
[Season 2]
" Ethan!!."
" Hei, apa yang akan kau lakukan?!!."
Ethan mengambil langkah lebih dekat dan tegas menuju masalahnya...
Untuk menyelesaikan masalah ini, dia harus membangunkan Quennevia. Sementara para dewa yang lain tidak bisa bergerak dari posisi mereka, dan teman-teman nya tak akan bisa bertahan melakukan ini, maka dia lah satu-satunya yang harus melakukan nya.
Ia berjalan semakin dekat dengan tombak pembelah langit ditangannya, dan berdiri tepat diatas tubuh Celestial Quennevia. Sebagian dari mereka bertanya-tanya apa yang akan dilakukan Ethan disana dengan penasaran. Itu sampai, Ethan mengangkat tombak itu tinggi-tinggi dan mengayunkannya kearah tubuh Celestial Quennevia.
" Ethan!!."
" Apa yang kau..!!"
Mereka tentu saja terkejut dengan tindakan yang dia lakukan dengan tiba-tiba itu, disaat yang sama bahu Quennevia terlihat seperti robek memanjang dengan garis miring dan sesuatu muncul dari luka itu. Tidak ada yang berkata apa-apa lagi karena hal itu, sementara itu Ethan hanya memandang celah yang ia buat itu dalam diam.
Dari celah yang dibuat Ethan, terlihat seperti ada galaksi lain yang sangat luas didalam tubuh Quennevia. Sebuah dimensi yang tak dikenal.
Karena itu semua orang terpana dan tak bisa mengalihkan pendangan mereka dari itu.
Tak berapa lama, setelah Ethan memeriksa semua yang ia bawa dengan seksama. Ia pun mulai berjalan masuk ke dalam sana, tapi ia sempat berhenti. Itu saat Arabel ada dibelakang nya dan memegang bahunya berusaha untuk menahannya.
[Berhenti! Dewa matahari! Kau tidak boleh masuk lebih dalam, aku menentangnya! Ibu tidak akan senang dengan tindakanmu!!.] ucapnya kepada Ethan, namun ia sama sekali tidak menimpalinya.
Justru orang lain yang muncul diantara mereka dan menarik tangan Arabel dari bahunya, seorang wanita dengan rambut hitam panjang layaknya kegelapan dan mata merah yang menyala layaknya ruby menatapnya disana. " Biarkan dia pergi, pertiwi yang agung. Putraku sudah membuat pilihannya sendiri."
Dia adalah Ratu Foldes sebelumnya, Mariana Sanchez, mewujudkan dirinya ditempat itu.
Iblis wanita yang pernah menduduki peringkat empat iblis terkuat sebelum kematiannya, dan mendapatkan julukan sebagai 'Great Demon Of Darkness'. Sekaligus istri dari pemilik kekaisaran besar di benua dan keturunan dari penyembah Dewa Matahari.
Bahkan menjadi ibu dari Inkarnasi Dewa tersebut.
Tentu saja kemunculannya membuat Arabel terkejut, karena kehadirannya yang sama sekali tidak terasa selama ini karena kehadiran Pedang Pemecah Hukum itu sendiri.
Meski begitu, Arabel juga tidak bisa membenarkan keinginan nya itu. [... Great Demon Of Darkness, aku tahu kau ada disamping Dewa Matahari selama ini. Sebagai salah satu ras iblis tertinggi yang telah naik sampai ketingkatan ini, aku memujimu karna bisa menjadi salah satu iblis besar. Tapi... Masuk ke dalam inti jiwa dewa lain adalah hal tabu! Putramu akan mati!!] ucapnya menegaskan hal itu.
Mariana memicingkan matanya dengan penegasan itu, tentu saja dia tahu, Ethan sendiri juga tahu. Tapi...
" ...Terus kenapa? Bahkan jika aku akan musnah selamanya, kami akan musnah bersama."
Tidak ada satupun kata-kata yang bisa menghentikannya sekarang.
