Quennevia

Quennevia
Posisi yang tertukar



[Season 2]


Saat ini, Arkan berdiri dengan wajah dingin... sambil mengarahkan pisau ke leher orang yang sejak siang tadi terus mengawasinya dengan sabar diatas pohon. Arkan sama sekali tidak memberikan celah kepada orang itu untuk melawan, atau bahkan menoleh sedikit saja.


" Jika kau bergerak, akan ku bunuh. Jika kau bersuara, akan kusumpal mulutmu. Lebih baik jangan coba-coba melepaskan kekuatanmu atau akibatnya bisa lebih buruk dari mati. Ikuti aku keluar dari kediaman tanpa melakukan perlawanan, atau akan kuberitahu kepada semua orang bahwa kau seorang pembunuh bayaran. " ucap Arkan kepada orang itu.


Orang berjubah hitam itu sendiri terkejut dengan apa yang sedang terjadi, padahal dia yakin kalau Arkan saat ini sedang tidur dikamarnya. Namun sesaat saja ia lengah disana, dan dia sekarang ada tepat dibelakang nya.


Dia tidak punya pilihan saat ini.. selain menuruti apa yang Arkan katakan. Karena itu ia pasrah dan mengangkat kedua tangannya, dan mereka pun pergi keluar dari kediaman..


- Dihutan, tak jauh dari kediaman...


" Katakan siapa kau dan siapa yang menyuruhmu mengawasiku? " Arkan langsung saja bertanya intinya kepada orang itu.


Namun orang itu malah mengalihkan pandangan nya, kelihatan ragu untuk menjawabnya. Mungkin karena dia sangat loyal kepada pemiliknya, atau dia hanya tidak ingin identitas nya terbongkar saja. Lagipula dia pasti berpikir meski ketahuan Arkan tidak akan bisa melakukan apapun kepadanya.


Anak yang sama sekali belum terlatih tidak akan bisa menggunakan kekuatan nya dengan benar, bahkan jika itu hanya untuk membunuh seekor kucing.


Arkan tahu itu, dia masih meremehkannya. " Jawab saja pertanyaannya, atau kau ingin kusiksa dulu baru akan bicara??" ucap Arkan lagi, mulai membuat suasana nya jadi makin tegang.


Apalagi karena dia tidak menahan aura nya sama sekali, orang yang ada dihadapan nya pun sampai tersentak kaget melihat itu.


" Tuan muda, bagaimana bisa anda memiliki aura seperti ini??" ucapnya yang akhirnya buka suara juga.


" Kau tidak perlu tahu bagaimana, tapi mendengarmu memanggilku dengan sebutan seperti itu.. Artinya kau orang dari kediaman. Apa tujuanmu mengawasiku?" sahut Arkan kemudian.


Orang itu masih kelihatan ragu, tapi kali ini berbeda.. " ..Itu.. adalah perintah dari nyonya. " dia menjawab pertanyaan Arkan.


Arkan mengerutkan keningnya dengan bingung disana. " Ibuku? Untuk apa? Aku tidak perlu diawasi sampai sebegitunya karena aku juga tidak akan pergi ke manapun. " Arkan pernasaran dengan hal itu.


Sejak awal dia memang merasa ada yang salah dengan ibunya, dia biasa melihat sikapnya yang pilih kasih didunia nyata. Namun ia tidak tahu kalau sifatnya kepada Balin sampai seperti ini...


" Itu.. saya juga tidak tahu. Tapi... Nyonya bilang kalau saya harus memastikan agar anda tidak diam-diam pergi menemui Tuan Balin. " jawabnya.


Arkan semakin menyipitkan matanya mendengar itu, semuanya yang terjadi berhubungan dengan Balin. Atau mungkin... dia didunia nyata.


---


Dan esok paginya, sama seperti sebelum nya. Ketika ia terbangun dia langsung dibantu oleh para pelayan untuk bersiap. Dia menghadiri kelas yang tidak pernah ia terima dan mempelajari berbagai hal. Dan jujur saja.. meski dia tidur, Arkan sama sekali tidak merasa kalau dia telah tidur. Mungkin itu adalah salah satu keunikan ilusi yang diberikan pohon kehidupan.


Saat siang hari setelah kelas selesai. Arkan hanya berjalan-jalan tanpa arah di kediaman, meski begitu pikirannya terbang jauh dari kepalanya saat ini. Banyak hal yang terjadi, banyak hal yang baru ia rasakan termasuk kasih sayang ibunya, namun ia sama sekali tidak bahagia karena itu tidaklah nyata.


