Quennevia

Quennevia
Kepedulian Seorang Teman



Di suatu tempat yang cukup sepi, tak jauh dari tempat Beatrice dan Quennevia bertikai tadi, Arkan membawa Beatrice kesana. Lalu dengan kasar ia menghempaskan Beatrice hingga ia menabrak dinding dengan cukup keras.


" Aw.. apa yang kau lakukan sih?!. " ucap Beatrice dengan kesal karena itu, namun...


Bukk...


Ia langsung terdiam saat Arkan tiba-tiba saja memukul dinding yang ada di samping nya itu, tatapan matanya sama sekali tidak bersahabat kepada Beatrice.


" Sudah kuduga, kau sangaja ingin memisahkan mereka bukan??. " tanya Arkan dingin.


" Ha.. apa yang kau bicarakan ini??. " tanya balik Beatrice sambil tersenyum dengan percaya diri.


" Berhenti berpura-pura, aku sudah mengawasi mu selama ini. Kau benar-benar wanita yang sangat busuk!. " ucap Arkan pula tersenyum sinis.


Beatrice yang mendengar hinaan itu pun langsung naik pitam, " Memangnya apa yang kau ketahui?!! Aku melakukan nya karena Quennevia memang tidak pantas bersama dengan Ethan. " ucap Beatrice marah.


" Jika Quennevia yang punya segalanya itu saja tidak cocok, apalagi kau yang tidak punya apapun. " sindir Arkan.


" Hentikan Permainan ini sekarang juga!! Coba saja kau lakukan apapun padaku sekarang. Setelah mendengar teriakan ku semua orang pasti akan langsung datang kemari!!. " teriak Beatrice dengan keras.


" Coba saja, jika memang ada yang bisa mendengar mu. " tantang Arkan pula.


Seketika Beatrice pun langsung menyadari nya, jika sajak awal dia tidak akan bisa meminta tolong kepada siapapun. Arkan memasang penghalang yang membuat orang tidak bisa melihat atau mendengar mereka, jadi tidak akan ada yang bisa menolong nya sekarang.


Saat Beatrice tengah memikirkan hal tersebut, Arkan dengan tiba-tiba mencengkram wajahnya dengan keras, hingga membuat Beatrice meringis kesakitan.


" Dengar ini, jika sampai terjadi sesuatu kepada Quennevia ataupun Ethan, aku yang pertama akan membunuhmu. Mengerti!. " ucap Arkan pula menyeringai dingin.


Untuk pertama kalinya dia menunjukkan sisi-Nya yang lain kepada seseorang, sisi-Nya yang tidak kenal ampun itu. Dia sudah terlanjur menganggap Quennevia dan Ethan sebagai keluarga nya yang berharga, jadi dia tidak akan membiarkan siapapun menyakiti mereka.


Setelah itu Arkan pun langsung melepaskan Beatrice dan pergi dari sana tanpa mengatakan apapun lagi, disisi lain Beatrice yang ditinggalkan pun hanya mematung di tempat nya. Ia masih ketakutan dengan tatapan dan senyuman Arkan yang seperti itu, ia tidak percaya dia orang yang biasanya selalu bersamanya saat dia ikut bermain bersama dengan teman-teman Ethan itu.


Seorang Arkan yang ia ketahui itu, konyol, mudah membuat orang tersenyum dan ceroboh, tapi ternyata selama ini dia menyembunyikan sifat aslinya itu.


**********


Disisi lain setelah Ethan pergi mengejar Quennevia dan mencari-cari keberadaan nya, Ethan sama sekali tidak menemukan nya malah kehilangan jejaknya, ia berpikir mungkin saja Quennevia menggunakan teleportasi dan langsung pergi ke menara jadi ia pun juga pergi ke sana.


Namun Ethan sama sekali tidak menyadari kalau sebenarnya Quennevia masih ada di tempat yang sama, hanya saja ia ada diluar bangunan sekolah. Quennevia tengah mencari-cari kalung yang tadi terlempar saat Beatrice mendorong nya.


Srrakk... Srrakk... Srrakk...


" Dimana.. Dimana.. Aku harus menemukan nya. " gumam Quennevia sambil terus mencari kalung itu.


Ia sudah mencari kesana kemari namun masih belum juga menemukan nya, padahal ia sudah berusaha keras. Bahkan Quennevia tidak peduli dengan sengatan cahaya matahari yang panas itu, biarpun pakai nya kotor karena debu dan tanah, bahkan sampai tangannya terluka karena duri-duri pun ia tidak peduli.


Sebelumnya ia tidak pernah menganggap sesuatu sangat penting hingga seperti itu, tapi ketika ia sudah memiliki hal penting itu.. ia malah dihadapkan dengan berbagai macam masalah.


" Kemana kalung itu sebenarnya??. " gumamnya pula pelan.


Sesaat kemudian Quennevia pun berhenti mencari saat usahanya itu sama sekali tidak membuahkan hasil, sesaat ia berpikir apa gunanya ia melakukan hal tersebut, kenapa ia sampai begitu berusaha seperti ini hanya karena kalung bisa seperti yang Beatrice ucapkan.


Tes.. Tes.. Tes...


