kalau belum" sambut Mama Aril.


"Emang kenapa Ma?" tanya Aril penasaran.


"Kamu emang berencana mau membesarkan anak - anak kamu di apartemen ini?" tanya Papa Aril.


Aril terdiam sesaat. Selama ini dia sibuk dengan mengurus kantor dan memenuhi keinginan istrinya selama hamil. Sehingga tak sempat berpikir untuk pindah dari apartemen atau membeli rumah.


"Ya nggak juga Pa. Aku akan mencari rumah untuk meluat kecilku" jawab Aril.


"Terus kalau anak kamu lahir siapa yang jaga Ril? Apa sanggup Bela urus sendiri anak kembar kamu?" tanya Mama Aril.


"Nanti kami akan cari baby sitter khusu untuk anak kembar kami Ma" jawab Aril.


Bela hanya diam membiarkan Aril yang bicara. Papa dan Mama Aril tampak sedang menatap mata mereka dengan penuh khawatir.


"Mama iri dengan orang tua Riko dan Romi. Anak mereka semua sudah kembali pulang. Tapi anak kami belum juga sadar kalau dia itu anak tunggal. Sampai kapan lagi kamu akan tinggal jauh dari kami? Kami ini masih orang tua kamu Ril. Kami masih kuat untuk membantu kalian mengurus anak - anak kalian yang tak lain adalah cucu - cucu kami. Mama sering merasa sedih kalau Mamanya Riko dan Romi bercerita sekarang rumah mereka sudah ramai dengan cucu dan menantu. Mereka sudah tidak kesepian di rumah karena ada teman curhat setidaknya bercerita pada anak perempuan mereka makanan apa yang akan dimasak hari ini?" ungkap Mama Aril.


Bela tertunduk sedih dan merasa bersalah karena Mama mertuanya sedang menyindirnya saat ini.


"Rumah kami adalah rumah kalian Ril, Beeel... untuk apa cari rumah lagi, kalau rumah kita sudah ada?" tanya Papa Aril.


"Sudah saatnya kalian pulang, dulu sebenarnya diawal pernikahan kalian kami ingin mengutarakan hal ini tapi menurut kami, kalian masih perlu banyak waktu untuk berdua. Dan kami bisa memaklumi waktu kalian sebagai pengantin baru" ungkap Papa Aril.


"Saat Bela hamil juga kami kembali ingin mengajak kalian pulang tapi Papa pikir tak ada salahnya membiarkan kalian lagi. Agar kamu bisa lebih dewasa Ril menghadapi istri kamu yang sedang hamil muda. Kamu sebentar lagi akan jadi orang tua, harus lebih sabar menjalani permasalahan rumah tangga. Tapi sekarang perut Bela sudah semakin besar, kami semakin khawatir dengan keadaan Bela dan cucu - cucu kami. Sehingga kami tidak bisa menahan keinginan hati kami untuk mengajak kalian pulang. Pulang ke rumah kita" sambung Papa Aril.


"Udah cukup ya waktu berduaannya, jangan egois sebagai seorang anak. Kami sudah tua, tidak akan bisa selamanya hidup berdua. Kami butuh kalian dan kalian juga membutuhkan kami. Kita keluarga yang saling membutuhkan" ungkap Mama Aril dengan mata berkaca - kaca.


"Ma.... " sambut Bela dengan perasaan bersalah.


"Mama pengen merasakan punya anak perempuan Bel. Kamu menantu Mama satu - satunya, kamu juga anak perempuan yang Mama punya. Bantu Mama Nak, bujuk suami kamu untuk pulang. Sudah cukup waktunya untuk bermain - main di luar. Kini saatnya kembali pulang" ajak Mama Aril.


Bela melirik wajah suaminya.


Aril menatap wajah kedua orang tuanya tapi masih sedang memikirkan jawabannya. Karena kesalnya Papa Aril langsung memukul bahu putra tunggalnya itu.


"Dari dulu kamu memang gak berubah, keras kepala. Apa perlu Papa harus memohon kepada kamu?" tanya Papa Aril.


Bela langsung menggenggam tangan suaminya.


"Kita pindah ke rumah Papa yuk Mas" ajak Bela.


Aril masih diam.


"Atau aku marah ni sama kamu" ancam Bela.


"Jangan kasih jatah sekalian Bel" sambut Mama Aril memprovokasi.


"Ah Mamaaaaa" protes Aril.


Aril menatap Mama dan Papa nya.


"Janji ya jangan suka gangguin kami di kamar?" tanya Aril.


"Siapa juga yang mau gangguin kamu?" tanya Mama Aril.


"Benar, kami juga punya kamar sendiri. Gini - gini bukan kamu saja yang bisa mesra - mesraan. Papa Mama juga masih kuar Ril" ucap Papa Aril.


Ya Tuhaaan.. kini aku baru sadar otak mesu* Mas Aril turunan dari mana? Ucap Bela dalam hati.


"Deal" Aril menyodorkan tangannya ke depan. Langsung disambut Papa Aril dengan suka cita.


"Deal" sambut Papa Aril.


"Oke kami akan pulang" jawab Aril.


"Kapan?" tanya Papa Aril.


"Minggu depan deh sebelum perut Bela semakin besar" jawab Aril.


"Terlalu lamaaa... besok aja. Papa dan Mama udah suruh orang datang besok ke sini untuk bantu beres - beres barang - barang kalian yang mau dibawa ke rumah" ungkap Papa Aril.


"Lah kalau udah sejauh itu rencananya kenapa haru pakai tanya - tanya lagi pada kami?" tanya Aril.


"Ya siapa tau kamu nolak" jawab Mama Aril.


Bela hanya bisa menatap tiga orang yang ada di hadapannya.


Mengapa aku merasa sedang dalam musyawarah besar ya yang sangat alot? Tanya Bela dalam hati.


"Emang aku bakal nolak gitu?" tanya Aril.


"Itu emang kesukaan kamu Ril, nolak terus kalau diajak pulang" protes Papa Aril.


"Apa iya ya?" gumam Aril sendiri.


"Ih nih anak, bandelnya gan tobat - tobat. Suka banget buat orang kesal" Papa Aril kembali memukul bahu putranya.


"Aaaw... sakit Pa" teriak Aril.


"Makanya manut sama orang tua, jangan protes mulu" jawab Papa Aril.


"Iya iya.. aku akan manut sama Papa. Mulai hari ini aku akan jadi anak yang berbakti" ucap Aril.


"Nah gitu donk" sambut Papa dan Mama Aril dengan nafas lega.


Misi mereka berhasil ingin membawa pulang anak dan menantu mereka ke rumah besar mereka.


.


.


BERSAMBUNG