Quennevia

Quennevia
Kembali sadar



" Dingin... Gelap... Sunyi... Dimana aku?? Apa yang aku lakukan disini?? Seseorang... aku takut... Tolong aku..."


Quennevia yang masih ada di alam bawah sadarnya itu, merasa ketakutan akan kesendirian dan juga kegelapan, setelah beberapa tahun yang ia habiskan dalam cahaya dan kasih sayang orang-orang di sekitar nya. Sampai kemudian ia membuka matanya, dan melihat ada secercah cahaya di depannya.


" Apa... Cahaya itu??. " hingga Quennevia pun mengulurkan tangannya kearah cahaya tersebut.


Kemudian ia ditarik ke sebuah tempat yang berbanding terbaik dengan sebelumnya, tempat yang amat sangat terang, dan tangannya di genggam oleh seseorang. Tetapi Quennevia sama sekali tidak bisa melihat rupa orang itu, hanya saja dia terasa akrab.. dan sangat hangat.


" Siapa??. " tanya Quennevia.


" Kau akan segera tahu. Sekarang..... waktunya kau kembali. " ucap sosok misterius itu.


Quennevia pun didorong jatuh ke bawah oleh orang itu, ia menutup matanya saat cahaya yang semakin terang itu menusuk matanya, dan sesaat kemudian ia kembali tidak merasakan apapun.


*********


Sepuluh hari setelah Quennevia ditemukan tak sadarkan diri di perpustakaan menara, bahkan sampai kini pun ia tak kunjung membuka kedua matanya. Yang menemukan nya itu tidak lain tidak bukan adalah teman-teman nya, mereka kebetulan memang menunggu di sana ketika tidak sengaja melihat tetua Rouen diseret oleh tetua Kara dari menara.


Karena tetua Rouen merasa ada yang salah dan merasa khawatir, dia langsung meminta mereka untuk memeriksa Quennevia di sana. Dan ketika mereka menunggu sebentar tak jauh dari menara itu, mereka tiba-tiba mendengar suara Quennevia yang berteriak.


Tentu saja hal itu sontak membuat mereka terkejut, bahkan Ethan tidak sempat berpikir lagi dan langsung menerobos masuk ke dalam sana dengan cara mendobrak pintu.


Kini, di ruang kesehatan Akademi itu ada Niu, Oscar dan juga Reil. Sementara teman-teman nya tengah melakukan kegiatan belajar, mereka sepakat agar menjaga Quennevia secara bergiliran, untuk mencegah terjadinya hal seperti sebelumnya lagi. Apalagi saat ini Quennevia yang sedang tak sadarkan diri dan lemah.


Bahkan Yue juga jadi ikut terkena imbasnya. Yue berusaha membantu Quennevia dengan mengalihkan rasa sakit yang diterima Quennevia kepada dirinya, dan ia pun ikut tak sadarkan diri di samping Quennevia dalam wujud kecil nya.


" Sampai kapan dia akan tidur, pak?? Ini sudah hari ke sepuluh dia tidak kunjung juga membuka matanya. " tanya Niu kepada Reil, guru medis di Akademi yang tengah memeriksa keadaan Quennevia.


" Enatahlah, tapi kuharap tidak terlalu lama lagi. Apa kalian benar-benar tidak melihat apapun yang mencurigakan saat kalian menemukan Quennevia di perpustakaan??. " tanya Reil.


" Kami sungguh tidak melihat siapapun atau apapun yang mencurigakan di sana, setelah mendengar teriakan Quennevia.. Ethan langsung mendobrak pintunya. Dan yang kami lihat hanya Quennevia yang sudah tak sadarkan diri. " ucap Oscar.


Reil memikirkan hal itu dengan seksama, penyelidikan sudah dilakukan di perpustakaan menara, tetapi masih belum ada petunjuk yang didapatkan. Semua bukti itu seolah hilang begitu sana, hingga tidak ada yang bisa menemukan apapun yang menyebabkan hal ini terjadi.


Saat mereka tengah fokus dengan pikiran mereka masing-masing, Quennevia tiba-tiba menggerakkan jarinya. Itu membuat mereka terkejut sekaligus senang karena nya.


" Quennevia!. " panggil Niu dengan wajah senang.


