Playboy Insaf

Playboy Insaf
Seratus Sembilanpuluh Tujuh



Riko dan Dini kini sedang duduk di pelaminan dengan wajah yang sumringah bahagia.


"Akhirnya satu lagi sahabatku naik ke kelamina*, tinggal aku yang belum" ucap Romi pura - pura sedih.


"Tarus aja ya salah ucap" protes Reni.


"Itu bukan salah ucap Setan Kecil, emang dianya paling suka bilang begitu' potong Aril.


"Lah emang ada hubungan, kalau tidak kenapa coba hurupnya hampir mirip? Karena kalau sudah naik ke pelaminan, selanjutnya apa coba kalau gak naik ke kelamina*" jawab Romi dengan wajah cuek.


"Astaghfirullah... Nak jangan dengerin Om kamu ini ya" Reni memegang perutnya dan berusaha menutupinya.


"Dasar gila" sembur Refan.


"Hahaha... ada yang emosi, padahal dia udah dua kali naik ke kelamina*" balas Romi.


"Ya Allah El, bisa gak batalin aja pernikahan kalian" protes Reni.


"Eh enak aja batal - batalin pernikahan orang" protes Romi.


"Mas Aril yang lebih gila aja gak segitu juga kale Mas ngomongnya" jawab Reni.


"Weish.. aku ini waras Ren, siapa bilang aku gila. Aku kan cuma cinta gila karena Bela" protes Aril.


"Mulai deh bucinnya" potong Reni kesal.


"Hahaha... " tawa Bagus dan Ayu pecah.


"Ya Allah mengapa setelah menikah aku tetap berteman dengan kalian" protes Reni.


"Siapa suruh kamu menikah dengan teman kami" jawab Romi.


"Dinikmati aja Ren, seperti kamu menikmati saat naik diatas Bemo" potong Aril.


"Kamu benar - benar ya adik ipar durhaka" sambut Bimo yang dari tadi hanya mendengarkan saja.


"Hahaha... " tawa Refan dan Kinan kini ikutan pecah.


"Udah yuk kita naik ke atas pentas untuk kasih ucapan selamat buat Riko dan Dini" ajak Refan.


"Iya yuk.. sebelum rame tamu undangan yang lain" sambut bagus.


Mereka kini jalan berpasangan dan antrian menuju pentas.


"Selamat Bro.. naik ke kelamina*" ucap Romi.


Yang lain hanya geleng kepala melihat ulah Romi hari ini.


"Aku do'ain Dini datang bulan" sambut Aril.


"Kasihan Dini donk Mas, kan tiap dia datang bulan pasti sakit" protes Bela.


"Eh iya kalau gitu doanya aku tambahin. Aku do'ain Dini datang bulan tapi gak sakit" ralat Aril.


Bela hanya bisa menarik nafas panjang melihat tingkah suaminya itu.


"Foto bareng donk" ajak Kinan.


"Eh iya... iya.. benar. Yuk Mas kita foto bareng" sambut Dini sambil tanpa sadar menarik lengan Riko.


Seeer... dada Riko rasanya semakin berdebar. Karena baru kali ini dia bisa sedekat ini dengan Dini.


"Ril lihat wajah Riko, mupeng banget" bisik Romi kepada Aril.


Sebagai sesama mantan Casanova mereka sangat paham dengan tatapan Riko saat ini.


"Keusilanku kok rasanya meronta - ronta ya.. " ujar Aril kemudian.


"Hajar soooon" dukung Romi.


"Eh guys kita foto diluar dari kebiasaan yuk" ajak Aril.


"Diluar kebiasaan gimana Ril?" tanya Bagus penasaran.


"Eeemmm bulu kudukku berdiri.. pasti nih anak punya niat jahat" protes Riko.


Aril segera menarik Refan untuk berdiri di tengah.


"Kalian mendapatkan kehormatan karena sudah berhasil jadi makcomblang antara Riko dan Dini, jadi kalian berdiri di tengah. Setelah itu Galuh dan Anita, Bagus Ayu, Aku dan Bela trus Romi dan Ela. Berurut ya barisannya cowok - cowok dan cewek - cewek. Dan di ujung ada Riko dan di ujung sana Dini. Unik kan?" ucap Aril memberi ide sambil memainkan matanya ke arah Romi.


"Setuju. Ayo cepat susun barisan" sambut Romi.


"Eh gak boleh donk, masak pengantin mau dipisahin" protes Riko.


"Dipisahin juga gak sampai lima menit pelit amat. Lagian nanti malam kalian udah bisa kok menyatu semenyatu - menyatunya" ujar Aril.


