Playboy Insaf

Playboy Insaf
Seratus Tujuhpuluh Empat



Seminggu sudah Aril di Singapore. Kebakaran pabriknya masih dalam penyelidikan. Aril tampak sangat sibuk mengurus semuanya.


Belum lagi Aril harus segera memperbaiki kerusakan pabrik karena perusahaan bisa rugi besar jika pabrik tidak berjalan.


Aril harus pasrah tidak bisa segera pulang ke Indonesia untuk menemui istri tercintanya. Semua demi masa depan mereka kelak.


Seminggu sudah mereka juga punya kebiasaan baru. Sepulang bekerja malam hari setelah selesai bersih - bersih Aril dengan semangat selalu melakukan panggilan video call dengan Bela.


Seminggu ini juga Bela selalu tidur dengan lingerie yang menjadi kado dari para sahabatnya Reni, Ela dan Dini. Sebenarnya bukannya merasa puas, Aril malah semakin panas dingin setiap kali menghubungi Bela bahkan sering berakhir setelah Bela tertidur.


Aril hanya bisa melihat tubuh mulus istrinya yang sexy sedang tertidur dilayar ponselnya tanpa bisa menyentuhnya.


Duh mengapa rasa rindu ini begitu menyiksa. Ya Tuhan benar ya emang kalau sudah halal itu sensasinya berbeda. Aku sangat berhasra* ingin segera menerkam istriku. Padahal sudah sah tapi mengapa sulit sekali terwujud keinginan ini. Batin Aril.


Aril menggaruk kepalanya yang tak gatal dan berusaha menenangkan hasra*nya, sedangkan Bela sudah tidur dengan nyenyaknya.


Akhirnya pertahanan Aril bobol dan berakhir di kamar mandi. Sudah dua minggu dia menahan hasra*nya. Bagaimanapun dia hanya manusia biasa yang masih proses perbaikan diri.


Sesekali tergelincir tapi menurut Aril tak apalah dia terima resikonya. Toh dia tidak melakukannya dengan wanita lain. Dan yang dia bayangkan adalah wajah dan tubuh istrinya.


Setelah selesai mandi Aril merebahkan tubuhnya dan tidur dengan nyenyaknya. Tubuh dan fikirannya sangat lelah sekali. Sehingga dia memang butuh istirahat dengan tenang.


*****


Seminggu kemudian.


"Mas, sudah dua minggu kamu belum pulang juga" ucap Bela dengan mata berkaca - kaca.


"Iya sayang, maaf ya Mas belum bisa pulang.Semuanya masih dalam proses perbaikan sayang. Mas tidak bisa meninggalkan ini semua dan menyerahkannya begitu saja kepada Dedi. Kamu mengerti ya keadaan Mas. Bukan hanya kamu saja yang sakit sayang. Jangan merindu, biar Mas saja. Karena rindu itu berat" ungkap Aril.


Malam ini seperti biasa mereka melakukan panggilan video call sebelum tidur.


"Mas kok kelihatan tambah tua?" tanya Bela.


Bela melihat kumis dan jambang Aril mulai tumbuh.


"Iya sayang, Mas gak sempat bersih - bersih. Pergi ke Pabrik pagi dan pulang malam hari. Sampai di apartemen Mas udah capek banget dan langsung mandi. Setelah itu Mas langsung telepon kamu karena kangen. Mas gak sempat cukuran" ungkap Aril.


Bela sedih melihat keadaan Aril saat ini.


"Kamu juga kurusan Mas" ujar Bela.


"Aku kurang istirahat yank dan sering telat makan" jawab Aril.


"Jangan gitu donk Mas, nanti kamu sakit" air mata Bela akhirnya jatuh menetes.


Aril mengusap layar ponselnya.


"Jangan nangis donk yank, aku berjuang di sini kan demi masa depan kita dan anak - anak kita nanti. Aku harus bekerja keras agar bisa memenuhi hidup kamu dan anak - anak kota dengan baik" ucap Aril menenangkan Bela.


"Tapi aku gak butuh semua itu Mas" ujar Bela.


"Sayaaang.. aku satu - satunya anak Papaku. Perusahaan keluarga ini tidak akan mungkin aku hancurkan. Aku harus mengurusnya dengan baik" balas Aril.


Bela menyeka air matanya.


"Maafkan aku Mas, aku jadi membuat kamu bimbang. Harusnya aku memberi kamu semangat bukan malah menangis dihadapan kamu seperti ini" ungkap Bela.