Dengan perlahan tapi pasti, mata indah Quennevia pun mulai terbuka, sesekali ia mengerjapkan matanya untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke matanya. Perhatian nya langsung teralihkan kepada tiga orang yang menunggui nya itu.


" Um... Ada apa??. " tanya Quennevia dengan suara serak.


" Huaa... Quennevia, aku senang kau baik-baik saja. " ucap Niu yang menggenggam tangan Quennevia dengan air mata yang mengalir penuh haru.


Quennevia hanya tersenyum melihat nya, " Jangan menangis seperti itu, kau jadi seperti anak kecil. " sahut Quennevia pula.


" Kau benar-benar membuat kami semua khawatir, Quennevia. Tapi syukurlah kau sudah bangun, jika tidak maka kami tidak akan tahu sampai kapan bisa membuat Ethan tetap diam. " ucap Oscar.


" Iya, Iya. Waktu itu aku juga lihat bagaimana dia sangat marah, dia berkata akan menemukan dan menghajar orang yang melakukan nya. Bahkan jika orang itu tidak sengaja, atau teman nya sendiri. " ucap Reil pula menimpali.


Seperti nya itu menjadi hal yang menegangkan bagi mereka, mengingat seberapa kuat Ethan saat ini. Bahkan mungkin para guru pun tidak akan bisa membuatnya tenang tanpa campur tangan para tetua.


" Haha... Itu pasti sangat menegangkan. Lalu, berapa lama aku tidak sadarkan diri??. " tanya Quennevia.


" Sekitar satu minggu, mungkin 10 hari tepatnya. " jawab Reil.


" Begitu kah, apa yang terjadi di sana sebenarnya?? Aku hanya menyentuh sebuah bola kristal, tapi itu menyetrum ku dan langsung mengalirkan rasa sakit. Dan apa yang terjadi pada Yue??. " Quennevia melirik Yue yang ada di samping nya itu.


" Entahlah, soal bola kristal yang kau maksud itu sudah hancur ketika kami masuk ke dalam sana. Sementara Yue membantumu untuk mengurangi rasa sakit dengan mengalihkan nya pada dirinya sendiri. " ucap Niu.


" Apa kau melihat seseorang di sana, Quennevia??. " tanya Reil.


Quennevia menggelengkan Kepala nya, " Setahu ku aku yang pertama datang, baru kemudian tetua Rouen yang menghampiri ku. Setelah itu aku tidak melihat orang lain lagi di saja. " jawab Quennevia.


" Bagaimana dengan tubuh mu saat ini??. " tanya Reil lagi.


" Um... Rasanya sakit saat ku gerakan >~< " keluh Quennevia.


" Haha... Baiklah, mungkin kau hanya perlu beristirahat lagi. Setelah itu aku akan memeriksa mu lagi, aku pergi dulu. " ucap Reil sekaligus pamit akan pergi dari sana.


" Iya, Terima kasih pak. " sahut Quennevia.


Reil pun akhirnya pergi dari saja, hanya tinggal Quennevia, Niu, dan Oscar saja yang ada di sana.


" Apa kalian tidak ada kegiatan belajar saat ini??. " tanya Quennevia pula kepada kedua temannya itu.


" Hm... Ada sih, tapi kami sepakat untuk mengawasimu secara bergantian. " jawab Oscar.


" Jika ada, kalian pergi saja. Tidak apa-apa kok, dari pada kalian ketinggalan pelajaran kan. " ucap Quennevia.


" Eh, tapi... " ucap Niu pula menggantung kata-kata nya.


" Jangan khawatir, karena sekarang aku sudah sadar. Jika ada sesuatu aku akan langsung memanggil Everon sana, dengan begitu kami aman. " ucap Quennevia dengan wajah ceria.


" Kau yakin??. " tanya Oscar pula memastikan, yang mendapatkan anggukan dari Quennevia. " Oke, setelah pelajaran selesai kami akan kembali ke sini lagi bersama yang lainnya, ya. " ucap Oscar pula.


" Iya, akan ku tunggu. " sahut Quennevia sambil melambaikan tangannya kepada kedua temannya itu.


Niu dan Oscar pun akhirnya juga ikut pergi dari sana, meski sebenarnya mereka tidak ingin pergi. Tapi karena Quennevia bilang tidak apa-apa mereka hanya mengikuti nya saja.


