Quennevia

Quennevia
Hakim Dunia Bawah



[Season 2]


" Bukankah ada baiknya jika menangkapnya disaat dia lemah sekarang? Kakak akan mudah untuk menariknya keluar dibandingkan saat dia telah mendapatkan kembali tubuhnya." Ryohan mengingatkan hal itu.


Itu memang benar, sulit memang untuk melakukan nya, terlebih jika Quennevia sendiri telah mendapatkan kembali tubuhnya. Karena dia pasti tidak akan pernah membiarkan orang lain menyentuh egonya.


Lorenzo setuju dengan itu, namun..


" Jadi? Apakah kau tahu dimana mereka sekarang...??"


Tidak ada yang tahu. Sejak beberapa waktu belakangan, Ethan dan teman-temannya menghilang dari pandangan orang-orang. Mungkin tidak semua orang juga, namun keberadaan mereka ditelan hiruk pikuk kegiatan yang dilakukan oleh klan Aira dan Akademi Bintang Utara.


Dengan begitu, keberadaan pasti mereka menjadi abu-abu...


Tapi Ryohan punya prediksi lain. " Kau tahu, kak. Gurita kecilku yang kutaruh dipohon kehidupan telah menghilang, kurasa mereka telah membereskannya. Jika seperti itu, maka kemungkinan besarnya mereka telah sampai di 'Underworld' saat ini." ucapnya.


" Dan aku tidak bisa pergi ke sana karena gerbang nya ada di wilayah iblis dunia tengah, terlebih... Dunia bawah adalah wilayah 'Hades'. Sekali kita menginjakkan kaki kesana, dia tidak akan pernah membiarkan kita menyebrang kembali."


Yah, sudah dipastikan. Lorenzo sekarang adalah klan Retia, semua yang berhubungan dengan klan ini telah menjadi keberadaan yang paling dibenci oleh penguasa dunia bawah, karena klan Retia menjadi pengendali jiwa orang mati tanpa izin dan semena-mena. Apalagi, karena mereka lah Putri Empat Dunia sekarat saat ini.


Itu sudah cukup untuk memancing murka darinya, jika saja dia punya alasan yang lebih konkrit soal itu. Maka dia mungkin diizinkan menjelma kedunia tengah dan memporak-porandakan mereka.


Dia menjadi musuh alami yang paling menyusahkan.


Tapi dewa dilarang ikut campur dalam dunia dewa lain, dan karena klan Retia ada didunia tengah, tanpa izin dari dewi dunia tengah, maka Hades tidak akan bisa melakukan apapun selama itu. Hukum ini juga berlaku terhadap dewa dunia atas dan yang lainnya.


Disamping itu, dewi dunia tengah telah mati ribuan tahun yang lalu. Selama tidak ada pengganti atau sang dewi tidak bangkit kembali, maka mereka akan baik-baik saja untuk sementara.


Ryohan juga tahu itu, tapi dia pikir ada baiknya mencegat mereka setelah keluar dari dunia bawah. Itupun jika... Mereka tidak mengambil jalan langsung.


" Ngomong-ngomong... Dimana ibu dan nenek?" Lamunan Ryohan buyar ketika mendengar pertanyaan Lorenzo yang satu itu.


Ia pun kemudian menjawabnya, " Ah, ibu dan nenek pergi ke suatu tempat. Mereka hanya bilang kalau mereka akan pergi memberi persembahan pada 'sesuatu'. Aku juga tidak tahu apa itu." ucapnya.


Dan itu menarik minat Lorenzo, " Hm... Itu menarik, aku jadi ingin tahu." Ibunya biasanya tidak akan main rahasia-rahasiaan seperti ini dengannya.


" Yah, itu tidak masalah. " Lorenzo pun kemudian berjalan kearah pintu dan melewati Ryohan.


Ryohan sendiri terus menatapnya dan mengikuti kemana pun ia pergi hingga kemudian Lorenzo berhenti dan kembali menoleh kepadanya dan berkata...


" Aku akan melakukan sparring, apa kau mau ikut?"


Ryohan yang mendengar itu sedikit terperanjat sejenak dan kemudian ia pun tersenyum, sudah lama dia tidak melakukan itu dengan kakaknya. Karena itu, dia sangat senang.


" Aku ikut, kak." dia menjawabnya dengan ekspresi wajah yang begitu berseri-seri, dan langsung mengikutinya yang telah kembali berjalan pergi dari sana.


Bagi Ryohan, Lorenzo adalah segalanya. Orang yang menyelamatkannya dari kesepian, dan kakak yang selalu bersikap baik kepadanya. Ryohan akan melakukan apapun demi kakaknya, asalkan kakaknya itu tidak membuangnya.


****


Sementara itu, Oscar dan yang lainnya saat ini dihadapkan dengan seseorang yang adalah salah satu hakim yang ada didunia bawah, membuat tubuh mereka langsung bergidik dalam ketakutan. Orang yang ada dihadapan mereka, bukanlah makhluk yang bisa mereka hadapi begitu saja.


" Tubuhku... tidak bisa bergerak.."


" Apa ini..?? Ini menakutkan..."


