Quennevia

Quennevia
Bergerak..



{- 10 hari sebelum perang penentuan.}


Semua orang yang telah terpilih saat ini berkumpul diakademi, bersama dengan para siswa dan sukarelawan lain dari berbagi tempat. Memang tidak semuanya berkumpul disana, terlebih bagi mereka yang telah terlebih dahulu berangkat ke medan perang dan mereka yang mendapatkan tugas perlindungan dimarkas-markas sementara yang telah didirikan sejak beberapa hari yang lalu.


Semua orang terlihat telah siap, dengan senjata zirah dan semua perlengkapan yang mereka butuhkan dalam perang ini. Semua orang juga telah hadir, bahkan para pemimpin yang akan pasukan ini ke medan parang telah berjejer disisi yang dapat dilihat dengan jelas oleh semua orang yang ada disana.


Mereka sekarang hanya perlu menunggu, perintah langsung yang akan diberikan untuk maju hari ini.


Dan tak membuat mereka lebih lama lagi menunggu, akhirnya waktunya pun tiba.


Semua orang langsung berdiri dengan tegak dan dalam posisi bersiap ketika mereka melihat Quennevia, Ethan dan para tetua dari Akademi ini datang dan berkumpul diatas podium.


Saat itulah, kepala Akademi yang menjadi pemimpin ditempat ini pun maju ke depan dan mengatakan sesuatu untuk pertama kalinya dihadapan semua orang...


" Semuanya, tolong dengarkan. Seperti yang telah kalian semua tahu, saat ini kita akan melakukan peperangan melawan musuh besar kita semua. Aku tidak akan mengatakan sesuatu yang panjang dan membosankan, dan menyita waktu kalian yang berharga dengan sia-sia. Aku hanya ingin mengatakan satu hal, kepada semua orang yang ada disini, kepada semua murid-murid akademi yang aku sayangi. ...Aku harap kalian dapat kembali dan membawa kemenangan bagi kita, kembalilah dengan selamat." ucap kepala Akademi.


Ia terlihat menjeda sebentar kata-kata, hanya untuk menghela nafas dan mengatur perasaannya yang campur aduk saat ini. Saat-saat yang menentukan dan menegangkan bagi nasib seluruh benua akan segera terjadi...


Dan hal tersebut tidak bisa dibendung, layaknya perasaan cemas dan gelisah yang dirasakan semua orang saat ini. Sebagai orang yang menganggap semua anak-anak didiknya adalah anaknya sendiri, tentu saja dia khawatir. Dia selalu berharap yang terbaik untuk keselamatan dan hidup mereka.


Karena itu, membicarakan perasaan seorang ayah. Dia sebenarnya sedikit tidak rela, namun juga bangga ketika murid-murid nya memutuskan untuk melangkah ke garis depan...tapi dia hanya bisa berdoa untuk keselamatan mereka berulang kali, dan berharap semuanya akan selamat.


" Aku tahu seperti apa perasaan resah kalian sekarang, aku tahu ketakutan yang kalian rasakan dalam hitungan hari ketika waktu yang telah ditentukan semakin dekat. Ketika semua orang dilanda ketakutan dan merasa tak berdaya, semuanya terjebak dalam keputusasaan."


Suara orang tua itu menggema dalam keheningan, ketika semua orang terdiam dan hanya berfokus kepada dirinya yang berbicara didepan sana. Bahkan meskipun terkadang suara juga terpecah dan bergetar, kepala Akademi tetap berusaha sebisa mungkin untuk tetap terlihat tegar dan tenang. Dalam pidatonya ia pun berkata...


" ....Namun meski begitu, akan selalu ada orang-orang yang berani, yang melangkahkan kaki mereka ke garis depan dan melakukan apa yang mereka bisa untuk mengembalikan cahaya dalam kegelapan. Kita tidak bisa membiarkan kejahatan dengan leluasa menjajah tanah yang kita cintai ini. Kita tidak bisa membiarkan mereka berbuat semau mereka!! Kita tidak bisa hanya menatap kebengisan, ketika jasad-jasad orang tercinta kita dipermainkan layaknya boneka.


Aku percaya kepada harapan yang kalian genggap dan teruskan kepada semua orang, aku percaya keberanian kalian akan membimbing kita semua ke jalan yang terang. Dan membawa kemenangan kepada kita!."


