Quennevia

Quennevia
Ethan terluka parah!!



Sesuai apa yang dikatakan oleh Ethan, Quennevia pun pergi ke taman untuk menunggu nya, dibawah sebuah pohon ia duduk di kursi yang ada di sana.


" Kira-kira kapan dia datang, ya. " batin Quennevia dengan tidak sabar. Ia penasaran apa yg akan di katakan Ethan nantinya.


*****


Sementara itu di arena, Ethan tengah menunggu giliran nya untuk bertanding. Pertarungan hari ini lebih sengit dari sebelumnya, apalagi hari ini semakin sedikit orang nya, semakin kuat lawan nya pula.


" He... Pertarungan nya jadi sangat menegangkan, ya. " ucap Oscar.


" Iya, diantara murid baru saat ini hanya beberapa orang saja yang tersisa, sedangkan para senior masih punya banyak sekali anggota. " sahut Niu.


" Aku tidak tahu dengan kalian, tapi aku ingin menantang salah satu senior itu. " ucap Ethan.


" Siapa?? " tanya mereka.


" Dia, si pria musim dingin itu. Kudengar dia sangat kuat. " jawab Ethan sambil melirik orang itu.



Orang yang dimaksud oleh Ethan itu adalah senior rank 1 di antara murid senior lainnya, namanya Kian. Sepertinya ia ingin menguji kekuatan nya dengan orang yang lebih kuat dari dirinya, dia bahkan sampai berharap seperti itu.


" Kudengar dia tidak ikut karena cidera. " ucap Yuki yang ada di belakang mereka bertiga bersama dengan Meliyana.


" Iya, sih. Tapi masih ada banyak orang kuat di antara para senior. " sahut Ethan.


" Kau percaya diri sekali, bagaimana jika kau terluka saat bertarung. " ucap Meliyana.


" Tenang saja, terluka saat bertarung itu hal wajar. Aku hanya berharap bisa memenuhi janji yang aku buat setelah ini. " jawab Ethan.


Dia benar-benar orang yang tidak perdulian kepada dirinya sendiri seperti itu ya, dia sama sekali tidak khawatir kalau dia akan terluka parah karena para senior yang kuat itu. Padahal jika bisa masuk 10 besar saja itu sudah bagus.


Beberapa saat kemudian giliran nya pun tiba, Ethan sudah masuk ke arena pertandingan untuk melawan lawannya. Kali ini orang yang ia lawan itu adalah seorang senior pengendali api, dia orang yang blak-blakan kalau bicara, namanya Jino.



" Halo, Senior. Mohon bantuannya. " ucap Ethan dgn percaya diri.


" Ahahaha... Aku selalu ingin bertarung dengan mu sejak pertama kali bertemu. " ucap senior bernama Jino itu.


" Oh, aku tersanjung. " sahut Ethan.


Dan mereka pun memulai pertandingan mereka, Jino menyerang dengan sangat sengit begitu juga dengan Ethan. Bahkan bisa dibilang kalau kekuatan nya seimbang saat ini, padahal Jino masih belum mengerahkan semua kekuatan nya.


" Tidak buruk juga. " ucap Jino.


" Kau hebat sekali, senior. " puji Ethan.


Mereka terus dan terus saling menyerang satu sama lain, Ethan sampai terdorong dengan luka yang cukup serius karena serangan Jino padanya.


" Uhukk.... "


" Bagaimana?? Menyerah saja, kau sudah terluka cukup parah. " ucap Jino.


" Tidak, tolong teruskan senior. " sahut Ethan dengan serius, dan semangat yang tidak ada habisnya.


Jino yang melihat nya sangat kagum dengan kegigihan yang dimiliki Ethan, " Oke, kalau begitu serang. " ucapnya pula.


Ethan menarik nafas dalam saat hendak menyerang, ia mengumpulkan mana untuk menggunakan kekuatan lain yang ia memiliki. Kekuatan yang ia dapat dari ibunya, kekuatan yang hampir sama dengan yang dimiliki oleh Quennevia.


Ethan pun juga mulai berubah seiring kekuatan yang ia gunakan meningkat, rambut pirang dan mata emas nya berubah menjadi ungu pekat.



Seketika udara di sana terasa begitu menekan, dan energi gelap yang sangat besar tiba-tiba muncul di sekitar Ethan. Membuat beberapa orang jadi merinding melihat nya. Bahkan juri dan para guru termasuk kepala Akademi pun juga terkejut karena kekuatan nya bisa sebesar itu.


" Ini... Kekuatan darah 'iblis darah' murni, tepi seperti nya dia belum bisa mengendalikan nya. " ucap salah satu guru.


" Hm... Aku dengar ibunya adalah bangsawan iblis darah, dan ia memiliki darah milik iblis murni. " gumam Kepala Akademi.


Di arena pun Jino terkejut melihat nya yang berubah, ia pun mulai bersiaga dengan kekuatan penuhnya sekarang.


