
Malam harinya di rumah Refan.
"Lho Rom, kok gak bilang tadi mau datang? Kita kan bisa pulang bareng?" tanya Bimo yang terkejut melihat Romi datang ke rumahnya.
"Aku mau ajak Ela keluar Bim, sekalian mau cerita tentang perusahaan Om Reno" jawab Romi.
"Oh iya ya.. silahkan duduk dulu. Kamu sudah janjian sama Ela?" tanya Bimo.
"Udah, katanya Ela lagi siap - siap" jawab Romi.
Romi melihat Reni duduk berdekatan dengan Bimo.
"Sudah reda ngidamnya?" tanya Romi pada Bimo sambil memberi kode ke arah Reni.
"Alhamdulillah sejak pulang dari Labuhan Bajo, anakku gak ngambek lagi. Udah mau di jengukin" jawab Bimo spontan sangkin senangnya.
"Maaas" potong Reni.
"Sorry keceplosan" sambut Bimo.
"Hahaha.. syukurlah, kasihan Bimo Ren hidupnya galau jauhan sama kamu terus" ujar Romi.
Tak lama Ela turun dari lantai dua bareng Bela.
"Eh Bela, ikutan yuk jalan bareng kami" ajak Romi.
"Gak usah Mas, nanti yang ada aku jadi pengganggu lagi" tolak Bela.
"Nggak, aku kan bisa ajak Aril juga" sambut Romi.
Bela sedikit terkejut mendengar jawaban Romi.
"Gak deh Mas aku di rumah aja" elak Bela.
"Gimana, kamu sudah siap?" tanya Romi pada Ela.
"Sudah Mas. Mas Bimo pamit dulu ya.. Ren.. Bel.. aku pergi dulu" ujar Ela pada yang lainnya.
"Iya, kalian hati - hati ya" balas Reni.
Romi dan Ela keluar dari rumah Bimo dan Reni. Mereka berjalan menuju sebuah Cafe. Cafe favorit mereka tempat mereka pertama kali makan berdua.
"Cishela, Mas mau bicara sesuatu kepada kamu" ucap Romi.
"Bicara apa Mas?" tanya Ela penasaran.
"Maaf sepertinya keberangkatan kita ke Surabaya di tunda" jawab Romi.
Wajah Ela tampak kecewa dan sedih. Semakin jelas kalau Romi tidak mendapat restu dari orang tuanya.
"Ya sudah Mas tidak apa - apa. Gak perlu buru - buru juga kan" sambut Ela.
"Kamu jangan berpikiran buruk dulu Shel.. ditunda bukan karena Mas tidak serius tapi ada hal penting yang perlu kamu lakukan" ujar Romi.
Alis Ela berkerut, dia bingung dengan perkataan Romi barusan.
"Kamu tau kan kalau Perusahaan Om Reno, Opanya Naila sedang diujung tanduk. Refan sedang bekerja keras untuk menyelamatkan Perusahaan itu. Dia butuh bantuan seseorang dan dia juga butuh seseorang yang bisa dipercaya. Jadi Mas tawarkan kamu karena Mas tau gimana cara kerja kamu. Kasihan kalau Naila nanti harus kehilangan warisan dari Opanya gara - gara ponakan Om Rendi yang gagal mengurus perusahaan. Rencananya Riko juga akan menawarkan kepada Dini untuk membantu kamu" ungkap Romi.
"Dini? Dini kan di Bandung Mas" sambut Ela.
"Dini sudah kembali ke Jakarta beberapa hari yang lalu karena dia masuk Rumah Sakit kemarin" jawab Romi.
"Dini masuk Rumah Sakit? Kok gak ada kabari kami?" tanya Ela terkejut.
"Mungkin dia gak mau buat kalian khawatir, lagian dia juga di rawat di RS. Bandung. Setelah pulang Dini tidak bekerja lagi, dia resign dari perusahaannya dan kembali ke Jakarta dan Alhamdulillah karena dia kemarin masuk Rumah Sakit akhirnya Papanya merestui hubungannya dengan Riko. InsyaAllah sebentar lagi mereka akan lamaran" jawab Riko.
"Alhamdulillah.. wah pasti Dini senang sekali ya Mas" sambut Ela senang.
Romi tersenyum lembut kepada bidadari surganya.