Mereka harus menahan perasaan itu dalam diri mereka, keringat dingin mulai membasahi tubuh mereka. Namun tidak ada yang berani menyibak jubah transparan mereka untuk menampakan diri disana, meski begitu mereka yakin dia tahu.


Hakim yang ada dihadapan mereka itu tahu mereka ada disana, karena itu dia tetap disana meski tidak melihat mereka.


Dan karena tidak kunjung mendapatkan jawaban dari pertanyaan nya itu, Hakim itu pun kembali buka suara..


Kali ini, Ethan sedikit melangkah maju ke depan, dan kemudian ia pun menyingkap jubahnya itu.


" Ini aku..." dan dia berkata seperti itu.


[Anda..!]


Dia terlihat sedikit tersentak setelah melihat keberadaan Ethan dihadapannya, entah karena apa. Bahkan teman-temannya yang lain juga bertanya-tanya dengan reaksi aneh itu, tapi mereka tetap menjaga mulut mereka tertutup. Baru kemudian ikut menyibak jubah mereka dengan perlahan dan ragu.


[Oh, Kalian telah sampai disini..] sang Hakim pun kemudian bicara.


Dan Ethan mengangguki hal itu, " Benar, aku yakin raja telah mendengar maksud kedatangan kami. Tolong buka gerbangnya." ucapnya pula.


[Raja sudah tahu.. Lewat sini.]


Sang Hakim kemudian berbalik dan berjalan menaiki anak tanggan dihadapan mereka untuk menunjukan jalan. Tapi... dibandingkan dengan terlihat menapaki, dia lebih terlihat seperti pengapung. Ya sudahlah.


Ethan dan teman-temannya saling pandang sejenak, baru setelah sepakat mereka pun mulai melangkah mengikutinya naik ke atas. Cukup banyak anak tangga yang mereka lalui, beberapa hal dapat dilihat dengan cukup jelas dari sana.


Sungai-sungai, beberapa jiwa yang datang dan berkumpul. Itu mungkin akan jadi pemandangan yang tidak akan pernah mereka lupakan seumur hidup mereka.


[Tolong jaga langkahmu..] saat kemudian suara sang Hakim kembali terdengar, itu langsung kembali menarik perhatian teman-teman Ethan kepadanya. Dan kata-kata itu pun berlanjut, [..Jika tidak, kau mungkin akan disesatkan oleh jiwa-jiwa mereka yang penuh kedengkian.]


" Jangan khawatir, mereka tahu untuk menjaga sopan santun." dan Ethan yang kemudian langsung menyahuti hal itu.


[Baik..]


Oscar dan yang lainnya masih tidak percaya dengan apa yang mereka lihat dan dengar, termasuk penasaran kenapa Hakim dunia bawah begitu patuh kepada Ethan seperti itu. Sesuatu terasa janggal...


Saat tanpa mereka sadari, sekarang mereka telah sampai didepan gerbang utama istana ini. Sang Hakim pun mengulurkan tangannya dan membuka pintu gerbang bersebut, dan membawa Ethan serta yang lainnya masuk ke dalam istana yang megah itu.


Dan beberapa langkah setelah mereka masuk ke dalam, pintu yang baru saja mereka lewati beberapa saat yang lalu itu, tiba-tiba tertutup sendiri dengan suara yang cukup keras hingga membuat mereka langsung menoleh terkejut dengan itu.


" Ap-Apa... Hah?!"


Niu tidak bisa menahan keterkejutannya disana, saat ia kemudian melihat sesuatu turun dari langit-langit.


" Kya! Apa ini?!"


" Meliyana, pegang tanganku!"


" Aku tidak bisa melihat apapun!."


Mereka berlima dikelilingi oleh sebuah asap gelap yang tiba-tiba muncul dari atas mereka, semuanya tidak bisa melihat atau bergerak ke manapun disaat sebuah tekanan datang menghantam mereka.


Kabut hitam itu bergerak memutar layaknya badai dan beberapa saat kemudian, keberadaan mereka hilang dalam udara tipis, bersama dengan kabut hitam tersebut.


Ethan, sebagai satu-satunya yang ditinggalkan disana hanya menatap hal itu dalam diam, dia tidak menunjukan reaksi apapun dan tidak mengatakan apapun, seolah telah tahu kalau hal itu pasti akan terjadi ketika mereka masuk ke dalam sana.


[Jangan khawatir..] saat kemudian ia menoleh kepada suara itu, [..Raja telah mengirim mereka ke tempat ujian.] sang hakim memberitahunya tentang apa yang telah terjadi bahkan tanpa diminta.


" Begitu..." Ethan hanya menyahutinya dengan suara pelan dan menundukan kepalanya, dia menyesal karena telah sedikit berbohong kepada teman-temannya.


Bukan kita, tapi hanya mereka yang akan menjalani ujian kali ini. Dia punya hal lain yang harus dilakukan, dan ujian nya... atau bisa dibilang pembuktiannya akan berlangsung nanti.


[Mari, raja telah menunggu kedatangan anda.]


" Baiklah. Tunjukan jalannya, Hakim."


Hal pertama yang harus ia lakukan disini sementara menunggu teman-temannya kembali, adalah menyapa orang yang telah lama tidak ia lihat.