
Rombongan sudah sampai di Pelabuhan Labuhan Bajo. Mereka diberikan kesempatan selama satu jam untuk berjalan - jalan di sekitar pelabuhan di pinggiran pantai.
Dini, Bela dan Ela asik berfoto bersama di pinggir pantai. Riko, Romi dan Aril senantiasa menemani mereka dan mencari - cari kesempatan untuk berfoto dengan para bidadari surga mereka.
Dari kejauhan Refan berjalan bersama Kinan dengan membawa pasangan suami istri yang sudah tua bersama seorang anak kecil.
Riko mendekati mereka dan terlihat sangat akrab. Dini merasa penasaran dengan mereka.Dini melihat dari jauh sikap Riko yang penuh kasih sayang pada anak - anak, membuat hati Dini jadi menghangat.
Mas Riko memang sayang sama anak - anak. Pada Salman, Bayu dan Yoga juga dekat. Nih sama gadis kecil itu kelihatan sayang banget. Batin Dini.
"Bel.. kamu kenal dengan mereka?" tanya Dini.
"Tidak.. aku tidak kenal mereka" jawab Bela.
Dini mendekati Aril untuk menghilangkan rasa penasarannya.
"Mas Aril tau gak siapa yang sedang bersama Mas Refan dan Mas Riko?" tanya Dini.
"Oh itu mantan mertuanya Refan" jawab Aril.
"Mas Riko kelihatannya dekat ya.. apalagi pada anak kecil itu" ujar Dini.
"Riko gak pernah cerita pada kamu?" tanya Romi.
"Tanya apa Mas?" tanya Dini penasaran.
"Riko dulu pernah suka dengan istri Refan. Sejak kuliah tapi karena Renita pacaranya Refan. Riko mundur, dia tidak ingin menjadi perusak hubungan sahabatnya. Sejak saat itu Riko menjadi seorang playboy" jawab Aril.
Dini tampak terkejut.
"Kamu tenang aja Din, itu semua masa lalu. Riko sudah lama mengubur cintanya pada Renita. Apalagi setelah dia tau Renita mengkhianati Refan. Riko sangat bersyukur bukan dia yang berada di posisi Refan" ungkap Aril.
Dini terlihat sedang berpikir keras.
"Udah Din, katanya kamu bisa terima Riko apa adanya?" sindir Romi.
"Iya Mas" jawab Dini.
Dini mendekati Riko yang sedang menggendong akan bayi.
"Cantik sekali Mas, siapa namanya?" tanya Dini.
"Naila. Hai tante.. nama saya Naila" jawab Riko.
"Boleh aku gendong sebentar Mas" pinta Dini.
"Boleh.. Nih kamu digendong Tante Dini dulu ya Nai" ujar Riko sambil menyerahkan Naila ke dalam gendongan Dini.
Dini menyambut Naila dan suka hati.
"Sudah pantas Din..." ujar Riko.
"Pantas apanya Mas?" tanya Dini.
"Kita sudah pantas seperti ini. Mudah - mudahan secepatnya ya" jawab Riko.
"Aamiin..." sahut Dini sambil tersenyum.
"Bapak - bapak dan Ibu - ibu waktunya sudah habis. Silahkan naik kedalam kapal" ucap Kru Kapal.
Riko kembali memberikan Naila kepada Kinan kemudian berpamitan kepada kedua mantan mertua Refan. Setelah itu Riko mengajak Dini naik ke atas kapal.
Kini mereka semua sudah berada di atas kapal pesiar. Setelah berkeliling di dalam kapal, mereka masuk ke dalam kamar masing - masing.
Riko, Romi dan Aril satu kamar begitu juga dengan Bela, Ela dan Dini. Setelah selesai shalat maghrib. Mereka semua berkumpul di ruang makan untuk melaksanakan makan malam
"Mana pengantin baru?" tanya Refan karena belum melihat kehadiran Bimo dan Reni di sana.
"Aku rasa mereka memilih menu belah duren lebih dulu" jawab Aril.
"Emangnya di sini ada durian Om?" tanya Jeta.
"Mampu* lo, ngomong gak pakai sensor" umpat Romi.
"Aku lupa kalau di Medan banyak Durian bro dan aku lupa kalau anak si Jelatong ini orang Medan" sambut Aril.
"Siapa Jelatong?" tanya Bela bingung.
