Playboy Insaf

Playboy Insaf
Duaratus Limapuluh Empat



"Pak Ibu Hana sedang kritis Pak. Baru saja dia dilarikan ke ruang ICU" jawab pria itu.


Praaang.. ponsel Riko jatuh ke lantai. Dini dan Rihana menatap Riko dengan tatapan bingung.


"Ada apa Mas?" tanya Dini penasaran.


"Han.. Hana sayang.. Dia sedang kritis di RS. XXX Bandung. Kita harus ke sana sekarang. Waktu kita hanya tinggal sedikit, kita harus gerak cepat" jawab Riko.


"M.. Mbak Hana sakit?" tanya Dini tak percaya.


Riko menganggukkan kepalanya.


"Mama.. mama napa Om?" tanya Rihana.


Wajahnya tampak sedih dan sebentar lagi akan menangis.


"Mama tidak kenapa - kenapa sayang. Sekarang kamu ikuti Tante Dini ya. Kita akan pergi untuk ketemu Mama kamu, cepaaat" perintah Riko.


"Yank siapkan perlengkapan Rihana, mungkin kita akan menginap di Bandung malam ini" sambung Riko.


"Iya Mas" jawab Dini sigap. Dia langsung berjalan menuju kamar menyiapkan semua keperluan mereka untuk pergi ke Bandung.


Semua pakaian Rihana, pampers dan susu juga dodot sudah dibawa. Sekarang giliran pakaian Dini dan Riko untuk beberapa hari.


Dini berjaga - jaga siapa tau mereka menginap lebih satu hari. Tiga puluh menit kemudian semua sudah siap. Rihana dan dia sudah berganti pakaian dan siap untuk pergi.


"Sudah siap yank?" tanya Riko.


"Sudah Mas" jawab Dini.


"Yuk kita pergi" ajak Riko.


Riko langsung mengangkat tas Rihana dan koper mereka. Kemudian mereka turun ke basement dan masuk ke mobil. Riko langsung mengemudikan mobilnya menuju tol Jakarta - Bandung.


Mereka sampi di Bandung setelah adzan maghrib. Sebelum menuju rumah sakit terlebih dahulu mereka singgah ke mesjid terdekat untuk shalat maghrib.


Setelah itu baru melanjutkan perjalanan menuju Rumah Sakit tempat Hana di rawat. Dengan berjalan tergesa - gesa mereka langsung menuju ruang ICU.


"Sus saya Riko Wardhana keluarga Hana Pertiwi" ucap Riko pada seorang perawat yang berjaga di ruang ICU.


"Oh iya Pak. Bapak yang sedang kami tunggu - tunggu. Silahkan pakai baju khusus kalau mau melihat Ibu Hana. Pesan dia saat masih sadar dia ingin bertemu putrinya" sambut perawat.


"Iya, saya datang bersama putrinya" jawab Riko


"Silahkan masuk Pak" perintah perawat.


Riko, Dini dan Rihana memakai pakaian khusus saat masuk ke ruangan ICU. Setelah itu mereka masuk pelan - pelan. Kini mereka berada di hadapan Hana.


Alangkah terkejutnya Riko dan Dini melihat keadaan Hana saat ini. Kini tubuhnya terlihat sangat kurus dan pucat. Rambutnya juga hampir botak.


"Mam... ma... " panggil Rihana mulai menangis.


"Ssst.. sayang di sini kita gak boleh ribut" bisik Dini.


Rihana mencoba menahan tangisnya. Itu maalh terlihat sangat menyedihkan. Anak kecil yang sudah dewasa karena keadaan. Karena dia pintar dia bisa dengan mudahnya mengerti apa yang orang besar katakan padanya.


"Mam.. ma.. Mama napa Ante?" tanya Rihana.


"Mama lagi bobok sayang" jawab Dini.


"Ma.. bangun Ma.. Linana datang" ucap Rihana sambil berbisik.


Air matanya terus mengalir membuat Dini juga tak kuasa menahan air matanya.


"Kamu sakit apa Han? Mengapa tidak mau cerita pada kami? Mengapa kamu sampai seperti ini?" tanya Riko.


"Sayang aku keluar dulu ya.. aku mau tanya sama perawat apa yang terjadi dengan Hana" ucap Riko pada Dini.


Dini menjawab dengan anggukan. Riko berjalan keluar ruang ICU dan kembali menemui perawat yang tadi mereka temui.


"Maaf Sus bisa saya bertanya tentang keadaan Hana?" tanya Riko.