Perkataanya yang sederhana itu berhasil membuat api semangat dimata mereka berkobar dan semakin berkobar, memberikan keyakinan dan tekad yang kuat kepada hati setiap orang yang ada disana.


Quennevia melihat itu dengan sangat jelas, semangat mereka yang bersinar terang seperti bintang-bintang...


"...Anak-anakku terkasih, dalam perang ini, bersama dengan kalian semua, aku juga akan berjuang sekeras mungkin. Berjuang demi mengalahkan musuh dan meraih apa yang berhak kita dapatkan. Jangan menyerah! Jangan putus asa! Demi mewujudkan harapan dewi yang mencintai kita semua, demi mewujudkan wahyu yang diturunkannya kepada kita. Kita tidak akan kalah disini! Kita tidak akan kalah melawan klan Retia!


Kejahatan pasti akan kalah! Dan apa yang dikehendaki Dewi akan terpenuhi!."


" Kita tidak akan kalah!! Pasti menang!"


" Yyaa! Pasti menang!"


" Demi nama sang Dewi!"


" Pasti menang!!"


Semua cahaya itu sangat indah.


Berkilau, berkedip, menunjukan betapa kuat nya mereka meskipun mereka kecil. Mereka menggemakan tekad mereka yang kuat bersama dan menyatukan suara mereka.


Setelah pidato kepala Akademi yang nyulut semangat tempur semua orang itu, Ethan pun langsung mengambil alih situasinya...


" Semua kelompok bergerak dalam dua susunan, pergi ke lima arah mengikuti pemimpin kalian yang telah ditentukan dan bergabung dengan pasukan yang telah dikerahkan dari sekutu kita!! Ikuti strategi dan kita akan bertemu kembali diperbatasan pegunungan hitam untuk melenyapkan klan Retia!! Peperangan ini telah dimulai!." ucapnya dengan lantang dan tegas kepada semua orang yang ada disana.


" Baik!." dan mereka pun menjawabnya dengan serempak.


" Semuanya... Menanglah. ***** habis musuh yang ada dihadapan kalian!!."


" Yyaaa!!."


Sorak sorai mereka terdengar begitu riuh, disaat yang sama ketika gerbang yang melindungi Akademi pun perlahan turun. Dan semua orang langsung bergerak berdasarkan kelompok, seperti yang telah dikatakan Ethan sebelumnya.


Semuanya bergerak dengan semangat yang berapi-api, tidak terkecuali Oscar dan yang lainnya.


" Hahaha! Ayo, ayo, ayo! Kita hajar wajah klan Retia sampai babak belur!!." dikelompok 3, Arkan jadi yang memimpin pergerakan dipaling depan dengan sangat menggebu-gebu meskipun dia bukanlah ketua dari pasukan ini.


" Heeh, Arkan. Kau sangat antusias sekali, ya. Sepertinya kau sangat dongkol dengan mereka selama ini." disusul oleh Jino, sang ketua yang justru terlihat lebih santai dibelakang nya.


" Yah, kalau itu dia. Aku tidak ragu lagi." dan hal tersebut ditimpali Kian yang ada disampingnya.


Sementara itu, dikelompok 1 sendiri.


Niu berlari bersama pasukannya, dan dia membawa...


" Huwaa..! Apa aku benar-benar harus ikut?!! Aku akan bisa jadi pasukan medis dengan kemamuanku! Kenapa aku juga malah ikut ke garis depan??" Meliyana yang terus mengeluh, meskipun kedua kakinya tetap berlari mengikuti Niu bersama dengan pasukan yang lainnya.


Sampai-sampai Niu yang melihat tingkahnya itu pun menatapnya bingung, " Meliyana. Apa yang kau katakan dan lakukan itu sangat tidak konsisten, dan bisakah kau kurangi keluhan berisik itu?? Ini perintah ketua." ucapnya.


" Ahahaha..! Meliyana tetap saja lucu, bahkan saat dia panik sendiri ya." sementara itu Sayles sepertinya senang karena melihat bagaimana adegan lucu itu berjalan mengikuti dan menjadi hiburan untuk mengurangi ketegangan pasukan.


Tapi... Entah kenapa Niu merasa kalau jalan pikirannya agak menyeramkan. Kadang-kadang Sayles mengingatkan Niu kepada bajingan mesum yang menganggu yang ia kenal dari klan Retia.


Kelompok pasukan ke 2, jauh lebih serius.


