Playboy Insaf

Playboy Insaf
Pemuda Aneh



Sore ini,Sindi mengajak Bimo jalan jalan ke Taman. Bimo melakukan tugas seperti biasa nya,dia akan memantau Sindi dari jauh,dan akan mendekat jika di suruh.


Sore itu,taman terlihat cukup ramai dengan beberapa Pengunjung yang datang bersama Pasangan nya masing masing. Sindi duduk di salah satu bangku yang di sediakan pihak Taman,Gadis itu sedang menunggu seseorang.


"Hallo..." jawab Sari dari sebrang,


"Hallo,Sar Elo masih dimana?," tanya Sindi,


"Ini Gw lagi beli cemilan,tunggu sebentar ya,"Jawab Sari langsung memutuskan sambungan.


"Yaelah... lama amat sih." Sindi bergerutu kesal karna sudah lima belas menit menunggu.


"Kenapa dia sangat kesal?," Bimo.


Bimo yang di bantu Kedua Asisten nya masih terus mengawasi sekeliling,tiba tiba Bimo melihat dari arah kanan ada satu Orang Gadis dan dua Orang Pemuda menghampiri Sindi.


"Udah lama?," tanya Sari sambil cengengesan,


"Tau...." jawab Sindi cemberut.


"Apa kabar Sin?," tanya Reno kekasih Sari.


"Baik Ren,Elo sendiri gimana?," Sindi balik bertanya,


"Seperti yang Elo lihat." jawab Reno sambil tersenyum.


"Syukur lah kalau begitu."


Jawab Sindi sambil menganggukan kepala,lalu dia melihat Pemuda yang berada di samping Reno,Pemuda itu sudah memberikan senyuman Terbaik nya yang hanya di balas senyuman getir oleh Sindi.


"Ini Orang aneh banget sih. dan... senyuman nya angker banget." Sindi memberi kan penilaian kepada teman Reno.


"Ngapain sih si Reno pake bawa yang ginian segala?,"


Sindi masih dengan senyuman getir nya,sambil melihat Reno dan Teman nya bergantian.


"Oh iya,kenalin ini Teman Gw nama nya Jaki." Reno memperkenal kan Jaki kepada Sindi.


"Hai... Gw Jaki" jaki mengulurkan tangan,namun uluran tangan nya di halangi oleh bimo.


"Maaf Tuan..." Bimo sudah memasang wajah sangar nya.


"Siapa Elo?," tanya Reno sambil melihat Bimo dengan tatapan tidak suka.


"Syukurlah Bimo penyelamat..." Hati Sindi merasa lega.


"Kenalin,ini Bimo Supir sekaligus BodyGuard Gw." Sindi memperkenalkan bimo.


"Ternya hanya Supir..." Jaki menatap tidak suka.


"Bimo...."


Bimo mengulur kan tangan kepada Reno dan Jaki,uluran tangan Bimo di sambut baik oleh Reno,namun tidak dengan Jaki,dia hanya menyalami tangan Bimo sepintas. Jaki benar benar menunjukan ketidaksukaan nya kepada Bimo.


"So ganteng amat sih," Sindi merutuki Jaki.


"Muka Elo sama topeng Gw juga masih kalah jauh." Bimo memberi kan senyuman ejekan kepada Jaki.


Mereka berempat duduk di kursi yang di sedia kan pihak taman,sedangkan Bimo berdiri tidak jauh di belakang sindi. Sari,Reno,dan Sindi mereka bertiga ngobrol dengan santai,di barengi canda tawa dan cemilan masing masing mereka terlihat sangat seru dengan obrolan nya.


Tanpa mereka sadari,Bimo dan Jaki sudah memulai peperangan dengan sorot tatapan Mata tidak suka. Kedua nya sedang berdebat melalui Pandangan Mata.


"Cih.. Supir sialan !" Jaki memulai dengan tatapan permusuhan


"Wajah mu sungguh tidak cocok berekspresi seperti itu." jawab Bimo dengan senyuman sinis nya.


"Kau hanya seorang Supir,jadi jaga sikap mu." Jaki


"sedikit pun Aku tidak menemui kebaikan di wajah mu!" Bimo


"kalau disini tidak ada siapa siapa,Kau pasti sudah Aku hajar!" Jaki


"Hahaha wajah mu sangat cocok berprofesi sebagai tukang sapu." Bimo menahan tawa.


Melihat ekspresi Bimo,Jaki semakin tersulut,Pemuda itu bangun dari duduk nya,namun ketika dia akan menghampiri Bimo,tiba tiba ada batu kecil yang mengenai kening nya.


