Quennevia

Quennevia
Akan kutunjukkan kekuasaan ku



Di aula kediaman mentri, semua yang ada di kediaman itu sudah dikumpulkan di sana, tanpa terkecuali. Mereka semua nampak memperhatikan ke satu tempat yang sama, bahkan beberapa diantaranya menatap dengan pandangan tidak suka.


Quennevia, ia duduk di kursi tempat biasa ayahnya duduk, menunjukkan kalau ia yang memimpin saat ini. Sambil menatap orang-orang yang ada di depannya itu dengan pandangan dingin, dia hanya mengetuk-ngetuk kan jarinya diatas meja di hadapan nya. Mengisi keheningan yang mencekam di sana.


" Apa semuanya sudah ada di sini?? Kalau begitu aku tidak mau membuang-buang waktu. " ucapnya setelah memastikan kalau semua orang ada disana.


" Putri, kenapa anda harus mengumpulkan kami semua?? Dan lagi ini belum lama setelah kepergian tuan besar, bagaimana bisa anda bersikap seperti ini dan sembarangan duduk di sana. " ucap salah seorang yang ada di sana, sudah pasti ia ada di pihak para selir, hanya dengan berpikir kalau mereka akan berhasil orang-orang jadi sangat setia kepada para selir.


Quennevia menyunggingkan seringai mendengar nya, " Aku akan membuat kalian semua jatuh ke dalam lubang yang sudah kalian gali, dan membuat kalian semua putus asa sebagai akibat perbuatan kalian!. Akan kutunjukkan kepada kalian berdua, kekuasaan ku yang sebenarnya!. " batin Quennevia.


" Kenapa?? Harusnya aku yang bertanya di sini. Apa yang sebenarnya terjadi di tempat ini??. " ucap Quennevia pula sinis.


Pertanyaan itu tidak mampu di jawab oleh mereka, sebagian adalah orang baru yang tidak tahu apa-apa, sedangkan yang lainnya tidak mengerti dengan apa yang ia katakan. Sisanya... adalah orang-orang yang bungkam dan berpaling.


Quennevia pun melanjutkan kata-katanya, " Kenapa ayahku bisa meninggal seperti ini, apa hanya karena sakit yang sama sekali tidak parah bisa membuat nyawanya melayang?. " tanya nya lagi.


" Putri, apa yang anda katakan? Tuan besar jelas meninggal karena penyakit yang parah. " ucap seseorang lagi.


" Sakit parah?? Jangan bercanda, ayahku sama sekali tidak punya penyakit parah. Apalagi dokter kerajaan yang datang memeriksa nya sudah bersumpah setia kepada Kaisar, dia bahkan memberikan surat keterangan penyakit nya kepada ku. " sahut Quennevia semakin senyuman sinis, sambil menunjukkan surat yang dimaksud itu di tangannya.


Lagi-lagi tidak ada yang bicara, mereka semua nampak gelisah sekaligus bingung dengan apa yang harus mereka katakan, salah-salah mereka bisa saja langsung di bunuh Quennevia.


" Jangan bilang kalau kalian lalai menjalankan tugas kalian, dan membiarkan kejadian pembunuh ini terjadi. " ucap Quennevia lagi.


" Putri kedua, jangan keterlaluan! Tuan besar baru saja di makamkan kemarin, dan kau sudah berlaku seperti ini! Apa kau sama sekali tidak menghargai kami yang sedang berduka, dan malah membual tentang semua yang terjadi!. " ucap selir pertama dengan emosi, bahkan sampai mengeluarkan air mata palsunya.


" Orang-orang ini sudah bekerja sangat keras, dan kau mencurigai nya seperti ini?! Dimana rasa hormat mu?! Kenapa kau tidak bertingkah seperti seharusnya saja?!!." ucapnya pula.


* Sedangkan di tempat lainnya.


Tempat yang ditutupi dengan gorden di samping, sejajar dengan tempat Quennevia duduk saat ini. Ethan menonton drama yang dimainkan Quennevia dengan tenang, senyum misterius nya itu sama sekali tidak pudar dari wajahnya, ia sangat menikmati apa yang akan dilakukan Quennevia dengan semua ini.