Dan tentu saja Arabel terkejut dengan jawaban yang diberikan nya itu, [Keseimbangan alam semesta akan goyah lagi, kau juga tidak tahu apa yang akan kau hadapi di dalam sana!! Itu bukan hal yang diinginkan oleh ibu! Apa kau memang harus melakukan nya sampai sejauh itu??] tanya Arabel dengan ekspresi wajah terlihat penuh kegelisahan.
Ada banyak hal yang dia khawatirkan. Bukan hanya soal keseimbangan alam semesta, tapi juga keselamatan mereka berdua. Dia yang selama ini menggantikan Quennevia mengawasi Dunia tengah dan membuat nya tetap stabil, dia juga melihat semua awal dan akhir perjalanan nya.
Dia tidak bisa melihat akhir yang lebih mengerikan lagi dari yang pernah ia lihat.
Ethan bisa merasakan emosinya yang terguncang, tapi ia tidak berubah pikiran. Ia pun menoleh kearahnya dan tersenyum dengan lembut, sampai-sampai Arabel kehilangan kata-katanya melihat itu.
" Kenapa tidak..??" dan pertanyaan itulah yang dilontarkan oleh Ethan kemudian.
[Apa..?]
" Aku tahu apa yang aku lakukan, jadi kau tidak perlu khawatir, Arabel. Mau bagaimana pun Quennevia dan aku adalah satu, dan aku sama sekali tidak berniat menyeretnya mati bersamaku."
[...Kau pasti bercanda..]
Tangan Arabel jatuh lemas kehilangan tenaganya melihat keteguhannya itu, tidak mungkin ada yang rela mengorbankan seluruh keberadaannya hanya untuk memaksa seseorang untuk bangun dari tidurnya. Tapi seperti itulah Ethan dimatanya.
Tapi Ethan hanya menggelengkan kepalanya menanggapi ucapannya, dan ia pun kemudian berkata. " Kau bisa tahu aku bercanda atau tidak, sampai saat itu... Tunggulah dengan tenang disini dan jangan lakukan apapun. Ini perintah." ucapnya.
Dan segera setelah ia mengatakan itu, Ethan melompat masuk ke dalam celah dibawahnya, menghilang didalamnya. Disaat yang sama celah itu juga kembali tertutup, dan Ethan meninggalkan Tombak Pembelah Langit itu bersama dengan Arabel dan ibunya.
Sementara Arabel yang melihat itu, hanya bisa diam terpaku ditempatnya. Bukan berarti dia benar-benar rela atau mengerti, tapi karena dia tidak tahu harus melakukan apa saat ini. Arabel menggigit bibirnya dan kedua tangannya mengepal disamping tubuhnya...
Meratapi kebingungan yang tidak bisa ia atasi.
[... Mengapa? Bahkan saat kau tahu kau akan musnah sekali kau masuk ke dalam sana.. Kenapa kau tetap pergi... Ayah..] dia bergumam kepada dirinya sendiri dengan suara yang terdengar frustasi.
" Sepertinya kau masih tidak mengerti dengan maksudnya." saat kemudian suara Mariana terdengar ditelinganya, Arabel pun kemudian mengalihkan pandangannya dan menatai Mariana yang ada disampingnya. " Sudah kubilang anak itu sudah memutuskan pilihannya." ucapnya pula.
Mariana terlihat menatap sebuah bola ditangannya, lebih tepatnya dia menatap Ethan dalam pantulan bola itu. Berbagi penglihatan melalui bola itu dan pedang yang tergantung dipinggang Ethan. Mariana bisa melihat apa yang dilalui Ethan saat ini melalui bola itu.
Dan dia membuat ekspresi yang tidak biasa bagi Arabel, dia terlihat seperti tatapan seorang ibu yang bangga melihat putranya, tapi juga terlihat seperti seseorang yang sedang jatuh cinta pada saat yang sama. Itu membuatnya bingung.
" Dia akan melewati semua rintangan yang ada dan mengambil semua kemungkinan untuk orang yang ia cintai. Dia tidak akan menyerah." ucap Mariana lagi.
