
Tibalah hari sabtu dimana Romi dan Ela janjian datang ke rumah orang tua Romi untuk berkenalan. Sekitar jam empat sore Romi sudah sampai di rumah Bimo.
"Eh Mas Romi, silahkan masuk" sambut Bela yang membuka pintu rumah.
"Ela mana Bel?" tanya Romi.
"Lagi siap - siap Mas mau bertemu calon mertua. Katanya mau dandan dulu biar nanti gak di tolak" jawab Bela.
"Ah kamu ada aja" balas Romi.
"Silahkan duduk Mas" ujar Bela.
Romi memperhatikan sekeliling rumah mencari keberadaan Reni dan Bimo.
"Reni dan Bimo mana?" tanya Romi.
"Oh Mas Bimo dan Reni lagi main ke rumah Mas Refan. Reni kangen sama si Kembar" jawab Bela.
"Kamu gak ikut? Sendirian donk nanti di rumah" tanya Romi.
"Gak apa - apa Mas" jawab Bela.
"Hubungi Aril aja, ajak keluar malam mingguan pasti dia senang banget tuh dan Mas jamin langsung sampai di sini satu jam lagi" usul Romi.
Wajah Bela langsung bersemu merah karena malu.
Gimana mau suruh Mas Aril datang Mas, dia aja sudah jaga jarak padaku. Lagian aku ini siapa coba suruh - suruh dia datang dan ajak malam mingguan. Aku kan udah tolak dia kemarin di Labuhan Bajo. Batin Bela.
Tak lama kemudian Ela turun dari kamarnya yang terletak di lantai dua. Ela memakai celana kain warna biru dongker dan baju kemerja biru muda dengan jilbab senada.
Ela terlihat sangat cantik sekali sore ini. Romi langsung menyambutnya dengan dengan senyum bahagia.
"Sudah lama Mas?" tanya Ela.
"Belum, baru aja kok" jawab Romi.
"Kita langsung pergi?" tanya Ela.
"Iya donk, takut macet di jalan. Ini kan malam minggu El, biasanya rame di jalan" balas Romi.
"Ya sudah yuk pergi. Bel kami pamit dulu ya.. Sorry kamu jadi sendirian di rumah malam ini jadinya" ujar Ela.
"Gak apa - apa El, santai aja" sambut Bela.
"Kami pergi dulu ya Bel, hati - hati di rumah" ucap Romi.
"Iya Mas, santai aja. Good luck ya, semoga semuanya lancar jaya" balas Bela.
"Aamiin... " jawab Romi dan Ela bersamaan.
Ela dan Romi keluar dari rumah Bimo dan langsung masuk ke dalam mobil. Sebelum berangkat Romi menyempatkan mengirim pesan kepada seseorang.
Romi
Bro.. Bidadari Surga kamu lagi kesepian nih sendirian di rumah. Aku lagi pergi sama Ela ke rumah Bonyok. Reni dan Bimo lagi main ke rumah Refan. Mana udah hampir gelap lagi, sebentar lagi pasti hujan. Gak kasihan lihat dia sendirian di rumah ketakutan.
Pesan terkirim contreng dua berwarna biru. Tanda pesan di baca tapi tidak mendapatkan balasan.
Romi tersenyum melihat tingkah sahabatnya itu yang lagi patah hati karena penolakan Bela sebulan yang lalu di Labuhan Bajo.
"Kamu sudah siap?" tanya Romi kepada Ela.
Ela menarik nafas panjang mencoba mencari kekuatan yang sangat besar untuk bertemu dengan calon mertuanya.
"Bismillah, sudah siap Mas" sambut Ela dengan senyuman manis.
Romi mulai menyalakan mobilnya dan menjalankannya. Mereka sudah keluar dari area rumah Bimo.
"Mas nanti kita singgah ke supermarket dan toko roti ya" ujar Ela.
"Untuk apa?" tanya Romi.
"Kita beli sesuatu untuk dibawa ke rumah orang tua Mas. Atau makanan apa yang paling disukai Papa dan Mamanya Mas Romi?" tanya Ela.
Romi tersenyum mendengar jawaban Ela.
Aku memang gak salah pilih kamu El, aku yakin selain jadi istri yang baik, aku yakin kamu juga akan menjadi menantu yang baik untuk Papa dan Mama. Batin Romi.
"Apa aja mereka suka kok, tapi nanti deh aku ajak kamu ke toko kue langganan Mama. Disana ada makanan kesukaan Papa dan Mama" jawab Romi.
Ela tersenyum membalas jawaban Romi.
Sementara di rumah Bela sudah mulai ketakutan karena hari semakin gelap. Sebentar lagi akan turun hujan.
Dih gimana nih, aku takut sekali. Tapi gak mungkin larang Ela pergi. Mereka sudah jauh - jauh hari rencanain hari ini. Mas Bimo dan Reni juga sedang ngumpul di rumah Mas Refan. Apa aku nyusul mereka aja ya? Aku bisa pesan taxi online dan pergi ke rumah Mbak Kinan. Kalau begitu aku siap - siap aja deh. Mudah - mudahan sebelum aku pergi hujan belum turun. Batin Bela dalam hati.