Dan juga, ia mengkhawatirkan Balin...


" Jadi memang benar kalau posisiku dengan Balin tertukar. Apa ya pentunjuknya, kalau tidak salah.. 'Disaat kasih sayang menujukan jalan yang salah, maka keteguhan akan membawamu kepuncak.'.. Apa maksudnya??" batin Arkan.


Sekeras apapun dia berpikir, Arkan tetap tidak bisa menemukan jawabannya sendiri. Namun ia menduga kalau itu ada hubungannya dengan kasih sayang yang diberikan ibunya kepada nya dan Balin. Atau kenyataan dibalik semua tragedi dikeluarga nya...


" Aku ingin tahu apa yang ibu pikirkan selama ini?? Apa yang ia rencanakan??"


Ngomong-ngomong tentang ibunya, ia tidak terlalu khawatir soal pria berjubah yang ia temukan kemarin. Dia memang tidak membunuhnya tapi...


**_- Flashback..


" Dengar, aku ingin kau menganggap kalau ini tidak pernah terjadi, dan juga... jangan beritahu ibu apapun yang kulakukan. " ucap Arkan kepada pria itu.


" Ta-Tapi... jika saya tidak menjalankan perintah, beliau pasti akan menghukum saya!." sahut pria itu kemudian.


Arkan tahu itu, " Makanya kau tidak perlu mengatakan apapun, kepada ibu. Bilang saja, kalau aku melakukan hal yang biasa kulakukan, dan aku juga tidak akan memberitahu ibu kalau kau mengatakan perintahnya. " ucap nya pula.


Dan orang itu hanya terpaku mendengar itu, " Ja-jadi, maksud anda saya harus berbohong kepada nyonya??" ucapnya memastikan perkataan Arkan.


Sedangkan Arkan yang mendengar itu hanya mengangguk sambil tersenyum, " Kau tidak perlu khawatir akan dapat masalah. Kau hanya harus datang kepada kakek dan katakan apa yang dikatakan ibu kepadamu. Otoritas kekuasaan terbesar diklan adalah kakek, jika kau mendapat kepercayaannya, maka kau akan baik-baik saja. " jelasnya panjang lebar.


Orang itu berpikir sebentar, apa yang dikatakan Arkan kepadanya memang benar. Bahkan jika itu adalah Leana, dia tidak akan bisa melawan pemimpin klan.


" Baiklah, saya akan melakukan nya. " jawab orang itu akhirnya.


" Pilihan bagus. " ucap Arkan, saat kemudian ia mengangkat tangannya. Memasang sebuah mantra yang mengikat dirinya dan orang itu.


" Tuan muda, apa ini??" tanya nya yang bingung melihat itu.


" Jangan khawatir, ini hanya untuk memastikan kau benar-benar tidak mengatakan apapun kepada ibu. Ini tidak akan membahayakan nyawamu, kok. Ayo kita kembali, hari sudah malam dan aku lelah. " ucap Arkan yang kemudian berbalik pergi lebih dulu dari sana.


Sementara orang itu, dia masih tetap diam di tempat nya. Menatap Arkan yang semakin jauh dari pandangan matanya.


Dia merasakannya, Arkan berbeda. Dia terasa seperti menjadi orang lain setelah jatuh ke danau itu. Begitu tegas, begitu berwibawa, dia bahkan cepat tanggap dalam menyadari keadaan.


" Apa dia benar-benar Tuan Arkan??" batin orang itu.


Benar-benar perubahan yang sangat mengerikan...


**_- Flashback off..


Yah, kira-kira seperti itulah kejadian dimalam itu. Arkan tidak bermaksud menakut-nakuti orang itu, tapi dia perlu untuk mengetahui apa yang sedang terjadi dikediaman ini saat ini. Orang-orang memang memperhatikan nya dengan baik, akan tetapi... dia selalu merasa diawasi.


Bahkan saat ini... Dua orang pelayan yang sedari tadi mengikutinya, dia tahu kalau mereka terus memperhatikan apa yang ia lakukan, bahkan sampai hal-hal kecil. Ia benci hal ini.


" Bagaimana cara menyingkirkan kedua orang ini?? Aku tidak punya alasan sekarang. Bahkan meski aku bilang aku ingin sendiri, mereka tidak akan pergi jauh. " batinnya sambil sedikit melirik para pelayan itu dari sudut matanya.


Saat kemudian, sebuah suara mengalihkan perhatiannya ke tempat lain...