"Pasti donk, kamu juga senang kan kalau aku dan keluargaku datang melamar kamu pada keluarga kamu? Sabar ya sebentar lagi akan tiba saatnya. Sekarang kembali ke tawaran Mas semula. Kamu mau tidak bantuin Refan di Perusahaan Om Reno?" tanya Romi.
"Tapi aku kan belum berpengalaman Mas?" ucap Ela ragu - ragu.
Ela merasa tersanjung mendengar kata - kata Romi. Romi begitu perhatian dengannya. Dia malah sempat salah sangka di awal tadi. Dia kira Romi membatalkan niat untuk bertemu keluarganya karena terhalang restu orang tuanya dan Romi ingin mundur tapi ternyata tidak.
"Gimana Shel?" tanya Romi.
Ela tampak berpikir sejenak. Kemudian menarik nafas panjang.
"Baiklah Mas akan aku coba. Aku akan berusaha membantu permasalahan Mas Refan di Perusahaan Pak Reno" jawab Ela akhirnya.
Romi tersenyum sambil bernafas lega.
"Alhamdulillah.. nanti aku kabari Refan ya kalau kamu bersedia. Kemungkinan secepatnya Refan ingin kamu pindah ke Perusahaan Om Reno. Apakah kamu siap?" tanya Romi.
"InsyaAllah siap Mas, demi Naila. Kasihan sekali nasibnya" jawab Ela.
****
Sementara Riko kembali datang ke rumah Dini.
"Lho Nak Riko datang lagi rupanya? Dini gak ada kasih kabar" tanya Mama Dini.
"Saya memang gak kabari Dini Bu, ada hal penting yang ingin saya sampaikan langsung pada Dini" jawab Riko.
"Sebentar ya Ibu panggil Dini dulu. Silahkan duduk Nak Riko" ujar Mamanya Dini.
"Bapak mana Bu?" tanya Riko.
"Bapak lagi istirahat di kamar, katanya waktu di Bandung kurang istirahat. Padahal selama di sana dia kan santai aja kan Nak Riko" jawab Mama Dini.
"Hahaha.. namanya faktor usia Bu. Lebih mudah kelelahan" sambut Riko.
"Santai dulu ya biar Ibu panggil Dini" ucap Mama Dini.
Riko duduk di sofa ruang keluarga sedangkan Mamanya Dini berjalan menuju kamar putri bungsunya. Tak lama kemudian Dini dan Mamanya keluar berbarengan tapi Mama Dini langsung masuk ke kamarnya. Kini hanya tinggal Dini dan Riko di ruang keluarga.
"Kok gak kasih kabar Mas mau datang?" tanya Dini.
"Iya ada hal penting yang ingin Mas bicarakan pada kamu. Kamu gimana keadaannya? Udah lebih baik?" tanya Riko penuh perhatian.
"Alhamdulillah sudah Mas" jawab Dini.
Dini memperhatikan penampilan Riko persis sama seperti tadi siang saat Riko mengantarkan Dini dan keluarganya sampai rumah. Itu artinya Riko belum pulang ke apartementnya dan belum istirahat. Pakaiannya belum berganti, masih pakaian yang sama dengan yang tadi siang.
"Mas sudah makan malam?" tanya Dini.
"Jujur belum. Tadi Mas dari kantor Romi singgah sebentar ke kantor Mas. Belum sempat pulang ke apartemen" jawab Riko.
"Tunggu sebentar ya aku siapin makanan untuk Mas" ujar Dini.
"Gak perlu repot Din, kamu kan masih sakit" tolak Riko.
"Mas aku sakit ini sudah bulanan dan hanya hari pertama. Setelah itu aku baik - baik saja. Sudah Mas duduk tenang aja, biar aku siapain makanan" balas Dini.
"Aku temani kamu saja deh" ujar Riko.
Akhiy mereka berdua sama - sama jalan ke dapur. Dini menggoreng ayam dan membuat sayur tumisan ala - ala setelah melihat isi dapur di rumahnya. Sayurnya hanya tumis tauge pakai tahu saja.
"Hemmm... wangi sekali, aku jadi tambah lapar" ucap Riko.
"Sabar ya Mas, sebentar lagi masak" sambut Dini.
"Aku jadi ngebayangin nanti kalau kita menikah, aku pasti akan melihat pemandangan ini setiap hari di rumah kita" ujar Riko.
"Ehm.. ehm.. " terdengar suara deheman seseorang dari belakang membuat Riko dan Dini terkejut.
.
.
BERSAMBUNG