"Oh kalau mengenai pasien Hana silahkan tanya sama Dokter yang bertanggung jawab Pak. Selama ini Bu Hana selalu konsultasi dengan Dokter Mutya" jawab perawat.


"Baik bisa saya bertemu dengan dokter Mutya?" tanya Riko lagi.


"Bisa.Tadi Dokter Mutya juga berpesan kepada kami, kalau keluarga Bu Hana datang di suruh untuk menemui beliau" jawab perawat.


"Dimana saya bisa menemuinya?" pinta Riko.


"Silahkan ke ruangannya Pak. Ayo saya antar" jawab Perawat.


Riko mengikuti perawat berjalan menuju ruangan praktek Dokter Mutya. Tak lama kemudian Riko sudah sampai di ruangan dokter itu.


"Selamat malam Dok, perkenalkan saya Riko Dharmawan keluarganya Hana" sapa Riko memperkenalkan diri.


"Silahkan duduk Pak. Sus tolong tinggalkan kami berdua" pinta Dokter Mutya.


"Baik Dok" sahut perawat.


Kini hanya tinggal Dokter Mutya dan Riko berdua saja di dalam ruangan. Riko sudah duduk tepat di hadapan Dokter Mutya.


"Perkenalkan saya Mutya teman Hana sekolah dulu, ketepatan saya juga dokter yang menangani perawatan Hana" ucap Dokter Mutya ramah.


"Karena dokter ternyata temannya Hana dan pasti sudah mengenal Hana saya jadi lebih lega untuk bertanya. Apa sebenarnya yang terjadi dengan Hana?" tanya Riko.


Dokter Mutya menarik nafas panjang.


"Enam bulan lalu Mutya datang ke rumah sakit ini untuk memeriksakan dirinya. Itu kali pertama kami bertemu setelah sekian lama. Dia mengeluh nyeri haid yang amat sangat dan darah haidnya sangat banyak tidak seperti biasanya. Saya menyuruhnya untuk periksa secara keseluruhan. Dan hasilnya Hana mengidap penyakit Kanker Serviks stadium empat. Selama pengobatan Hana bercerita kepada saya bagaimana dulu masa lalunya. Dia mengaku kalau selama ini melakukan *** bebas dan akhirnya melahirkan seorang anak perempuan. Selama lima bulan keadaannya semakin memburuk, sedangkan dia hanya tinggal seorang diri mengurus anaknya. Selama ini yang menjadi beban fikiran Hana hanyalah siapa yang akan mengurus anaknya setelah dia meninggal kelak. Hingga beberapa minggu lalu dia berkata kalau dia sudah menemukan Papa dari anaknya" ungkap Mutya.


Seeer... dada Riko bergemuruh.


Jadi memang benar aku ini Papa kandung Rihana? tanya Riko dalam hati.


"Hana berpesan kepada saya untuk menutupi semua data - data kesehatannya. Sebenarnya dia berniat untuk pergi secara diam - diam. Tapi menurut saya itu tak adil. Seburuk apapun masa lalu seseorang kalau dia sudah benar - benar bertaubat dia berhak mendapatkan kata maaf. Dia punya seorang anak, menurut saya anaknya punya hak untuk menyaksikan saat - saat terakhir hidupnya. Kemarin saat Hana datang untuk kemoterapi dia menitipkan sesuatu kepada saya" sambung Dokter Mutya.


Dokter Mutya mengambil sesuatu dalam laci meja kerjanya dan memberikannya kepada Riko.


"Dia meminta kalau sesuatu terjadi padanya tolong sampaikan surat ini kepada Riko Wardhana. Dia juga memberikan nomor telepon anda kepada saya. Makanya tadi saat Hana kritis saya langsung menyuruh perawat untuk menghubungi anda" ungkap Dokter Mutya.


Riko menerima amplop putih yang diberikan Dokter Mutya kepadanya dan membukanya. Tapi belum sempat Riko membacanya tiba - tiba perawat masuk ke ruang paktek Dokter Mutya.


"Dokter pasien Hana kondisinya semakin lemah. Baru saja dia anfal" lapor perawat.


"Apa?" tanya Dokter Mutya terkejut.


Dokter Mutya dan Riko segera berdiri dari tempat duduknya dan segera berlari menuju ruang ICU.


Hana... kumohon jangan pergi.. Kamu harus menjelaskan semua ini padaku. Apa memang benar Rihana itu anakku? Batin Riko.


Mereka berlari sekencang mungkin tak ingin melewatkan sesuatu yang mungkin sangat berharga.


.


.


BERSAMBUNG