Saat buliran-buliran bening pun kembali jatuh dari kedua kelopak matanya, hatinya terasa berat mengingat Ethan yang tidak mempercayai nya itu. Padahal setidaknya tanyakan dulu kebenarannya kepada teman-temannya yang lain, namun ia malah langsung mempercayai Beatrice begitu saja.


" Hiks.. Hiks.. Mengapa?? Padalah baru juga kemarin aku merasa begitu bahagia, mengapa semua hal baik selalu saja berlalu dengan sangat cepat?? Hiks... " batin Quennevia.


Quennevia menangis sesegukan di sana sendirian, sama sekali tidak ada satupun yang menemaninya, bahkan tidak ada satupun orang yang lewat di sana. Sama seperti dirinya yang dulu selalu saja merasa kesepian, tidak ada bedanya sama sekali.


Perhatian nya kemudian teralihkan kepada tangan seseorang yang memberikan kalung yang ia cari-cari itu, Quennevia pun mendongakkan kepalanya menatap orang itu. Ternyata dia adalah Ryohan.


" Ini.. aku menemukan nya. " ucapnya sambil tersenyum lembut kepada Quennevia.


" Um... Terimakasih. " Quennevia pun menerima kalung itu dan menghapus air matanya, ia pun bangun dibantu oleh Ryohan.


" Jangan terlalu memikirkan nya, Ethan seperti itu mungkin karena terlalu tertekan. Akhir-akhir ini kan banyak masalah yang bermunculan, kau tahu kan kalau Ethan...tidak, semua orang di sini selalu mengkhawatirkan mu. " ucap Ryohan, ia mengambil kedua tangan Quennevia dan menyembuhkan nya dengan sihir.


Meskipun Ryohan itu bukan ahli medis seperti Niu, namun ia juga tahu tentang pengobatan meski hanya sedikit. Luka-luka ditangan Quennevia pun perlahan-lahan membaik berkat Ryohan. Padahal tanpa bantuan nya pun Quennevia bisa menyembuhkan nya sendiri dengan kekuatan regenerasi nya, tapi ia berterima kasih karena Ryohan tetap peduli.


" Aku hanya tidak menyangka saja kalau dia akan membentak ku seperti itu. " ucap Quennevia pula sambil memandangi tangannya yang sudah disembuhkan oleh Ryohan itu.


" Mungkin kau harus mendengar penjelasan nya lebih dulu. " usul Ryohan pula.


" Um.. Nanti saja, aku tidak mau bertemu dengan nya dulu. Aku akan pergi ke tempat yang bisa membuatku tenang saja. " sahut Quennevia.


" Baiklah, lagipula aku juga harus kembali. Dah Queen. " ucap Ryohan pula, ia pun langsung pergi dari sana. Sama halnya dengan Quennevia.


**********


Keesokan harinya, Quennevia masih berada di tempat yang bisa menenangkan dirinya itu, rumah kaca milik tetua Kara maksud nya. Dia kesana tanpa sepengetahuan siapapun, bahkan Tetua Kara sendiri pun tidak tahu. Hingga pada saat Tetua yang datang ke sana untuk menyiram tanamannya, ia sangat terkejut melihat Quennevia ada di sana, dan bilang padahal Ethan mencari-cari keberadaan nya dengan sangat panik, namun Quennevia meminta nya untuk tidak mengatakan kepada siapapun kalau dia ada di sana sekarang.


Selama itu pula, Quennevia hanya termenung di tempat itu sambil menatap bunga-bunga, tatapan nya hanya tertuju kepada bunga bukan apa-apa lagi.


" Quennevia, apa kau tidak aku bicara dengan nya lebih dulu??. " tanya tetua Kara yang juga ada di sana, sedang menyiram beberapa tanaman-tanaman kesayangan nya itu.


" Um... Nanti. " jawab Quennevia singkat, ia tengah memperhatikan seekor kumbang kecil diatas bunga saat ini.


Entah kenapa Quennevia malas bicara saat ini, hingga ia bicara pun dengan suara pelan dan terkesan lambat mengatakan satu kata ke kata lainnya.


" Apa kau sakit hati??. " tanya tetua Kara lagi.


" Sedikit. " jawab Quennevia lagi, ia menangkap kumbang itu dan menempelkan nya ke jaring laba-laba tak jauh dari dirinya.


" Pergilah~ Bicaralah dengan nya, putuskan apa yang ingin kamu lakukan nantinya. Bukankah kau juga sudah menyiapkan kukis itu untuk permintaan maaf kepada nya?? " ucap tetua Kara.


Quennevia pun mengangguk pelan, " Iya... aku berangkat. " sahut Quennevia yang langsung pergi dari sana sambil membawa kukis yang dimaksud oleh Tetua Kara tadi.


Setelah itu Quennevia pun pergi dari sana untuk meminta maaf kepada Ethan. Dia memang sengaja membuat kukis itu semalaman hanya untuk Ethan, karena dia tahu Ethan suka kukis jadi ia terpikir hal itu untuk meminta maaf kepada Ethan.


Dirinya juga salah sih karena langsung marah kepada nya dan bilang dia bodoh hanya karena itu, itulah yang dipikirkan Quennevia. Namun tetap saja ia tidak suka dengan apa yang dilakukan oleh Beatrice dan Ethan yang malah membelanya nya.