
[Season 2]
" Arkan, apa yang akan kau-..."
Byurr...
Pertanyaan Yuki terlambat, ketika Arkan langsung menceburkan dirinya sendiri ke dalam mata air itu. Dan membuat yang lain makin kaget.
" Arkan! " panggil Oscar kelihatan begitu panik karena dia sama sekali tidak menunjukan dirinya lagi.
Namun ketika mereka mau menyusulnya, Ethan menghentikan mereka...
" Kenapa?" tanya Meliyana ketika melihat Ethan menghalangi mereka.
" Itu ujian miliknya. " dan itulah jawaban yang diberikan oleh Ethan kepada mereka.
Yang lainnya saling pandang khawatir, tapi jika itu yang Ethan katakan mereka tidak bisa melakukan apapun. Meski sebenarnya mereka penasaran bagaimana Ethan tahu tentang hal itu, dan tiba-tiba sekali.
***
Sementara itu ditempat lain, di klan Taiga. Balin terlihat berjalan dengan tergesa-gesa ke tempat ibunya dengan raut wajah yang kelihatan sama sekali tidak baik. Ia baru saja mengetahui sesuatu setelah berusaha mencari begitu lama, dan dengan usaha yang besar.
" Ibu, ada yang ingin kutanyakan?" ucapnya ketika baru saja datang ke tempat ibunya.
Dan itu membuat ibunya menatapnya tidak suka, " Balin, apa-apaan ini? Dimana sopan santunmu? " ucapnya kepada putranya itu.
Namun Balin tidak terlalu mempedulikan hal itu, " Itu bukan masalah pentingnya saat ini, bu. Aku ingin bertanya, apa kematian kakek memang benar-benar salah Arkan?? " tanyanya kemudian.
Tentu saja mendengar itu membuat suasana hati Leana makin buruk, ia menatap Balin yang ada dihadapan nya saat ini dengan tatapan nyalang.
" Apa mau-mu sebenarnya? Itu jelas-jelas memang salahnya, apa kau sudah lupa dengan itu, Balin?! " ucap Leana dingin.
" Lalu... Katakan kepadaku mengapa ibu terlibat dalam pembelian racun itu?! " tanya Balin lagi dengan ekspresi benar-benar marah, ia menunjukan sebuah kertas yang adalah bukti pembelian racun yang dibeli dengan nama ibunya itu.
Sementara Leana tersentak kaget mendengar itu, " Apa..?" ucapnya merasa tidak yakin dengan apa yang baru saja ia dengar.
Ia menghabiskan begitu banyak uang untuk mendapatkan sepenggal informasi tersembunyi yang telah lama ini, awalnya ia juga tidak percaya dengan hal ini. Namun jika ia menyambungkan semua hal yang ganjil dari masalah selama ini, semuanya jadi jelas.
Balin tidak habis pikir dengan kelakuan ibunya selama ini, " Nama ibu jelas-jelas tertulis dalam dokumen pembelian ini! Bagaimana ibu akan menjelaskan ini?! " desak Balin padanya.
Membuat Leana yang sedari tadi duduk diam pun bangkit dengan panik, " Itu tidak benar! Pasti ada yang salah, benar.. pasti ada yang berusaha menjebak ibu!!" ucapnya berusaha membela diri sendiri.
" Bagaimana bisa dia menemukan itu? Bukankah aku sudah menyuruh mereka untuk mengawasi gerak-gerik Balin?!"
Namun kelihatan nya Balin sama sekali tidak mempercayai dalih itu, dia menatap ibunya dengan penuh kecewa. Orang yang telah membuatnya mempercayai kebenaran kosong selama bertahun-tahun dan mengusir jauh satu-satunya saudara yang ia miliki.
Leana yang melihat tatapan itu darinya tersentak kaget, sesuatu membuatnya merasa tidak aman. Karena merasa panik dengan itu, ia pun langsung melangkah menghampiri Balin dan mencengkram kedua tangannya.
" Belin, dengar. Klan kita saat ini sedang dalam kondisi yang buruk, kau harus segera pergi kepada para Tetua dan meminta izin mereka untuk segera menjadi ketua! Untuk itulah semua perjuangan selama ini, untuk dirimu! " ucapnya mendesak Balin.
Sedangkan Balin yang mendengar itu terdiam kaget, " Apa maksud ibu dengan usaha selama ini??" tanyanya kepada wanita yang telah melahirkannya itu.
Itu terdengar tidak masuk akal, memang kenyataan jika kakeknya sudah tua dan akan segera menyerahkan posisinya. Dan ayahnya memiliki tubuh lemah sehingga tidak bisa bertarung.
Namun Arkan..! Bagian mana darinya yang lemah? Balin tidak bisa mengerti hal itu...
Jika Arkan memang lemah, bagaimana ia bisa membuat ilusi yang begitu kuat sampai sulit untuk diketahui. Bagaimana bisa kekuatan bertarung nya jauh lebih baik darinya, dia bahkan punya hewan ikatan yang begitu kuat. Bagaimana bisa anak seperti itu dianggap lemah oleh ibunya??
