Quennevia

Quennevia
Wais, Sang Raja Serigala Bumi



Pagi hari ini, entah kenapa semua orang malah berkumpul di tempat latihan Quennevia, padahal hanya karena pelatih nya saat ini belum sampai, atau bisa di bilang belum kelihatan sejak ia datang ke sana. Dan lagi... Kenapa ekspresi mereka terlihat.... seperti ingin membunuh seseorang, Quennevia jadi takut kepada mereka saat ini.


" Dia itu... Sudah tidak datang di hari pertama, kali ini pun ia berani sekali telat datang. " ucap Aqua dengan marah.


" Lihat saja bagaimana kita akan menghajar nya nanti. " sahut Zeze.


" Kita jangan sampai melepaskan nya. " sambung Freea pula.


Melihat mereka yang marah dengan sangat berkobar itu membuat Quennevia merinding, seperti nya dia tidak boleh sama sekali tidak boleh membuat mereka marah.


" Ck, apa si guguk itu mencari perkelahian lagi??. " ucap Everon yang sama dengan yang lain kesal karena menunggu.


" Guguk??. " ucap Quennevia pula bingung mendengar itu.


" Aha... Wais itu seekor serigala, tapi Everon sering memanggilnya guguk. " jelas Mice.


Quennevia pun ber-oh ria mendengar nya, " Jadi karena dia seekor serigala, dia jadi mirip dengan anjing dan Everon menyebutnya guguk. " ucap Quennevia pula.


" Iya, Kira-kira seperti itu. " jawab Mice.


Kemudian perhatian mereka pun teralihkan kepada suara teriakan kesal seseorang dari atas sana, yang mana terlihat lah Azel yang tengah membawa seseorang bersamanya, lebih spesifiknya... dia memegangi kaki orang itu yang terbalik. Dan menjatuhkan nya tepat di depan mereka.


" Arghhh.... " teriak orang itu saat jatuh.


Brukk....


Dia jatuh dan sangat mulus, tapi sudah pasti sangat menyakitkan.


" Maaf membuat kalian menunggu, mencari nya benar-benar seperti mencari kelinci di dalam lubang. " ucap Azel yang ikut mendarat di samping orang yang jatuh itu, yang sudah pasti itu adalah orang bernama Wais.


" Apa paman menyindir ku??. " tanya Quennevia datar.


" Oh, apa sekarang kau menganggap dirimu seekor kelinci??. " tanya balik Azel.


" Bukankah sebagian memang benar. " sahut Quennevia pula.


Iya kan memang benar, apa yang salah dengan yang ia ucapkan, ibunya kan spirit kelinci salju, dan dia itu darah campuran.


" Iya sih, dan sekarang... mau sampai kapan kau berbaring di tanah seperti itu, Wais??. " ucap Azel pula kepada Wais.


" Tanahnya nyaman. " sahut Wais yang masih berbaring di sana.


" Ayolah, Queen kecil tidak akan bisa mengajari dirinya sendiri jika kau tidak menunjukkan teknik mu. Memangnya kenapa dengan tanah yang selama ini kau injak??. " ucap Azel lagi.


" Tidak ada masalah dengan tanah nya, tapi aku merasa lebih aman seperti ini dari pada di tatap dengan tatapan membunuh seperti itu. " jawab Wais.


Azel pun melihat kearah orang-orang disana, dan memang benar sih semua orang (-Quennevia) sedang menatap nya dengan tatapan yang sangat tajam. " Uhhh.... " bahkan Azel pun merasa merinding dibuatnya.


" Paman Wais, jadi kau tidak mau mengajariku??. " tanya Quennevia.


" Hah?? Sejak kapan kau mulai memanggilku paman, biasanya juga kau memanggilku bola bulu. " sahut Wais yang akhirnya mengangkat kepalanya, dan ia pun bangun dengan sendiri nya.



" Bola bulu??. " ucap Quennevia pula sambil memiringkan kepalanya, " Jadi paman ingin kupanggil seperti itu??. " tanya Quennevia lagi.


" Bukan begitu maksud ku!. " ucap Wais pula.


Sedangkan yang lainnya, " Pfttt.... " berusaha agar tidak tertawa.


Meski mereka kesal tapi melihat Wais yang juga kesal karena Quennevia membuat mereka ingin tertawa, itu karena Wais masih saja tidak mau jujur dengan perasaan nya seperti itu.


" Si pembuatan onar tidak mau jujur, ya. " sindir Zeze.