Oscar yang tergabung ke sana hampir merasa seperti tercekik saat ini, dia tidak bisa memahami suasana ketika ia harus tergabung dengan Lilac dan juga Yuki ditempat yang sama.


Dia ingin mengatakan sesuatu, tapi ia justru khawatir kalau itu malah akan memperburuk semuanya. Tidak ada yang bicara satu sama lain diantara mereka, dan ketegangan ini bukan hanya membuatnya tertekan, tapi beberapa orang dibelakang nya juga merasakan hal yang sama.


" Haha... Niu, aku merindukanmu." Oscar sekarang merasa seperti baru saja terlempar ke tempat yang tak bisa ia atasi.


Di kelompok pasukan ke 4, Arden dan Kai ada disana untuk memimpin pergerakan.


Dan untuk pasukan terakhir, Sakura bergarak bersama dan menjadi koordinator utama bagi seluruh pasukan dan terhubung dengan mereka semua.


Sementara itu, dua orang masih ada diakademi saat ini...


Quennevia dan Ethan.


Mereka belum bergerak dan hanya terdiam diatas dinding pembatas akademi sambil memperhatikan kepergian pasukan bersama teman-temannya lebih dulu. Ini akan menjadi penentuan bagi mereka...


Hal yang telah lama dinantikan.


" Semuanya berjalan sesuai rencana, jika hal buruk terjadi kita mungkin harus mengungkap kebenaran dihadapan semua orang. Karena Seretia masih belum mengetahui bahwa Dewi Tengah dan Dewa Matahari telah turun langsung ke dunia saat ini." ucap Quennevia memecah keheningan diantara mereka saat itu.


Dan Ethan yang mendengar nya pun menimpali, " Aku yakin itu tidak perlu. Mereka akan membantu kita, dan mereka sudah cukup. Apa tidak yakin dengan itu??" tanyanya kemudian.


Yang dibalas gelengan kepalanya oleh Quennevia;


" Bukan. Bukannya aku tidak percaya, tapi aku khawatir."


" Soal apa?"


" Soal benda itu. Satu dari 'benda itu' telah muncul dan ada ditangan klan Retia, itulah yang dikatakan ibu padaku sebelumnya."


" Tunggu, jangan bilang...."


Ethan terlihat sangat terkejut mendengar itu, dia belum mengetahuinya. Lebih mengejutkan dia juga tidak merasakan energi apapun tentang hal itu sama sekali. Dan itu sangat membingungkan...


" Apa yang muncul itu...??" tanyanya kemudian memastikan hal tersebut.


" Ibu bilang warnanya hijau seperti lumut. Jadi kurasa itu Korupsi."


" Jadi begitu, sekarang semuanya terasa masuk akal."


Jika itu memang benar, Ethan rasa itu memang mungkin saja. Kekuatan 'benda itu' tersamarkan dengan keberadaan Seretia didunia saat ini, jadi wajar jika dia tidak menyadarinya. Tentu saja, itu memang hal yang merepotkan jika sampai muncul ke permukaan.


" .... Jadi kau berpikir kalau kita harus mengungkapkan identitas asli kita kepada semua orang nantinya?" tanya Ethan lagi kepada Quennevia.


" Tergantung situasinya." dan begitulah jawaban Quennevia atas pertanyaannya. " Semuanya tergantung siapa yang memakai benda itu. Jika dia menemukan tubuh dengan kecocokan yang tinggi, maka kita mungkin harus melakukan nya. Tapi jika tidak, maka seseorang mungkin bisa mengatasinya. Setidaknya yang pasti, Seretia tidak akan bisa menggunakan benda itu. Jadi kita bisa sedikit tenang."


" Aku mengerti."


Keheningan kembali diantara mereka untuk beberapa saat, disaat yang sama angin berhembus. Quennevia pun menatap kearah langit sana...


Dan ia melihat sesuatu. Seekor burung elang coklat tepatnya, terbang tepat diatas kepalanya.


Quennevia melihat kalau elang itu mengenakan kalung berwarna keperakan dilehernya, dan ia tahu artinya. Azel memberikan tanda kalau pasukan spirit telah bergerak.


".... Sepertinya ini sudah waktunya kita bergerak." ucapnya kemudian setelah melihat itu.


" Iya, mari pergi." jawab Ethan sebelum sesaat kemudian mereka menghilang dari sana.