Quennevia

Quennevia
Kembali ke Akademi



Satu bulan kemudian, hari ini adalah hari terakhir Quennevia dan yang lainnya di Chrysos. Waktunya pelajaran baru di Akademi di mulai, dan semua murid harus berkumpul kembali di sana.


Kali ini Quennevia dan yang lainnya tidak akan pergi menggunakan spirit animal mereka, namun langsung teleportasi oleh Quennevia. Alasan nya adalah untuk menghindari para klan Retia yang katanya sudah mulai menyebar di mana-mana.


" Baiklah, kalau begitu kami akan berangkat dulu paman, kak. " ucap Quennevia kepada paman kaisar nya dan juga Lecht.


Arissa, Jason, paman Sven, Ace dan Ryan pun juga ada di sana. Mengantarkan keberangkatan nya meskipun hanya di halaman istana.


" Jaga dirimu di luar sana, ya. " ucap sang Kaisar.


" Iya, sampai jumpa semuanya. " sahut Quennevia sambil melambaikan tangannya kepada mereka semua.


Ia pun masuk ke dalam sebuah lingkaran sihir besar yang di buatnya disana dan lingkaran sihir itu pun mulai bercahaya, disaat yang sama mereka pun mulai memudar dari hadapan semua orang.


" Dah, Quennevia. " ucap Lecht.


" Kakak!! Jangan lupa datang lagi ya!. " teriak Arissa.


" Sampai jumpa Tuan Putri!!. " bahkan Ace pun sampai ikut berteriak.


Quennevia yang mendengar nya menoleh kearah mereka dan tersenyum, ia hanya menganggukkan kepalanya dan kemudian benar-benar pergi dari sana.


***


Disisi lainnya, ketika Quennevia dan yang lainnya sampai di Akademi, mereka sampai tepat di depan gerbang masuk Akademi. Beberapa siswa yang melihat kemunculan mereka itu terdiam dan terpesona, bukan karena apa.... namun karena wajah para idola di Akademi itu yang akhirnya kembali setelah sebulan tidak terlihat!


Namun Quennevia dan yang lainnya tidak terlalu mempedulikan mereka dan langsung saja masuk ke dalam setelah melakukan pemeriksaan di pintu gerbang.


" Quennevia, apa kau akan langsung pergi ke asrama??. " tanya Ethan.


" Hm... Tidak, mungkin aku akan pergi ke tempat para tetua terlebih dahulu. Kau mau ikut??. " tanya balik Quennevia.


" Boleh. " jawab Ethan dengan senyum manisnya.


" Ekhem... Ekhem... "


Mendengar itu membuat mereka langsung menoleh kebelakang, dan melihat teman-teman mereka yang juga ikut senyum-senyum sendiri di sana, membuat mereka jadi heran. Berbeda dengan Kian dan Lilac yang langsung pergi dari sana tanpa mengatakan apapun setelah berpamitan kepada Quennevia.


" Ya ampun, Pangeran Ethan kau tidak perlu khawatir. Quennevia mu tidak akan pergi ke mana-mana. " ucap Meliyana menggoda Ethan dan Quennevia.


" Huh?? A.. apa maksud mu Meliyana??. " tanya Quennevia dengan wajah yang agak merona.


" Pffttt... Kau segitunya tidak mau berpisah dengan nya, sampai kapan kau mau memegang tangannya seperti itu??. " tanya Arden pula ikut menggoda nya.


Quennevia dan Ethan pun langsung melihat kearah tangan mereka, memang benar jika keduanya sedang saling bergandengan. Menyadari hal itu terkejut sendiri dengan wajah yang merona merah.


" Ti.. Tidak, bukan seperti itu. " ucap Ethan mencoba mengalihkan pembicaraan.


" Oh, ayolah. Beberapa waktu belakang kalian sangat dekat, mungkin kah hubungan kalian sudah maju??. " ucap Niu sambil menaik turunkan alisnya.


" Fufu... kalian sudah sampai tahap mana??. " tanya Jino pula.


" Kalian, tolong berhenti mengatakan hal itu. " ucap Ethan tersenyum kikuk.


" Oh, aku benar juga. Oscar, kau ingat waktu kita mencari Ethan beberapa minggu yang lalu, saat itu dia ada di atas pohon. " ucap Arkan pula dengan semangatnya.


Oscar yang juga ingat pun menganggukkan kepalanya, " Iya, aku ingat itu. " jawabnya.


" Memangnya ada apa dengan dia yang ada di atas pohon??. " tanya Yuki yang diangguki oleh Meliyana penasaran.


" Apa ada sesuatu yang terjadi di atas pohon??. " Sayles pula ikut bertanya.


Sementara Quennevia dan Ethan, kedua jadi gugup karena mendengar apa yang dikatakan oleh Arkan. Mungkinkah dia melihat kejadian itu??.


" Hihihi... waktu aku mencari-cari Ethan, ternyata dia ada di atas pohon bersama Quennevia. Tadinya kupikir mereka sedang mengobrol santai, tapi Quennevia langsung menghilang ketika aku mendekati mereka. Biar ketebak, waktu itu kalian sedang ber...... " belum sempat Arkan menyelesaikan uacapan nya namun sudah disela oleh Quennevia.


Yue yang mendengar itu langsung melompat keluar dari balik rambut Quennevia, dan menggigit hidung Arkan. Yang digigit sendiri hanya bisa menjerit-jerit kesakitan karena nya.