Setelah kepergian mereka itu, Quennevia pun bangun dari tidur nya dan duduk sambil bersandar di kepala tempat tidur yang ia tempati. Dan ia pun melirik ke arah jendela di samping nya itu.


" Mereka sudah pergi, kau bisa keluar sekarang bukan??. " ucap Quennevia dengan raut wajah dingin.


Entah kepada siapa Quennevia bicara, dia akan segera tahu jika orang itu memang keluar seperti ucapan Quennevia. Dan iya, dia memang keluar. Ternyata orang yang dimaksud oleh Quennevia itu adalah Lorenzo, entah sejak kapan pria itu ada di sana Quennevia juga tidak tahu.


Sementara itu Lorenzo hanya tersenyum dengan aneh sendiri, dan ia pun masuk kemudian berjalan kearah Quennevia dengan santai nya. (*Seperti nya si Lorenzo ini ketularan Ethan yg suka senyum-senyum sendiri*)


" Kau sudah mengetahui keberadaan ku, kenapa kau tidak mengatakan nya dari tadi??. " tanya Lorenzo saat tepat di samping tempat tidur Quennevia.


" Karena kau akan pergi jika aku berkata seperti itu di depan teman-teman ku, bukan??. " tanya balik Quennevia dengan acuh.


Iya, memungkin itu akan terjadi, mengingat reputasi Lorenzo yang buruk di mata para murid yang lain, akan terlihat aneh dan mencurigakan jika dia tiba-tiba datang mengunjungi seseorang yang sedang sakit secara terang-terangan.


" Apa itu kau yang melakukan nya? Kau yang memasang jebakan sihir itu??. " ucap Quennevia pula sambil menatap Lorenzo dengan tajam.


Namun Lorenzo masih tetap tersenyum, " Bukan, aku belum sampai di Akademi ketika kejadian itu terjadi. Aku sampai di sini dua hari setelah nya, jujur saja aku juga sempat terkejut mendengar nya. " jawab Lorenzo.


Quennevia memutar bola matanya malas, dia selalu merasa tidak mau bersama dengan pria di hadapan nya itu lama-lama. Tapi mau bagaimana lagi, karena ia membutuhkan keterangan darinya. Juga.. ia merasa kalau dia bukan orang lain.


" Kalau begitu baiklah, segera enyah dari sini jika sudah selesai. " ucap Quennevia sambil Memalingkan wajahnya.


Namun yang ia dengar adalah suara tawa dari Lorenzo, Quennevia pun langsung kembali menoleh kearah Lorenzo mendengar itu. Quennevia jadi bingung kenapa dia tertawa padahal tidak ada yang lucu di sini.


" Apa yang kau tertawakan??. " tanya Quennevia.


" Kau. " jawab Lorenzo, lalu jari tangannya itu mengangkat dagu Quennevia agar menatapnya lebih tinggi lagi. " Masih ingat dengan apa yang ku katakan sebelumnya?? Kupikir kau masih sama seperti sebelumnya untuk bisa bertingkah angkuh seperti ini. " lanjut Lorenzo.


Namun Quennevia langsung menepis tangannya itu, " Dan kau tidak sopan, mengingat hubungan kita tidak sedekat itu. " ucap Quennevia.


" Apa kau ingin hubungan kita jadi lebih dekat??. " tanya Lorenzo sambil menunjukkan seringai nya.


Nafas Quennevia tercekat ketika Lorenzo tiba-tiba saja mendekatkan tubuhnya, rasanya seperti jantung nya akan melompat keluar. Quennevia tidak pernah bisa menebak orang di depan nya, dan entah kenapa dia selalu membuat nya merasa waspada.


" Se.. Sebaiknya pergilah, sebelum teman-teman ku datang. " ucap Quennevia sambil berusaha memberi jarak antara dirinya dan Lorenzo.


" Pfftt... Baiklah, semoga mau segera sembuh, Quennevia. " ucap Lorenzo, ia berbalik dan kemudian langsung pergi dari sana.


Membuat Quennevia langsung menghela nafas lega karena nya, dia sangat berharap tidak akan pernah bertemu lagi dengan orang itu selamanya. Perhatian Quennevia langsung teralihkan kepada Yue yang masih belum bangun disampingnya, ia pun mengelusnya dengan lembut.


" Maaf karena membuatmu ikut merasakan nya, Yue. " ucap Quennevia.