" Tidak peduli apa yang orang-orang katakan tentang ini, ibu melakukan nya demi kau! Ibu mengorbankan segelanya agar kau bisa menjadi ketua klan!! Bagaimana bisa kau berpikir kalau ibumu ini mengecewakan?!" Leana tanpa sadar mengakui sendiri perbuatannya, rahasia yang selama ini ia simpan dengan baik tersibak begitu saja.
Dan Balin yang mendengar itu pun jadi naik pitam, " Jadi ibu mengakui kalau ibu yang meracuni kakek?!!" teriaknya setelah mendengar pengakuan itu.
" Ibu melakukannya demi kau!!" sahut Leana.
" Mengapa ibu melakukannya kepada Arkan?! Jelas-jelas dia tidak melakukan kesalahan apapun! Dia juga tidak berniat menjadi ketua! Mengapa ibu memperlakukan nya seperti orang buangan, dia juga anakmu!!." desak Balin, ia ingin tahu alasan sesungguhnya ibunya melakukan hal itu.
Leana yang mendengar itu pun jadi gemetar, ia melepaskan Balin dan berjalan mundur dengan langkah tertatih-tatih. Dia benar-benar kacau...
" Itu karena... Itu karena dia tidak boleh menjadi ketua. Anak itu dia... " ucap Leana kemudian.
Itu sama sekali tidak menjelaskan maksudnya, dia hanya tidak ingin Arkan menjadi ketua, namun memaksa Balin untuk segera menjadi Ketua. Alasannya tidak berdasar.
Balin bersumpah ketika Arkan pergi diasingkan, dia tidak akan menjadi lemah dan menangis lagi. Namun kali ini dia tidak bisa menahan air matanya. Selama ini dikendalikan dan dimanipulasi untuk terus mempercayai kebohongan oleh ibunya sendiri, oleh orang yang paling dia sayangi.
Ia memalingkan wajah dari adiknya yang meminta pertolongan, bersikap tidak tahu saat Ayah tiada. Dan berusaha patuh seolah semua yang dikatakan ibunya adalah kebenaran. Bagaimana bisa ia menebus semua kesalahan itu?
Balin membuang wajahnya, dia tidak ingin menatap ibunya yang kacau saat ini. " Apakah posisi ketua, jauh lebih penting bagi ibu... dibandingkan dengan keluarga kita yang telah hancur selama ini??" ucap nya yang membuat Leana kembali menatap Balin.
" Apa itu lebih penting... dibandingkan dengan nyawa kakek?? Ibu bahkan juga membunuh ayah. Dan ibu membuat Arkan diasingkan. Memangnya sepenting apa posisi itu bagi ibu? Apa lebih penting dibandingkan kasih sayang anak-anakmu??" lanjutnya pula.
Membuat Leana menatapnya, baru sadar dengan perasaan putranya yang sebenarnya. " Tidak.. Balin, dengarkan aku... ini tidak seperti yang kau pikirkan... " ia berusaha menjelaskannya.
Namun.. " Aku sudah membuat keputusan!." Balin memotong perkataannya.
" Aku akan pergi ke Akademi bintang utara dan bergabung dengan aliansi, dan juga... Aku akan keluar dari klan ini. " ucapnya penuh keyakinan.
" Apa...? Tidak.. Kau tidak bisa pergi! Kau adalah calon ketua selanjutnya, Balin!. " Leana tidak menyetujui hal itu.
Namun tidak ada yang bisa menghentikannya saat ini, " Karena ibu begitu mengagungkan posisi itu, ibu saja yang jadi ketua sampai ibu mati. Aku akan ikut bersama Arkan, menyusuri jalan berduri yang selama ini dia pijak. " ucapnya yang berbalik pergi dari sana.
" Tunggu! Balin.. jangan pergi! Balin!!"
Ia bahkan tidak mendengarkan, atau sekedar menolah kearah ibunya yang terus memanggil namanya.
Balin terus berjalan tanpa mempedulikan siapapun, ia telah membulatkan tekadnya. Melakukan penebusan dosa kepada adiknya yang selama ini menderita seorang diri, meski ia tidak tahu apa Arkan akan memaafkannya atau tidak. Setidaknya... dia punya alasan yang jauh lebih masuk akal.
Langkah Balin terhenti ketika mengingat itu, ia pun menoleh kearah jendela disampingnya, menatap langit biru diatas sana. Dimana dia dan sedang apa dia saat ini, Balin ingin tahu kesulitan apa yang sedang dihadapi oleh adiknya saat ini, dan dia hanya berharap satu hal untuk nya...
Balin berharap Arkan akan selamat dan kembali, agar dia bisa mengatakan maaf kepada nya...
" Semoga kau baik-baik saja, Arkan. Aku tahu kau pasti bisa melalui apapun..."