
Keesokan harinya seperti biasa Bela dan Ela diantar oleh Bimo berangkat ke kantornya. Sejak masuk ke dalam mobil Ela hanya diam dan seperti sedang berpikir keras. Bimo melirik ke arah adiknya dan memberi kode seolah bertanya ada apa dengan Ela.
"Eeel santai aja jangan tegang. Mas Romi gak akan sekejam yang kamu pikirkan" hibur Bela.
"Romi kejam? Ela takut sama Romi? Why?" tanya Bimo penasaran.
"Ela baru bertemu pertama kali kemarin Mas sama Mas Romi. Dan ternyata hampir dua tahun yang lalu mereka pernah bertemu di Jakarta ini dan Ela gak tau kalau mereka orang yang sama. Sudah satu bulan lebih Ela bekerja tapi sekalipun dia belum pernah menunjukkan wajahnya ke hadapan Mas Romi hanya sekedar mengucapkan terimakasih karena sudah diterima bekerja di Perusahaan Mas Romi" jelas Bela.
"Ooo karena itu, Romi baik kok El. Dia humoris juga, sama isengnya dengan Aril. Jadi kamu gak perlu takut sama dia" sambung Bimo.
"Tapi itu kan karena sama teman - temannya Mas. Kalau di kantor Pak Romi itu terkenal playboy dan kejam" sambut Ela.
"Kalau playboy sih setau Mas dia sudah insaf. Sekarang kami kan udah rajin pengajian setiap minggu. Romi, Aril dan Riko sudah berhenti dalam kehidupan bebas mereka. Sekarang lebih serius menjalani dan menyusun masa depan yang lebih baik" ujar Bimo.
"Yaah mudah - mudahan Mas Romi berbaik hati pada kamu. Kamu tenang saja, kamu gak akan dipecat sama Mas Romi karena kamu gak punya salah apapun" dukung Bela.
"Nggak lah, masak Romi mau pecat Ela. Paling dia mau kenal lebih baik lagi sama kamu, secara kan yang masukin kamu ke Perusahaannya adalah dirinya sendiri. Masak iya dia juga yang pecat begitu saja. Itu mah namanya semena - mena. Kalau sampai hal itu terjadi Mas yang akan ngomong sama Romi" tegas Bimo.
Ela menarik nafas panjang. Tanpa terasa mobil Bimo sudah memasuki area kantor Ela. Rasa takut Ela semakin menjadi - jadi tapi dia tidak bisa lari. Dia sangat membutuhkan pekerjaan ini demi cita - citanya yang ingin membahagiakan kedua orang tuanya.
Bimo menghentikan mobilnya tepat di depan pintu masuk. Ela keluar dari mobil dan mobilpun berlalu melanjutkan perjalanannya menuju kantor Bela.
"Semoga berhasil El, semangaaaat" teriak Bela dari dalam mobil.
Ela menatap pintu masuk perusahaan tempat dia bekerja. Hari ini terasa lebih berat dari hari pertama dia masuk ke perusahaan ini.
Bismillah....
Ucap Ela dalam hati sambil melangkahkan kakinya masuk ke dalam kantornya. Ela masuk ke dalam lift dan langsung menekan tombol lantai paling tinggi dimana ruangan CEO berada.
Jantung Ela semakin kencang berdetak. Dalam hati Ela terus mengucapkan doa - doanya, meminta Allah untuk melembutkan hati Romi dan tidak memecatnya.
Sesampainya di lantai paling atas Ela bertemu dengan sekretaris CEO.
"Selamat pagi Mbak. Apakah Pak Romi sudah datang?" tanya Ela kepada wanita cantik yang duduk dibelakang meja sekretaris.
Wanita itu memandangi tampilan Ela dari ujung kepala sampai ujung kaki.
Siapa wanita ini? Apakah salah satu dari para wanita si Bos? Tapi sejak kapan dia ganti gaya wanita. Biasanya kan dia suka yang lebih terbuka dan sexy? Aku saja yang sudah berusaha berpenampilan maksimal cantik seperti ini belum juga dilirik sama si Bos masak udah keduluan dia.
"Pak Romi belum datang. Kamu siapa?" tanya sekretaris Romi dengan juteknya.
"Saya Cishela Budianto dari bagian keuangan. Udah janji mau bertemu dengan Pak Romi pagi ini" jawab Ela sopan.
"Oh tunggu saja di ruang tunggu nanti akan saya sampaikan kepada Bapak ketika dia sampai" balas wanita itu.
