
Boommm....
Serangan itu cukup berdampak besar jika saja terkena langsung, tapi keberadaan Quennevia tiba-tiba menghilang dari sana.
" Uhuk.. Uhuk... Hei, kalian berdua serius sekali, bagaimana jika nantinya aku mati. " ucap Reeth.
" Kau tidak akan mati meski aku memukulmu dengan seluruh kekuatan ku. " sahut Caius datar.
" Jahat sekali. " ucap Reeth lagi.
" Berhenti bersikap kekanakan, keberadaan nya menghilang. " ucap orang berjubah yang satu lagi itu.
Quennevia benar-benar hilang tanpa jejak di hadapan mereka, harusnya dia tidak bisa bergerak secepat itu. Dan tentu saja dia juga tidak mungkin pergi begitu saja, jadi kesimpulan yang paling penting adalah dia melakukan sesuatu sebelum terkena serangan itu.
" Dimana Quennevia??. " tanya Meliyana.
" Lihat itu. " ucap Yue yang baru saja mendapat obat dari Quennevia, ia menunjuk ke arah salah satu anak buah mereka.
Lalu tiba-tiba muncul sesuatu seperti lubang hitam di sana, dan Quennevia pun keluar dari tanpa disadari oleh orang di depannya. Quennevia pun mengeluarkan sebilah pedang yang dipegang di tangannya, dan langsung menusuk orang itu tanpa pemberitahuan.
" Akhh.... "
Teriakan itu membuat Reeth, Caius dan satu lagi, serta anak buahnya yang lainnya langsung menyadari tempat Quennevia berada saat ini. Dia hanya berdiri di belakang mereka dan memandangi pedang yang berlumuran darah itu.
Quennevia pun mengusap darah yang terciprat di tangannya, " Sudah lama rasanya aku tidak membunuh seseorang dengan tangan ku sendiri. " gumam Quennevia yang kemudian mengukir seringai di wajahnya.
Mereka yang melihat nya nampak terkejut karena Quennevia bisa tiba-tiba ada di sana, apalagi dengan Quennevia yang terlihat sangat menikmati membunuh seseorang seperti itu.
" Dalam waktu yang sesingkat itu, dia benar-benar menghentikan waktu untuk sesaat. Setelah itu ia membuka dimensi ruang miliknya dan masuk ke dalam nya. " batin Caius.
" Kenapa kau tidak bisa jadi gadis biasa seperti yang lainnya saja dan ikut kami dengan patuh!!. " ucap orang berjubah yang tadi menyerang nya itu dengan kesal, ia bahkan sampai membuang jubah yang dikenakan nya itu.
" Maaf, ya. Aku ini gadis nakal, yang bisa membunuh seseorang tanpa ragu jika aku tidak puas. " sahut Quennevia.
Setelah mengatakan itu dia pun langsung berlari ke arah wanita yang tadi bicara itu, sambil mengayunkan pedangnya. Tapi... Saat ia sudah berada tepat di depan wanita itu, dia malah berbelok dan menyerang para anak buah mereka terlebih dahulu satu per satu.
" Apa?!. " ucap wanita itu terkejut dengan gerakan tiba-tiba itu.
" Sica, apa yang kau lakukan kejar dia!!. " teriak Caius marah.
Wanita yang disebut Sica itu pun langsung melakukan nya dan mengejar Quennevia, bersama dengan Reeth yang sudah lebih awal mengejarnya.
" Cih. " decih Caius, juga hendak mengejar Quennevia, tapi Ethan tiba-tiba ada di depannya dan menyerangnya.
" Aku yang akan melawan mu. " ucap Ethan dengan percaya diri.
" Bocah sialan!. " geram Caius.
Pada akhir nya mereka bertarung berdua, sementara Quennevia membantai para anak buah mereka, sambil main kejar-kajaran bersama dengan Reeth dan Sica.
Quennevia sendiri juga sebenarnya agak kerepotan karena harus melarikan dari, dan membunuh seseorang di waktu yang bersamaan, jika saja ada senjata api di dunia itu ia bisa melakukan nya dengan mudah. Apalagi tentu saja Reeth dan Sica itu terus saja melempari nya dengan serangan-serangan.
Untung dia punya kemampuan mengendalikan ruang, tapi tentu saja kemampuan itu juga menguras kekuatan nya. Hingga saat Reeth benar-benar menangkap kakinya, ia melemparkan Quennevia ke arah Ethan yang masih bertarung bersama dengan Caius.
Saat melihat Quennevia yang terlempar kearahnya, Ethan reflek menangkapnya. Namun tentu saja itu membuatnya tidak bisa menahan serangan dari Caius dan akhirnya mereka berdua terlempar agak jauh lagi.
" Aduh... Kenapa kau tidak menahan nya!. " ucap Quennevia dengan kesal.
" Jika aku tidak menangkapmu pun kau juga akan kesal, kan!. " sahut Ethan.
Pertengkaran keduanya itu mengundang reaksi heran dari para raja dan Pangeran di belakang mereka. Padahal keduanya sedang bertarung, tapi masih sempar-sempatnya bertengkar seperti itu.
" Wah, wah. Benar-benar pasangan yang sangat serasi. " ucap Reeth yang mendekati mereka dengan Caius dan Sica juga.
" Jangan bercanda di saat seperti ini, Bodoh!!. " ucap mereka berdua pula dengan kesal.
" Hahaha... Sica, buat mereka tidur saja agar terlihat lebih manis. " ucap Reeth pula.
" Baiklah. " sahut Sica.
" Tidurlah dalam mimpi tergelap kalian. " ucap Sica sambil menyebar mantanya.