"Ribet amat kata - kata kamu" protes Bagus.


Dengan sangat berat hati akhirnya Riko dan Dini foto pernikahan dengan cara yang tak biasa. Pengantin berada diujung sebelah kanan dan kiri mengapit para sahabatnya.


Bayangkan saja berapa barisan yang memisahkan jarak diantara mereka. Ditengah ada Kinan dan Refan, disamping Kinan ada Anita, menyusul Ayu, Reni, Bela, Ela baru Dini. Sedangkan di barisan laki - laki ada Galuh disamping Refan lalu Bagus, Bimo, Aril, Romi dan terakhir Riko.


Sial.. ada - ada saja ide gila si Aril. Umpat Riko dalam hati.


Semua tersenyum bahagia saat sedang berfoto, hanya Riko yang terlihat kesal dipisahkan dengan bidadari hatinya yang barus saja belum sampai satu jam menjadi istrinya.


Para fotografer dan keluarga semua tertawa melihat tingkah persahabatan mereka. Keluarga masing - masing sudah mengerti bagaimana gilanya persahabatan Riko dan teman - temannya. Sehingga mereka sudah tidak mempermasalahkan sikap mereka asalhakn tidak kelewatan dan tidak melanggar norma - norma agama dan juga kehidupan.


Dengan kocaknya setelah selesai berfoto semua kompak menjabat tangan Kinan dan Refan seolah - olah mereka lah pengantin baru hari ini.


Semua keluarga dan tamu undangan tertawa melihat tingkah mereka.


"Dasar anak - anak itu" ucap Pak Akarsana.


"Hahaha biar saja Mas, aku malah senang melihat mereka sekarang. Hidup mereka perlahan - lahan lebih baik sekarang. Dulu aku sempat khawatir dengan kehidupan Riko" sambut Pak Dharmawan.


"Benar, Romi juga sama. Masa muda yang mereka lalui terlalu terbawa arus. Untunglah mereka bisa kembali ke jalan yang benar" sambut Pak Hidayat.


"Terlebih anakku Mas.. bandelnya gak ketulungan. Ada aja ide jahilnya untuk mengerjain teman - temannya" sahut Papa Aril.


"Hahahaha... masalah anak - anak kalian belum seberapa. Aku pernah sempat merasa gagal mendidik anakku saat Bimo pindah keyakinan. Aku juga sangat marah pada putraku sendiri. Tapi ada istriku yang tak berhenti berdoa setiap hari meminta agar putranya kembali ke jalan yang benar. Istriku menunjukkan kepadaku kalau doa seorang Ibu sangat ampuh" ujar Pak Akarsana.


Keempatnya merasa lega akhirnya putra - putra mereka bisa kembali ke jalan yang benar.


Acara dilanjutkan dengan resepsi pernikahan Riko. Seluruh tamu undangan dari pihak keluarga Riko dan Dini mulai berdatangan. Semua tersenyum mengucapkan selamat kepada pengantin baru.


"Eh lihat ada si Mery, ternyata diundang juga sama Riko" ujar Aril.


"Waaah berani juga dia ya" sambut Romi.


Tak berapa lama kemudian.


"Ril, bukannya itu Cinta?" tanya Romi.


"Iya benar - benar. Gila tuh anak semua mantan - mantan wanitanya diundang" jawab Aril heran.


"Riko itu bukan seperti kalian terlebih kamu Ril. Gak semua yang jalan bareng Riko berakhir di ranjang. Terkadang Riko memakai mereka untuk keperluan bisnis atau urusan kantor. Bukan seperti kamu" Bagus menepul bahu Aril.


"Benar, makanya dia masih berani mengundang wanita - wanita yang pernah jalan dengan dia. Beda sama kamu, sangkin takutnya ada wanita yang datang ke pesta kamu, kamu langsung pergi meninggalkan pesta dengan alasan honeymoon" sindir Refan.


"Hahahaha.. tau aja kamu" sambut Aril.


"Oh jadi itu alasannya kamu ajak aku lari di hari pernikahan kita?" tanya Bela yang tiba - tiba ada dibelakang Aril.


"Mampu* aku..... " Aril menepuk kepalanya sendiri.


"Hahaha..." semua tertawa melihat tingkah Aril.


.


.


BERSAMBUNG


Hai para readers setia Playboy Insaf.. Apa kabar kalian? Semoga semua sehat - sehat ya..


Terimakasih kalian masih tetap setia melanjutkan membaca novel ini. Selamat weekend untuk kalian semua, semoga hari ini menyenangkan dan membuat kalian bahagia bersama keluarga tersayang.


Happy reading ❤💞