Oh syukurlah orang dari Departemen Keuangan. Aku kira siapa tadi. Batin sekretaris.
Ela segera duduk di ruang tunggu dan mengirim pesan kepada Mery teman setimnya
Ela
Mer, aku sudah di kantor tapi lagi di ruangan Bapak CEO. Mau bertemu dengan beliau. Kalau Bu Monic cariin aku tolong sampaikan pada beliau ya.
Mery
Ngapain kamu ke ruangan CEO El? Kamu tidak melakukan kesalahan kan?
Ela
Tidak, kemarin aku bertamu ke rumah sahabat aku, ternyata Pak Romi sahabat dari Kakaknya sahabat aku itu. Dan tanpa sengaja kemarin aku bertemu Pak Romi jadi pagi ini dia menyuruhku untuk menemuinya.
Mery
Ela
Do'ain ya Mer, semoga aku tidak diapa - apain sama Pak Romi.
Mery
Aamiin...
Ela menutup ponselnya dan memasukkannya ke dalam tas kerjanya. Setelah itu Ela kembali berdoa dalam hati. Tak lama kemudian sekretaris Romi datang menghampirinya.
Ela langsung berdiri menyambut kedatangan wanita itu.
"Pak Romi sudah datang, dia menyuruh kamu masuk" perintah wanita itu dengan sikap sombongnya.
"Baik Mbak" Ela menundukkan wajahnya memberi hormat.
Ela mengikuti langkah wanita itu dari belakang, mereka berjalan menuju ruangan CEO. Tapi wanita itu berhenti di meja kerjanya. Tinggal Ela yang melangkah menuju pintu kantor Romi.
Sementara di ruangan Romi.
Semalaman ini Romi sangat sulit menutup matanya untuk tidur, sekitar jam dua malam baru matanya bisa diajak kompromi dan beristirahat. Pikirannya terus membayangkan wajah cantik Cici yang kini sudah memakai jilbab.
Membuat wajah Cici terlihat lebih cantik, lebih feminim dan lebih Romi sukai. Apalagi ingat perkataan Ustadz kalau Cici adalah wanita yang layak untuk diperjuangkan.
Romi sangat tak sabar menunggu pagi hari. Walau dia hanya tidur beberapa jam. Setelah shalat subuh Romi tidak merasakan kantuk lagi. Pagi ini dia sangat semangat sekali untuk berangkat ke kantornya karena dia akan bertemu dengan Cici, gadis yang selama dua tahun ini sudah fia cari - cari.
Akhirnya gadis itu datang sendiri di kantornya. Tak perlu lagi Romi kesulitan untuk mencarinya lagi.
Apakah ini yang dinamakan jodoh? Padahal aku sudah capek mencari selama ini? Apakah benar dia yang Engkau kirim ya Allah sebagai bidadari surgaku. Batin Romi semakin menggebu - gebu ingin bertemu Ela pagi ini.
Tok.. tok..
Romi mendengar suara pintu ruangannya di ketuk dari luar.
Itu pasti Ela. Batin Romi.
Romi segera merapikan dasi dan pakaiannya, tak lupa Romi melirik ke arah cermin yang ada di samping mejanya. Melihat penampilan wajahnya.
Ah udah perfect... Batin Romi penuh percaya diri.
"Masuk" ucap Romi. Romi duduk di kursi kebesarannya di perusahaan ini. Dan mulai menjaga sikapnya agar terlihat lebih berwibawa dan berkuasa.
Tak lama kemudian pintu ruangan Romi terbuka, muncullah wanita berjilbab dari balik pintu itu. Ela berjalan perlahan dan berhenti tepat di depan meja kerja Romi.
"Selamat pagi Pak" sapa Ela dengan wajah takut. Sebenarnya dia sudah keringat dingin dan pucat tapi karena dia memakai lipstik sehingga Romi tidak mengetahuinya.
"Pagi, silahkan duduk" perintah Romi dengan tegas.
Ela menelan salivanya mencoba menetralkan jantungnya dengan suasana seperti ini. Dia benci suasana mencekam seperti ini. Rasanya lebih baik berkelahi dengan para preman dari pada harus berasa dalam situasi seperti ini.
Ela menarik kursi yang terletak di depan meja kerja CEO. Dan perlahan - lahan Ela duduk tapi di hadapan Romi.
"Sa.. saya Cishela Budianto datang melapor dihadapan Bapak"
.
.
BERSAMBUNG