
Saat ini semua orang di kota Kekaisaran Chrysos, tengah berkerumun tak jauh dari kediaman Arkharega. Setelah kejadian ledakan yang baru saja terjadi di sana, banyak pasukan dari Istana Kaisar yang berada di sana.
Seperti nya mereka langsung bergerak ke sana sesuai perintah Kaisar untuk melihat apa yang terjadi, juga untuk mengevakuasi orang yang masih selamat. Quennevia pun juga mencoba untuk melihat apa yang terjadi di sana, namun ia malah harus berdesak-desakan dengan orang-orang yang melihat rumah nya.
" Permisi, aku mau lewat!. " ucap Quennevia kepada orang-orang itu.
Tetapi dia masih tidak bisa lewat dengan cepat jika begini, orang-orang itu hanya menghalangi jalan nya saja.
" Cih, Yue!. "
Hingga akhirnya Quennevia tidak tahan lagi dan memanggil Yue untuk membantunya, Yue yang muncul di atas nya langsung mengangkat nya naik menggunakan ekornya. Dan mereka pun langsung melewati semua orang itu, yang mana membuat mereka langsung menyadari kalau Quennevia ada di sana setelah melihat Yue.
Brugg....
Yue pun langsung menurunkan Quennevia di depan gerbang masuk kediaman, setelah prajurit Kekaisaran itu mengijinkan Quennevia untuk masuk ia pun langsung berlari diikuti Yue ke dalam sana.
" Kak Haika!, Kak Jason!, Arissa!, Paman Sven!Ace!, Ryan!, Murphy!. " teriak Quennevia di dalam sana.
Rumahnya benar-benar hancur, rumah yang Quennevia tinggali sejak kecil itu sekarang sudah berubah menjadi puing-puing.
" Dimana kalian!!. " teriak Quennevia lagi dengan air mata yang bercucuran, " Padahal baru saja bertemu, kenapa sekarang jadi begini??. " batin Quennevia pula.
" Kak... kakak.. uhuk uhuk.. " suara Arissa dari samping sana.
Ketika Quennevia menoleh memang ada adiknya di sana, ia pun bergegas menghampiri nya yang berjalan dengan langkah gontai itu.
" Arissa!. " pekik Quennevia saat Arissa hampir saja terjatuh menghantam tanah jika saja Quennevia tidak cepat menangkapnya, " Arissa, apa yang terjadi padamu?? Mengapa semuanya jadi begini, dimana yang lain??. " tanya beruntun Quennevia.
" Uhuk uhuk.. Aku baik-baik saja kak. Yang lainnya ada di sana, para prajurit sudah membawa mereka untuk dirawat. " ucap Arissa sambil menunjuk tempat yang dulunya adalah tempat latihan itu.
" Tapi.... " ucap Arissa pula menggantung kata-kata nya dengan raut wajah merasa bersalah.
Quennevia bingung kenapa dia menggantung kata-kata nya seperti itu, sampai kemudian Arissa membawa nya langsung ketempat itu.
Quennevia benar-benar tidak percaya dengan apa yang ia lihat, didepannya saat ini berbaring tak bernyawa tubuh seorang yang sangat berharga baginya, orang yang selalu menemaninya sejak ia kecil dalam suka mau pun duka, Murphy... dia sudah tiada.
Tubuhnya gemetar melihat itu, ia tidak ingin mempercayai nya tapi dia benar-benar ada di depan matanya.
" Tidak... Tidak mungkin, Murphy... " sangkal Quennevia dengan tidak percaya.
Brukk....
" Kakak!. " pekik Arissa yang terkejut melihat Quennevia tiba-tiba jatuh.
Kakinya terasa lemas sampai-sampai tidak bisa menopang tubuhnya, disaat air mata nya pun terus membanjiri pipinya.
" Tidak.... Murphy!!. " tangis Quennevia.
" Kenapa..?!! Murphy...!!
Arissa tidak tega melihat nya sedih seperti itu, tapi dia juga punya kewajiban untuk memberikan penjelasan kepada Quennevia tantang apa yang terjadi di sini sebelum nya.
" Waktu itu rumah tiba-tiba diserang orang-orang yang tidak di kenal, kak Jason dan kak Haika mencoba melindungi ku. Bagitu pula
dengan Murphy yang mencoba melindungi mereka, hingga dia menerima serangan langsung itu. Kak Jason dan kak Haika menderita luka serius, semantara aku hanya luka ringan, tetapi Murphy... nyawanya.. hiks.. tidak bisa di selamatkan.. hiks.. " ucap Arissa pula yang ikut menangis.
Quennevia benar-benar tidak percaya hal seperti ini bisa terjadi kepada nya lagi, semenjak ia diberi kehidupan kedua dia tidak pernah membayangkan hal seperti ini terjadi lagi. Namun sekarang.. yang ada di hadapan nya ini sama seperti cerita hidup nya sebagai Nevia.
Arissa dan beberapa prajurit yang melihat itu menatap iba Quennevia yang menangis keras itu, mereka juga tidak bisa melakukan apapun selain diam dan menyemangati nya.
Tak lama kemudian dari kejauhan pun, muncullah Ethan dan teman-teman nya di sana, Arissa berbalik melihat kearah mereka kemudian kembali kepada Quennevia.