" Hehehe... Sepertinya akan semakin menarik. " gumam Ethan.


Lalu tidak lama datanglah Ning ke tampat nya, di datang dari jalan belakang dan sudah ada di samping nya.


" Bagaimana??. " tanya Ethan pula.


" Saya sudah melakukan semua yang anda minta, pangeran. Dan semuanya sudah jelas kalau ini di sengaja. " sahut Ning menjawabnya.


" Bagus, kita hanya perlu menunggu waktu untuk kita tampil dalam drama ini. " ucap Ethan pula, sambil terus memperhatikan apa yang terjadi di depan sana.


* Sedangkan ditempat Quennevia.


Ia hanya tersenyum tipis mendengar itu, melihat selir pertama yang sampai seperti itu, dan di samping nya selir kedua yang tengah berusaha menyembunyikan ekspresi khawatir nya, semuanya sudah sangat jelas.


" Oh, sungguh kah kalian semua sedang berduka?? Bukankah beberapa diantara kalian saat ini sedang menanti-nanti waktu untuk membunuhku dan mengambil alih kediaman ini?? Sudah sejauh dan berapa lama kalian mengabdi kepada ayahku?? Bisa-bisanya kalian menusuknya dari belakang seperti ini, kalian memang tidak sayang nyawa sama sekali!. " ucapan Quennevia dengan seringai dingin yang tampak jelas diperlihatkan kepada semua orang yang ada di sana.


" Dan lagi siapa yang membual?? Aku menanyakan apa yang mereka semua kerjakan di tempat ini, apakah itu salah bibi?? Lagipula kau dan selir kedua juga hanya malas-malasan saja, jadi kenapa kalian mempermasalahkan ini?? Harus nya kalian tetep diam dan berlaku seolah kalian tidak peduli. " lanjut Quennevia sambil menyindir mereka dan menatap meraka sinis.


Hal itu membuat selir pertama dan kedua tersentak, memang benar mereka tidak pernah melakukan apapun yang berguna untuk kediaman ini. Semuanya diurus oleh Hudson dan Haika yang membantu nya.


" Kenapa kalian terkejut seperti itu??. " tanya Quennevia lagi sambil menertawakan mereka.


" Persetujuan?? Semena-mena?? Siapa yang semena-mena di sini?? " tanya baik Quennevia, iya memang pernyataan itu terbalik.


" Aku adalah putri resmi Mentri Hudson, mau aku tinggal di kediaman putri ataupun kediaman utama itu hakku, aku tidak perlu persetujuan dari siapapun. Aku yang mengatur tempat ini, ini adalah wilayah ku yang merupakan pewaris nya, apa hakmu untuk ikut campur?!. "


Quennevia tidak tahu bagaimana bisa mereka begitu berani dari kejahatan yang sudah jelas, tapi yang pasti dia benar-benar muak.


" Adik, kau keterlaluan!. Bagaimana bisa kau mengatakan hal seperti itu, bagaimana pun juga ibuku dan juga bibi Elise adalah orang yang merawat mu selama ini. " ucap Adele pula dengan kesal.


Mendengar perkataan itu membuat Quennevia tertawa, dia tertawa sangat nyaring hingga semua orang yang ada di sana dapat mendengar nya dengan jelas. Namun disaat yang sama tawa itu juga terdengar mengerikan.


" Merawat ku?? Omong kosong, kalian bahkan menyiksa ku lebih dari apapun di dunia ini. Kapan kalian merawat ku dengan benar??. " tanya Quennevia lagi.


Mendengar itu Adele kesal tapi ia tetap bungkam, sedangkan Jason dan juga Arissa tidak ikut ambil bagian dalam hal ini. Mereka tidak mau lagi terlibat hal yang salah.


Haika dan Murphy yang juga ada di sana pun juga hanya diam sambil memperhatikan, mereka tidak tahu kenapa Quennevia berinisiatif melakukan hal ini tapi mereka hanya percaya padanya.


" Aku yakin kalian masih ingat, seorang pekerja yang menikamku dari belakang di hutan. " ucap Quennevia membuat beberapa orang jadi tegang ketika mengingat kembali hal itu. " Tidak mungkin seorang pekerjaan berinisiatif melakukan hal itu sendiri, bukan?? Pasti ada orang yang menyuruhnya. Ditambah penggelapan harga milik ibuku dan juga kediaman ini yang selama ini terjadi di sini. " lanjutnya pula.