" Jadi inilah kau yang sebenarnya. " ucap Jino.


" Justru itu yang aku khawatirkan. " ucap Jino pula menimpali.


" Kalau begitu bersiap, Senior. Aku datang. " ucap Ethan pula sambil melesat kearah Jino.


Serangan jarak dekat yang dilancarkan oleh Ethan, membuat Jino tidak bisa menggunakan serangan lain untuk melawan nya, hingga ia harus bertahan dari serangan itu.


Boomm....


Ledakan terjadi karena serangan Ethan yang bertubrukan dengan pertahanan Jino, saat debu di arena itu menghilang yang terlibat pertama adalah Ethan yang sudah terkapar di arena dan tidak bisa bergerak.


" Kau benar-benar... Hebat, senior. " ucap Ethan dengan sisa tenaganya hingga akhirnya hilang kesadaran di sana.


Sementara itu Jino, masih berdiri di sana sambil memegang sebuah perisai di tangannya, perisai itulah yang melindungi nya dan membalikkan serangan yang diberikan Ethan pada Ethan sendiri. Meski begitu bukan berarti ia tidak terluka karena serangan itu.


" Serangan yang kuat sekali. " batin Jino yang melihat luka yang ia terima, " Cih. Hei, cepat tolong dia. " ucapnya pula sambil berlari kearah Ethan, dengan panik.


Beberapa orang termasuk Oscar dan Niu yang berusaha memberikan pertolongan pertama pun juga ikut berlari kearah Ethan, menyusul Jino yang hendak membantunya. Mereka membawa Ethan kekamar nya untuk mendapatkan pengobatan, sedangkan pertandingan diumumkan pemenangnya adalah Jino.


******


Sementara Ethan mendapat pengobatan untuk luka nya, Quennevia terus menunggunya di taman. Bahkan saat hari berganti malam pun ia masih setia di teman itu, sambil duduk dengan wajah murung.


" Dingin... Dingin sekali, dimana dia?? Bukankah dia bilang akan datang, atau... Mungkinkah dia mempermainkan ku lagi. " batin Quennevia sambil menangis dalam diam.


Ia meremas pakaian nya, Quennevia merasa sangat kesal, tapi juga sedih. Saat sebuah kemungkinan lain yang muncul di Kepala nya..


" Ataukah mungkin... Dia terluka. " batin Quennevia pula dengan sangat khawatir.


Ia pun langsung berdiri dari duduknya dan menghilang dari sana.


- Di kamar Asrama Ethan.


Ia masih baru saja selesai diperiksa oleh salah satu guru yang ada di Akademi, karena luka yang ia terima itu sangat parah tapi karena bantuan dari guru itu juga Niu sebelum nya dia sudah jauh lebih baik meski tetap harus beristirahat agar semakin lebih baik lagi.


" Bagaimana keadaan nya, pak Reil??. " tanya Oscar yang ada di sana bersama dua teman sekamar nya lagi.


" Haahh... Dia akan baik-baik saja, asalkan jangan banyak bergerak. " sahut guru yang bernama Reil itu.


" Huftt... Syukurlah, dia benar-benar orang yang nekat ya. " ucap salah satu teman sekamar nya, Arkan.


" He... Kurasa dia lebih baik dari pada seseorang. " sindir yang satunya pula, Ryohan.


" Haha... Baiklah, biarkan dia beristirahat dulu. bapak akan pergi dulu. " ucap Reil pula.


Ia pun pergi dari sana dan meninggalkan mereka berempat di sana, iya lagipula dia sudah selesai mengobati, dia hanya akan datang untuk memastikan keadaan nya saja.


" Lalu bagaimana dengan pertandingan nya??. " tanya Ryohan.


" Karena dia terluka sangat parah dia tidak akan bertanding lagi, senior Jino juga mundur dari pertandingan agar lebih adil, katanya.. " jawab Arkan.


" He.. Perhatian sekali senior itu, waktu membawanya kemari pun dia kelihatan panik sekali. " ucap Ryohan pula.


" Bukankah itu bagus, seorang senior baik hati seperti dirinya. " sahut Oscar.


Mereka berempat mengobrol tanpa menyadari bayangan seseorang di luar jendela sana, dia sudah ada di sana sejak pak guru Reil masih ada di sana, tapi sama sekali tidak ada yang menyadari nya.


Syuuttt....


Lalu bayangan itu pun langsung menghilang begitu saja, dan saat itu barulah Arkan menyadari kalau tadi ada seseorang di sana.


" Ada apa, Arkan??. " tanya Oscar.


" Seperti nya tadi aku melihat bayangan seseorang, apa mungkin aku salah lihat ya. " ucapnya.


Oscar yang mendengar itu pun menolah kearah Ryohan untuk bertanya, tapi Ryohan hanya mengangkat bahunya karena itu. Mereka berdua tidak melihat siapapun di tempat ini kecuali mereka bertiga.


*****



* Ethan.