Pletak....


Batu kecil mengenai kening nya lumayan keras.


"Woi.. Siapa yang melempar batu?,"


Teriakan Jaki menyebabkan semua yang berada di sana menoleh kepada nya. Jaki melihat kanan kiri,sambil memegang kepala nya,Pemuda itu menemukan pelaku yang sedang mengejek nya dengan jari tengah.


Pletak....


Satu lemparan lagi mengenai kening nya,membuat Jaki semakin geram dan mengejar si pelempar batu yang tak lain adalah Rafa.


"Woi... Tunggu..." Jaki mengejar Rafa,aksi nya di tertawa kan semua pengunjung yang melihat nya.


"Hahaha Temen Elo konyol banget." perkataan Sindi hanya di jawab gelengan kepala oleh Reno,karena Reno juga menertawakan Jaki.


"Kamu bawa Orang ko aneh banget sih Yang?," Sari bergerutu kesal namun bibir tertawa.


"Dari tadi dia melototin Saya terus Nona." ujar Bimo sudah terlihat tenang.


"Yang bener Sin?," tanya Reno dan Sari dengan wajah tidak percaya.


"Kalian sih gk merhatiin,padahal konyol banget Muka nya pas melototin Bimo,nih kaya gini nih," Sindi meniru gaya Jaki dan di akhiri dengan tawa yang renyah.


"Aku bahagia melihat kamu tertawa riang." Bimo memperhatikan Sindi dengan tatapan berbunga bunga.


"Sudah... Sudah..." Reno memasang muka kesal,karena Sindi dan Sari masih menertawa kan Jaki.


"Nyantai aja kali..." jawab Sindi menahan tawa,


"Maaf Nona,ini sudah pukul 18.00" Bimo memberi tau,


"Emang nya kenapa?," tanya Reno melihat Bimo masih dengan tatapan tidak suka.


"Sejak kejadian itu ((bertemu penjahat suruhan 5 malam berturut turut)) Gw paling mentok jam.19.30 sudah ada di rumah." Sindi mengingat kan.


"Sory Gw lupa," jawab Reno.


"Yaudah,Gw pamit dulu ya... Kalian lanjutin aja mesra mesraan nya Berduaan." Sindi menaikan kedua alis nya.


"Yaudah sana. hus.. hus.." Sari mengusir dengan muka yang sudah merah.


"Hahaha...."


Sindi menertawakan Sari,sambil berlari ke arah mobil,namun Sindi malah tersandung dan akan terjatuh jika Bimo tidak sigap menahan nya,sehingga bertemulah dua Mata yang berbeda. Bimo dengan tatapan nya yang penuh Cinta,sedangkan Sindi dengan tatapan kaget.


"Akhem...."


Reno menghentikan aktifitas mereka. Sindi menjauhi Bimo,dan kembali berlari ke mobil sambil menahan malu. Bimo menyusul Sindi sambil menggeleng kan Kepala nya.


"Hahaha...." kini Sari yang menertawa kan Sindi,karena muka Sindi sudah merah dan berlari menuju mobil nya di ikuti oleh Bimo.


"Kaya nya Supir si Sindi demen tuh sama Majikan nya." Reno menebak.


"Iya,,,,tapi Sindi malah sebalik nya." jawaban Sari hanya di angguki oleh Reno.


Mereka berdua kembali melanjutkan acara dengan semestinya. Sedangkan di mobil,sepanjang perjalanan Sindi dan Bimo hanya bungkam setelah kejadian beberapa menit yang lalu. Mereka terlihat canggung dengan fikiran masing masing.


*


*


*


*


*


*


*


"Kami masih berbaik hati kepada mu.." Rafa membersih kan tangan nya yang masih tersisa darah.


"Jika kau berani melapor ke Polisi,maka akibat nya akan lebih parah!" Romi memperingati.


"Ayo Kita pergi." ajak Rafa kepada Romi. Mereka berdua meninggal kan jaki yang sudah babak belur dan terkapar tidak berdaya.


-


-


-


"Dia sungguh tidak tau diri." Romi membuka Obrolan denga raut wajah masih terlihat kesal,


"Muka nya yang pas pasan sungguh tidak cocok berekspresi cemberut." jawab Rafa,


"Aku tidak habis fikir" Romi mulai terlihat tenang.


Mereka berdua kembali melanjut kan obrolan yang tidak penting lain nya,sambil terus mengikuti bos nya sampai ke apartemen dengan selamat.


-


-


-


-


-


-


-


-


-


-


BERSAMBUNG