" Hentikan, aku tidak seperti itu!. " sangkal Wais.


" Dia bilang dia tidak ingin mengajari Queen kecil kita, tapi dia yang paling antusias saat tahu dia akan kembali kesini. " ucap Aqua pula.


" Aku tidak bilang begitu!. " sangkal Wais lagi dengan agak kesal, bahkan wajahnya memerah malu saat ini.


Tapi mereka sama sekali tidak menghiraukan nya, mereka benar-benar membalas nya dengan cara seperti itu.


" Dia masih seperti anak kecil saja. " ucap Everon.


" Iya, setidaknya dia lebih baik dari pada kau. " sahut Mice.


" Kalian sudah hentikan!. " ucap Wais tambah kesal.


" Jika kau tidak mau mengajari Queen kecil, harusnya kau bilang saja. Tidak akan ada yang memaksa mu. " ucap Freea ikut bicara.


Wais yang mendengar itu semua semakin kesal dengan mereka itu, " Iya, baiklah hentikan. Aku tidak bilang tidak mau mengajari nya, kenapa kalian tidak bisa diam!. " teriaknya saking kesalnya.


****


Beberapa saat kemudian, setelah semua balasan yang dilakukan oleh para Spirit Guardian yang lain nya, Wais pun mulai mengajari Quennevia, meski tetap di awasi oleh mereka.


" Baiklah, sekarang coba panggil para hewan. " ucap Wais.


" Memanggil para hewan, hanya itu??. " sahut Quennevia.


" Iya, cobalah. " jawab Wais.


" Baiklah. Teman-teman berkumpul lah di sini!!. " teriak Quennevia.


Dan para hewan yang mendengar nya pun langsung berlari ke arahnya dan berkumpul di sana, ada cukup banyak dari mereka dan beberapa nya hinggap di tubuh Quennevia.


Sementara Wais yang mengajarinya merasa sangat tidak membantu, " Lihat, dia sama sekali tidak membutuhkan bantuan untuk melakukan nya. " ucap Wais kepada Everon dan yang lainnya.


" Ah, sudahlah. Meski begitu dia belum cukup berpengalaman. " ucap Azel, Wais hanya menatapnya datar mendengar itu.


Iya, benar juga sih. Tapi Quennevia itu tipe seseorang yang belajar dengan sekali lihat, dan ia langsung bisa melakukan nya.


" Paman Wais, paman Wais. Aku sudah memanggil mereka, lalu sekarang apa??. " tanya Quennevia dengan antusias, sambil memeluk seekor rakun.


" Hmm... bagaimana jika belajar menggunakan teknik bumi saja. " sahut Wais.


" Oke. " ucap Quennevia serius, " Eh... tapi paman tidak akan memintaku untuk tidur di tanah kan??. " tanyanya pula.


Dia bosan melakukan hal-hal aneh seperti itu, ia benar-benar berharap tidak akan melakukan nya.


" Tidak. " ucap Wais.


Mendengar jawaban itu, Quennevia langsung sangat riang. " Oh, baguslah. Karena aku sudah..... " ucap Quennevia menggantung.


" Hanya perlu mengubur dirimu di dalam tanah. " lanjut Wais pula.


Quennevia terdiam mendengar itu, rakun yang ia peluk pun sampai ia jatuhkan, nampaknya apa yang ia inginkan tidak akan pernah bisa terjadi, selama ia belum bisa melakukan apa yang bisa mereka lakukan.


******


- 1 Tahun kemudian.


Waktu berlalu dengan cepat hingga tak terasa setahun sudah berlalu sejak Quennevia datang ke sana, para Spirit Guardian juga mengajarinya dengan sangat baik. Dan hari ini.... akan bertanding bersama dengan Azel, untuk mengukur kekuatan nya yang sudah meningkat selama ini.


" Aku tidak akan segan-segan, loh. " ucap Azel dengan percaya diri.


" Kalau begitu mohon bimbingan nya. " sahut Quennevia.


Akhirnya pertandingan mereka pun dimulai, dengan perlawanan dari keduanya yang sangat sengit. Sampai Azel pun mengaku kalah dan Quennevia lah pemenangnya.


" Yuhu.. pertandingan yang sangat menyenangkan. " ucap Quennevia dengan sangat gembira.


" Bagus sekali, kau sudah jauh lebih kuat dari sebelumnya. " ucap Azel.