"Tidak apa, aku senang kok. Itu artinya kamu saat ini sangat merindukanku. Semua karena kamu sangar mencintaiku. Makasih sayang, cinta kamu sudah menjadi kekuatan aku. Kamulah alasan aku bekerja giat disini agar semua bisa segera selesai dan aku bisa pulang untuk menemui kamu" balas Aril.


"Minggu depan acara pernikahan sepupu aku lho Mas di Surabaya. Mas Bimo dan Reni jumat sudah terbang ke Surabaya. Aku bagaimana?" tanya Bela bingung.


"Kamu ikut mereka saja ya ke Surabaya. Pergi bareng, gak mungkin kan kamu gak datang di acara pernikahan sepupu kamu" jawab Aril.


"Tapi aku gak mau datang sendiri" rengek Bela.


"Aku akan usahakan minggu depan bisa pulang ke Indonesia" tegas Aril.


"Bener Mas?" tanya Bela penuh harap.


"InsyaAllah.. Mas akan segera menyiapkan semuanya dulu di sini" jawab Aril.


"Kalau Mas Aril pulang, aku janji deh. Aku akan membawa semua baju dinas yang diberikan Reni, Dini dan Ela" ucap Bela semangat.


"Bener ya.. awas kalau gak jadi" tagih Aril.


Bela tersenyum sambil mengangguk.


"Iya aku janji asalkan Mas pulang" janji Bela.


"Do'ain semuanya kelar ya. Nanti dari Singapore aku langsung menyusul kamu ke Surabaya. Acaranya kapan?" tanya Aril.


"Hari Sabtu Mas. Biasanya dimulai jam delapan untuk akad nikahnya. Tapi resepsinya dimulai jam dua belas setelah adzan dzuhur. Mas bisa sampai sebelum resepsi?" tanya Bela.


"Mas usahakan ya.. Mas akan terbang naik pesawat pertama" jawab Aril.


"Tapi sebelum pulang cukuran dulu ya. Aku gak mau suamiku terlihat tua di depan para sepupuku. Aku mau suamiku terlihat tampan dan gagah" pinta Bela.


"Iya.. iya sayang. Mas akan turuti semua keinginan kamu" sambut Aril sambil tersenyum penuh kasih sayang.


"Eh Mas gaun resepsi kita sudah selesai lho besok" lapor Bela.


"Oh ya? Kalau begitu kamu ambil aja yank, bawa pulang" perintah Aril.


"Iya besok aku dan Ela akan pergi mengambilnya ke Butik" ujar Bela.


"Oke sayang" sambut Aril senang.


Bela tersenyum bahagia melihat wajah ceria Aril.


"Yank mana pakaian dinasnya? Kok gak dipakai?" tanya Aril.


"Pakaiannya di cuci semua" jawab Bela.


"Ih.. kok dicuci semua? Pasti kamu bohong" desak Aril.


"Iya deh iya... tunggu sebentar ya. aku akan pakai baju dinas dulu" jawab Bela.


Bela segera membuka lemari pakaiannya dan mencari baju tidur yang tadi siang baru saja selesai di cuci. Bela ingat saat Bibik bertanya kepadanya, apakai pakaian itu punya Bela semua?


Bela menjawab iya. Si Bibik mengira kalau itu pakaiannya Reni. Baru Bela semakin sadar dan mengerti ternyata setiap wanita memang harus punya pakaian model seperti itu sebagai baju dinas. Walau dengan jenis bahan yang berbeda - beda.


Yang penting punya pakaian yang bisa membuat suami tidak berkedip saat melihatnya. Bela jadi tersenyum lucu membayangkan Aril nanti saat melihatnya langsung memakai baju dinas itu.


Apakah benar mata Aril tidak akan berkedip? Atau Aril akan langsung menerkamnya tanpa ampun. Mengingat sudah tiga minggu mereka tidak bertemu dan sudah satu bulan mereka menikah tapi gawang Bela masih belum dibobol.


Bela membuka bajunya di hadapan Aril, eh maksudnya hpnya yang ada wajah Aril di layar ponselnya dan memakai baju dinasnya.


Tiba - tiba pintu kamarnya terbuka dan muncullah Ela yang bisa melihat semua tingkah laku Bela. Ela sangat terkejut dan sontak langsung berteriak.


"Mas Bimo Bela teleponan sama cowok pakai baju sexy..... "


.


.


BERSAMBUNG