Ia mengulurkan tangannya ke atas, dan bola itu terbang lebih tinggi dan berubah menjadi layar raksasa. Semua orang pun bisa melihat apa yang terjadi didalam sana.
" Tidak peduli betapa sulitnya, tidak peduli betapa sakitnya, bahkan jika dunia hancur mereka bisa membangunnya lagi. Kurasa.. Seperti itulah apa yang ada dalam pikirannya. Cinta itu... Digunakan untuk menghancurkan, tapi juga untuk menyembuhkan. Cinta mereka berdua akan melahirkan sebuah dunia baru yang jauh lebih baik."
[....Itu mengingatkanku. Apa karena Cinta kau sampai rela meninggalkan semua kultivasi yang telah kau bangun selama ribuan tahun dan hidup sebagai iblis biasa, wanita biasa, ibu biasa dan seorang ratu yang biasa. Kemudian menyerah kepada keabadian??.]
Sementara Mariana hanya menatap Arabel dengan senyuman diwajahnya.
Tidak banyak yang mengetahuinya, tapi jika digambarkan secara jelas, Arabel dan Mariana itu adalah seorang teman. Mariana menemukan Arabel yang manjadi pengawas di puncak tertinggi benua, dan mulai pergi ke sana setiap kali dia ada waktu.
Mencaritakan semua yang ia lakukan, alami dan terkadang membawakannya beberapa hadiah. Arabel juga senang setiap kali mendengar semua cerita yang dibawa oleh Mariana padanya, karena itu setiap kali berpisah dia selalu menantikan pertemuan mereka lagi.
Dia juga tahu soal Mariana yang jatuh cinta kepada Felice dan seperti apa takdir yang mereka jalani.
Dan setelah Mariana mati, Arabel hanya diam dan menatap dunia sendirian sama seperti sebelumnya. Terkadang ia juga memperhatikan Ethan, putra temannya sekaligus Inkarnasi dari orang yang ia panggil ayah. Tapi dia tidak pernah diizinkan untuk ikut campur urusan manusia, karena itu bukanlah tugasnya.
Dan sekarang... Ia bertemu lagi dengan teman lamanya, meski dia hanyalah kumpulan jiwa yang tersisa. Tapi dia selalu ingin tahu... Arabel ingin bertanya kepada Mariana, kenapa dia memilih untuk mati daripada hidup padahal dia bisa menghindari kematian.
Apa yang membuatnya memilih pilihan itu?
Mariana yang melihat bagaimana Arabel menatapnya pun menyadari itu, lalu ia pun menutup kedua matanya dengan sedikit mendengus. Dan ia pun kemudian berkata, " Apa artinya keabadian jika kau tidak punya apapun yang kau cintai?."
Kali ini dia mengajukan pertanyaan itu kepadanya, membuat Arabel sedikit terkejut mendengar nya.
" Hidup dalam kekosongan sepanjang waktu dalam kesendirian tanpa akhir. Aku tidak menginginkan hal seperti itu. Aku... Sudah cukup bahagia dengan cinta yang ku dapatkan. Tidak kah kau berpikir kalau cinta itu sesuatu yang misterius dan menarik??" ucapnya pula.
Tapi Arabel memiliki ekspresi tidak senang diwajahnya dengan hal tersebut, [Dan cinta yang membuat Dewa Matahari dan Dewi Tengah mati, pemicu perang, dan termasuk hal yang membuat dunia sekarat.] ucapnya menimpali perkataan Mariana.
" Meski begitu, cinta mereka yang akan menyembuhkan nya juga." tapi Mariana tidak mau kalah dengan perspektif nya.
Karena itu Arabel tidak membalasnya lagi, tapi justru membuat wajah cemberut karena tetap tidak mengerti dengan apa maksud 'Cinta' yang dipakai Mariana dengan keadaan saat ini.