Dan hal terakhir itu juga menambahkan beberapa orang yang jadi semakin tegang.


" Belum lagi masalah Kematian ibuku yang ganjil dan sekarang kematian ayahku, aku sudah meminta kepada Kaisar untuk mendatangkan hakim Kekaisaran, Tuan Shin untuk menyelidiki hal ini. Juga seorang teman yang bisa kupercaya, jadi sebaiknya kalian semua jangan mengganggu aktivitas apa yang mereka lakukan disini nantinya. Aku akan membongkar semua yang terjadi di kediaman ini satu persatu, jika ada yang mencoba untuk menghalangi ku. Maka saat itu juga ia akan kehilangan nyawanya. " ucap Quennevia memperingati mereka, dengan suara sedingin es yang membuat orang-orang disana jadi membeku ketakutan.


" Hanya itu yang ingin ku katakan, jadi sebaiknya kalian jaga tingkah kalian. Salah sedikit saja, kalian semua akan diadili oleh hukum dan juga Kaisar sendiri. Atau mungkin kalian lebih suka aku sendiri yang melakukan nya, hahaha.... " ucap nya lagi dengan tawa mengerikan lagi di akhir ucapannya.


*****


Setelah semua orang kembali ke tempat mereka masing-masing, mereka sama sekali tidak bisa tenang. Masing-masing tempat mereka dijaga seorang prajurit setia Quennevia, dan mereka semua dilarang itu meninggalkan kediaman itu sampai penyelidikan berakhir.


Tentu saja hal itu membuat para pembuat masalah di rumah itu jadi resah, begitu pula dengan para selir juga. Mereka tidak bisa melakukan apapun dengan hal itu.


" Arghhh... Anak kurang ajar itu! Dia benar-benar membuat kesabaran ku habis!! Akan ku habisi dia, harus... Harus ku habisi!!. " ucap selir pertama dengan frustasi.


" Lihat sekarang, semua ini karena salah mu!! Dia sampai jadwal seperti ini karena ulahmu!!. " pekik selir kedua pula dengan sangat kesal.


" Bibi Elise, jangan membentak ibuku!. " ucap Adele.


" Diam kau!! Jika saja ibumu tidak sembrono seperti itu, Quennevia juga tidak akan melakukan hal nekat seperti ini!. " ucap selir kedua.


" Diam. Diam. Kalian berdua diam!! Ini belum berakhir, kita harus menyingkirkan Quennevia terlebih dahulu. Harus!!. " ucap selir pertama pula.


Lalu pembicaraan mereka pun tertunda karena seseorang yang mengetuk pintu tempat mereka berkumpul saat ini, iya kecuali Jason dan juga Arissa yang pergi ke tampat lain.


Cekklekk......


" Halo nyonya, kami adalah prajurit yang akan menjadi pengawas bagi kalian dan juga tempat ini kedepan nya. " ucap Riyan dan juga Ace, juga ada sekitar sepuluh atau mungkin lima belas orang prajurit lain di belakang mereka.


" Apa?? Quennevia juga membuat kalian ada disini?! Aku tidak membutuhkan kalian, pergi dan katakan saja padanya aku tidak butuh!!. " ucap selir pertama pula dengan sangat emosi.


" Hal itu mustahil, karena ini adalah perintah beliau. Bahkan baginda Kaisar pun juga sudah menyetujui nya. " ucap Ace dingin, dia memang tidak pernah suka kepada para selir dan Adele itu. Setidaknya Arissa dan Jason jauh lebih baik.


Selir pertama yang sudah sangat kesal tidak bisa lagi melakukan hal apapun, akhirnya ia membiarkan mereka ada di sana untuk mengawasinya. Tapi tentu saja bukan berarti dia akan diam saja, dia hanya perlu lebih berhati-hati saat bergerak, lagipula dia adalah putri keturunan klan pembunuh bayaran di Kekaisaran, dia lebih hebat dalam melakukan itu tanpa seorang pun curiga.