Mereka menatap sekeliling dengan terkejut, orang-orang di sana banyak yang jadi korban termasuk Murphy, yang lainnya rata-rata menderita luka serius. Niu yang tidak tahan melihat hal itu pun langsung membantu paramedis untuk mengobati mereka yang terluka. Sementara sisanya mengalihkan perhatian kepada Quennevia yang tengah menangis itu.
" Bren*sek, orang-orang itu tidak bisa kita lepaskan begitu saja. " umpat Sayles pula dengan kesalnya.
" Itu benar, berani sekali mereka membuat Quennevia ku sedih seperti ini. " ucap Lilac pula yang ikutan marah melihat ini.
Sementara itu beberapa dari mereka langsung menjaga jarak Lilac yang terlihat marah itu, tidak banyak hal yang bisa membuatnya marah. Dan sekali marah dia akan seperti iblis yang tidak punya belas kasihan.
" Dia.. Dia marah!. " bisik Jino.
" Seperti nya bakal gawat. " sahut Ryohan pula.
" Sstt... diam!. " bisik Arden.
" Kak Lilac, jadi menakutkan. " ucap Meliyana pula ikut berbisik.
Sementara itu Yuki dan Ethan hanya menatap Quennevia tanpa berkata apapun lagi, disamping nya juga ada Jason dan Haika yang berbaring tak sadarkan diri. Lalu para prajurit yang terluka, termasuk Ace, Ryan dan juga paman Sven.
" Siapa sebenarnya yang bertanggung jawab??. " gumam Oscar sambil memikirkan hal itu.
" Seperti nya ini ulah kerajaan Frids. " ucap seseorang yang baru saja sampai di sana, Pangeran Mahkota Kekaisaran Chrysos, Lecht.
" Pangeran. " sahut Oscar sambil membungkukkan badannya.
" Jangan terlalu formal, disaat seperti ini hal itu tidak terlalu penting menurut ku. " ucap Lecht.
" Apa maksud anda dengan kerajaan Frids, bukankah mereka hanya Kerajaan baru yang berdiri dua tahun lalu??. " tanya Ethan pula akhirnya angkat bicara.
" Benar sekali, seperti nya mereka berniat memamerkan kekuatan mereka. " ucap seseorang pula yang tiba-tiba muncul dibelakang Lecht seperti hantu.
Orang itu bernama James, salah satu orang dari klan pembunuh yang dulu ditaklukkan Quennevia, sesuai taruhan yang dilakukan oleh Quennevia dan juga mantan pemimpin klan mereka. Setelah Quennevia menang mutlak atas pertandingan itu, mereka langsung melakukan sumpah setia kepada Kekaisaran.
" Memamerkan kekuatan?? Bukankah itu malah akan memunculkan kericuhan dan membuat kerajaan mereka terancam. Apalagi yang mereka serang itu adalah sebuah Kekaisaran. " ucap Yuki.
" Benar, mungkin alasan sebenarnya kerajaan itu dibangun pun untuk alasan itu, dengan kata lain mereka hanya ingin melakukan penyerangan yang akan membuat kita berpikir kalau itu berasal dari salah satu dari 6 Negara lain yang saling berhubungan satu sama lain. Dengan begitu perselisihan pun akan terjadi dan mereka akan mendapatkan kesempatan untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. " jelas orang bernama James itu.
" Kalau begitu, untuk apa mereka harus sampai melakukan hal merepotkan seperti itu?? Bukankah akan lebih baik jika langsung menangkap atau mencuri apa yang mereka inginkan itu??. " tanya Arissa.
" Tidak, mereka tidak bisa melakukan hal itu karena apa yang mereka inginkan dilindungi begitu ketat oleh banyak tokoh penting. " ucap seseorang yang membuat perhatian semua orang teralihkan kepada nya.
Haika, dia lah yang angkat bicara itu. Dia sudah bangun dan sekarang tenang duduk dengan santai nya dia sana, bahkan Niu yang sedang mengobati nya pun terdiam karena melihat nya tiba-tiba bangun seperti itu.
" Tu.. Tuan, anda tidak apa-apa??. " tanya Niu.
" Oh, tidak apa-apa, jangan khawatir. " sahut Haika pula sambil tersenyum seolah tidak ada yang terjadi.
" Apa maksud nya itu?? apa yang mereka inginkan itu dilindungi oleh banyak orang penting??. " tanya Arden pula.
" Benar, bisa dibilang yang mereka inginkan adalah kunci untuk mendapatkan tujuan mereka. Karena dia dilindungi oleh Kekaisaran Chrysos, klan kuno, pemimpin para spirit atau bisa di bilang peri pelindung hutan York dan para menghuni nya, 7 spirit guardian, seekor rubah berekor sembilan, Akademi Bintang Utara, dan seperti nya kalian juga ikut termasuk di dalam nya. " ucap Haika sambil melirik ke samping nya.
Mereka semua tersentak mendengar itu, dan langsung ikut melihat kearah Haika melihat.
" Jadi kalau begitu, kunci yang anda maksud itu... " ucap Meliyana menggantung.
" Quennevia. " ucap Lecht yang melanjutkan kata-kata Meliyana itu, semua orang diam tidak percaya mendengar itu sedangkan Quennevia sudah berdiri sedari tadi.
" Benar, dan tujuan mereka adalah.... " ucap Haika terpotong.
" Wanita pembawa bencana, benar bukan??. " ucap Quennevia cepat.
Membuat Haika menyipitkan matanya, " Ho... Kau sudah tahu. " sahutnya pula.
" Ha.. " ucap Quennevia tersenyum getir sambil memiringkan Kepala nya.