Tapi Mariana yang melihat ekspresi wajahnya yang lucu justru terkekeh geli, " Kau tidak bisa menyalahkan cinta untuk semuanya, Arabel. Karena cinta hanyalah perasaan... bukan sumber dari kehancuran. Dan juga, aku ingin memberitahumu kalau aku telah memutuskan untuk pergi bersama suamiku setelah masalah ini selesai. Ethan bukan lagi anak kecil yang harus kukhawatirkan setiap saat, dia punya banyak hal disisinya yang akan membantunya." ucap Mariana kemudian.
Dan jujur saja itu membuat Arabel sedikit sedih, meskipun dia tahu kalau kematian adalah salah satu bentuk dari siklus kehidupan. [...Apa kau tidak berniat untuk hidup sekali lagi? Setidaknya sekali? Dengan kekuatan mu saat ini, kau pasti...] Arabel menghentikan kata-katanya dan kembali menggigit bibirnya terlihat menahan gejolak perasaan yang terasa menyakitkan.
Bahkan jika dia memohon, sepertinya dia juga tahu apa jawabannya.
" Terlalu banyak pertentangan jika aku kembali, itu akan menyulitkan jalan putraku dimasa depan. Lagipula, suamiku yang malang akan kesepian jika aku tidak bersamanya." Marina berkata demikian dengan santai sembari mengibaskan tangannya. Itu karena sikapnya yang memang terkadang menganggap enteng setiap hal.
Karena itu Arabel tidak bisa berkata apa-apa lagi, karena Mariana juga orang yang sangat keras kepala, dia tidak akan bisa mengubah pikirannya. Mariana yang melihat bagaimana Arabel menekuk wajahnya dengan murung pun hanya tersenyum, dan ia kembali berkata...
" Carilah cinta juga, jangan terus sendirian dalam kegelapan, Arabel." ucapnya.
[Menurutmu cinta itu apa...?] dan pertanyaan itu keluar dengan suara pelan dari mulutnya.
Mariana yang mendengar itu pun mengangkat bahunya, " Apa saja. Cinta ibu, cinta ayah, saudara, anak, teman, atau yang lainnya. Didunia ini ada banyak cinta daripada yang kau tahu, kau hanya harus menemukan satu yang jadi milikmu." jawabnya.
Arabel sekarang sedikit paham, tapi... ia kemudian berpaling dan menatap Quennevia didepan sana, dan Ethan yang sedang berada di dalam dimensi tidak dikenal. Ada hal yang lebih membuatnya khawatir dan tak bisa berhenti ia pikirkan daripada berpikir soal menemukan cinta seperti yang dikatakan oleh Mariana.
Yaitu keselamatan orang tuanya...
Kedua tangannya pun saling bertautan dengan eray didepan dadanya, [Kau tidak membuatku lega sama sekali. Meskipun kau menjelaskan itu untuk mengalihkan perhatian ku dan aku mengerti cinta, tapi itu tidak mengubah keadaan saat ini! Itu tidak mengurangi kekhawatiranku! Hukum dunia tidak berjalan semudah itu.] ucapnya.
Mariana menghela nafas panjang mendengar itu, tentu saja dia tahu akan seperti ini. Disaat semua orang fokus sendiri, dia berusaha mengalihkan perhatian Arabel yang paling menentang disini karena itu keinginan Ethan. Tapi menenangkan kekuatan dari kemungkinan yang tak terhingga itu tidaklah semudah membalikkan telapak tangan.
Dia juga tahu kalau apa yang dilakukan Ethan sangat beresiko, tapi dia sama sekali tidak bisa menolaknya.
Lama-lama Mariana juga jadi frustasi sendiri memikirkan semua itu, " Haa....Kau tidak perlu khawatir, dia tidak sendirian." ucapnya kepada Arabel lagi.
Tentu saja itu mengalihkan perhatian Arabel, " Lihat itu." Mariana pun merentangkan menunjuk apa yang ada dibelakang sana.