" Mana ada, aku masih belum sebanding dengan paman Azel. Itu karena paman masih menahan kekuatan paman bukan?. " sahut Quennevia pula.


Azel hanya tersenyum dan mengelus kepalanya, dibandingkan dengan yang lain Quennevia jauh lebih akrab dengan Azel seperti sahabat sendiri, Iya meski dengan yang lainnya pun tidak kalah akrab, sih.


Alasannya karena mereka berdua punya banyak rahasia bersama, sejak Quennevia datang Azel lah yg selalu mengajaknya bermain. Entah itu mengerjai seseorang atau mengajaknya pergi ke tempat yang menyenangkan, jadi semua itu mereka lakukan bersama. Mungkin bisa dibilang mereka lebih mirip seorang kakak dan adik, apalagi hal yang paling mereka ingat...


Adalah waktu dulu mengerjai Everon dengan memasukkan ikan kecil ke air minumnya, untung Everon tidak jadi meminumnya ketika ikan itu ada di mulutnya, mereka sampai dikejar-kejar oleh Everon sendiri yang marah.


" Kau benar-benar sudah berkembang dalam waktu yang sangat singkat. " ucap Mice yang datang ke sana bersama dengan Everon.


" Terima kasih, ini semua berkat kalian semua. Dan seperti nya paman Mice dan Everon sudah lebih akrab ya. " sahut Quennevia disaat yang sama juga menggoda mereka.


" Huh, jika bukan untuk membangkitkan Misika aku juga tidak mau dekat-dekat dengan nya. " ucap Everon cuek, padahal dia itu orang nya dekat dengan siapapun.


" Huhuhu... Masih tidak mau mengakui perasaan sendiri, itu sangat keterlaluan. Bisa-bisa semua orang benar-benar menjauhimu, atau kau mungkin akan jadi mirip seperti paman Wais." ejek Quennevia.


" Anak ini.... " geram Everon yang kesal.


" Paman Mice, Everon marah tolong aku. Hihihi.... " ucap Quennevia sambil berhambur bersembunyi dibelakang Mice.


" Huh, untung aku tidak kena kali ini. " batin Azel pula merasa lega.


Dia masih ingat waktu Everon merah dulu, dia benar-benar harus menerima hukuman darinya padahal ia tidak melakukan kesalahan. Tapi ia juga tidak mau kelinci kecilnya itu dimarahi Everon, jadi ia terima saja.


" Ya, ya. Baiklah kalian jangan bertengkar. " ucap Mice pula melerai.


" Huh. " sahut Everon membuang wajahnya dengan kesal.


" Baiklah, demi paman Mice. " sahut Quennevia.


" Nah, kalau begitu kurasa saatnya kau berlatih hal lain juga. " ucap Mice lagi.


Mendengar itu membuat mereka penasaran, rasanya semua orang bilang ia sudah selesai mempelajari semua nya. Sekarang apa lagi??


Akhirnya Mice pun membawa Quennevia ke sebauh kolam yang terpisah tak jauh dari danau, disana juga terdapat sebuah pohon besar yang jadi rumah para peri.



" Nah, sekarang masuklah ke dalam kolam itu. Ini untuk memperkuat jiwa, kekuatan dan juga mana yang kau miliki. " jelas Mice.


" Berapa lama aku akan tidur di sana??. " tanya Quennevia pula, ia sudah bisa menebaknya saat melihat kolam itu.


" Siapa yang tahu, mungkin setahun atau dua mungkin juga tiga tahun. Setelah itu kau juga akan bangun dengan sendiri nya. " sahut Mice.


" Oke, kalau begitu aku akan masuk. " ucap Quennevia sambil hendak melompat, tapi ia urungkan dan berbalik kepada Mice " Eh, tapi nanti tolong beritau kepada Yue ya. Jika tidak dia akan panik sendiri lagi nantinya. " ucapnya pula.


" Tenang saja, paman mu ini akan memberitahu nya. " sahut Mice.


Mendengar itu Quennevia mengangguk senang, lalu kemudian ia benar-benar melompati ke dalam sana. Di dalam danau itu ia merasakan kekuatan yang sangat besar mengalir ke dalam dirinya, dan kekuatan itu juga yang yang membuatnya mengantuk.


Ia pun mulai tertidur disana sambil menyerap kekuatan itu, sambil menunggu waktu untuk bisa bangun lagi. Ia berharap tidak akan lebih dari 4 tahun, jika tidak bisa-bisa ia tidak akan bisa masuk Akademi.


***