"Itu panggilan sayang kami untuk Mbak Jelita. Romi dipanggil Rombeng, Bagus si Kapur Bagus, Riko dibalik jadi Kori dan Refan dipanggil Panjul. Hanya Reni yang dipanggil setan kecil" ungkap Aril.
"Jadi Mas Aril dipanggil apa?" tanya Bela
"Airin" jawab Romi.
"Kenapa Airin?" tanya Ela.
"Mas Aril jadi waria hahaha.. pasti seru itu" ujar Bela.
"Dia cantik banget Bel, kalian mah kalah sama Airin. Mulus dan bahenol" komentar Riko.
"Dia pakai sumpal dada dan bra ukuran gede, bokongnya di sumpal dengan bantal bayi jadi lebih berisi" ucap Romi.
"Coba kalau ada fotonya pasti lucu" ujar Bela.
"Ada.. ada.. nanti Mas cari di album kenangan di apartemen Mas masih ada kok" sambut Riko.
"Awas lu ya Kori.. aku kutuk jadi batu baru tau" ancam Aril.
"Gak takut, kamu bukan emak aku" balas Riko.
Tak lama Bimo dan Reni muncul.
"Nah itu pengantin baru sudah keluar kamar" ujar Romi.
"Lama amat, perut kami sudah laper. Kalian sih enak, makan cinta udah kenyang. Apalagi nih setan kecil makan kembang udah cukup" protes Aril.
"Airiiiiin... " panggil Reni.
Sebelumnya Reni mendengar pembicaraan mereka saat keluar dari kamar mereka.
"Ayo semua silahkan makan.. mari kita nikmati hidangan koki kita malam ini" ajak Bimo.
Semua duduk si kursi mereka masing - masing dan siap untuk menyantap hidangan makan malam yang sengaja dipanggil Bimo dari hotelnya.
"Uncle.. kata Om Aril Uncle sama Tante Reni belah durian ya dikamar?" tanya Jeta.
Sontak semua orang yang ada di meja makan melirik ke arah Aril. Wajah Aril langsung memerah karena malu. Aril menggaruk kepalanya yang tak gatal karena salah tingkah.
"Aku mau donk makan durian" sambung Jeta yang memang pecinta durian karena dia tinggal di Medan dan di sana mudah mendapatkan buah itu.
"Jetaaa.. di sini gak ada durian sayang. Mungkin kamu salah dengar tadi" potong Jelita.
"Nggak kok Ma, aku dengar jelas Om Aril bilang belah durian" ulang Jeta.
"Oooh itu peti pernikahan Uncle dan Tante Reni berbentuk durian jadi setelah selesai pesta mereka harus membukanya dan menghitung isinya" Tagor mengalihkan pembicaraan.
"Oh begitu ya Pa. Banyak donk uangnya Uncle sama Tante Reni? " tanya Jeta.
"Ya banyak donk makanya bisa bayar sewa kapal pesiar ini untuk kita jalan - jalan" jawab Tagor.
Setelah selesai makan Reni dan Bimo masuk ke dalam kamar pengantin mereka. Aril tiba - tiba mempunyai ide untuk menganggu malam pengantinnya si Setan Kecil.
Aril segera mendekati Jeta anaknya Jelita kakaknya Reni.
"Jet" panggil Aril.
"Ya Om" jawab Jeta.
"Kamu suka banget durian ya?" tanya Aril.
"Iya Om habis durian itu enak banget Om" jawab Jeta.
"Kamu masuk gih ke kamarnya Tante Reni. Mereka simpan durian di kamar" bisik Aril.
"Bener Om?" tanya Jeta tak percaya.
"Iya benar" jawab Aril meyakinkan.
"Takut ah nanti Uncle marah" ujar Jeta.
"Kamu ketuk pintu kamar Tante Reni trus kami periksa semua isi kamarnya pasti kamu akan menemukannya" bujuk Aril.
Jeta tampak sedang berpikir tapi karena anak kecil itu memang sangat suka durian dia segera menyambut perintah Aril.
"Oke deh Om, aku mau ke kamar Tante Reni dulu mau cari buah durian" ucap Jeta.
Aril tersenyum menatap kepergian Jeta.
Hahaha... rasakan Setan Kecil gimana rasanya geregetan. Tawa Aril dalam hati.
Jeta sampai di depan pintu kamar pengantin. Sambil tetap melirik kearah Aril dengan ragu - ragu akhirnya Jeta memberanikan diri untuk mengetuk pintu kamar Reni dan Bimo.
Tok.. tok.. tok...
.
.
BERSAMBUNG