" Akhh... Quennevia!! Kau kejam sekali padaku!!. " teriak Arkan yang sama sekali tidak di dengarkan oleh Quennevia.


Ia malah langsung menarik tengah Ethan pergi dari sana, meninggalkan Arkan yang malang itu masih dengan hidung nya yang digigit oleh Yue. Disisi lain teman-teman nya yang lain hanya menertawakan apa yang terjadi kepada Arkan, bahkan Arden dan Sayles sampai tertawa terbahak-bahak karena nya.


" Hahaha... Oh, iya. Aku kan mau bertanya kepada Quennevia tadi, ah gara-gara kalian aku jadi lupa. " ucap Meliyana dengan sangat sedih.


" Apa??. " tanya yang lainnya secara serempak, begitu pula dengan Arkan yang ikut setelah bersusah payah membuat Yue melepaskan hidung nya.


" Mm... Aku ingin menayangkan kemana pengawal Quennevia sebelumnya >< " ucap Meliyana.


" Pengawal yang mana??. " tanya Ryohan.


" Ace?? Ryan?? atau yang mana??. " tanya Oscar dengan sebelah alis terangkat.


" Ih... Bukan, tapi seseorang bersama Kai. Quennevia membawanya ke pertemuan para Raja sebelumnya dan orang itu tidak pernah terlihat lagi hingga saat kita pergi ke Chrysos. " ucap Meliyana malu-malu.


" Kai??. " ucap Niu dan Oscar pula bersamaan.


Mereka saling pendang satu sama lain, namun kemudian tiba-tiba saja mereka tertawa membuat yang lainnya jadi bingung dengan alasan kenapa mereka tiba-tiba tertawa seperti itu.


" Kalian kenapa?? kerasukan ya??. " tanya Jino.


" Pftt.. hahah... tidak, hanya saja... kau benar-benar tidak tahu Meliyana??. " tanya Niu disela tawanya.


" Tau apa??. " tanya balik Meliyana dengan wajah bingung nya.


" Hahahah.... Padahal kita selalu bertemu dengan nya, apakah kau tidak menyadari nya sama sekali??. " ucap Oscar pula.


Meliyana hanya menatap mereka tidak mengerti, sama halnya dengan yang lain karena belum tahu siapa itu Kai. Sampai mereka mendengar suara seseorang pula dari belakang mereka.


" Niu, Oscar. Kenapa kalian masih di luar??. " tanya Orang itu, yang langsung membuat mereka semua menoleh kearahnya.


" Ah, Hai Kai. Bagaimana pekerjaan baru mu ini, apalagi ditinggal satu bulan oleh kami??. " tanya Oscar kepada orang itu.


" Apa sih, tiba-tiba kau bicara seperti itu??. " tanya balik Kai.


Iya, dia adalah Kai yang sedang dibicarakan oleh mereka, membuat mereka terkejut mendengar percakapan mereka itu. Terutama Meliyana yang sama sekali tidak menyadari kalau ternyata... Kai selama ini bekerja di Akademi dimana ia berlajar.


Kai bekerja di sana sudah sejak beberapa bulan yang lalu, sebelum Quennevia dan yang lainnya berlibur ke Chrysos. Tiba-tiba ada sebuah surat yang datang ke kediaman Arkharega, yang ternyata adalah surat dari Quennevia.


Dalam surat itu Quennevia menanyakan kabar keluarga nya itu, termasuk meminta agar Kai dikirim untuk bekerja di Akademi sekalian membantu Quennevia dalam beberapa hal. Dan dengan izin dari kepala Akademi dan para tetua Kai pun diterima di sana dengan sangat baik, apalagi dengan kemampuan bertarung nya yang bagus itu.


" Hehehe... tidak apa-apa, ngomong-ngomong apa kau sudah bertemu dengan putri Meliyana lagi??. " ucap Niu yang langsung mendorong Meliyana kedepan sana.


" Ehh??. " ucap Meliyana yang terdorong itu, dia jadi salah tingkah karena berhadapan dengan Kai di depannya sekarang. " Ha.. Halo, senang bertemu dengan mu lagi. " ucap Meliyana dengan gugup.


" Ah, Tuan Putri Meliyana. Sebuah kehormatan bisa bertemu dengan anda lagi, bagaimana keadaan anda saat ini??. " tanya Kai sambil tersenyum kepada Meliyana.


Meliyana yang melihat senyuman itu seketika langsung merona, jantungnya berdetak sangat kencang hanya karena sebuah senyuman manis.


" Astaga, dia sangat tampan. " batin Meliyana.


Sementara dibelakang sana teman-teman nya kembali senyum-senyum sendiri melihat apa yang terjadi diantara mereka.


" A... Aku baik-baik saja, kok. " jawab Meliyana.


" Begitukah, Syukurlah. Kalau begitu mari ikuti aku, para siswa yang sudah kembali sekarang dikumpulkan di aula penyambutan. " ajak Kai kepada mereka.


Kai berjalan di depan mereka untuk menunjuk kan jalan, diikuti oleh Meliyana yang masih terpaku dengan wajah tampan Kai. Sementara yang lainnya di belakang sana merencanakan sebuah hal untuk keduanya, mungkin mereka akan bekerja untuk menyatukan mereka, apalagi seperti nya Meliyana sangat menyukai Kai.