Para capung itupun berkeliaran ke sekitar Quennevia dan yang lainnya, sambil menaburkan serbuk mimpi itu.
" Ehh.. apa itu?? bukan kah itu capung??. " ucap Lecht, saat capung itu hendak mendekati mereka yang ada di sana capung itu langsung terbakar jadi abu 10 langkah dari mereka.
" Ehh.. Apa yang terjadi??. " ucap ucap ratu Seara.
" Itu capung mimpi, orang yang terkena serbuk mimpinya akan tidur dan memimpikan kenangan terburuknya. " sahut Ning, dia orang yang membuat pelindung di sekitar mereka itu.
" Dan aku jadi takut jika pangeran akan mengamuk. " lanjutnya pula, dan juga membuat yang lainnya tegang dengan itu.
Quennevia dan Ethan sendiri terjebak di tengah-tengah kumpulan capung itu, mereka tidak bisa keluar dari sana juga tidak bisa menghindari serbuk mimpi itu. Bahkan saat ini, entah Quennevia ataupun Ethan sendiri sudah mulai merasa sangat ngantuk karena efek serbuk itu.
" Akh, sial. Kenapa aku sangat ngantuk di saat seperti ini. " ucap Ethan dengan kesal.
" Kita harus mencari jalan keluar nya. " ucap Quennevia pula, mereka berdua masih bertahan sekuat tenaga mereka.
" Tidak ada jalan keluar, dan kami tidak bisa menggunakan kekuatan karena efek serbuk aneh ini. Xi, kau ada di dalam kan. Kau mendengar ku kan? Tolonglah, hanya kau satu-satunya kesempatan. Dengan begitu aku bisa memanggil Everon. " batin Quennevia.
Merespon perkataan itu, sebuah cahaya pun muncul dari kalungnya, cahaya itu membuat para capung langsung berubah menjadi abu seketika.
" Uhuk... " karena sihir nya dipatahkan, efek baliknya juga mengenai Sica dan membuatnya batuk darah. " Bagaimana bisa... dia mematahkan sihir ku??. " ucap Sica tidak percaya.
Nampaknya yang lainnya juga sama tidak percaya nya, dan saat cahaya itu hilang di depan Quennevia dan Ethan, muncullah Xi yang sudah jadi besar dalam waktu yang singkat itu. Kemunculan nya lagi-lagi membuat orang-orang terkejut, mereka tidak tahu dari mana dia muncul dan bagaimana bisa. Dan lagi mereka penasaran apa dia sebenarnya.
Setelah kemunculan Xi itu, penglihatan Quennevia sudah mulai agak buram, dia masih tetap merasa ngantuk meski semua capung itu sudah hilang. Dan ia pun menggunkan sisa kesadaran nya untuk memanggil Everon.
" EVERON DATANGLAH, ADA ORANG JAHAT YANG INGIN MENANGKAPKU DISINI!! " teriak Quennevia dengan sisa kesadaran nya itu.
Mendengar itu sudah pasti membuat orang-orang di sana penasaran, siapa yang sedang di panggil oleh Quennevia itu. Tubuhnya pun mulai terhuyung dan akhirnya jatuh, diikuti Ethan yang juga jatuh tertidur oleh serbuk mimpi. Ia bahkan tidak bisa mendengar suara Xi yang terus menggonggong padanya itu.
" Master!. "
" Quennevia!, pangeran Ethan!."
Begitulah teriakan, mereka yang ada di belakang saat melihat keduanya tumbang. Tapi mereka juga tidak bisa melakukan apapun untuk menolong.
" Wow, dia benar-benar penuh kejutan." ucap Reeth.
" Hmph... Sebaiknya kita pastikan saja mereka benar-benar tidak bisa bergerak lagi untuk sementara waktu. " ucap Caius pula.
Ia membuat sebuah palu raksasa yang terbuat dari es, dan mengarahkannya kepada Quennevia dan Ethan. Semua orang jadi panik melihat itu, tapi Xi yang ada di sana menahan serangan itu dengan membuat pelindung di sana.
" Apa?? " ucap Caius pula.
" Dia spirit pelindung Quennevia, kah??. " tanya Sica.
" Iya, kita tinggal mengerang nya bersama-sama. " ucap Reeth pula.
Ia pun menambahkan sebuah palu yang sama seperti Caius, hanya saja terbuat dari batu. Dan hal itu membuat Xi tertekan, meskipun begitu dia masih bertahan. Alasan nya karena kekuatan nya belum kembali sepenuhnya, dan ia menyadarkan Quennevia dan Ethan disaat yang sama.
" Xi, berjuanglah, lindungi master!. " teriak Yue di sana.
Xi berusaha sekuat tenaganya, tapi dari pihak musuh, Sica ikut menambah dorongan kekuatan mereka. Akhirnya pelindung yang dibuat Xi pun pecah dan membuatnya terluka cukup parah, kini tidak ada lagi yang menghalau palu besar itu.
" Tidak!!. " teriak Lecht.
" Master!. " teriak Yue dan Kai ditambah Ning yang meneriaki Ethan.
" Astaga, ya ampun. Kemana kekuatan mu yang selama ini, kenapa kau jadi lemah seperti sini sih. " ucap seseorang pula.
Everon dia benar-benar datang ke sana setelah Quennevia memanggilnya, dia hanya menyentuh palu besar itu dengan satu jari, dan itu langsung hancur seketika. Hal itu membuat semua orang tercengang melihat nya.
" Seperti nya aku terlambat, ya. " ucapnya lagi sambil menatap Ethan dan Quennevia yang terbaring tak sadarkan diri ditempat itu.