Bela segera naik ke kamarnya untuk mandi dan bersiap - siap hendak pergi. Satu jam kemudian Bela sudah siap dengan pakaian lengkap.
Duh siapa yang datang ya? Aku jadi takut, mana sudah hampir magrib dan gelap lagi karena mendung. Tanya Bela dalam hati.
Bela sengaja melihat dari tirai jendela, siapa yang datang. Hatinya sangat lega ketika melihat ternyata Aril yang datang. Tanpa Bela sadari dia langsung membuka pintu karena kesenangan.
"Assalamu'alaikum" ucap Aril.
"Wa'alaikumsalam" jawab Bela lega.
"Bimo ada Bel?" tanya Aril.
Apa, Mas Aril bukannya mau bertemu dengan aku? Kok dia malah cari Mas Bimo? Tanya Bela dalam hati. Dia merasa sangat kecewa ternyata kedatangan Aril bukan ingin bertemu dengannya melainkan ingin bertemu dengan Bimo.
"M.. Mas Bimo dan Reni sedang di rumah Mbak Kinan Mas" jawab Bela.
Hahaha... aku tau Bel, aku kan baru dari sana karena anterin es krim permintaan Si Setan Kecil, tiba - tiba dapat pesan dari Romi yang mengatakan kalau kamu sendirian di rumah udah mau maghrib dan mau hujan seperti ini. Tawa Aril dalam hati.
Aril meraih ponselnya dan mengirim pesan kepada Reni.
Aril
Hei Setan Kecil aku lagi di rumah kamu, barusan dapat pesan dari Romi katanya Bela sendirian di rumah mana mau hujan dan sudah hampir malam. Nanti aku telepon kamu trus kamu minta tolong aku temani Bela di rumah ya.. Ingat aku tadi udah beliin kamu es krim. Sekarang gantian kamu yang bantuin aku.
Reni
Sep Mas, aku mengerti.. Lanjut....
Aril segera menghubungi Reni.
"Assalamu'alaikum Ren" ucap Aril.
"Wa'alaikumsalam Mas" jawab Reni.
"Bimo mana? Dari tadi aku hubungi gak diangkat teleponnya?" tanya Aril.
"Aku lagi di jalan Mas" jawab Reni.
"Apa Ren, aku gak dengar" ucap Aril pura - pura.
Aril sengaja menekan tombol speaker di ponselnya agar Bela juga bisa mendengarnya.
"Aku lagi di jalan Mas mau pergi ke dokter" ulang Reni.
"Duh Mas udah sampai di rumah kalian? Kalian masih lama?" tanya Aril.
"Lama Mas, ni baru mau jalan. Mungkin malam baru pulang. Di rumah ada siapa Mas?" tanya Reni.
"Cuma ada Bela, Ela mana Bel?" tanya Aril kepada Bela.
"Ela pergi sama Mas Romi Mas" jawab Bela.
"Ela pergi sama Romi" Aril menjawab pertanyaan Reni di telepon.
"Duh cuma ada Bela ya Mas, mana udah mau hujan begini. Kasihan Bela sendirian di rumah Mas. Minta tolong donk Mas temani Bela di rumah. Kasihan dia mungkin ketakutan sendirian di rumah mana mau hujan lagi. Kami masih lama pulangnya" pinta Reni.
"Mmm... gimana ya" Aril melirik ke arah Bela pura - pura keberatan. Sedangkan Bela sudah berdoa dan berharap Aril mau menemaninya di rumah. Dia benar - benar sangat ketakutan saat ini.
"Mmm... ya sudah, aku temani Bela deh di rumah" jawab Aril akhirnya.
Bela menarik nafas lega karena mendengar jawaban Aril.
"Makasih Mas Aril, hati - hati di rumah ya. Awas dan ingat yang ketiga setan hahaha" canda Reni.
"Dasar kamu, ya sudah hati - hati ya di jalan" pesan Aril.
"Oke, dah dulu ya Mas. Assalamu'alaikum.. " Reni menutup pembicaraan.
"Wa'alaikumsalam.. " jawab Aril.
Aril melirik Bela yang sedang menunggu reaksi Aril.
"Kamu berani Bel sendirian di rumah?" tanya Aril.
Bela tampak serba salah. Mau jawab berani tapi dia benar - benar takut saat ini. Akhirnya Bela mengaku kalau dia takut.
"A.. aku takut Mas" jawab Bela akhirnya.
"Ya sudah dari pada kita cuma berdua di rumah lebih bahaya, lebih baik kita keluar saja. Tapi aku numpang shalat maghrib dulu di rumah ya" ujar Aril.
"I.. iya Mas, silahkan" Bela mempersilahkan Aril untuk shalat maghrib di rumah.
.
.
BERSAMBUNG