Dan ketika Arabel mengikuti arah jarinya mengarah, melihat bagaimana teman-teman Ethan sangat fokus melihat apa yang terjadi dihadapan mereka. Mereka memperhatikan, seolah menunggu giliran mereka... kapan mereka dipanggil dan dibutuhkan.
" Dia punya teman yang kuat dan bisa diandalkan. Apa menurutmu ada eksistensi bawah yang bisa bertahan ditengah gelombang kekuatan dewa yang berkecamuk?" Mariana menanyakan hal itu kepadanya.
Dan tentu saja Arabel tahu apa jawabannya, [Itu... Tdk mungkin..]
Mariana sendiri setuju dengan itu, " Benar. Itu tidak mungkin. Secara harfian, keberadaan dewa adalah potongan alam semesta yang luas. Semakin kuat semakin luas potongan yang mereka miliki, dan yang tertua yang masih hidup adalah mereka yang menjadi pemilik kekuatan mutlak. Sosok Dewi Quennevia seorang saja sudah cukup untuk menelan satu galaksi hanya dengan menggerakkan telapak tangannya. Tapi ditempat ini, sekarang ada 3 dewa kuno yang pertama dan tertua, jika ditambah Ethan jadi 4. Lalu 4 lagi dewa kelas tinggi. Berbeda denganku yang mendapat perlindungan tubuh roh dan mental dari pedang yang dibawa Ethan, serta mempertimbangkan hubunganku denganmu, mereka hanya memilik penghalang mental sederhana yang menjaga akal sehat mereka. Akan tetapi mereka sama sekali tidak terlihat gentar. Mungkin pada awalnya mereka juga gemetar dihadapan kekuatan besar itu, namun lihatlah sekarang, bahkan tidak ada ketakutan atau keraguan dalam mata mereka. Apa kau tahu kenapa?" tanya Mariana pada akhirnya setelah penjelasan yang begitu panjang.
Sementara itu, Arabel yang baru menyadari itu terpana dengan apa yang ia lihat. Apa yang dikatakan Mariana itu benar, bagaimana bisa mereka terlihat sangat kuat?
Baik itu Oscar, Meliyana, Yuki, Arkan, Niu dan Sakura... Tidak ada satupun diantara mereka yang terlihat tertekan. Mereka berdiri kokoh seolah telah menjadi bagian dari alam semesta tertinggi yang sama dengan mereka. Bagaimana caranya? Kenapa?
Karena apa?
" Itu karena mereka fokus pada tujuan mereka." Arabel tersadar karena kata-kata itu, dan ia pun kembali mengalihkan perhatian nya kepada Mariana dihadapannya. " Masing-masing dari mereka punya tekad yang kuat. Bahkan anak yang tidak lahir dan terlatih dengan kekuatan apapun selain fisik pun berdiri dengan tegap diantara mereka. Itu berkat tekad mereka yang kokoh. Secara bertahap, obor didalam diri mereka pun menyala semakin terang. Cahaya yang tumbuh semakin kuat. Itulah yang mereka yakini. Berjalan dijalan yang mereka pilih, bukan pasrah terhadap kehendak takdir. Mereka adalah bintang-bintang baru yang akan bersinar paling terang dilangit."
Mata Arabel melebar dengan kilauan didalamnya menatap bagaimana ekspresi tegas diwajah Mariana yang biasanya sangat santai, itu menunjukan kalau semua yang ia katakan adalah serius. Dan Arabel juga paham dengan maksudnya. Itu adalah sebuah keyakinan yang sangat kuat.
Saat kemudian Mariana pun kembali menoleh kearah Ethan dilayar yang dicipkatakannya itu, yang tentu saja juga diikuti oleh Arabel.
" Jadi jangan khawatir tentang apapun, baik Ethan, Quennevia dan semua yang ada disini saat ini. Semuanya akan baik-baik saja." Mariana benar-benar tidak memiliki keraguan dalam hal itu, karena dia percaya...
Dia percaya kepada kekuatan putranya, dan percaya kalau jalan yang mereka pilih ini... adalah jalan yang benar.